sekarangdanesok

Mataku terbuka secara paksa setelah aku mendengar suara ketukan beruntun terdengar membentur pintu kamar. Aku menggeliat sebentar untuk mengumpulkan nyawa. Hingga selanjutnya ku lirik pintu kamarku yang sejak tadi bergetar karena di ketuk begitu kuat. Aku mendengkus, darahku mendadak memanas akibat ulah si pengusik tidur siangku yang damai. Siapapun orang itu—betapa laknatnya dia telah menganggu waktu istirahatku yang tentram.

Aku beringsut dari atas kasur dengan hati yang begitu geram bergelora. Ku langkahkan kakiku menghentak-hentak—bersiap menyembur seseorang yang berani menganggu waktuku tidur siang.

“Halo, Rendra,” sapa seseorang yang muncul di balik daun pintu setelah aku membukanya. Aku berdecak sewaktu mengetahui pelaku yang mengetuk pintu kamarku baru saja adalah remaja tanggung berumur 13 tahun bernama Herlan. Dia salah satu sahabat dekatku. Bukan hanya dekat karena kita sering berjumpa setiap saat. Definisi dekat disini ya memang benarbenar dekat alias—rumah kami bersebelahan.

“Mau apa lo?!” ketusku tidak suka.

“Woles, Ren,” balasnya sembari mengangkat telapak tangan kirinya di hadapanku menyuruh agar aku tetap tenang dan tidak marah-marah. “Gue disini cuma mau ngajak lo.”

“Ngajak kemana?”

Herlan tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat sebelah tangan yang sejak tadi tergantung di sisi kanan dan menampakkan seonggok kantong plastik berwarna putih.

“Bakar ayam entar malem,” balasnya mengiring seringai.

Aku menatap dirinya dengan sebelah alis terangkat. Berbeda dengan kebahagiaan Herlan, ekspresiku justru berbanding terbalik membalas keantusiasan anak laki-laki itu. Aku terlihat sedikit malas. Ya, aku memang sedang malas untuk melakukan acara dadakan seperti bakar-bakaran yang di usul Herlan. Lagi pula, dalam rangka apa Herlan tiba-tiba ingin mengajakku untuk bakar-bakaran? Tidak ada acara penting yang berkesan. Bukan acara tahun baru atau ada pesta rakyat di desa. Hari ini benar-benar hari biasa, bukan hari istimewa.

“Apasih lo ah gaje banget minta beginian,” tolakku mentah.

“Ren, ayolah please ...,” rengek Herlan yang sudah menggelayutkan tangannya di lenganku. Jujur, terkadang aku risih dengan kelakuan Herlan yang seperti ini. Sok-sokan manja hingga terkadang membuatku bergidik.

“Ren, kali ini aja deh ...,” mohonnya masih. Ia bahkan terlihat menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya di hadapanku.

Aku masih diam seribu bahasa. Berusaha mengabaikan permintaannya dan kembali menutup pintu kamar tanda mengusirnya. Namun sebelum pintu itu benar-benar tertutup, Herlan ternyata lebih cekatan untuk menahan pintu tersebut menggunakan kakinya mengakibatkan aku dan Herlan jadi saling dorong-dorongan pintu.

“Minggir woii!!!” protesku masih berusaha mendorong pintu.

“Ren ... Kali ini aja deh. Besok-besok gue ngga maksa lo lagi, janji.”

“Engga! Janji lo tuh palsu. Gue ngga akan pernah percaya.”

“Nah, kali ini lo harus percaya sama gue.”

“Ogah!”

“Ayolah, Ren. Lo sahabat gue 'kan? Malik aja mau gue ajakin. Masa lo engga?”

Meski aku sudah menolak bulat-bulat permintaan dia. Tapi tetap saja Herlan bersikeras memaksaku untuk mengikuti acaranya.

Akhirnya aku menyerah dan menghentikan aksi dorong-dorongan pintu bersama Herlan dan membukanya kembali secara sempurna. Aku berdeham singkat, tanpa mengeluarkan sepatah kata aku memperhatikan wajah Herlan seraya bersedekap. Ku perhatikan lekat-lekat tampangnya yang menampakkan binar penuh harap. Sungguh, wajahnya terlihat begitu lawak, membuatku ingin tergelak.

“Okey,” setujuku singkat. “Tapi lo janji ya. Setelah ini gue ngga mau lo maksa gue lagi ngikut acara ngga jelas kayak gini. Ini terakhir kali,” tegasku.

“Tenaanngg ... Gue janji ini terakhir kalinya.”

Kesepakatan berakhir dengan mufakat. Kali ini aku membiarkan Herlan untuk memenuhi keinginannya.


Aku bersama Herlan berakhir di depan rumah berpagar cat warna hijau terang. Sedari tadi kami berdua tiada hentinya meneriakkan nama Malik lantang-lantang. Namun ternyata si tuan rumah tidak kunjung keluar. Aku perlahan mulai jengah dan bosan. Aku beberapa kali menyarankan Herlan untuk meninggalkan saja Malik atau mengurungkan niat untuk mengundangnya. Namun sama perihalnya seperti yang laki-laki itu lakukan di rumahku tadi. Herlan tetap nekat mengajak Malik. Hingga panggilan yang mungkin sudah kesepuluh kali terlontar, akhirnya sang penghuni rumah muncul juga dari dalam.

“Lo ngapain anjing daritadi di teriakin ngga nongol-nongol!” emosiku langsung mengumpat.

Malik ini sahabatku juga. Berbeda halnya dengan Herlan si tetangga bersebelahan rumah, kalau Malik ini rumahnya cukup berjarak dari rumahku. Kita tinggal di RT yang tidak sama. Kalau aku dan Herlan itu tinggal di RT 004 sedangkan Malik tinggal di RT 005.

“Hehe, sorry ya. Tadi lagi di kamar mandi. Ngga kedengeran,” terang Malik dengan tak berdosanya. Tidak tahu apa kalau dua temannya ini berkoar-koar nyaris kehilangan suara akibat meneriakkan namanya.

“Ya udah. Cepetan sono lo siap-siap. Lima menit ngga keluar lo kita tinggalin!” ancamku pada Malik.

Laki-laki itu masuk lagi ke dalam rumah. Mengambil seluruh kebutuhan hingga dia kembali keluar sambil menyampirkan sarung kotak-kotak yang menyelempang di bahunya.

“Ngapain bawa sarung? Lo mau nge-ronda?!” tanyaku sewot.

“Nyamuk, Ren. Dingin juga ini udah malem. Brrr ...,” gidik Malik. Aku yang menyaksikan tingkah aneh sahaabatku satu ini hanya menggelengkan kepala pelan. Lalu mengabaikan saja tingkahnya.

“Yuk. Kita ambil arang sama bata di rumah pakde,” ajak Herlan setelah kami bertiga siap.

Kami mengayunkan tapak menuju rumah pakdenya Herlan berada. Tidak terlalu jauh dari rumah Malik. Mungkin hanya berjarak 30 meter. Ada kira-kira sekitar 5 menit menempuh perjalanan hingga kami tiba di rumah bertudung genting merah dimana tempat itu juga banyak batu-bata berjajar. Wajar saja, itu memang profesi pakde Herlan yang seorang pengrajin batu-bata.

“Assalamualaikum pakde,” teriak kami bertiga serempak. Hingga tidak lama berselang sang pakde benar keluar bersama secangkir kopi di tangan serta setelan kaus singlet putih dan sarung panjang melilit di pinggang.

“Waalaikumussalam. Oh, Herlan ya? Ambil aja, Lan, batu-batanya di samping. Kayu sama arang juga udah pakde siapin disana. Tinggal angkut aja.”

Herlan mengacung jempol saja mengiakan sahutan pakdenya. Kemudian anak laki-laki itu beranjak menuju samping rumah pakde dimana batu-bata dan segala perlengkapan bakarbakaran mereka berada.

“Ngomong-ngomong nih, Lan. Kita emang mau bakaran dimana sih?” tanya Malik di sela aktivitasnya mengambil batu-bata.

Herlan menolehkan kepalanya. Bibirnya memanyun, kemudian lanjut mengedarkan pandangan ke sekitar.

“Kalau disini rame banget yak? Takut orang-orang keganggu sama asap ciptaan kita,” opini Herlan. “Lo ada saran ngga, Ren? Kalau bisa cari tempat yang agak sepian dikit.”

Aku mulai berpikir. Sedikit memakan waktu hingga aku menjetikkan jemariku karena mengingat suatu tempat.

“Gimana kalau kita ke rumah Pak Suroto yang di ujung?” usulku.

“Yang rumah banyak pohon-pohon itu?” balas Malik.

“Iyaaa ... Disana kan sepi? Nyudut lagi. Lagian rumahnya kan masih tahap di bangun juga. Ngga ada orang yang keganggu pasti sama asap kita.”

“Bener juga ya,” setuju Herlan. “Gas kita kesana?”

“Yuk, kita kesana,” setuju Malik. Dan kami bertiga akhirnya memutuskan untuk pergi menuju rumah Pak Suroto yang jauh dari lingkungan ramai.


Memang benar yang di katakan Malik tentang udara yang terasa sedikit dingin malam ini. Mendadak aku menyesal tidak mengikuti Malik yang membawa sarung untuk menghalau udara menusuk kini. Karena aku pikir, kita akan bermain dengan api dimana tentu ada aliran hangat darisana. Tapi permasalahannya justru sebelum api menyala aku sudah kedinginan duluan.

“Ck, kenapa ngga hidup-hidup sih!” aku yang mudah emosian ini sudah merasa kesal karena sejak tadi api yang kami buat tidak kunjung menyala. Hanya berkobar sebentar, lalu mati lagi.

“Kipasin terus, Ren. Kenceng-kenceng biar baranya nyala,” saran Malik.

Kami bertiga sudah berupaya kuat mengipas api tersebut agar berkobar kuat. Namun hasilnya nihil, api tetap berakhir padam.

“Gimana ya caranya supaya cepet hidup?” pikir Herlan. Kami bertiga mulai memikirkan cara.

Hingga akhirnya Herlan menegakkan badan dengan raut begitu senang.

“Pake bensin aja gimana?” sarannya.

