sekarangdanesok

Di depan sebuah cermin berukuran 30 x 40 cm, Yudha mulai menggerakkan sisir yang berada di tangannya dengan gerak berulang. Sesekali siulan serta senandung kecil menemani kegiatan laki-laki itu selama merapikan helai-helai rambut—menandakan jika kini ia merasa sangat berbahagia. Bagaimana tidak? Malam minggu yang biasa ia lalui dengan kesendirian akan bertransformasi menjadi malam paling bersejarah antara dirinya bersama Sekar. Malam dimana ia akan mengutarakan maksud serta isi hati secara resmi kepada perempuan yang selama ini ia suka.

Setelah menghabiskan waktu untuk beberapa menit, akhirnya Yudha menyudahi juga aktivitas menyisir rambut. Kemudian lanjut meletakkan benda kecil itu di atas meja, berganti dengan benda lain yang juga ia ambil darisana. Menatapnya sebentar dengan ulas senyum begitu lebar, seolah tidak ingin berpaling dari seonggok buket mawar merah yang kini berada di tangan. Pikirannya mulai berkhayal, pada suatu kejadian dimana ia bisa berlutut di hadapan sang pujaan bak karakter utama di layar kaca. Seiring semburat merah di wajah, menanti sebuah anggukan dari lawan bicara atas persetujuan akan perasaan yang baru sempat tersampaikan. Namun bayangan itu cepat-cepat Yudha usir dengan segera. Mengingat jikalau ia hanya membuang-buang waktu untuk membayangkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan.

“Udah… ngga baik, Yud, ngayalin sesuatu yang belum terjadi,” gumamnya. Sadar jika baru saja ia melakukan hal sia-sia, tanpa banyak menghabiskan waktu lagi, Yudha langsung menyambar kunci motor. Berlalu menuju pintu dan tidak lupa ia turut serta membawa buket mawar yang sejak tadi ia pandang untuk diberikan kepada Sekar.

Sembari menunggu kehadiran Yudha datang menjemputnya, Sekar tiada lepas untuk memegang dadanya yang mendadak berdebar tidak beraturan. Rasanya aneh saja. Padahal selama ini ia sudah terlampau sering bertemu dengan Yudha. Akan tetapi kali ini terasa berbeda. Ada perasaan lain yang menyeruak di dalam benak, membuat gadis itu sedikit kalut akan sesuatu yang terjadi beberapa jam kemudian. Sebuah perasaan yang tidak terdeskripsikan. Tentang rasa yang hanya Sekar sendiri bisa mendefinisikannya.

Setelah cukup lama bergelung dengan perasaan gundah, lamunan gadis itu seketika buyar sewaktu indera pendengarannya merespon sinyal yang berasal dari suara deru motor di luar pagar. Buru-buru ia membuka pintu, demi mendapati sosok laki-laki berbalut kemeja biru langit yang ia tunggu sejak setengah jam silam.

“Ayo, Dek, kita berangkat. Nanti kemaleman,” ajak Yudha. Tanpa banyak berkomentar lagi, Sekar mengangguk saja. Mengikuti Yudha yang kini sudah menunggangi motornya.

“Kak, emang kita mau kemana?” tanya Sekar setelah motor Yudha melaju beberapa jarak meninggalkan area kost Sekar.

“Ada deh. Pokoknya Adek ikut aja.”

“Jauh ngga?”

“Lumayan.”

“Kira-kira lama ngga nyampe kesana?”

“Mungkin 20 menitan. Kenapa emang?”

Sekar mengembuskan napas pelan. Namun cukup terdengar oleh Yudha karena gadis itu jelas-jelas menghela napas di sebelah pundaknya.

“Ngga kenapa-kenapa sih, Kak. Cuma aku perhatiin keknya bentar lagi mau turun hujan. Apa kita bakalan nyampe kesana?” tanya Sekar yang merasa sedikit ragu atas rencana mereka berdua. Dan benar saja, tidak lama berselang guntur mulai menggelegar. Sedikit kuat diiringi tiupan angin kencang. Membuat Sekar meringkuk ngeri akan suara bahana guntur tersebut.

“Tuh ‘kan, Kak. Geledeknya gede banget.”

