Ruang OSIS

Dhea memasukkan dengan cepat ponselnya ke dalam saku sesaat setelah dirinya membalas pesan terakhir kepada Dihan. Ia lantas beranjak, tidak ingin berlama-lama menyita waktunya lagi. Gadis itu langsung saja bergegas menuju ruang OSIS—demi menemui sang pujaan hati yang katanya sedang berada di ruangan itu. Setibanya Dhea disana, senyumnya otomatis terkembang tatkala melihat kekasihnya yang sudah duduk sendirian di salah satu bangku kecil terletak di sudut ruangan. Dengan kebiasaannya yang menopang dagunya dengan sebelah tangan, laki-laki itu tampak terlihat begitu fokus pada aktivitas membacanya. Sampai-sampai ia tidak mengetahui bahwa Dhea sudah berdiri di dekatnya saat ini.

“Fokus banget bacanya.” sindir Dhea yang membuat Dihan sedikit terkaget. Namun tidak lama kemudian, senyumnya ikut merekah sewaktu sadar bahwa orang itu adalah Dhea. Dihan lalu menutup lembaran kertas jilid yang ada di tangannya. Lanjut menatap Dhea dengan dua alis terangkat.

“Cepet banget sampai sini.” balas Dihan. “Kamu lari?”

“Engga kok.”

“Beneran?”

“Ngga percaya?”

“Jangan lari-lari dong. Saya ngga bakal pergi kemana-mana juga.”

Dhea tertawa kecil menanggapi hal itu. Kemudian bola matanya bergerak menuju ke arah tangan Dihan, memperhatikan apa yang sedang di kerjakan oleh laki-laki itu sekarang.

“Kamu ngapain?” tanya Dhea.

Dihan mengalihkan perhatiannya sebentar ke arah kertas jilid yang ada di tangannya sebelum lanjut menjelaskan.

“Kelas saya juga lagi jamkos. Daripada buang-buang waktu percuma disana. Saya mau pelajari sedikit tentang pensi akbar tahun lalu. Buat referensi acara kita nanti.”

Sebelah bibir Dhea terangkat spontan saja mendengar jawaban Dihan tersebut. “Dihan pensi masih dua bulan lagi, ya kali udah mikir kesana aja.”

“Saya ketua OSIS, Dey. Soal konsep seperti ini sebelum orang lain punya ide saya harus punya modal dulu. Baru yang lain bisa menambahkan.”

Dhea memutar bola matanya seraya menarik nafas dalam. “Iya, iya deh. Tahu ketos perfeksionis.” cibir Dhea.

Dihan tidak membalas cibiran Dhea dengan kalimat. Hanya sebuah helaan nafas pelan yang tidak begitu bisa di pahami maknanya. Sedangkan Dhea, gadis itu sudah perlahan merambat menuju rak buku dan tampak melihat-lihat sebentar. Dalam heningnya, diam-diam Dihan menarik dua sudut bibirnya. Entah mengapa menyaksikan Dhea berdiri membelakanginya seperti ini saja menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Dihan. Menurutnya, Dhea itu rupawan bukan dari parasnya saja, namun dari berbagai sudut.

Langkah Dihan mulai berayun untuk mendekati Dhea yang tampak terlihat bersusah payah meraih buku yang agak tinggi di atas kepalanya. Sembari menjijitkan kaki, Dhea terus-terusan berupaya mengambil buku itu hingga akhirnya ia berhasil juga mendapatkannya. Dhea langsung menarik buku itu tanpa berpikir panjang bahwa ia bisa saja menjatuhkan buku-buku lain juga.

“Ehh ...” Dhea otomatis meringkuk untuk melindungi kepalanya sewaktu melihat buku-buku tebal itu siap menimpuk kepalanya. Dihan yang melihatnya sontak saja bergerak cepat dan dengan sigap mengangkat tangannya untuk menahan buku-buku itu agar tidak terjatuh menimpa kepala Dhea.

“Dihan, makasih—” ucap Dhea yang langsung membalikkan badan ke arah Dihan, bersamaan dengan keterkejutan akan dirinya yang baru menyadari jika ternyata dirinya sudah berjarak begitu dekat pada dada bidang milik laki-laki itu.