Aku membelalak. Itu teralu beresiko. Bensin itu bahan bakar yang kuat. Mendengar saran dari Herlan, aku cepat-cepat menggelengkan kepala.

“Ngga usah! Bahaya.”

“Yeuu santai aja kali. Kan makenya dikit doang,” balas Herlan enteng.

“Ih beneran deh, Lan, yang di bilang Rendra. Gimana kalau nyamber apinya?” kali ini Malik yang menyahut.

“Ck, kalian penakut banget sih ...,” decaknya. “Ya udah kalau kalian ngga berani biar gue aja nanti yang nyiram. Tunggu bentar, gue pulang dulu ambil bensin bapak.”

Aku dan Malik saling tatap saja. Percuma melarang seorang Herlan. Dia pasti tidak mau mendengarkan. Akhirnya kami berdua membiarkan saja Herlan bertindak sesukanya. Lagi pula dia yang bersedia.

Mungkin sepuluh menit lamanya Herlan pulang ke rumah, hingga dia kembali lagi dengan bensin yang sudah di masukkan botol berisi air mineral. Aku melihat tetesan-tetesan kecil dari pantat botol mengenai sedikit tangan Herlan. Awalnya aku hendak membuka suara, namun kalimatku tertahan ketika Herlan sendiri memerintahkan Malik untuk menghidupkan koreknya.

“Bakar daun kering, Lik. Nanti lempar ke baranya sambil gue siram sama bensin.”

Malik bergerak sesuai perintah. Api mulai membakar dedaunan kering di atas arang.

“Minggir ya jangan deket-deket,” perintah Herlan.

Jujur, perasaanku mulai tidak enak. Entah mengapa kekhawatiran mulai menyelimuti benakku setelah Herlan menyuruhku dan Malik untuk menyingkir dari jangkauan. Hingga sedikit demi sedikit Herlan menumpahkan bensin itu ke arah api dan membuat api itu menjilat-jilat.

“Tuh, hebat kan gue?” bangga Herlan.

Dalam hati aku merasa lega. Tidak terjadi apa-apa rupanya. Hal tadi sekedar pikiran buruk belaka.

Mungkin begitu yang semestinya di harapkan ... Namun sepertinya pikiran burukku tadi berujung kenyataan.

DOR!

Kami bertiga terlonjak mendengar bunyi letusan dahsyat dari perapian. Tidak terkecuali juga Herlan yang langsung terperanjat mengakibatkan bensin yang masih berada di tangannya tertumpah ke arah dadanya. Mataku membelalak, bukan karena bensin itu sekedar tumpah ke arah Herlan. Namun juga api besar itu ikut menyulut tubuh Herlan dan menyambar tangan serta dada Herlan ganas. Api itu dengan begitu cepat melahap seluruh tubuh Herlan dalam kungkungan kobarannya.

“AAAAA PANAS!!! PANAS!!!” teriak Herlan pilu. Aku dan Malik panik setengah mati. Kami tidak tahu harus berlaku apa. Otak kami seperti tidak bisa bekerja secara semestinya melihat Herlan yang terbakar.

“RENDRA! MALIK! TOLONGIN GUEEEE ... PANAS!!!”

Aku semakin kalang kabut di buatnya. Disini tempat sepi. Tidak ada air yang bisa memadamkan api di tubuh Herlan. Kami berdua kelabakan terlebih mendengar raungan Herlan semakin memilukan.

“TOLONG GUE RENDRA!!! MALIK!!!”

“Malik lo coba lari ke perkampungan minta pertolongan. Gue disini berusaha madamin apinya. Sarung lo siniin!” perintahku semakin panik.

Malik cepat-cepat menyerahkan sarungnya. Kemudian Malik berlari untuk mencari bala bantuan. Sedangkan aku yang sudah menggulung sarung kuat-kuat siap menyebat kain itu berusaha memadamkan api yang menyala.

“PANAS RENDRAAA!!!”

Air mataku tidak kuasa berjatuhan mendengar teriakan Herlan. Namun aku harus tetap kuat. Aku tidak boleh lemah. Aku harus bisa menyelamatkan Herlan.

“Herlan, tenang aja gue bakal nolongin lo,” ujarku seraya terus menyebat tubuh Herlan yang sudah terbaring tidak berdaya di tanah.

Tanganku semakin gemetar. Kobaran api itu tidak kunjung menghilang dan semakin membesar saja. Sedangkan suara Herlan perlahan-lahan tidak terdengar. Jantungku semakin di buat kacau. Tapi aku tetap berusaha sekuat tenaga untuk menolongnya.

“Rendra ...,” panggil Herlan melemah. Aku semakin kuat terisak mendengar panggilannya. Hingga detik berikutnya Herlan mengucapkan sebuah kalimat yang membuat hatiku tersayatsayat.

“Gue, ngga kuat ....”


Tepat pukul 01.00 dini hari Herlan tutup usia. Di umurnya yang masih terlalu muda untuk meninggalkan dunia. Isak tangis pecah memenuhi koridor rumah sakit yang bersumber dari ibu Herlan. Begitu juga denganku yang kehilangan daya.

Setelah mengalami masa kritis selama 4 jam, akhirnya Herlan memilih untuk melepaskan semua rasa sakitnya dan pergi meninggalkan kami semua. Kejadian yang begitu cepat merangkak membuat diriku tidak percaya. Masih tercetak jelas bayangan Herlan tadi siang memintaku ikut bakar-bakaran, wajahnya yang tersenyum riang sewaktu kami menyusun batu-bata perapian, ekspresinya yang bahagia sewaktu kami menusuk-nusuk ayam untuk di bakar. Semuanya sirna dalam sekejap. Api yang melalap tubuh Herlan merenggut semuanya. Nyawa Herlan, sekaligus kebahagiaan kami bertiga.

Aku menoleh sebentar ke arah Malik. Ku lihat Malik tersedu dan meringkuk di bahu ibunya. Aku tahu ini berat pasti baginya. Terlebih aku yang benar-benar menyaksikan saat-saat terakhir Herlan mengucap kata perpisahan.

Herlan, sahabatku itu mungkin nakal. Dia pemaksa, dia keras kepala. Dia semaunya sendiri. Tapi satu hal yang bisa ku petik darinya. Dia tulus, dia pengertian, dia selalu memancarkan aura ceria. Meskipun kadang sikapnya tengil dan menyebalkan. Namun dia tidak merasa tersinggung setiap kali aku marah. Dia selalu bisa mengontrol dan menetralkan suasana menegangkan menjadi santai.

Aku mungkin selalu menolak ajakan dia. Aku selalu menentang apapun yang di katakannya. Namun semata-mata itu hanya terucap dari bibirku saja. Aku tidak pernah sekalipun membencinya. Aku dan Herlan sudah sejak lahir bersama. Kita lahir di bidan yang sama meskipun aku lahir tiga bulan lebih dulu darinya. Aku yang selalu mendengar suara raung Herlan sewaktu ibunya mengomel karena Herlan tidak mau makan, aku yang mendengar tawanya ketika dia bercerita tentang perempuan yang disukainya di sekolah. Semua runtut peristiwa itu masih hangat terlintas di dalam kepala. Kenangan-kenangan bersama Herlan, semuanya masih terasa begitu anyar.

Namun kini sahabatku itu sudah pergi. Dia tidak lagi disini bersamaku lagi. Dia sudah berada di alam lain yang tidak bisa aku temui. Rasanya sakit, iya sakit sekali. Kehilangan sosok yang selama ini menemani hari-hari.

Setelah sekian lama air mataku tertahan, akhirnya bulir itu jatuh juga. Aku menangis dalam diam. Bukan karena aku tidak sedih kehilangan dia, bahkan justru aku sangat menyesalinya membuat diriku susah untuk menjatuhkan air mata.

Pundakku bergetar hebat. Napasku menyesak dan aku sulit meraup udara untuk masuk ke rongga dada. Aku sesenggukan yang langsung di tenangkan oleh ayahku yang tadinya duduk di sebelah.

“Ren ...,”

“Ayah, aku lihat dia di depan mata. Aku lihat ... Herlan terbakar. Tapi aku ngga bisa berbuat apa-apa. Aku beneran ngga berguna .... “

Itu penyesalan terbesar dalam hidupku. Aku tidak tahu apakah diriku sanggup melalui hari-hari di masa depan setelah kejadian Herlan yang cukup membekas di ingatanku sampai akhir hayat.


Tujuh hari, semenjak kepergian Herlan. Aku menutup buku Yasin dan mendongakkan kepalaku menebar pandangan. Aku tidak menjumpai Malik malam ini. Dia tidak ikut tahlilan.

Kata ibunya, Malik demam lagi.

Ya, sepertinya Malik masih trauma berat pasca kejadian Herlan. Aku mengerti. Malik juga bukan tipe orang yang kuat mental. Dia jelas sangat terpuruk sekarang.

Aku berdiri setelah orang-orang membagikan nasi kotak setelah acara pengajian. Aku menolong sebentar bapak-bapak yang sedang membagikan nasi, setelah semuanya selesai aku menemui ibuku untuk pamit. Maksudku ingin menjenguk Malik.

“Bu, aku ke rumah Malik bentar ya. Dia sakit lagi,” pamitku sembari mencium tangan ibu.

“Oh iya gapapa. Kamu kalau mau nginep temenin Malik juga. Kasian dia. Ibu juga titip nasi kotak ya sama Malik,” serah ibu pada sekotak nasi. Aku menerimanya, kemudian berbalik meninggalkan ibu menuju rumah Malik berada.

Disini aku berakhir, di kamar Malik yang bernuansa hijau. Aku duduk memperhatikan Malik yang sejak tadi tertidur pulas. Ibunya bilang Malik memang habis minum obat.

Mataku menjelajah mengitari kamar Malik. Tempat ini termasuk basecamp kami bertiga. Karena Malik punya Play Station 4 di rumahnya. Sepanjang hari biasanya kami menghabiskan waktu bersama. Aku menyunggingkan senyum gundah. Terbayang di ingatan kelakuan Herlan dan Malik yang suka berebutan stik atau sekedar makanan ringan. Lagi-lagi aku menangis di buatnya. Jujur, aku merindukan Herlan.