Yudha yang mulanya tidak sadar jikalau langit telah berwarna hitam pekat mulai mencuri pandang menatap angkasa gulita tersebut. Tidak salah yang dikatakan Sekar, sepertinya kecil kemungkinan bagi mereka untuk menjangkau perjalanan selama 20 menit di kondisi cuaca seperti sekarang. Namun Yudha tidak gentar, lelaki itu masi terus bertekad untuk melanjutkan perjalanan.

“Nyampe … tenang aja. Keknya juga hujan masih lama turun,” yakin Yudha optimis.

Tes. Tes. Tes.

Satu demi satu titik air mulai bejatuhan semenit setelah Yudha menuntaskan kalimat. Ingin rasanya Yudha memaki pada cuaca, seolah-olah ia tidak di beri izin untuk melanjutkan acara pentingnya bersama Sekar. Tidak butuh lama bagi air Tuhan tersebut mengguyur dunia, tetesan air hujan itu perlahan menjelma menjadi cucuran yang begitu deras. Membuat keduanya sempat kebasahan sebelum mereka tiba di pinggir sebuah emperan warung kopi kaki lima sebagai tempat berlindung dari guyuran hujan.

“Kak, nunggu di dalem aja yuk. Daripada di luar, dingin,” saran Sekar sembari matanya menilik ke arah dalam warung kopi tempat mereka berteduh.

Mendengar ajakan Sekar, mulanya Yudha ikut mengintip dalam. Menatap isi dari warung kopi itu dengan rasa enggan.

“Ngga ah. Kalau nunggu di dalem pasti ujungnya mau beli,” tolak Yudha.

“Ya tinggal beli aja. Teh anget lumayan biar ngga kedinginan.”

“Ngga usah. Kakak nunggu disini aja.”

“Beneran?”

“Iya….”

“Ya udah aku aja yang masuk kalau gitu.” putus Sekar langsung saja melangkah masuk ke dalam warung kopi tersebut. Menghiraukan Yudha yang masih bersikukuh untuk berdiri di depan warung kopi untuk menanti hujan reda.

Satu setengah jam berlalu, namun hujan tidak kunjung berhenti. Yudha mulai jengkel setengah mati. Mengingat kini jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam yang mana ia tidak memiliki cukup banyak waktu lagi untuk tiba di tempat tujuan mereka. Ia mulai pasrah. Alamat gagal rencana yang telah ia susun sedemikian rupa.

Berbanding terbalik dengan yang di rasakan oleh Yudha. Sekar justru terlihat santai-santai saja. Gadis itu sibuk menyesap teh hangat yang ia pesan demi menghangatkan tubuh di tengah hujan yang mengguyur deras. Sesekali ia mencuri pandang kepada Yudha, memperhatikan laki-laki itu yang entah mengapa masih tetap memilih berdiri di luar ketimbang duduk di dalam.

“Neng, itu pacarnya ya?” tanya ibu-ibu penjual warkop memecah lamunan Sekar.

“Iya, Bu.”

“Kenapa ngga di ajak masuk aja? Kasihan di luar dingin.”

“Tadinya udah di ajak, Bu. Orangnya ngga mau.”

“Lah, kenapa?”

“Ngga tahu,” geleng Sekar. Ya, memang Sekar tidak tahu alasan Yudha tidak ikut masuk.

“Ajak lagi aja atuh, Neng. Mungkin sekarang udah mau.”

Sekar mengalihkan atensinya. Kembali memperhatikan Yudha berdiri di dekat pintu sambil bersedekap tangan. Sekar kemudian bangkit berdiri, beranjak mendekati Yudha untuk membujuk laki-laki itu masuk.

“Kak Yudha,” panggil Sekar.

“Hm?”

“Ayo masuk.”

“Engga.”

“Kenapa?”

“Ngga mau aja.”

“Kakak badmood?”

Yudha menghadapkan wajah sewaktu Sekar melontarkan tebakan itu kepadanya.

Badmood gara-gara ngga jadi ngajak aku ke tempat yang kakak maksud?” tanya Sekar lagi lebih spesifik.

Yudha masih bungkam. Sungkan untuk membalas pertanyaan Sekar yang sepenuhnya adalah benar. Mengetahui hal itu, Sekar tersenyum sumir. Kemudian berinisiatif menggamit salah satu lengan kekasihnya membuat Yudha sedikit terkejut.

“Ayolah, Kak. Masuk ya?” bujuk Sekar lagi.

