Surat Cinta untuk Dihan
Dhea memunculkan sedikit bagian kepalanya dari balik tembok gedung sekolah. Menolehkan wajahnya ke kanan dan kiri layaknya detektif yang sedang menjalankan misi. Setelah di rasanya suasana sedikit aman, baru lah dirinya lanjut mengendap-ngendapkan langkah dan berjalan penuh kehati-hatian di bawah jendela ruang OSIS. Setibanya ia disana, ia melongokkan kembali kepalanya ke dalam ruangan. Bertindak begitu mencurigakan dan kali ini—Dhea bahkan terlihat seperti pencuri amatir.
Dhea mengembuskan nafas lega sewaktu sadar ruangan itu sepi tanpa seorang pun disana. Dhea kemudian menebar pandangannya—menyapu seluruh isi ruangan sesaat setelah ia berhenti dalam satu titik pandang yang menarik perhatiannya sekarang.
Itu tas Dihan.
Dengan masih dengan gerakan hati-hati Dhea lantas mendekat dan membuka tas tersebut. Setelah tas itu terbuka, baru lah Dhea mengeluarkan sesuatu dari balik kemeja putihnya. Menampakkan sebatang cokelat Silver Queen Chunky Bar berpita bersamaan dengan seonggok surat berwarna biru muda. Dhea tersenyum lebar, otaknya langsung terbayang dengan reaksi Dihan ketika laki-laki itu membuka surat itu nanti. Hingga beberapa saat Dhea terhanyut dalam khayalan, ia buru-buru tersadar dan dengan gerakan cepat memasukkan cokelat dan surat itu ke dalam tas Dihan.
“Semoga aja Dihan baca surat gue.” cengir Dhea bangga.
Sorenya, para pengurus kembali berkumpul di ruangan OSIS. Dihan yang baru saja memasuki ruangan segera memeriksa berkas-berkas yang tertumpuk di atas meja dan terlihat sangat sibuk.
“Han, happy birthday yaaa.” ucap Shakira imut. Dihan pun membalas Shakira dengan senyuman saja pada sekretaris 2-nya tersebut.
“Makasih ya, Kira.”
“Eh, Dihan ultah? Kok pada ngga ngasih tahu? Ngga ada acara kejutan-kejutan gitu?” cerocos Mina.
“Ngga perlu, Min. Dihan mah ngga demen kejutan-kejutan. Lagipula, tanpa di kasih kejutan pun pasti dia udah dapet banyak. Kalau ngga percaya cek aja tasnya.” sahut Ecan.
Dhea yang sejak tadi menyimak diam-diam obrolan tersebut secepat kilat menoleh ke arah teman-temannya. Di dalam tas? Tadi Dhea juga memasukkan sesuatu di dalam tas Dihan. Dhea yang sudah sarat akan kekhawatiran dirinya lantas menoleh ke arah Dihan yang sudah tersenyum penuh makna. Seolah itu menjadi hal yang terlalu biasa baginya.
“Apaan sih kepo gue,” penasaran Mina. “Han, boleh ngga kita check isi tas lo?” minta Mina.
“Periksa aja ngga apa. Saya juga belum check isinya ada apa aja.” sila Dihan.
“Okey, mari kita eksekusi.” semangat Ecan. Lalu Ecan pun membuka tas itu dan—benar sekali yang di katakan Ecan. Tas itu hampir seluruhnya berisi cokelat. Bahkan sampai bertumpuk-tumpuk jumlahnya.
“Wow gila. Banyak banget fans lo, Han.” kagum Mina antusias.
“Saya memang sering dapet begituan dari tahun lalu. Ambil aja kalau kalian mau. Itu kebanyakan buat saya.”
Dhea sontak langsung kelabakan sewaktu mendengar perizinan Dihan tersebut. Terlebih ketika dirinya melihat Ecan dan Mina sudah bersiap untuk melihat-lihat cokelat itu. Bukan apa-apa, ia hanya malu saja kalau ada salah satu dari mereka menemukan surat rahasianya untuk Dihan. Ya, jangan sampai mereka membaca surat itu. Ah sial! Kalau tahu seperti ini Dhea juga tidak mau melakukannya.
“Kalau gue juga ambil satu boleh ngga?” minta Dhea penuh semangat. Dihan menoleh sebentar melihat reaksi yang terlalu antusias dari Dhea, dengan gerakan ragu Dihan mengangguk saja sebagai jawaban.