Air mataku mengalir deras di dalam keheningan kamar Malik. Aku masih di rundung perasaan bersalah. Segala peristiwa yang terjadi satu minggu lalu membuatku kembali merutuk diri. Segala sesal yang tidak terucap. Tentang aku yang seharusnya tetap menahan Herlan untuk mengambil bensin, tentang aku yang seharusnya bisa memadamkan api di tubuhnya. Semuanya membuat hari-hariku berantakan. Aku bahkan tidak bisa tidur karena terus kepikiran.

Tiba-tiba saja aku merasa Malik mengenggam tanganku. Aku menoleh ketika Malik ternyata sudah duduk sambil memejamkan matanya ke arahku.

“Lo mau minum, Lik?” tanyaku.

Malik tidak menjawab. Hening sekali rasanya. Aku seperti merasa dunia ini tidak berjalan. Sedenting pun suara seperti sama sekali tidak terdengar. Hingga aku merasakan Malik menarikku ke dalam pelukan.

Aku terheran-heran. Malik tidak biasanya seperti ini. Apalagi dia memelukku sembari mengusap punggungku pelan dan hati-hati.

“Rendra ...,”

Aku merinding. Suara Malik terdengar berat. Aku tahu dia memang memiliki suara bass.

Tapi sepertinya kali ini berbeda. Aku seperti mendengar suara lain dari dalam dirinya.

“Makasih ya, udah berusaha nolongin gue malam itu ....”

Jantungku berdetak tidak karuan. Apakah ini ...

“Herlan ...,” panggilku lirih.

“Maaf karena gue ngga bisa bertahan untuk tetap di sisi kalian.”

Tubuhku meremang. Yang ada di dalam tubuh Malik ini adalah Herlan. Dia benar-benar Herlan.

“Lan, kenapa lo pergi ....”

“Itu udah waktu gue, Ren.”

Hening sesaat di antara kami. Aku tidak sanggup lagi bersuara detik ini. “Dan itu juga bukan salah lo. Bukan salah lo yang ngga bisa nyelamatin gue.” Jantungku rasanya jatuh ke perut mendengar penuturan Herlan.

“Jadi lo ngga usah nyalahin diri sendiri. Jangan sedih karena gue lagi ...,”

Kalimat Herlan menggantung. Tapi aku terus-terusan setia mendengar lanjutannya.

“Gue jadi berat buat pergi, Ren ....”

Lagi, pertahananku runtuh. Aku tidak kuat lagi menahannya. Air itu dengan cepat jatuh melintas membasahi wajahku sekarang.

“Jadi gue minta, ikhlasin gue ya. Karena pertolongan lo yang gue butuhin sekarang sewaktu lo bisa ikhlas.”

Aku semakin tersedu mendengar penuturan Herlan.

“Kita selamanya bakal jadi sahabat, Ren. Meski dunia kita berbeda selamanya lo tetap sahabat gue. Sampai jumpa di lain waktu. Maaf kalau gue banyak salah sama lo. Jadi lo bisa kan, Ren, bantu untuk memenuhi permintaan gue terakhir kali?”

Napasku tertahan. Aku menggigit bibir bawahku hingga aku lirihkan sebuah bisik di samping telinga Malik.

“Iya, Lan. Gue ikhlas. Selamat jalan, sampai jumpa disana ya.”

Setelah aku berucap seperti itu, tubuh Malik melemah. Dengkur lembut di pundakku menandakan Malik benar-benar terlelap. Juga, Herlan yang sudah terbang bersama malaikatnya.

END

©sekarangdanesok, 2021.

“Kak Yudha stop!” tahan Sekar sewaktu Yudha hampir melayangkan lagi kepalan tangannya pada Tian. Untung saja, Yudha tidak khilaf. Ia masih bisa mengontrol emosi dan mengurungkan niat untuk menghajar Tian.

“Sekali lagi lu berulah, urusan kita bakalan panjang setelah ini,” ancam Yudha menunjuk lurus wajah Tian yang meringis kesakitan. Kemudian ia menolehkan kepala mengarah pada Sekar dan buru-buru menarik pergelangan gadis itu untuk keluar dari kerumunan khalayak.

Yudha menyeret Sekar membuat langkah gadis tersebut terseok-seok. Sedangkan Yudha, lelaki itu tidak hentinya mengucap sumpah-serapah dengan wajah mengerut tidak terima atas perlaku Tian terhadap Sekar.

“Laki apa banci sih tuh orang. Pengen gua cabik tuh mulutnya,” oceh Yudha sepanjang jalan. Hingga mereka berdua berhenti di sudut kampus yang lumayan sepi. Tepat di bawah pohon cukup rindang, Yudha membalikkan badannya menuju Sekar yang sedarinya menunduk saja.

“Dek,” panggil Yudha.

Tidak ada sahutan. Yudha heran melihat Sekar tak kunjung mendongakkan kepala. Hingga beberapa detik kemudian, Yudha melihat bulir-bulir berjatuhan dari kelopak mata sang gadis menandakan jika Sekar saat ini menangis.

“Adek ngapain nangisin orang kayak begitu? Ngga guna. Mubazir tau ngga!” emosi Yudha meluap-luap.

Sekar semakin mengeraskan senggukannya. Hal itu membuat Yudha semakin was-was dan panik.

“Dek Sekar ...,”

“Aku bukan nangis gara-gara Tian, Kak ....”

Sekar menarik udara pelan-pelan guna memenuhi rongga dada yang terasa sesak. Berusaha mengatur perasaan emosional dan senggukan yang sedang menyergapnya.

“Aku nangis ... karena ternyata ... kakak masih ... peduli sama aku ....”

Yudha terdiam mendengar penuturan Sekar di sela-sela isakannya.

“Aku ... senang waktu tahu ... kalau kakak ternyata ngga marah ... sama aku ....”

Jantung Yudha terasa mencelos mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir Sekar. Mendadak dirinya sangat tertampar dan perasaan bersalah menyelimuti sebab telah mendiamkan Sekar beberapa hari belakangan.

“Ma-ka-sih kak ...,” akhir Sekar diiringi luruhan air mata yang semakin deras.

Jujur, Yudha sangat benci suasana ini. Yudha sangat benci melihat perempuan menangis. Hatinya begitu hancur melihat Sekar bersedih. Yudha bodoh, bisa-bisanya ia menyakiti perasaan seorang gadis yang ia sukai.

“Udah, udah cukup. Jangan nangis lagi,” usap Yudha pada kedua pipi Sekar. “Kakak ngga marah lagi sama Sekar. Jadi udahan ya nangisnya,” bujuk Yudha.

Sekar mulai merasakan jemari-jemari itu sudah menyapu lembut di wajahnya. Hingga tangan itu perlahan mengangkat kepalanya—menuntun untuk beradu tatap pada dua netra milik Yudha yang sudah memandang lembut pada Sekar.

“Adik MIPA berhenti dong nangisnya. Kakak mesin jadi ikutan sedih lihat adik MIPA nangis.”

-sekar-

Satu minggu berlalu sejak kejadian di hari ulang tahun Sekar, selama itu juga hubungan antara kakak mesin dan adik MIPA merenggang. Tidak ada lagi kalimat sapa yang di kirim oleh Yudha setiap petang datang, atau sekedar ucapan selamat pagi yang menjadi notifikasi pembuka hari Sekar. Semuanya mendadak sunyi. Keadaan hambar seperti sedia kala setelah Yudha benar-benar tidak memedulikan Sekar lagi.

Meski nyatanya ia tahu bahwa yang di lakukannya merupakan hal sia-sia, namun Sekar tetap bersikeras. Ia terus bertandang ke kantin mesin walau dirinya tahu jika Yudha tidak akan menemuinya. Tapi pikir Sekar, ini adalah sebuah bentuk usaha yang ia lakukan. Ia masih menaruh sebenih asa jika kehadirannya dapat memperbaiki semua salah yang telah ia perbuat.

Untuk kesekian kali Sekar berada disini. Duduk sendiri seraya menunggu ketoprak pesanan hadir, gadis itu mulai memainkan jemari kecil di atas layar ponsel untuk sekedar menghibur diri. Hingga tidak berselang lama, ia merasakan hawa keberadaan seseorang menempati duduk tepat di sebelahnya. Membuat perhatian Sekar teralihkan pada sosok laki-laki yang kini sedang menyodorkan sepiring ketoprak ke arahnya.

Darah Sekar berdesir hebat sewaktu menyadari seseorang yang berada di sebelah kanannya. Dia—orang yang beberapa waktu belakangan Sekar lupakan segala kenangan tentangnya. Ya, dia Tian mantan Sekar. Mantan yang entah bisa dikatakan terindah atau bukan, Sekar sendiri tidak terlalu paham.

“Kenapa lo disini?” tanya Sekar.

“Harusnya gue yang nanya lo kenapa ada disini,” balasnya cepat. “Ini kantin mesin. Bukannya tempat ini cukup jauh ya dari gedung FMIPA?”

Hening sesaat. Sekar merasa sungkan untuk menjawab pertanyaan mantannya itu.

“Kenapa diem aja?” tanyanya lagi sedikit mendesak.

“Mau ini kantin mesin atau bukan, ngga ada urusannya sama lo!” jawab Sekar bernada ketus.

“Gue ngira lo lagi nunggu seseorang disini.”

Sekar kembali diam mendengar tebakan tepat sasaran dari sang mantan. Ia buru-buru mengalihkan pandangan menuju piring ketoprak, berusaha mengusir pemikiran yang seketika berwara-wiri di dalam otak.

Melihat kebisuan Sekar, sel-sel di dalam otak Tian mulai bekerja. Wajahnya terlihat berkerut menandakan bahwa lelaki itu sedang memikirkan asumsi-asumsi lain untuk menjadi bahan ledekannya terhadap Sekar. Hingga beberapa saat kemudian ia menemukan hal itu dan langsung menjetikkan jarinya sesaat dirinya mendapat petunjuk dari praduga yang terlintas.

“Ohh atau jangan-jangan pasangan viral yang sempat heboh di base kampus itu elo ya? Kakak mesin dan adik MIPA itu... Elo bukan?”

Sekar masih menulikan pendengaran dengan celotehan laki-laki bermulut lemas di sebelahnya. Saat ini ia hanya ingin berdamai, tidak ingin memperpanjang masalah dengan pelaku kisah lampau yang menyakitkan.

