Bohong

Yudha menyandarkan punggungnya di jok mobil sambil bersiul ria. Tampak sekali hari ini wajahnya begitu cerah. Bagaimana tidak? Hari ini ia memiliki kesempatan kedua bertemu dengan adik MIPA. Yah... Meskipun harus dengan teman-temannya, sih. Tapi Yudha mewajarkan hal itu. Mungkin alasan itu hanya alibi saja karena si adik MIPA tentu masih merasa cukup canggung berdua saja dengannya. Tidak apa-apa, yang penting usaha ya, kan? Semuanya perlu proses, tidak ada yang instan.

Yudha merogoh saku kemejanya. Meletakkan sekotak rokok bersampul merah ke atas dashboard Johnny. Bersamaan dengan sebatangnya yang sudah siap bertengger di bibir Yudha. Baru saja laki-laki itu hendak memantik rokoknya, dari kejauhan Yudha melihat sosok Sekar bersama teman-temannya. Melihat gadis-gadis remaja itu, Yudha mengurungkan niatnya untuk menyalakan korek. Melepas batang rokok itu dan memasukkannya ke dalam saku bertepatan dengan tibanya Sekar di samping mobil Johnny.

“Udah lama kak?” tanya Sekar yang baru saja duduk di kursi samping kemudi. Sedangkan buntut Sekar yang lain sudah sibuk berimpitan di jok belakang, menciptakan suara berisik khas anak perempuan.

“Engga kok.” balas Yudha mengulas senyum tipis. Sekar melihat itu. Lantas balas tersenyum juga. Sempat terjadi kontak mata di antara keduanya untuk beberapa saat hingga kontak itu terputus tatkala suara berisik dari bangku belakang mengalihkan atensi mereka berdua.

“Rizka gue kejepit nihhh.” keluh Asfa yang lapaknya di renggut seluruhnya oleh badan Rizka.

“Apaan deh? Gue udah geseran juga.” protes Rizka tidak mau kalah.

“Ya lo lihat sekarang posisi gue gimana? Lo tega buat gue gepeng kek gini?”

Asfa pun mendorong Rizka kuat. Merasa tidak terima, Rizka ikut membalas dorongan Asfa. Aksi dorong-dorongan tidak terhindarkan, membuat mobil Johnny berguncang hebat akibat kedua orang itu.

“Eh, udah. Jangan dorong-dorongan lagi ya ...” bujuk Yudha pelan. “Mobil kita dari luar kelihatan goyang. Entar di kira ngapa-ngapain lagi.”

Lelaki itu menghadapkan tubuhnya ke arah belakang. Di pandangnya secara bergantian teman-teman Sekar tersebut, kemudian ia menghela nafas pelan.

“Oke, solusinya gini aja. Si adek yang gen—”

“GUE NGGAK GENDUT!” sembur Rizka yang otomatis membuat Yudha memejamkan matanya.

“M-maaf. Maksudnya ... Adek yang berisi—”

“UDAH GUE BILANG GUE NGGAK GENDUT!”

Sekar yang sejak tadi menjadi saksi amukan Rizka cepat-cepat meluruskan keadaan. “Rizka kak namanya.”

Yudha langsung mengangguk paham mendengar penjelasan Sekar. “Oh iya, maksudnya. Dek Rizka boleh maju dikit, kasian tuh sama temennya yang cungkri—”

“TUBUH GUE IDEAL YA KAK BUKAN CUNGKRING!” kali ini Yudha justru mendapat semburan protes dari Asfa.

Sedangkan Acha dan Vega sejak tadi tertawa tidak berkesudahan dengan pertengkaran tidak penting tiga orang ini.

“Serba salah deh gue,” gumam Yudha pelan namun cukup bisa di dengar oleh Sekar. Gadis itu tertawa kecil saja, begitu menikmati kefrustasian Yudha menghadapi dua temannya yang sangat sensitif ini.

“Udah deh, kalian ngga usah banyak ribut. Pada numpang juga.” Sekar menukas.

Akhirnya keributan berakhir juga. Yudha sudah sedikit tenang sewaktu suasana kondusif. Seluruh penumpang di dalam mobil tersebut mendadak menjadi pendiam. Membuat Yudha yang tadinya canggung merasa menjadi sangat canggung terjebak dengan keheningan ini. Sesekali dirinya melirik ke arah Sekar yang sedarinya hanya sibuk mengotak-atik ponselnya saja.

“Ehm,” deham Yudha sedikit keras. Namun dehaman itu sama sekali tidak mengusik suasana tentram di dalam mobil tersebut.

“Gini ya kira-kira vibes driver taksi online.” sindir Yudha. Mendengar ucapan Yudha tersebut, Sekar langsung mengangkat kepalanya. Menolehkan sempurna wajahnya ke arah Yudha.

Yudha melototkan matanya. Mengapa jadinya seperti ini? Di pandang Sekar lekat seperti itu, justru membuatnya jadi gugup.

Sial, sindirannya jadi bumerang.

“K-kenapa dek?” tanya Yudha, takut-takut.

Sekar tidak langsung menjawab. Ia masih diam dengan tatapan semakin menyelidik.

“Kakak merokok ya?” tembak Sekar langsung. Pertanyaan random itu membuat Yudha semakin salah tingkah.

“Me-mangnya ... Kenapa kalau merokok?” tanya Yudha lagi lebih hati-hati. Sekar diam saja, sebelum kalimat gadis itu di sela oleh Vega yang duduk tepat di belakang jok pengemudi.

“Sekar ngga demen sama cowok merokok, kak.” jawab Vega. Mendengar penuturan Vega tersebut, Sekar langsung menoleh ke arah si pelaku.

Yudha menenggak salivanya susah payah. Sambil meraba-raba lehernya, samar-samar tangannya turun ke pakaian bagian depannya. Sedikit menenggelamkan batang rokok yang menyembul dari dalam sakunya.

“Enggak kok ...” balasnya berbohong. Di iring tawa garing di ujung kalimatnya.

Sekar mengernyit, matanya beralih ke kotak rokok yang ada di atas dashboard. Setelahnya ia mengangguk pelan. “Ohh kirain kakak merokok.” ujarnya terdengar sedikit lega.

Yudha menarik sudut bibirnya yang berkedut. Lututnya juga kini mulai gemetaran dan terlihat begitu gelisah.

Baru dua kali pertemuan, Yudha sudah berbohong saja.

“Eh udah nyampe, yuk kita turun.” antusias Rizka waktu mobil tersebut berhenti tepat di parkiran mobil FT. Begitu juga dengan perhatian Sekar yang sudah teralihkan dari pembahasan rokok tadi dan segera membuka pintu mobil dan keluar.

-Sekar-