Yudha berdeham singkat. Mendadak salah tingkah di beri perlakuan seperti itu dari Sekar. Kalau ada kamera tersembunyi di sekitar sini, sepertinya Yudha lebih memilih untuk menyerah dan melambaikan tangan saja. Berhubung Yudha orang lemah yang tidak bisa di beri konten sensitif semacam rayu-rayuan—demi keberlangsungan hidupnya sendiri, Yudha memutuskan untuk menurut saja daripada membiarkan hatinya semakin porak-poranda.

Selekas mereka masuk ke dalam warung, Sekar menarik kursi tempatnya duduk tadi bersamaan dengan Yudha yang ikut mendaratkan bokong berhadapan dengan Sekar. Sedangkan Sekar sendiri sudah mulai mengedarkan pandangan ke arah spanduk bertuliskan daftar menu makanan dan mulai membaca satu-persatu list menu yang tertera disana.

“Kakak mau Indomie tumis ngga?” tanya Sekar, masih fokus pada daftar menu.

“Tadi Adek ngajak Kakak masuk aja. Bukan mau makan.”

“Emang kakak ngga laper?”

“Engga.”

Sekar mengangkat bahunya saja mendengar jawaban malas Yudha. Tidak terlalu terbawa hati, karena ia sendiri tahu kalau Yudha tidak dalam mood baik.

“Ya udah. Aku aja yang pesen kalau gitu.” enteng Sekar lanjut mengangkat tangan untuk memesan Indomie kepada si ibu penjual. Sedangkan Yudha masih sibuk bersungut jengkel.

Tidak butuh waktu lama, Indomie pesanan Sekar tiba di hadapan mereka berdua. Asap yang mengepul serta aroma khas dari mie instan tersebut menyeruak masuk ke indera penciuman mereka. Mengundang rasa lapar di kala udara dingin menerpa. Tanpa banyak percakapan lagi, Sekar mulai menyeruput mie tersebut—melahapnya khidmat. Sesekali diiringi gumaman ekspresif menandakan bahwa dirinya benar-benar menikmati hidangan tersebut. Yudha yang sedari tadi memperhatikan Sekar hanya menelan saliva saja, menahan gengsi padahal dirinya sendiri pun mulai merasa lapar juga.

“Kakak mau coba? Enak lho kak,” tawar Sekar di sela kunyahan. Menyodorkan gulungan mie di garpu kepada Yudha, seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran Yudha sekarang.

“Engga,” jawab Yudha datar.

“Udah ngga usah jual mahal. Makan aja nih tinggal buka mulut doang.”

Sekar tetap menyodorkan lilitan mie tersebut di depan wajah Yudha. Awalnya Yudha masih tetap dalam pendiriannya. Namun lama-kelamaan ia menurut juga karena Sekar terus memaksanya untuk membuka mulut.

Di kunyahan pertama, ekspresi Yudha masih terkesan biasa. Namun siapa sangka, semakin ia lanjut mengunyah mie tersebut, air muka Yudha mendadak berubah. Seperti telah menemukan harta karun berharga, wajahnya begitu sumringah menyadari jika saat ini ia mencicip cita rasa baru yang belum pernah ia temui sebelumnya. Dengan raut penasaran, pemuda itu mulai menarik kursi dan mendekatkan posisi duduknya bersama Sekar.

“Dek, sumpah baru kali ini kakak ketemu mie begini,” bisik Yudha diikuti pelototan mata takjub. “Tekstur dan bumbunya itu, lho.”

“Emang apa bedanya kak?” bingung Sekar.

“Beda, Dek. Kakak sebagai maniak Indomie bilang ini beda. Kegurihan yang terkandung di dalam mie ini, belum pernah kakak coba selama 21 tahun kakak hidup.”

Meski tidak terlalu paham akan maksud yang di sampaikan oleh Yudha, namun Sekar tetap mengangguk samar. Terlebih sewaktu Yudha menunjuk lagi mie instan di piringnya.

“Coba sendokin lagi, Dek.”

Sekar kembali menggulung mie instannya lalu menyuapkan lagi mie tersebut kepada Yudha. Hal itu semakin berlanjut karena Yudha terus-terusan memintanya.

“Ini warung namanya apa sih? Keknya bakal jadi warkop rekomen nih,” penasaran Yudha dengan mulut masih penuh sesak mie instan.