Tian tergelak mengejek membayangkan jika dugaan tersebut adalah benar. Masih dengan wajah begitu menyebalkan, Tian menatap Sekar sambil bersedekap tangan. Memandang remeh gadis yang saat ini masih bungkam tak membalas.

“Wajar sih. Lo di kasih cokelat aja langsung jatuh cinta sama gue. Dan sekarang lo bahkan bisa langsung jatuh hati sama orang yang ngajak kenalan di base. Haha, ternyata lo masih sama ya. Masih aja jadi cewek gampangan.”

Sekar meremat sendoknya kuat-kuat menahan amarah yang siap meledak. Kali ini kalimat Tian benar-benar keterlaluan. Ingin rasanya Sekar menusuk dan mencabik wajah Tian menggunakan garpu yang berada di atas piringnya—namun pikiran psikopat itu mendadak sirna tatkala ia mengetahui bahwa bahu Tian sudah di tarik paksa oleh seseorang dari arah belakang.

“Jaga omongan lo brengsek!” hardik Yudha yang kini sudah melayangkan keras sebuah pukulan di wajah Tian hingga laki-laki itu terkapar kehilangan daya di lantai.

-sekar-

Yudha mematikan mesin motornya sesaat setelah lelaki itu tiba di sebuah bangunan berdinding cat warna kuning pucat. Setelah melepaskan helm dan mengaitkannya di salah satu spion, Yudha menarik napasnya lebih dulu. Bersiap-siap untuk menyiapkan segala mental sebelum benar-benar bertemu dengan adik MIPA.

Yudha melangkahkan kakinya menuju pintu pagar hitam tinggi itu, mengintip sebentar bedeng kost yang tergolong sepi. Di lihatnya juga, gembok pagar seukuran telapak tangan orang dewasa teruntai jelas di selot pagar tersebut. Melihat itu, Yudha pun bergegas merogoh sakunya lalu menempelkan benda itu di sebelah telinga yang sudah menyambungkan panggilan kepada si adik MIPA.

“Halo dek, pagernya di gembok ya?” tanya Yudha.

“Ohh iya kak. Kak Yudha udah di depan sekarang? Bentar, bentar aku kesana.”

Sambungan terputus detik itu juga. Tidak butuh waktu lama bagi Yudha untuk menemukan sosok gadis berambut ikal mayang yang keluar dari salah satu bilik kost. Sembari membawa sebuah piring dan beberapa lembar kertas koran di tangan, Sekar mendekat.

“Nih kak,” beri Sekar pada lembar-lembar kertas koran di tangannya. Melihat tingkah Sekar yang masih belum merasuk di logika, Yudha menerimanya dengan kerutan dahi terheran-heran.

“Koran buat apa?” bingung Yudha.

“Alas duduk.”

Yudha menaikkan dua alisnya. Belum tuntas seluruh pertanyaan yang bergelimang di dalam otak Yudha, dirinya saat ini sudah di suguhkan penampakan Sekar yang duduk lesehan sambil meletakkan piring yang ternyata berisi pisang goreng hangat tepat di sebelah sisi pagar.

“Kita—”

“Iya, kak. Kost aku dilarang masukin anak cowok ke kamar. Jadi kita disini aja ya.”

Yudha mematung di tempat. Ia masih tidak habis pikir jika maksud Sekar mengajak dirinya berkunjung ke kost itu—

Untuk duduk di luar pagar.

-Sekar-

Yudha menyandarkan punggungnya di jok mobil sambil bersiul ria. Tampak sekali hari ini wajahnya begitu cerah. Bagaimana tidak? Hari ini ia memiliki kesempatan kedua bertemu dengan adik MIPA. Yah... Meskipun harus dengan teman-temannya, sih. Tapi Yudha mewajarkan hal itu. Mungkin alasan itu hanya alibi saja karena si adik MIPA tentu masih merasa cukup canggung berdua saja dengannya. Tidak apa-apa, yang penting usaha ya, kan? Semuanya perlu proses, tidak ada yang instan.

Yudha merogoh saku kemejanya. Meletakkan sekotak rokok bersampul merah ke atas dashboard Johnny. Bersamaan dengan sebatangnya yang sudah siap bertengger di bibir Yudha. Baru saja laki-laki itu hendak memantik rokoknya, dari kejauhan Yudha melihat sosok Sekar bersama teman-temannya. Melihat gadis-gadis remaja itu, Yudha mengurungkan niatnya untuk menyalakan korek. Melepas batang rokok itu dan memasukkannya ke dalam saku bertepatan dengan tibanya Sekar di samping mobil Johnny.

“Udah lama kak?” tanya Sekar yang baru saja duduk di kursi samping kemudi. Sedangkan buntut Sekar yang lain sudah sibuk berimpitan di jok belakang, menciptakan suara berisik khas anak perempuan.

“Engga kok.” balas Yudha mengulas senyum tipis. Sekar melihat itu. Lantas balas tersenyum juga. Sempat terjadi kontak mata di antara keduanya untuk beberapa saat hingga kontak itu terputus tatkala suara berisik dari bangku belakang mengalihkan atensi mereka berdua.

“Rizka gue kejepit nihhh.” keluh Asfa yang lapaknya di renggut seluruhnya oleh badan Rizka.

“Apaan deh? Gue udah geseran juga.” protes Rizka tidak mau kalah.

“Ya lo lihat sekarang posisi gue gimana? Lo tega buat gue gepeng kek gini?”

Asfa pun mendorong Rizka kuat. Merasa tidak terima, Rizka ikut membalas dorongan Asfa. Aksi dorong-dorongan tidak terhindarkan, membuat mobil Johnny berguncang hebat akibat kedua orang itu.

“Eh, udah. Jangan dorong-dorongan lagi ya ...” bujuk Yudha pelan. “Mobil kita dari luar kelihatan goyang. Entar di kira ngapa-ngapain lagi.”

Lelaki itu menghadapkan tubuhnya ke arah belakang. Di pandangnya secara bergantian teman-teman Sekar tersebut, kemudian ia menghela nafas pelan.

“Oke, solusinya gini aja. Si adek yang gen—”

“GUE NGGAK GENDUT!” sembur Rizka yang otomatis membuat Yudha memejamkan matanya.

“M-maaf. Maksudnya ... Adek yang berisi—”

“UDAH GUE BILANG GUE NGGAK GENDUT!”

Sekar yang sejak tadi menjadi saksi amukan Rizka cepat-cepat meluruskan keadaan. “Rizka kak namanya.”

Yudha langsung mengangguk paham mendengar penjelasan Sekar. “Oh iya, maksudnya. Dek Rizka boleh maju dikit, kasian tuh sama temennya yang cungkri—”

“TUBUH GUE IDEAL YA KAK BUKAN CUNGKRING!” kali ini Yudha justru mendapat semburan protes dari Asfa.

Sedangkan Acha dan Vega sejak tadi tertawa tidak berkesudahan dengan pertengkaran tidak penting tiga orang ini.

“Serba salah deh gue,” gumam Yudha pelan namun cukup bisa di dengar oleh Sekar. Gadis itu tertawa kecil saja, begitu menikmati kefrustasian Yudha menghadapi dua temannya yang sangat sensitif ini.

“Udah deh, kalian ngga usah banyak ribut. Pada numpang juga.” Sekar menukas.

Akhirnya keributan berakhir juga. Yudha sudah sedikit tenang sewaktu suasana kondusif. Seluruh penumpang di dalam mobil tersebut mendadak menjadi pendiam. Membuat Yudha yang tadinya canggung merasa menjadi sangat canggung terjebak dengan keheningan ini. Sesekali dirinya melirik ke arah Sekar yang sedarinya hanya sibuk mengotak-atik ponselnya saja.

“Ehm,” deham Yudha sedikit keras. Namun dehaman itu sama sekali tidak mengusik suasana tentram di dalam mobil tersebut.

“Gini ya kira-kira vibes driver taksi online.” sindir Yudha. Mendengar ucapan Yudha tersebut, Sekar langsung mengangkat kepalanya. Menolehkan sempurna wajahnya ke arah Yudha.

Yudha melototkan matanya. Mengapa jadinya seperti ini? Di pandang Sekar lekat seperti itu, justru membuatnya jadi gugup.

Sial, sindirannya jadi bumerang.

“K-kenapa dek?” tanya Yudha, takut-takut.

Sekar tidak langsung menjawab. Ia masih diam dengan tatapan semakin menyelidik.

“Kakak merokok ya?” tembak Sekar langsung. Pertanyaan random itu membuat Yudha semakin salah tingkah.

“Me-mangnya ... Kenapa kalau merokok?” tanya Yudha lagi lebih hati-hati. Sekar diam saja, sebelum kalimat gadis itu di sela oleh Vega yang duduk tepat di belakang jok pengemudi.

“Sekar ngga demen sama cowok merokok, kak.” jawab Vega. Mendengar penuturan Vega tersebut, Sekar langsung menoleh ke arah si pelaku.

Yudha menenggak salivanya susah payah. Sambil meraba-raba lehernya, samar-samar tangannya turun ke pakaian bagian depannya. Sedikit menenggelamkan batang rokok yang menyembul dari dalam sakunya.

“Enggak kok ...” balasnya berbohong. Di iring tawa garing di ujung kalimatnya.

Sekar mengernyit, matanya beralih ke kotak rokok yang ada di atas dashboard. Setelahnya ia mengangguk pelan. “Ohh kirain kakak merokok.” ujarnya terdengar sedikit lega.

Yudha menarik sudut bibirnya yang berkedut. Lututnya juga kini mulai gemetaran dan terlihat begitu gelisah.

Baru dua kali pertemuan, Yudha sudah berbohong saja.

“Eh udah nyampe, yuk kita turun.” antusias Rizka waktu mobil tersebut berhenti tepat di parkiran mobil FT. Begitu juga dengan perhatian Sekar yang sudah teralihkan dari pembahasan rokok tadi dan segera membuka pintu mobil dan keluar.