Sedikit demi sedikit Dhea berhasil mencium aroma maskulin yang menguar dari parfume yang di pakai oleh Dihan. Dhea mendongakkan kepala pelan—memberanikan diri untuk menatap wajah Dihan yang memang sejak tadi memperhatikan Dhea dengan kepala tertunduk akibat perbedaan tinggi mereka yang terlampau signifikan.

“Hati-hati.” ucap Dihan, rendah dan begitu lirih.

Dhea mengerjapkan matanya serta anggukan singkat tanda mengiyakan jawaban Dihan. Namun entah perasaan apa yang menghinggapinya saat ini, Dhea masih betah saja berada dalam posisinya sekarang. Memandang Dihan lekat dalam jarak teramat dekat. Begitu juga dengan Dihan yang masih setia menopang sebelah tangannya di atas kepala Dhea meskipun buku-buku tadi sudah kembali ke letak posisinya masing-masing.

Begitu lama aksi pandang-pandangan itu berlangsung, hingga Dhea merasa jantungnya semakin berdebar hebat sewaktu sadar kalau Dihan sudah perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke arah Dhea. Membuat Dhea menahan nafas dan mendadak lupa caranya menghirup udara. Demi apapun, Dhea sangat gugup kali ini. Dirinya tidak tahu harus bertindak apa sekarang. Pikirannya sudah mulai kacau. Ingin rasanya ia bertolak dari tempat ini kala itu juga. Namun detik ini sang raga seolah berlain pihak dengan logika. Naluri tubuhnya itu justru memerintahkan untuk berdiam. Seperti membisik lirih ke telinga Dhea untuk menyuruhnya tidak melakukan hal apapun selain memasrahkan diri saja.

Dhea semakin meremas sisi rok sekolahnya sewaktu nafas Dihan jelas sudah menerpa wajahnya. Dan saat itulah, Dhea memejamkan matanya begitu kuat. Menunggu kejadian berikutnya yang tentu akan semakin mendebarkan daripada sekarang.

“PANAS BANGET WOY!”

Tangan Dhea otomatis tergerak mendorong dada Dihan untuk menjauh darinya sewaktu ia mendengar suara Ecan dari arah pintu luar. Membuat tubuh Dihan sontak saja terhempas ke arah belakang dan membentur kursi-kursi yang berada disana—terjengkang dengan sangat-sangat tidak estetiknya.

“Argh.” ringis Dihan.

Maaf Dihan,” sesal Dhea membatin.

Astagfirullah.” kaget Ecan sambil mengusap dada. Setelahnya ia memicingkan matanya keheranan melihat Dihan yang sudah tersungkur di bawah meja dan tampak berusaha bangkit sambil mengusap punggungnya yang terasa sakit.

“Lah ada kalian berdua ternyata disini.” ujar Ecan sembari menatap Dhea dan Dihan secara bergantian. Dan kedua orang tadi mendadak salah tingkah setelah kemunculan Ecan di ruangan itu.

Alis Ecan semakin bertaut melihat gelagat mencurigakan dari dua orang tersebut. Sedangkan Dhea sudah memutar bola matanya ke atas memikirkan berbagai alasan yang masuk akal.

“Gu-gu-gue ke kelas duluan ya, Can. Ngeri ada guru nanti.” gugup Dhea buru-buru melangkah pergi dari ruangan OSIS. Tidak mau di serang pertanyaan-pertanyaan aneh dari Ecan yang sudah menatapnya penuh selidik.

“Saya juga mau ke kelas. Bentar lagi jam pelajaran ganti.” susul Dihan juga. Keduanya cepat-cepat memisahkan diri di depan pintu ruangan OSIS, meninggalkan Ecan yang masih di penuhi sesak tanda tanya di atas kepalanya.

“Eh, bukannya—” cegat Ecan pada keduanya. Namun percuma, ternyata Ecan hanya di abaikan saja oleh dua insan itu. Ecan pun mengerutkan wajah semakin kebingungan melihat sikap aneh dua temannya. Belum habis seluruh rasa penasaran Ecan, tidak lama berselang dua orang tadi kembali bertemu di depan ruang OSIS.

“Aku lupa kalau kelas IPS ada di gedung timur.” kikuk Dhea.

Dihan juga demikian. Sambil menggaruk tengkuknya ia balas berucap.

“Saya juga baru ingat kalau kelas IPA itu ada di sisi barat.”

Dan mereka pun bertukar arah.