“Enak ya kak makanannya?”

“Enak banget, Dek. Sumpah!”

Sekar tertawa kecil melihat ekspresi Yudha yang terlihat begitu sungguh-sungguh atas penilaiannya terhadap makanan yang baru saja ia coba. “Ya udah. Besok-besok kita kesini lagi, deh.”

“Wajib itu kita kesini lagi. Gila sih, parah.”

Sekar menarik dua sudut bibir dengan hati yang begitu lega. Dalam benak ia bersyukur, mood Yudha sudah kembali. Artinya Yudha sudah melupakan kejengkelan beberapa waktu lalu karena schedule mereka tidak berjalan sesuai rencana.

“Ya udah, nih. Makan lagi mie-nya kalau gitu.”

Yudha mengerutkan kening melihat Sekar lagi-lagi menyuapkan mie tersebut ke arahnya.

“Adek kenapa ngga makan juga? Kan ini punya, Adek. Nanti habis sama Kakak, lho.”

Sekar menggeleng menjawab pertanyaan Yudha. “Ngga apa. Kalau kurang paling kita pesen lagi,” jawab Sekar ringan. Kemudian lanjut menyuapkan gulungan mie itu seraya tersenyum lebar menyaksikan Yudha melahapnya begitu semangat.


Yudha memberhentikan motor di depan pintu pagar. Mengantarkan Sekar tepat di depan kost dengan selamat.

“Kakak hati-hati ya pulangnya. Besok lagi kita ketemu,” ujar Sekar sedikit melambaikan tangan mengiring kepulangan Yudha.

Yudha mengangguk sekilas. Awalnya ia memang berniat untuk pulang. Tapi tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu.

“Oh iya, Dek. Bentar, Kakak punya sesuatu.”

Sekar menaikkan dua alisnya penasaran sewaktu melihat Yudha telah melepas kunci untuk membuka jok motor. Hingga beberapa saat kemudian, Yudha menyodorkan sebuket bunga mawar yang mana ada lipatan di beberapa bagian kertasnya.

“M-maaf, Dek. Kertasnya kelipet dikit. Tapi bunganya masih bagu—” belum usai Yudha menuntaskan kalimat, wajah Yudha kembali cemberut melihat beberapa tangkai bunga tersebut yang bengkok. Akibat itu, spontan saja Yudha melemparkan buket bunga tersebut ke tanah membuat Sekar tersentak kaget.

“Nyebelin lu ah,” maki Yudha pada bunga yang sudah tergeletak tidak berdaya di tanah.

“Eh, eh, Kak. Kenapa di buang?” sela Sekar yang langsung mengambil bunga tersebut dari tanah. “Sayang tuh masih cantik bunganya.”

“Cantik apanya?! Udah potek gitu apanya yang cantik!” balas Yudha menggebu-gebu.

“Kelopaknya masih utuh nih. Masih seger juga.”

“Udah, udah sini buang aja. Kesel Kakak lihatnya,” ujar Yudha lagi berusaha merampas bunga itu dari tangan Sekar.

“Ihh Kak Yudha jangan di buang. Ini punya aku.”

“Ngapain terima bunga jelek?!”

“Bagi aku ini masih bagus kok. Cuma patah tangkainya doang.”

Keduanya mendadak diam. Terutama Yudha yang kembali badmood akibat bunganya patah.

“Udah jangan cemberut gitu sih, Kak. Perkara bunga juga.”

“Bukan bunga aja, Dek. Semuanya tentang hari ini, tentang hari kemarin. Itu yang buat kakak kesel.”

“Kenapa?”

Yudha menatap wajah Sekar dengan ekspresi jengkel luar biasa. “Kakak kesel aja sama diri Kakak sendiri. Kakak kesel karena ngga bisa kasih dan lakuin sesuatu yang kayak orang-orang lakuin ke pacarnya.”

Yudha menahan napasnya sebentar. Sebelum ia kembali lanjut menyambung kalimat.

“Harusnya malem ini Kakak bisa ajak Adek dinner di tempat romantis. Nembak Adek secara sungguh-sungguh. Nyiptain momen indah di tembak sama cowoknya. Tapi gara-gara hujan sialan ini semua rencana Kakak gagal total. Ujungnya dinner kita cuma di warkop sambil makan Indomie tumis,” omel Yudha panjang lebar mengeluarkan segala unek-unek di dalam dada.