-Sekar-

Yudha melirik arlojinya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 lebih 15 menit, namun si adik MIPA yang di nanti-nanti seperti tidak menunjukkan tanda-tanda kemunculan diri. Yudha celingukan, sudah hampir gila rasanya berseteru dengan debar jantungnya. Apa si adik MIPA sama sekali tidak ingin menormalkan detak organnya tersebut dan harus membiarkan Yudha belama-lama dengan segala kegundahan ini?

Sepuluh menit sudah terlewat. Yudha menghela nafas panjang, sepertinya penantian ini akan berujung sia-sia. Yudha seolah sudah kehilangan seluruh harapannya. Percuma, adik MIPA mungkin enggan menemuinya. Ya, masuk akal juga kalau dia tidak ingin menemui Yudha. Perempuan mana yang rela di ajak ketemuan melalui akun base kampus secara anonim seperti itu. Dasar Yudha saja yang terlalu banyak berharap. Bodoh, bisa-bisanya juga Yudha percaya dengan segala omong kosong yang sukses menggemparkan seisi jagat kampus ini.

Yudha berdiri dari duduknya, berencana untuk pergi saja dan mempupuskan keinginannya untuk bertemu sang pujaan. Baru saja Yudha membalikkan tubuhnya ke belakang, dari arah koridor Yudha melihat dengan jelas seseorang yang datang ke arah paviliun tempatnya berada. Sadar jika seseorang yang melangkahkan kaki ke paviliun itu adalah si adik MIPA, Yudha bukannya mendekat. Ia justru berbalik badan dan lari untuk menyembunyikan tubuhnya di balik pilar-pilar paviliun.

“Mampus gua mau ngapain sekarang ...” panik Yudha.

Sekar memberhentikan langkahnya sewaktu tiba di paviliun. Pandangannya menyebar ke seluruh arah untuk mencari-cari keberadaan si kakak mesin yang katanya ingin bertemu di paviliun.

“Duh, rame banget ya. Orangnya yang mana ini?” bingung Sekar. Gadis itu menggaruk belakang telinganya sembari terus mencari keberadaan sosok laki-laki yang di carinya.

Sedangkan di balik pilar, Yudha masih mengontrol nafasnya. Dan mendadak pula ia merasa mulas sekarang. Sial, kebiasaan memang kalau sedang grogi seperti ini bawaannya sakit perut terus.

Yudha yang tidak tahu lagi harus fokus pada perasaan yang mana. Jantungnya yang berdebar, pernapasannya yang tidak beraturan, atau hasrat ingin buang hajatnya. Semua bercampur menjadi satu. Semakin dirinya merasa gugup, semakin menjadi pula perasaan-perasaan itu menghampirinya.

“Duh, mau kentut.” tahan Yudha yang sudah meletakkan sebelah tangannya di bokong. Bertingkah bodoh sambil sesekali menjinjitkan kakinya menahan hasrat ingin buang angin.

“Oh iya. Inget kata Juli. Kalau mau kentut, kentutin aja jangan di tahan.” gumamnya. Karena mengingat perkataan salah satu teman kecilnya itu, akhirnya Yudha memutuskan untuk mengeluarkan saja gas hasil dari metabolisme tubuhnya ke udara. Menciptakan bunyi syahdu yang seketika membuat beberapa orang lewat disana menoleh ke arah Yudha.

“Hehe, sorry mbak. Kelepasan.” polos Yudha sewaktu ada beberapa gadis yang spontan menolehkan kepala ke arah Yudha.

Gerombolan perempuan itu menatap aneh ke arah Yudha. Sedangkan Yudha sudah tidak peduli lagi dengan kasus buang anginnya dan membulatkan tekad untuk menemui si adik MIPA.

Yudha menarik nafasnya dalam-dalam. Mengumpulkan segala mental hingga akhirnya dengan langkah penuh kegagahan datang untuk menemui si adik MIPA. Setibanya Yudha di belakang tubuh adik MIPA, laki-laki itu mencolek pelan punggung Sekar membuat si gadis menghadapkan tubuhnya sempurna ke arah Yudha.

“Adik MIPA?” tanya Yudha dengan busungan dada yang terlalu di buat-buat. Tidak ingin terlihat memalukan di depan adik MIPA—meskipun kakinya sudah begitu gemetaran.

Sekar menatap wajah Yudha sebentar. Sebelum gadis itu meloloskan suara untuk membalas kalimat Yudha.

“Kakak mesin ya?”

Pertahanan Yudha runtuh. Adik MIPA, sukses membuat kaki Yudha seperti jelly sesaat setelah mendengar suaranya yang selembut kain sutera.

-Sekar-

Dhea memasukkan dengan cepat ponselnya ke dalam saku sesaat setelah dirinya membalas pesan terakhir kepada Dihan. Ia lantas beranjak, tidak ingin berlama-lama menyita waktunya lagi. Gadis itu langsung saja bergegas menuju ruang OSIS—demi menemui sang pujaan hati yang katanya sedang berada di ruangan itu. Setibanya Dhea disana, senyumnya otomatis terkembang tatkala melihat kekasihnya yang sudah duduk sendirian di salah satu bangku kecil terletak di sudut ruangan. Dengan kebiasaannya yang menopang dagunya dengan sebelah tangan, laki-laki itu tampak terlihat begitu fokus pada aktivitas membacanya. Sampai-sampai ia tidak mengetahui bahwa Dhea sudah berdiri di dekatnya saat ini.

“Fokus banget bacanya.” sindir Dhea yang membuat Dihan sedikit terkaget. Namun tidak lama kemudian, senyumnya ikut merekah sewaktu sadar bahwa orang itu adalah Dhea. Dihan lalu menutup lembaran kertas jilid yang ada di tangannya. Lanjut menatap Dhea dengan dua alis terangkat.

“Cepet banget sampai sini.” balas Dihan. “Kamu lari?”

“Engga kok.”

“Beneran?”

“Ngga percaya?”

“Jangan lari-lari dong. Saya ngga bakal pergi kemana-mana juga.”

Dhea tertawa kecil menanggapi hal itu. Kemudian bola matanya bergerak menuju ke arah tangan Dihan, memperhatikan apa yang sedang di kerjakan oleh laki-laki itu sekarang.

“Kamu ngapain?” tanya Dhea.

Dihan mengalihkan perhatiannya sebentar ke arah kertas jilid yang ada di tangannya sebelum lanjut menjelaskan.

“Kelas saya juga lagi jamkos. Daripada buang-buang waktu percuma disana. Saya mau pelajari sedikit tentang pensi akbar tahun lalu. Buat referensi acara kita nanti.”

Sebelah bibir Dhea terangkat spontan saja mendengar jawaban Dihan tersebut. “Dihan pensi masih dua bulan lagi, ya kali udah mikir kesana aja.”

“Saya ketua OSIS, Dey. Soal konsep seperti ini sebelum orang lain punya ide saya harus punya modal dulu. Baru yang lain bisa menambahkan.”

Dhea memutar bola matanya seraya menarik nafas dalam. “Iya, iya deh. Tahu ketos perfeksionis.” cibir Dhea.

Dihan tidak membalas cibiran Dhea dengan kalimat. Hanya sebuah helaan nafas pelan yang tidak begitu bisa di pahami maknanya. Sedangkan Dhea, gadis itu sudah perlahan merambat menuju rak buku dan tampak melihat-lihat sebentar. Dalam heningnya, diam-diam Dihan menarik dua sudut bibirnya. Entah mengapa menyaksikan Dhea berdiri membelakanginya seperti ini saja menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Dihan. Menurutnya, Dhea itu rupawan bukan dari parasnya saja, namun dari berbagai sudut.

Langkah Dihan mulai berayun untuk mendekati Dhea yang tampak terlihat bersusah payah meraih buku yang agak tinggi di atas kepalanya. Sembari menjijitkan kaki, Dhea terus-terusan berupaya mengambil buku itu hingga akhirnya ia berhasil juga mendapatkannya. Dhea langsung menarik buku itu tanpa berpikir panjang bahwa ia bisa saja menjatuhkan buku-buku lain juga.

“Ehh ...” Dhea otomatis meringkuk untuk melindungi kepalanya sewaktu melihat buku-buku tebal itu siap menimpuk kepalanya. Dihan yang melihatnya sontak saja bergerak cepat dan dengan sigap mengangkat tangannya untuk menahan buku-buku itu agar tidak terjatuh menimpa kepala Dhea.

“Dihan, makasih—” ucap Dhea yang langsung membalikkan badan ke arah Dihan, bersamaan dengan keterkejutan akan dirinya yang baru menyadari jika ternyata dirinya sudah berjarak begitu dekat pada dada bidang milik laki-laki itu.

Sedikit demi sedikit Dhea berhasil mencium aroma maskulin yang menguar dari parfume yang di pakai oleh Dihan. Dhea mendongakkan kepala pelan—memberanikan diri untuk menatap wajah Dihan yang memang sejak tadi memperhatikan Dhea dengan kepala tertunduk akibat perbedaan tinggi mereka yang terlampau signifikan.

“Hati-hati.” ucap Dihan, rendah dan begitu lirih.

Dhea mengerjapkan matanya serta anggukan singkat tanda mengiyakan jawaban Dihan. Namun entah perasaan apa yang menghinggapinya saat ini, Dhea masih betah saja berada dalam posisinya sekarang. Memandang Dihan lekat dalam jarak teramat dekat. Begitu juga dengan Dihan yang masih setia menopang sebelah tangannya di atas kepala Dhea meskipun buku-buku tadi sudah kembali ke letak posisinya masing-masing.

Begitu lama aksi pandang-pandangan itu berlangsung, hingga Dhea merasa jantungnya semakin berdebar hebat sewaktu sadar kalau Dihan sudah perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke arah Dhea. Membuat Dhea menahan nafas dan mendadak lupa caranya menghirup udara. Demi apapun, Dhea sangat gugup kali ini. Dirinya tidak tahu harus bertindak apa sekarang. Pikirannya sudah mulai kacau. Ingin rasanya ia bertolak dari tempat ini kala itu juga. Namun detik ini sang raga seolah berlain pihak dengan logika. Naluri tubuhnya itu justru memerintahkan untuk berdiam. Seperti membisik lirih ke telinga Dhea untuk menyuruhnya tidak melakukan hal apapun selain memasrahkan diri saja.