Dhea mulai mendekat ke arah Ecan dan Mina berada. Langsung bergabung dengan kedua orang itu dan ikut membongkar seluruh isi cokelat di dalam tas Dihan. Berharap menemukan cokelat dan suratnya tadi lebih dulu dari Ecan maupun Mina. Namun keberuntungan sepertinya sama sekali tidak berpihak pada Dhea. Nyatanya cokelat dan surat itu sekarang sudah berada di tangan Ecan.
“Eh, yang ini ada suratnya,” heboh Ecan. “Kayaknya panjang deh isinya.”
“Han, boleh ngga kalau kita buka juga isi surat ini?” izin Mina lagi pada sang tuan.
“Buka aja.”
Dhea melototkan matanya begitu lebar. Sedangkan Ecan sudah menyeringai lebar bersiap-siap untuk mengintip isi dari surat cinta dari Dhea tersebut.
Surat itu akhirnya terbuka secara sempurna. Dhea yang sudah pasrah hanya bisa memejamkan matanya kuat sewaktu Ecan sudah mulai membaca sekilas, dan sesekali tertawa geli selama membacanya. Melihat reaksi Ecan tersebut, tentu saja Dhea semakin malu.
“Han, Han. Mau denger isi suratnya ngga?” tawar Ecan.
Oh tidak, apakah hal memalukan ini tidak cukup berhenti sampai disini saja?
“Apa isinya?” tanya Dihan yang mulai tertarik dengan surat tersebut.
“Gue bacain gede-gede ya biar denger semua” ujar Ecan. Yang lain pun bersiap-siap untuk mendengarkan isi surat itu. Mereka terlihat begitu penasaran. Sepertinya cuma Dhea yang tidak begitu antusias.
“Hai Dihan. Orang yang beberapa waktu ini buat hari-hari gue bahagia. Selamat ulang tahun ya. Maaf gue cuma bisa ngasih ini ke lo. Gue bingung Han mau ngasih apa. Dan maaf juga kalau gue ngga bisa ngasih surat ini ke lo langsung. Ya, gue cupu emang Han. Ngga berani ngomong ke lo secara terang-terangan. Tapi seenggaknya gue mau lo tahu isi perasaan gue melalui tulisan ini aja meskipun lo ngga tahu gue siapa. Karena gue nulis surat ini pake kata hati gue yang paling dalam. Gue harap perasaan gue yang tertuang disini beneran sampe ke lo. Buat lo beneran tersentuh. Buat lo beneran peka dan tahu, kalau gue emang sesuka itu sama lo. From your secret admirer.“
“Aaawww. Dihan dapet surat cinta nich.” dramatis Ecan sambil memegang dadanya berekasi lebay. Begitu juga dengan Mina yang sudah melincak-lincak tidak karuan setelah mendengar surat yang di bacakan oleh Ecan barusan.
“So sweet banget. Kira jadi baper deh.” ujar Shakira ikut mellow.
“Ya ampun siapa sih ngirim uwu banget gitu.” komentar Ryu.
Dan mendadak suasana menjadi gaduh hanya dengan secarik surat cinta anonim dari Dhea.
Dihan yang sedarinya sibuk menyusun berkas-berkas di atas meja tidak kuasa menahan senyumnya. Di ambilnya surat cinta itu dan di bacanya kembali surat yang sukses membuat heboh seisi ruang OSIS.
Dihan tampak beberapa kali tertawa kecil membaca surat cinta itu. Melihat reaksi tersebut Dhea jadi bertambah malu. Apa suratnya tadi terlalu cringe untuk di baca sehingga Dihan meresponnya dengan tawa? Ah, tiba-tiba Dhea merasa sangat menyesal sudah melakukan tindakan bodoh.
“Lucu banget deh.” geli Dihan. Ia pun menolehkan kepalanya ke arah Ecan yang masih sibuk drama king bersama Mina.
“Tapi ini bakal saya simpen di dalam buku agenda.” tunjuk Dihan ke arah Ecan, lalu di selipkannya surat itu di buku agenda miliknya yang semua orang tahu—buku itu tempat Dihan menyimpan dan mencatat hal-hal penting di dalamnya.
Apakah surat cinta itu menjadi yang terpenting juga untuk Dihan?