Pertemuan Pertama
Yudha melirik arlojinya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 lebih 15 menit, namun si adik MIPA yang di nanti-nanti seperti tidak menunjukkan tanda-tanda kemunculan diri. Yudha celingukan, sudah hampir gila rasanya berseteru dengan debar jantungnya. Apa si adik MIPA sama sekali tidak ingin menormalkan detak organnya tersebut dan harus membiarkan Yudha belama-lama dengan segala kegundahan ini?
Sepuluh menit sudah terlewat. Yudha menghela nafas panjang, sepertinya penantian ini akan berujung sia-sia. Yudha seolah sudah kehilangan seluruh harapannya. Percuma, adik MIPA mungkin enggan menemuinya. Ya, masuk akal juga kalau dia tidak ingin menemui Yudha. Perempuan mana yang rela di ajak ketemuan melalui akun base kampus secara anonim seperti itu. Dasar Yudha saja yang terlalu banyak berharap. Bodoh, bisa-bisanya juga Yudha percaya dengan segala omong kosong yang sukses menggemparkan seisi jagat kampus ini.
Yudha berdiri dari duduknya, berencana untuk pergi saja dan mempupuskan keinginannya untuk bertemu sang pujaan. Baru saja Yudha membalikkan tubuhnya ke belakang, dari arah koridor Yudha melihat dengan jelas seseorang yang datang ke arah paviliun tempatnya berada. Sadar jika seseorang yang melangkahkan kaki ke paviliun itu adalah si adik MIPA, Yudha bukannya mendekat. Ia justru berbalik badan dan lari untuk menyembunyikan tubuhnya di balik pilar-pilar paviliun.
“Mampus gua mau ngapain sekarang ...” panik Yudha.
Sekar memberhentikan langkahnya sewaktu tiba di paviliun. Pandangannya menyebar ke seluruh arah untuk mencari-cari keberadaan si kakak mesin yang katanya ingin bertemu di paviliun.
“Duh, rame banget ya. Orangnya yang mana ini?” bingung Sekar. Gadis itu menggaruk belakang telinganya sembari terus mencari keberadaan sosok laki-laki yang di carinya.
Sedangkan di balik pilar, Yudha masih mengontrol nafasnya. Dan mendadak pula ia merasa mulas sekarang. Sial, kebiasaan memang kalau sedang grogi seperti ini bawaannya sakit perut terus.
Yudha yang tidak tahu lagi harus fokus pada perasaan yang mana. Jantungnya yang berdebar, pernapasannya yang tidak beraturan, atau hasrat ingin buang hajatnya. Semua bercampur menjadi satu. Semakin dirinya merasa gugup, semakin menjadi pula perasaan-perasaan itu menghampirinya.
“Duh, mau kentut.” tahan Yudha yang sudah meletakkan sebelah tangannya di bokong. Bertingkah bodoh sambil sesekali menjinjitkan kakinya menahan hasrat ingin buang angin.
“Oh iya. Inget kata Juli. Kalau mau kentut, kentutin aja jangan di tahan.” gumamnya. Karena mengingat perkataan salah satu teman kecilnya itu, akhirnya Yudha memutuskan untuk mengeluarkan saja gas hasil dari metabolisme tubuhnya ke udara. Menciptakan bunyi syahdu yang seketika membuat beberapa orang lewat disana menoleh ke arah Yudha.
“Hehe, sorry mbak. Kelepasan.” polos Yudha sewaktu ada beberapa gadis yang spontan menolehkan kepala ke arah Yudha.
Gerombolan perempuan itu menatap aneh ke arah Yudha. Sedangkan Yudha sudah tidak peduli lagi dengan kasus buang anginnya dan membulatkan tekad untuk menemui si adik MIPA.
Yudha menarik nafasnya dalam-dalam. Mengumpulkan segala mental hingga akhirnya dengan langkah penuh kegagahan datang untuk menemui si adik MIPA. Setibanya Yudha di belakang tubuh adik MIPA, laki-laki itu mencolek pelan punggung Sekar membuat si gadis menghadapkan tubuhnya sempurna ke arah Yudha.
“Adik MIPA?” tanya Yudha dengan busungan dada yang terlalu di buat-buat. Tidak ingin terlihat memalukan di depan adik MIPA—meskipun kakinya sudah begitu gemetaran.
Sekar menatap wajah Yudha sebentar. Sebelum gadis itu meloloskan suara untuk membalas kalimat Yudha.
“Kakak mesin ya?”
Pertahanan Yudha runtuh. Adik MIPA, sukses membuat kaki Yudha seperti jelly sesaat setelah mendengar suaranya yang selembut kain sutera.
-Sekar-