Dhea semakin meremas sisi rok sekolahnya sewaktu nafas Dihan jelas sudah menerpa wajahnya. Dan saat itulah, Dhea memejamkan matanya begitu kuat. Menunggu kejadian berikutnya yang tentu akan semakin mendebarkan daripada sekarang.

“PANAS BANGET WOY!”

Tangan Dhea otomatis tergerak mendorong dada Dihan untuk menjauh darinya sewaktu ia mendengar suara Ecan dari arah pintu luar. Membuat tubuh Dihan sontak saja terhempas ke arah belakang dan membentur kursi-kursi yang berada disana—terjengkang dengan sangat-sangat tidak estetiknya.

“Argh.” ringis Dihan.

Maaf Dihan,” sesal Dhea membatin.

Astagfirullah.” kaget Ecan sambil mengusap dada. Setelahnya ia memicingkan matanya keheranan melihat Dihan yang sudah tersungkur di bawah meja dan tampak berusaha bangkit sambil mengusap punggungnya yang terasa sakit.

“Lah ada kalian berdua ternyata disini.” ujar Ecan sembari menatap Dhea dan Dihan secara bergantian. Dan kedua orang tadi mendadak salah tingkah setelah kemunculan Ecan di ruangan itu.

Alis Ecan semakin bertaut melihat gelagat mencurigakan dari dua orang tersebut. Sedangkan Dhea sudah memutar bola matanya ke atas memikirkan berbagai alasan yang masuk akal.

“Gu-gu-gue ke kelas duluan ya, Can. Ngeri ada guru nanti.” gugup Dhea buru-buru melangkah pergi dari ruangan OSIS. Tidak mau di serang pertanyaan-pertanyaan aneh dari Ecan yang sudah menatapnya penuh selidik.

“Saya juga mau ke kelas. Bentar lagi jam pelajaran ganti.” susul Dihan juga. Keduanya cepat-cepat memisahkan diri di depan pintu ruangan OSIS, meninggalkan Ecan yang masih di penuhi sesak tanda tanya di atas kepalanya.

“Eh, bukannya—” cegat Ecan pada keduanya. Namun percuma, ternyata Ecan hanya di abaikan saja oleh dua insan itu. Ecan pun mengerutkan wajah semakin kebingungan melihat sikap aneh dua temannya. Belum habis seluruh rasa penasaran Ecan, tidak lama berselang dua orang tadi kembali bertemu di depan ruang OSIS.

“Aku lupa kalau kelas IPS ada di gedung timur.” kikuk Dhea.

Dihan juga demikian. Sambil menggaruk tengkuknya ia balas berucap.

“Saya juga baru ingat kalau kelas IPA itu ada di sisi barat.”

Dan mereka pun bertukar arah.

  • sekar

“Baiklah, sesi kita hari ini cukup sampai disini saja. Saya akhiri wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warrohmatullahi wa barokatuh.”

“Waalaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh.” jawab para mahasiswa begitu serentak.

Seisi kelas lantas beranjak dari kursi-kursi mereka selepas dosennya berlalu meninggalkan ruangan. Begitu juga dengan Sekar dan sekawanan lainnya yang sudah melangkah menuju pintu kelas.

“Eh, kita jadi 'kan ke kantin mesin?” tanya Rizka yang matanya paling berbinar bahagia di antara yang lain.

“Riz, lo kenapa deh semangat bener ke kantin mesin? Dari semalem perasaan.” cicit Asfa.

“Biasalah. Lo kayak ngga tahu Rizka aja. Cari yang seger-seger.” sahut Acha dari balik tubuh Rizka.

“Hahaha bisa aja lo ya, Riz. Giliran perihal cowok aja semangat. Coba kalau lagi belajar.” ledek Vega.

Tawa mereka meledak begitu saja memenuhi seantero koridor jurusan. Menggema keras, bersahutan dengan langkah-langkah kaki mereka yang sekarang sudah sibuk membahas perihal laki-laki teknik yang menjadi perbincangan utama mereka.

Sekar menghela nafas sedikit berat. Matanya melirik ke arah jendela kaca untuk menatap terik yang bersilau dari baliknya. Berbeda dengan teman-teman yang lain, Sekar yang memang tidak terlalu suka panas matahari itu terlihat enggan membahas tentang kantin teknik mesin yang sudah ia bayangkan akan butuh sedikit tenaga ekstra untuk mencapai tempatnya.

“Kita jalan ya kesana?” tanya Sekar.

“Ya iyalah Sekar. Masa iya kita terbang.” sewot Vega.

“Panas ih.”

“Panas matahari doang elah. Bukan panas api neraka.”

“Males. Udah panas, jauh lagi.”

“Sumpah ini orang emang ngga bersyukur banget jadi Hamba Allah.”

Sekar mengerucutkan bibirnya. Merasa sungkan karena satu temannya sama sekali tidak berada di pihak yang sama dengannya.

“Udah deh, Kar. Ikut kita aja. Pegel dikit, panas dikit itu biasa. Ambil hikmahnya. Kali aja nih karena lo tegar, Tuhan berbaik hati sama lo. Bisa aja lo sudah ini dapet rezeki.” ujar Acha.

“Betul tuh. Setuju gue.” timpal Rizka penuh semangat.

“Etdaahh banyak bacot lo semua. Buruan gih keburu rame entar kantinnya.” ajak Asfa pada teman-temannya. Sedangkan Sekar hanya bisa pasrah sewaktu lengannya di tarik paksa oleh Asfa.


Sekar menyilangkan kedua tangannya di depan dada sewaktu melihat kondisi kantin mesin sekarang. Sungguh, ketimbang menjadi kantin—tempat ini sepertinya lebih layak di sebut pasar ikan. Manusianya begitu ramai. Terlebih ini kantin mayoritas di huni oleh kaum adam, tentu saja mereka-mereka bertindak sangat brutal. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang bertindak anarki saking sengitnya persaingan untuk memperoleh sepiring nasi untuk makan siang.

“Serius. Ini bahkan lebih parah dari ekspetasi gue.” komentar Sekar. Ia bahkan sesekali bergidik saat melihat dua laki-laki yang saling menyikut waktu berebutan centong nasi.

“Eh, kita beneran ya mau makan disini?” tanya Rizka yang awalnya begitu bersemangat, mendadak tidak yakin.

“Tapi kita udah jauh-jauh kesini. Ya kali cuma dapet capeknya doang.” balas Acha.

“Terus?”

“Ya beli kek apa aja. Pokoknya jangan sia-siain lima menit perjalanan kita untuk sampai disini.” tekad Acha.

“Ya udah deh. Enak beli apaan yak?” bingung Vega sembari mengusap dagu.

“Gue kemarin dapet rekomendasi dari sepupu gue. Katanya bakso goreng disini enak lho. Mau coba gak?” tawar Acha.

“Ihh gue mau bakso goreng.” semangat Rizka.

“Ayo lah kita kesana. Sekalian kalau ada yang mau jajan yang lain juga.” ajak Acha.

“Gue up deh. Nunggu disini aja.” tolak Sekar cepat.

“Lah, ngga mau jajan?” tanya Asfa keheranan.

“Engga. Nanti sekalian aja kalau mau makan siang. Nanti gue kenyang kalau nyemil dulu.”

“Ohh ya udah. Tapi lo beneran gapapa nunggu sendirian disini?” yakin Asfa lagi.

“Iyaaa gapapa” jawab Sekar tidak merasa beban.

Keempat orang lainnya pun berjalan memasuki kantin mesin. Sedangkan Sekar, gadis itu memilih duduk dan menunggu teman-temannya di bawah pohon jambu yang kebetulan ada kursi kayu disana.

Setelah mendapat posisi ternyaman, Sekar mulai merogoh tasnya. Mengambil sebuah benda berbentuk kotak tipis yang menjadi benda wajib generasi millenial saat ini. Menggulir layarnya begitu lihai sambil sesekali tertawa melihat-lihat hal lucu yang tertampil di ponselnya. Hal sederhana yang cukup menghibur kesendirian seraya menunggu kehadiran teman-temannya kembali ke hadapannya.

Di waktu yang bersamaan, tepatnya dari arah barat tempat deretan gedung-gedung perbengkelan teknik mesin berada. Tampak tiga anak adam dengan segala kerecehan dan tingkah absurd mereka perlahan melangkahkan kakinya menuju kantin. Bersenda gurau ala anak lelaki pada umumnya, terkadang di sela tindak kekerasan yang sudah menjadi suatu bentuk kewajaran bagi mereka. Tawa lepas yang menggema di udara, sama sekali tidak menghalangi mereka untuk mengekspresikan kebahagiaan hidup yang bebas.

“Yud, lu mau lauk apa?” tanya Johnny sewaktu dirinya usai menyentong dua undak nasi di atas piringnya.

“Paus goreng ada?”

“Adanya mermaid goreng.”

“Okey, ambilin gua satu.”

Johnny meraih buntut ikan lele dan meletakkannya satu di piringnya, berikut kepada piring Yudha.

“Curang lo! Mermaid gua napa kecil banget.” protes Yudha.

“Woilah lo mau segede apa lagi sat. Megalodon?”

“Ogah! Gua mau yang ukurannya 30 senti.”

“Banyak tingkah lu ya.”

Lagi, keributan terjadi antara Yudha dan Johnny. Tirta yang sedarinya sedang menyendok sayur asam ke dalam mangkuk kecil di atas piringnya lekas menoleh ke arah dua temannya tadi.

“Ribut lagi gua siram lu berdua pake sayur asem!” ancam Tirta.

Keduanya terdiam.

Setelah aktivitas mengantri mereka terselesaikan. Yudha, Johnny, dan Tirta mulai merambat menuju meja dan meletakkan piring masing-masing di atasnya. Sebelum benar-benar duduk, Tirta mengulurkan telapak tangannya ke arah dua temannya maksud untuk mengajak gambreng seperti kebiasaan mereka sebelum makan siang.

“Fiuh, semoga gua hoki hari ini.” tiup Yudha pada kepalan tangannya. Dan sedetik kemudian mereka melakukan gambreng.

“ARRRGGHHH.” frustasi Johnny sewaktu sadar ia mengeluarkan punggung tangan yang serupa dengan Tirta. Sedangkan Yudha sendiri, laki-laki itu mengeluarkan telapak tangan dalamnya yang berwarna putih.