Sekar membuang napas perlahan mendengar kalimat terakhir Yudha. Kemudian secara mengejutkan Sekar membawa kedua telapak tangannya untuk menangkup dua pipi Yudha. Membawa pandangan lelaki itu untuk fokus pada kedua manik mata miliknya.

“Dengerin aku, Kak...,” minta Sekar lembut. “Aku itu suka Kakak sebagai kak Yudha. Bukan sebagai orang lain.”

Yudha terdiam. Tidak berniat membalas kalimat Sekar dan hanya sibuk menyelami bola mata Sekar yang indah.

“Bagi aku yang tadi itu romantis kok,” tambah Sekar lagi.

“Bisa makan berdua sama Kakak, bisa nyuapin Kakak, bisa sepiring berdua sama Kakak. Semuanya bagi aku udah romantis. Asal itu sama Kak Yudha.”

“Apapun yang Kakak lakuin itu, semuanya aku suka. Kakak ngga perlu jadi orang lain, Kakak ngga perlu lakuin hal apapun seperti yang orang lakuin. Cukup jadi diri Kakak sendiri, itu yang aku mau.”

Yudha termenung mendengar penuturan tersebut. Hingga Sekar menurunkan dua telapaknya dari wajah Yudha dan lanjut merentangkan tangan lebar.

“Sini,” ajak Sekar.

“Mau ngapain?” bingung Yudha.

“Mau peluk pacar aku.”

Yudha tersenyum malu mendengar hal tersebut. Terlebih melihat Sekar yang sudah menarik dua sudut bibirnya membentuk lengkung manis. Tidak butuh waktu lama bagi Yudha untuk membalas rentangan itu dan memeluk Sekar dalam dekapan erat. Menenggelamkan tubuh yang lebih kecil darinya itu di dalam rengkuhan.

“Udah, jangan ngambek lagi,” pesan Sekar.

“Makasih ya, Sekar,” ucap Yudha tulus.

“Aku yang harusnya bilang makasih sama Kak Yudha.”

“Kenapa gitu?”

“Karena kalau Kakak ngga nyariin aku di base aku ngga bakal tau kalau di dunia ini ada laki-laki kayak Kak Yudha.”

Yudha diam-diam menyunggingkan senyum di balik punggung Sekar. Di dekapnya semakin erat tubuh Sekar, seolah tidak ingin melepas gadis itu lagi.

“Kakak sayang banget sama Sekar,” ungkapnya lagi.

“Aku juga, sayang banget sama kak Yudha,” balas Sekar. “Jangan pernah berhenti suka sama aku ya, Kak.”

Yudha mengangguk. Sebelum mengakhiri pelukan mereka berdua, tidak lupa Yudha mengecup kening Sekar membuat gadis itu terperanjat.

“Eh kok jadi nyium kening? Tadi aku cuma kasih izin peluk aja,” protes Sekar diikuti pukulan kecil di dada Yudha.

“Kenapa? Ngga boleh? 'Kan pacar sendiri.”

Sekar tergelak mendengar jawaban tersebut. Lalu lanjut memeluk Yudha lagi dengan manja. Jikalau ia bisa memohon kepada Sang Maha Cinta, ingin ia meminta waktu bergerak lambat saja agar dirinya bisa menghabiskan momen ini sedikit lama.

©sekarangdanesok, 2021

Di depan sebuah cermin berukuran 30 x 40 cm, Yudha mulai menggerakkan sisir yang berada di tangannya dengan gerak berulang. Sesekali siulan serta senandung kecil menemani kegiatan laki-laki itu selama merapikan helai-helai rambutnya menandakan bahwa kini ia merasa sangat berbahagia. Bagaimana tidak? Malam minggu yang biasa ia lalui dengan kesendirian akan bertransformasi menjadi malam paling bersejarah antara dirinya bersama Sekar. Malam dimana ia akan mengutarakan maksud serta isi hati secara resmi kepada gadis yang selama ini ia suka.

