Kantin Mesin
“Baiklah, sesi kita hari ini cukup sampai disini saja. Saya akhiri wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warrohmatullahi wa barokatuh.”
“Waalaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh.” jawab para mahasiswa begitu serentak.
Seisi kelas lantas beranjak dari kursi-kursi mereka selepas dosennya berlalu meninggalkan ruangan. Begitu juga dengan Sekar dan sekawanan lainnya yang sudah melangkah menuju pintu kelas.
“Eh, kita jadi 'kan ke kantin mesin?” tanya Rizka yang matanya paling berbinar bahagia di antara yang lain.
“Riz, lo kenapa deh semangat bener ke kantin mesin? Dari semalem perasaan.” cicit Asfa.
“Biasalah. Lo kayak ngga tahu Rizka aja. Cari yang seger-seger.” sahut Acha dari balik tubuh Rizka.
“Hahaha bisa aja lo ya, Riz. Giliran perihal cowok aja semangat. Coba kalau lagi belajar.” ledek Vega.
Tawa mereka meledak begitu saja memenuhi seantero koridor jurusan. Menggema keras, bersahutan dengan langkah-langkah kaki mereka yang sekarang sudah sibuk membahas perihal laki-laki teknik yang menjadi perbincangan utama mereka.
Sekar menghela nafas sedikit berat. Matanya melirik ke arah jendela kaca untuk menatap terik yang bersilau dari baliknya. Berbeda dengan teman-teman yang lain, Sekar yang memang tidak terlalu suka panas matahari itu terlihat enggan membahas tentang kantin teknik mesin yang sudah ia bayangkan akan butuh sedikit tenaga ekstra untuk mencapai tempatnya.
“Kita jalan ya kesana?” tanya Sekar.
“Ya iyalah Sekar. Masa iya kita terbang.” sewot Vega.
“Panas ih.”
“Panas matahari doang elah. Bukan panas api neraka.”
“Males. Udah panas, jauh lagi.”
“Sumpah ini orang emang ngga bersyukur banget jadi Hamba Allah.”
Sekar mengerucutkan bibirnya. Merasa sungkan karena satu temannya sama sekali tidak berada di pihak yang sama dengannya.
“Udah deh, Kar. Ikut kita aja. Pegel dikit, panas dikit itu biasa. Ambil hikmahnya. Kali aja nih karena lo tegar, Tuhan berbaik hati sama lo. Bisa aja lo sudah ini dapet rezeki.” ujar Acha.
“Betul tuh. Setuju gue.” timpal Rizka penuh semangat.
“Etdaahh banyak bacot lo semua. Buruan gih keburu rame entar kantinnya.” ajak Asfa pada teman-temannya. Sedangkan Sekar hanya bisa pasrah sewaktu lengannya di tarik paksa oleh Asfa.
Sekar menyilangkan kedua tangannya di depan dada sewaktu melihat kondisi kantin mesin sekarang. Sungguh, ketimbang menjadi kantin—tempat ini sepertinya lebih layak di sebut pasar ikan. Manusianya begitu ramai. Terlebih ini kantin mayoritas di huni oleh kaum adam, tentu saja mereka-mereka bertindak sangat brutal. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang bertindak anarki saking sengitnya persaingan untuk memperoleh sepiring nasi untuk makan siang.
“Serius. Ini bahkan lebih parah dari ekspetasi gue.” komentar Sekar. Ia bahkan sesekali bergidik saat melihat dua laki-laki yang saling menyikut waktu berebutan centong nasi.
“Eh, kita beneran ya mau makan disini?” tanya Rizka yang awalnya begitu bersemangat, mendadak tidak yakin.
“Tapi kita udah jauh-jauh kesini. Ya kali cuma dapet capeknya doang.” balas Acha.
“Terus?”
“Ya beli kek apa aja. Pokoknya jangan sia-siain lima menit perjalanan kita untuk sampai disini.” tekad Acha.
“Ya udah deh. Enak beli apaan yak?” bingung Vega sembari mengusap dagu.
“Gue kemarin dapet rekomendasi dari sepupu gue. Katanya bakso goreng disini enak lho. Mau coba gak?” tawar Acha.
“Ihh gue mau bakso goreng.” semangat Rizka.
“Ayo lah kita kesana. Sekalian kalau ada yang mau jajan yang lain juga.” ajak Acha.
“Gue up deh. Nunggu disini aja.” tolak Sekar cepat.
“Lah, ngga mau jajan?” tanya Asfa keheranan.
“Engga. Nanti sekalian aja kalau mau makan siang. Nanti gue kenyang kalau nyemil dulu.”
“Ohh ya udah. Tapi lo beneran gapapa nunggu sendirian disini?” yakin Asfa lagi.
“Iyaaa gapapa” jawab Sekar tidak merasa beban.
Keempat orang lainnya pun berjalan memasuki kantin mesin. Sedangkan Sekar, gadis itu memilih duduk dan menunggu teman-temannya di bawah pohon jambu yang kebetulan ada kursi kayu disana.