“Owhh okey, babu-babuku. Silakan jalankan tugas kalian.” sombong Yudha yang sudah merentangkan tangannya lebar. Sedangkan Johnny dan Tirta terlihat sudah begitu pundung.

“Gua biasa, kopi item ya. Kerupuk udangnya satu. Sama ... Oh iya, korek deh. Mau ngudut, abis korek gue.” titah Yudha.

Johnny dan Tirta sama sekali tidak mengeluarkan suara dan menurut saja sewaktu Yudha menyuruh mereka. Sesuai perjanjian yang telah mereka buat di waktu sebelum-sebelumnya, tidak ada yang boleh protes pada siapapun yang menjadi pemenang gambreng.

Yudha tertawa cekikikan melihat dua temannya yang sudah berlalu. Kemudian lanjut menyendok nasinya dan mengunyah lele goreng dan menikmatinya dengan raut wajah yang begitu ekspresif.

“Emang paling mantep dah makan siang sama mermaid goreng.” komentar Yudha yang mulutnya sudah penuh sesak nasi kunyahannya.

Yudha mendongakkan kepala, menebar pandang pada pepohonan teduh di hadapannya. Suatu pemandangan asri yang hakiki di nikmati oleh mata insan butuh kemanjaan. Hingga retinanya menangkap bayang sosok ciptaan Tuhan yang membuatnya terpana untuk sesaat. Melupakan sejenak hiruk pikuk dunia pada fokus hawa yang kini duduk di bawah pohon jambu yang dedaunnya melambai pelan.

Yudha terpana. Bola matanya bahkan sama sekali tidak ia kedip barang satu detik saja. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memandang puan yang berhasil mencuri atensinya. Hingga beberapa saat kemudian, tubuhnya di buat tersentak oleh suara gebrakan keras di ikuti sebuah korek gas di atas meja.

“Nih ya. Tugas gua selesai.” ucap Tirta.

Yudha melirik tidak terima ke arah Tirta yang sudah mengejutkannya. Namun ia tidak begitu mempermasalahkan hal itu mengingat aktivitas sebelumnya yang sempat tertunda.

Yudha menolehkan kepalanya lagi. Namun nihil, gadis tadi sudah tidak berada di tempatnya. Perempuan itu, menghilang begitu saja.

“Tirta anjing!”

Tirta menaikkan dua alisnya dengan tampang yang sungguh tidak berdosa. Matanya beralih ke korek api yang tergeletak di atas meja, kemudian balik menatap wajah Yudha yang tampak begitu kecewa.

“Lu tadi bilang korek 'kan?”

-sekar

Kalau berbicara tentang hari valentine, tentu saja setiap orang akan memikirkan satu benda identik yang menjadi ciri khas hari kasih sayang tersebut. Cokelat. Ya, makanan manis itu menjadi menu utama di tanggal 14 Februari ini.

Dhea yang sejak tadi menunggu Ryu mengantri kasir lama-lama merasa kurang nyaman. Bagaimana tidak? Cokelat-cokelat yang terpajang di rak minimarket itu kembali mengingatkannya tentang surat cinta dan cokelat yang ia berikan pada Dihan dua minggu lalu, waktu ulang tahun Dihan. Perasaan trauma dirinya akan hal itu, juga kado salah sasarannya kepada Ecan membuat Dhea ingin menyerah saja untuk Dihan.

Biarlah peristiwa bergulir sebagaimana mestinya. Dhea tidak ingin berusaha lebih banyak lagi dan membuatnya semakin bertambah malu.

“Cokelatnya dek, lagi promo ini beli dua gratis satu.” tawar sang kasir.

Ryu mengalihkan perhatiannya sebentar ke arah rak kasir tempat cokelat-cokelat tersebut tersusun. Sambil mengocek dompetnya, Ryu menyenggol sekilas lengan Dhea yang masih berdiri mematung di sebelahnya.

“Dhe, lo mau cokelat ngga?”

“ENGGA!” jawab Dhea spontan. Membuat Ryu kaget, kasir kaget, juga pengunjung lainnya kaget.

“S-santai aja kali, Dhe. Gue nanya doang.” bisik Ryu malu.

Dhea mengulum bibirnya dalam sewaktu ia tidak sengaja kelepasan berteriak di minimarket itu. Entah bentuk malu apa lagi yang harus di terimanya, sepertinya Dhea wajib menceburkan diri ke rawa-rawa saja. Biarkan ia berbaur dengan ikan lele, belut, dan keong-keong sawah.

Setelah Ryu menyudahi kegiatan transaksinya bersama kasir, gadis itu bergegas mengajak Dhea keluar dari minimarket dan mulai menghidupkan mesin motornya. Setelah Ryu selesai bersama urusannya menggantungkan kantong belanjaannya di motor, Ryu mendongakkan kepalanya—mengintip aktivitas sahabatnya dari balik kaca helm yang tidak bisa di naikkan lagi itu.

“Kok bengong?” bingung Ryu.

Dhea terkesiap. Matanya langsung tertuju ke wajah Ryu yang masih menatapnya dengan raut keheranan.

“Yuu gue maluu.” rengek Dhea tiba-tiba.

“Malu kenapa?”

“Malu aja.”

“Jangan gaje deh.”

“Yu gue udah ngga ada harga diri di depan crush gue.”

C-crush?” kernyit Ryu dengan masih menahan kaca helmnya agar tidak turun.

Crush tuh apaan?” ulangnya lagi.

Dhea menghela nafas kasar mendengar pertanyaan Ryu. Zaman begini Ryu masih tidak tahu apa arti crush?

Yang benar saja.

“Udah ah lupain, balik sekolah lagi aja kita.” akhir Dhea yang terlalu malas untuk menjelaskan duduk perkaranya kepada Ryu.

Dhea dan Ryu akhirnya kembali ke sekolah dengan membawa beberapa belanjaan makanan ringan dari minimarket. Setibanya mereka di ruang OSIS, Ecan dengan mata berbinarnya langsung menyambut bahagia kehadiran dua teman perempuannya itu.

“Tau aja gue lagi laper.” ujarnya senang.

“Siapa bilang ini buat lo? Orang mau makan sendiri.” protes Ryu.

“Yu, bagi dikit doang.” rengek Ecan.

“Ga mau, dikit lo itu ngabisin.”

“Jahat.” cebik Ecan sok manja.

“Bertingkah lagi lo beneran gue tabok pake raket nyamuk.”

Keributan antara Ecan dan Ryu memang sering terjadi seperti ini. Saking seringnya mereka bertengkar, seluruh anggota OSIS pun sudah paham sekali kelakuan mereka, dan memakluminya. Termasuk si ketua OSIS, Dihan.

“Dihan, ada kiriman nih. Ngga tahu dari siapa” ujar sebuah suara dari balik pintu. Dihan lekas menoleh sesaat melihat Mina sudah membawa sebuket bunga untuk Dihan.

“Dari siapa?” tanya Dihan heran. Ia mengambil buket bunga matahari yang di bawa oleh Mina dan melihat-lihat bunga itu sebentar, mungkin saja ada identitas pengirim yang tertera disana.

“Ngga tahu. Tadi gue abis dari pos satpam mau ambil titipan mama gue. Terus kata pak satpam ada ojol nganterin paket bunga ini. Katanya untuk Dihan.” jelas Mina.

Dihan semakin mengerutkan keningnya heran dan begitu penasaran dengan paket bunga yang ia terima. Sedangkan Ecan yang juga ikut penasaran dengan kiriman bunga itu turut mendekat ke arah Dihan.

“Dari secret admirer lagi?” tanya Ecan.

Dihan mengedikkan bahu acuh. “Mungkin ya.”

“Wah, niat banget dia ngasih lo bunga ginian. Matahari lagi.”

“Niat lah. Ini kan hari valentine.” sahut Mina.

“Oh iya. Lupa. Ciee dapet gift valentine dari someone special nih.” goda Ecan sambil menyenggol lengan Dihan pelan. “Dari siapa sih?”

“Ngga tahu. Saya cari-cari ngga ada nama pengirimnya.”

“Atau dari orang yang sama dengan pengirim surat kemarin?” tebak Ecan.

Dhea yang mendengar tebakan Ecan langsung melototkan matanya. Sungguh, kali ini bukan dirinya yang mengirim bunga itu. Ia tidak mungkin sebermodal itu memberi Dihan buket bunga. Apalagi segede gaban seperti itu.

Dihan tampak acuh saja. Ia meletakkan saja buket itu di atas meja, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

Hingga hari sudah menjelang sore, satu-persatu dari mereka sudah perlahan berpulangan. Tersisa beberapa orang saja dan di antaranya ada Dihan juga Dhea disana.

“Dey ngga pulang?” tanya Dihan.

“Ini mau pulang.” jawab Dhea sambil merogoh tasnya mencari-cari kunci motor.

“Bareng aja ke parkirannya. Saya beres-beres bentar. Tunggu ya.”

Dhea pun mengangguk saja. Tidak lama juga Dihan beres-beres. Setelah cukup, Dihan pun menyampirkan tas punggungnya dan tidak lupa—buket bunga yang katanya dari secret admirer itu di bawa juga.

Ngomong-ngomong tentang bunga, Dhea jadi penasaran. Siapa sih orang yang berani secara terang-terangan memberi bunga seperti itu? Nyalinya besar sekali. Untung saja Dihan tipe orang menghargai dan tidak mudah ilfeel. Jadi si pengirim itu tidak perlu merasa kecewa kalau Dihan menolak pemberiannya.

Mereka berjalan beriringan di koridor sekolah yang sudah perlahan sepi. Perasaan canggung mulai menyelimuti kebersamaan mereka. Apalagi setiap Dhea melihat bunga yang di bawa Dihan, rasanya aneh saja. Ada perempuan lain ternyata yang lebih berjuang daripada dirinya. Sedangkan Dhea? Tidak berbuat banyak. Bermodal cokelat sebatang saja dramanya sungguh luar biasa.

“Seneng ya dapet bunga dari orang spesial?” singgung Dhea di tengah keheningan perjalanan mereka. Dihan pun menoleh ke arah Dhea yang berada beberapa jarak darinya, melirik sebentar ke arah bunga yang berada di tangan kanannya sekarang diiring senyum tipis.

“Cantik, bunganya.” balas Dihan.

Dhea semakin di buat jengkel ketika mendengar Dihan memuji bunga itu. Di dalam hatinya ada perasaan cemburu sewaktu Dihan memuji hal pemberian dari orang lain.

Percakapan berhenti sampai disitu saja. Dhea terlalu enggan untuk melanjutkan basa-basi dan pada akhirnya dapat membuat ia sendiri sakit hati. Setibanya di parkiran, ternyata Dhea baru sadar jika letak motor Dihan dan motornya tidak berjauhan. Hanya tercipta beberapa jengkal saja.

“Dey.” panggil Dihan sewaktu mereka tiba di lahan parkir. Dhea menoleh sewaktu Dihan memanggilnya dengan panggilan buatannya sendiri—ah, tidak. Itu memang panggilan rumah Dhea sebetulnya.

“Apa?” balas Dhea, agak ketus.

“Saya seneng dapet bunga dari orang spesial.” ucapnya penuh teka-teki.

Dhea memutar bola matanya sejenak ke atas. Memikirkan maksud dari ucapan tiba-tiba Dihan sekarang. Namun sebelum Dhea tuntas untuk menyelesaikan susunan puzzle di otaknya, Dihan kembali berujar.

“Tapi saya lebih suka ngasih bunga ke orang spesial. Bagi saya kamu orangnya, ya udah ini untuk kamu.”

Tunggu, maksudnya apa ini? Dhea masih tidak paham mengapa Dihan berucap seperti itu. Ia juga tidak paham maksud Dihan menyodorkan bunga matahari itu kepadanya sekarang.

“Mau ngga jadi orang spesial saya?”

  • sekar -

Dhea memunculkan sedikit bagian kepalanya dari balik tembok gedung sekolah. Menolehkan wajahnya ke kanan dan kiri layaknya detektif yang sedang menjalankan misi. Setelah di rasanya suasana sedikit aman, baru lah dirinya lanjut mengendap-ngendapkan langkah dan berjalan penuh kehati-hatian di bawah jendela ruang OSIS. Setibanya ia disana, ia melongokkan kembali kepalanya ke dalam ruangan. Bertindak begitu mencurigakan dan kali ini—Dhea bahkan terlihat seperti pencuri amatir.

Dhea mengembuskan nafas lega sewaktu sadar ruangan itu sepi tanpa seorang pun disana. Dhea kemudian menebar pandangannya—menyapu seluruh isi ruangan sesaat setelah ia berhenti dalam satu titik pandang yang menarik perhatiannya sekarang.

Itu tas Dihan.

Dengan masih dengan gerakan hati-hati Dhea lantas mendekat dan membuka tas tersebut. Setelah tas itu terbuka, baru lah Dhea mengeluarkan sesuatu dari balik kemeja putihnya. Menampakkan sebatang cokelat Silver Queen Chunky Bar berpita bersamaan dengan seonggok surat berwarna biru muda. Dhea tersenyum lebar, otaknya langsung terbayang dengan reaksi Dihan ketika laki-laki itu membuka surat itu nanti. Hingga beberapa saat Dhea terhanyut dalam khayalan, ia buru-buru tersadar dan dengan gerakan cepat memasukkan cokelat dan surat itu ke dalam tas Dihan.

“Semoga aja Dihan baca surat gue.” cengir Dhea bangga.

Sorenya, para pengurus kembali berkumpul di ruangan OSIS. Dihan yang baru saja memasuki ruangan segera memeriksa berkas-berkas yang tertumpuk di atas meja dan terlihat sangat sibuk.

“Han, happy birthday yaaa.” ucap Shakira imut. Dihan pun membalas Shakira dengan senyuman saja pada sekretaris 2-nya tersebut.

“Makasih ya, Kira.”

“Eh, Dihan ultah? Kok pada ngga ngasih tahu? Ngga ada acara kejutan-kejutan gitu?” cerocos Mina.

“Ngga perlu, Min. Dihan mah ngga demen kejutan-kejutan. Lagipula, tanpa di kasih kejutan pun pasti dia udah dapet banyak. Kalau ngga percaya cek aja tasnya.” sahut Ecan.

Dhea yang sejak tadi menyimak diam-diam obrolan tersebut secepat kilat menoleh ke arah teman-temannya. Di dalam tas? Tadi Dhea juga memasukkan sesuatu di dalam tas Dihan. Dhea yang sudah sarat akan kekhawatiran dirinya lantas menoleh ke arah Dihan yang sudah tersenyum penuh makna. Seolah itu menjadi hal yang terlalu biasa baginya.

“Apaan sih kepo gue,” penasaran Mina. “Han, boleh ngga kita check isi tas lo?” minta Mina.

“Periksa aja ngga apa. Saya juga belum check isinya ada apa aja.” sila Dihan.

“Okey, mari kita eksekusi.” semangat Ecan. Lalu Ecan pun membuka tas itu dan—benar sekali yang di katakan Ecan. Tas itu hampir seluruhnya berisi cokelat. Bahkan sampai bertumpuk-tumpuk jumlahnya.

“Wow gila. Banyak banget fans lo, Han.” kagum Mina antusias.

“Saya memang sering dapet begituan dari tahun lalu. Ambil aja kalau kalian mau. Itu kebanyakan buat saya.”

Dhea sontak langsung kelabakan sewaktu mendengar perizinan Dihan tersebut. Terlebih ketika dirinya melihat Ecan dan Mina sudah bersiap untuk melihat-lihat cokelat itu. Bukan apa-apa, ia hanya malu saja kalau ada salah satu dari mereka menemukan surat rahasianya untuk Dihan. Ya, jangan sampai mereka membaca surat itu. Ah sial! Kalau tahu seperti ini Dhea juga tidak mau melakukannya.

“Kalau gue juga ambil satu boleh ngga?” minta Dhea penuh semangat. Dihan menoleh sebentar melihat reaksi yang terlalu antusias dari Dhea, dengan gerakan ragu Dihan mengangguk saja sebagai jawaban.

Dhea mulai mendekat ke arah Ecan dan Mina berada. Langsung bergabung dengan kedua orang itu dan ikut membongkar seluruh isi cokelat di dalam tas Dihan. Berharap menemukan cokelat dan suratnya tadi lebih dulu dari Ecan maupun Mina. Namun keberuntungan sepertinya sama sekali tidak berpihak pada Dhea. Nyatanya cokelat dan surat itu sekarang sudah berada di tangan Ecan.

“Eh, yang ini ada suratnya,” heboh Ecan. “Kayaknya panjang deh isinya.”

“Han, boleh ngga kalau kita buka juga isi surat ini?” izin Mina lagi pada sang tuan.

“Buka aja.”

Dhea melototkan matanya begitu lebar. Sedangkan Ecan sudah menyeringai lebar bersiap-siap untuk mengintip isi dari surat cinta dari Dhea tersebut.

Surat itu akhirnya terbuka secara sempurna. Dhea yang sudah pasrah hanya bisa memejamkan matanya kuat sewaktu Ecan sudah mulai membaca sekilas, dan sesekali tertawa geli selama membacanya. Melihat reaksi Ecan tersebut, tentu saja Dhea semakin malu.

“Han, Han. Mau denger isi suratnya ngga?” tawar Ecan.

Oh tidak, apakah hal memalukan ini tidak cukup berhenti sampai disini saja?

“Apa isinya?” tanya Dihan yang mulai tertarik dengan surat tersebut.

“Gue bacain gede-gede ya biar denger semua” ujar Ecan. Yang lain pun bersiap-siap untuk mendengarkan isi surat itu. Mereka terlihat begitu penasaran. Sepertinya cuma Dhea yang tidak begitu antusias.

“Hai Dihan. Orang yang beberapa waktu ini buat hari-hari gue bahagia. Selamat ulang tahun ya. Maaf gue cuma bisa ngasih ini ke lo. Gue bingung Han mau ngasih apa. Dan maaf juga kalau gue ngga bisa ngasih surat ini ke lo langsung. Ya, gue cupu emang Han. Ngga berani ngomong ke lo secara terang-terangan. Tapi seenggaknya gue mau lo tahu isi perasaan gue melalui tulisan ini aja meskipun lo ngga tahu gue siapa. Karena gue nulis surat ini pake kata hati gue yang paling dalam. Gue harap perasaan gue yang tertuang disini beneran sampe ke lo. Buat lo beneran tersentuh. Buat lo beneran peka dan tahu, kalau gue emang sesuka itu sama lo. From your secret admirer.

“Aaawww. Dihan dapet surat cinta nich.” dramatis Ecan sambil memegang dadanya berekasi lebay. Begitu juga dengan Mina yang sudah melincak-lincak tidak karuan setelah mendengar surat yang di bacakan oleh Ecan barusan.

So sweet banget. Kira jadi baper deh.” ujar Shakira ikut mellow.

“Ya ampun siapa sih ngirim uwu banget gitu.” komentar Ryu.

Dan mendadak suasana menjadi gaduh hanya dengan secarik surat cinta anonim dari Dhea.

Dihan yang sedarinya sibuk menyusun berkas-berkas di atas meja tidak kuasa menahan senyumnya. Di ambilnya surat cinta itu dan di bacanya kembali surat yang sukses membuat heboh seisi ruang OSIS.

Dihan tampak beberapa kali tertawa kecil membaca surat cinta itu. Melihat reaksi tersebut Dhea jadi bertambah malu. Apa suratnya tadi terlalu cringe untuk di baca sehingga Dihan meresponnya dengan tawa? Ah, tiba-tiba Dhea merasa sangat menyesal sudah melakukan tindakan bodoh.

“Lucu banget deh.” geli Dihan. Ia pun menolehkan kepalanya ke arah Ecan yang masih sibuk drama king bersama Mina.

“Tapi ini bakal saya simpen di dalam buku agenda.” tunjuk Dihan ke arah Ecan, lalu di selipkannya surat itu di buku agenda miliknya yang semua orang tahu—buku itu tempat Dihan menyimpan dan mencatat hal-hal penting di dalamnya.

Apakah surat cinta itu menjadi yang terpenting juga untuk Dihan?