Setelah mendapat posisi ternyaman, Sekar mulai merogoh tasnya. Mengambil sebuah benda berbentuk kotak tipis yang menjadi benda wajib generasi millenial saat ini. Menggulir layarnya begitu lihai sambil sesekali tertawa melihat-lihat hal lucu yang tertampil di ponselnya. Hal sederhana yang cukup menghibur kesendirian seraya menunggu kehadiran teman-temannya kembali ke hadapannya.
Di waktu yang bersamaan, tepatnya dari arah barat tempat deretan gedung-gedung perbengkelan teknik mesin berada. Tampak tiga anak adam dengan segala kerecehan dan tingkah absurd mereka perlahan melangkahkan kakinya menuju kantin. Bersenda gurau ala anak lelaki pada umumnya, terkadang di sela tindak kekerasan yang sudah menjadi suatu bentuk kewajaran bagi mereka. Tawa lepas yang menggema di udara, sama sekali tidak menghalangi mereka untuk mengekspresikan kebahagiaan hidup yang bebas.
“Yud, lu mau lauk apa?” tanya Johnny sewaktu dirinya usai menyentong dua undak nasi di atas piringnya.
“Paus goreng ada?”
“Adanya mermaid goreng.”
“Okey, ambilin gua satu.”
Johnny meraih buntut ikan lele dan meletakkannya satu di piringnya, berikut kepada piring Yudha.
“Curang lo! Mermaid gua napa kecil banget.” protes Yudha.
“Woilah lo mau segede apa lagi sat. Megalodon?”
“Ogah! Gua mau yang ukurannya 30 senti.”
“Banyak tingkah lu ya.”
Lagi, keributan terjadi antara Yudha dan Johnny. Tirta yang sedarinya sedang menyendok sayur asam ke dalam mangkuk kecil di atas piringnya lekas menoleh ke arah dua temannya tadi.
“Ribut lagi gua siram lu berdua pake sayur asem!” ancam Tirta.
Keduanya terdiam.
Setelah aktivitas mengantri mereka terselesaikan. Yudha, Johnny, dan Tirta mulai merambat menuju meja dan meletakkan piring masing-masing di atasnya. Sebelum benar-benar duduk, Tirta mengulurkan telapak tangannya ke arah dua temannya maksud untuk mengajak gambreng seperti kebiasaan mereka sebelum makan siang.
“Fiuh, semoga gua hoki hari ini.” tiup Yudha pada kepalan tangannya. Dan sedetik kemudian mereka melakukan gambreng.
“ARRRGGHHH.” frustasi Johnny sewaktu sadar ia mengeluarkan punggung tangan yang serupa dengan Tirta. Sedangkan Yudha sendiri, laki-laki itu mengeluarkan telapak tangan dalamnya yang berwarna putih.
“Owhh okey, babu-babuku. Silakan jalankan tugas kalian.” sombong Yudha yang sudah merentangkan tangannya lebar. Sedangkan Johnny dan Tirta terlihat sudah begitu pundung.
“Gua biasa, kopi item ya. Kerupuk udangnya satu. Sama ... Oh iya, korek deh. Mau ngudut, abis korek gue.” titah Yudha.
Johnny dan Tirta sama sekali tidak mengeluarkan suara dan menurut saja sewaktu Yudha menyuruh mereka. Sesuai perjanjian yang telah mereka buat di waktu sebelum-sebelumnya, tidak ada yang boleh protes pada siapapun yang menjadi pemenang gambreng.
Yudha tertawa cekikikan melihat dua temannya yang sudah berlalu. Kemudian lanjut menyendok nasinya dan mengunyah lele goreng dan menikmatinya dengan raut wajah yang begitu ekspresif.
“Emang paling mantep dah makan siang sama mermaid goreng.” komentar Yudha yang mulutnya sudah penuh sesak nasi kunyahannya.
Yudha mendongakkan kepala, menebar pandang pada pepohonan teduh di hadapannya. Suatu pemandangan asri yang hakiki di nikmati oleh mata insan butuh kemanjaan. Hingga retinanya menangkap bayang sosok ciptaan Tuhan yang membuatnya terpana untuk sesaat. Melupakan sejenak hiruk pikuk dunia pada fokus hawa yang kini duduk di bawah pohon jambu yang dedaunnya melambai pelan.
Yudha terpana. Bola matanya bahkan sama sekali tidak ia kedip barang satu detik saja. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memandang puan yang berhasil mencuri atensinya. Hingga beberapa saat kemudian, tubuhnya di buat tersentak oleh suara gebrakan keras di ikuti sebuah korek gas di atas meja.
“Nih ya. Tugas gua selesai.” ucap Tirta.
Yudha melirik tidak terima ke arah Tirta yang sudah mengejutkannya. Namun ia tidak begitu mempermasalahkan hal itu mengingat aktivitas sebelumnya yang sempat tertunda.
Yudha menolehkan kepalanya lagi. Namun nihil, gadis tadi sudah tidak berada di tempatnya. Perempuan itu, menghilang begitu saja.
“Tirta anjing!”
Tirta menaikkan dua alisnya dengan tampang yang sungguh tidak berdosa. Matanya beralih ke korek api yang tergeletak di atas meja, kemudian balik menatap wajah Yudha yang tampak begitu kecewa.
“Lu tadi bilang korek 'kan?”
-sekar