Yudha kemudian menyudahi aktivitas bersisir setelah ia merasa rambutnya sudah cukup tertata. Lalu lanjut meletakkan benda kecil itu di atas meja, berganti dengan benda lain yang juga ia ambil darisana. Menatapnya sebentar dengan ulas senyum begitu lebar, seolah tidak ingin berpaling dari seonggok buket mawar merah yang kini berada di tangan. Pikirannya mulai berkhayal, pada suatu kejadian dimana ia bisa berlutut di hadapan sang pujaan bak karakter utama di layar kaca. Seiring semburat merah di wajah, menanti sebuah anggukan dari lawan bicara atas persetujuan akan perasaan yang baru sempat tersampaikan. Namun bayangan itu cepat-cepat Yudha usir dengan segera. Mengingat jikalau ia hanya membuang-buang waktu untuk mengkhayalkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan.

“Udah… ngga baik, Yud, ngayalin sesuatu yang belum terjadi,” gumamnya. Sadar jika baru saja ia melakukan hal sia-sia, tanpa banyak menghabiskan waktu lagi Yudha langsung mengambil kunci motornya dan membawa serta buket yang masih setia di dalam pegangan.

Sembari menunggu kehadiran Yudha untuk datang menjemputnya, sejak tadi Sekar tiada lepas untuk memegang dadanya yang mendadak berdebar tidak beraturan. Rasanya aneh saja. Padahal selama ini ia sudah terlampau sering bertemu dengan Yudha. Akan tetapi kali ini terasa berbeda. Ada perasaan lain yang menyeruak di dalam benak, membuat gadis itu sedikit kalut akan sesuatu yang terjadi beberapa jam kemudian. Sebuah perasaan yang tidak terdeskripsikan. Tentang rasa yang hanya Sekar sendiri bisa mendefinisikannya.

Setelah cukup lama bergelung dengan perasaan gundah, lamunan gadis itu seketika buyar sewaktu indera pendengarannya merespon sinyal yang berasal dari suara deru motor di luar pagar. Buru-buru ia membuka pintu, demi mendapati sosok laki-laki berbalut kemeja biru langit yang ia tunggu sejak setengah jam silam.

“Ayo, Dek, kita berangkat. Nanti kemaleman.” Tanpa banyak berkomentar, Sekar mengangguk. Mengikuti Yudha yang kini sudah menunggangi motornya.

“Kak, emang kita mau kemana?” tanya Sekar setelah beberapa jarak mereka meninggalkan area kost Sekar.

“Ada deh. Percaya aja sama kakak.”

“Jauh ngga?”

“Lumayan.”

“Lama ya nyampenya?”

“Mungkin 20 menitan. Kenapa emang?”

Sekar mengembuskan napas pelan. Namun cukup terdengar oleh Yudha karena gadis itu jelas-jelas menghela napas di sebelah pundaknya.

“Ngga kenapa-kenapa sih, Kak. Cuma aku perhatiin keknya bentar lagi mau hujan. Apa kita bakalan nyampe kesana?” tanya Sekar yang terdengar sedikit ragu atas rencana mereka berdua. Dan benar saja, tidak lama berselang guntur mulai menggelegar. Sedikit kuat diiringi tiupan angin kencang. “Tuh ‘kan, Kak. Geledeknya gede banget.”

Yudha yang mulanya tidak sadar jikalau langit telah berwarna hitam pekat mulai mencuri pandang. Tidak salah yang dikatakan Sekar, sepertinya kecil kemungkinan bagi mereka untuk menjangkau perjalanan selama 20 menit di kondisi cuaca seperti sekarang. Namun Yudha tidak gentar, lelaki itu masih optimis dan terus bertekad untuk melanjutkan perjalanannya.

“Nyampe … tenang aja. Keknya juga hujan masih lama turun,” yakin Yudha optimis.

Tes. Tes. Tes.

Satu demi satu titik air mulai bejatuhan semenit setelah Yudha menuntaskan kalimat. Ingin rasanya Yudha memaki pada cuaca, seolah tidak diberi izin untuk melanjutkan acara pentingnya bersama Sekar. Tidak butuh lama bagi air Tuhan tersebut mengguyur dunia, tetesan air hujan itu perlahan menjelma menjadi cucuran yang begitu deras. Membuat keduanya sempat kebasahan sebelum mereka tiba di pinggir sebuah emperan warung kopi kaki lima sebagai tempat berlindung.

“Kak, nunggu di dalem aja yuk. Daripada di luar, dingin,” saran Sekar sembari matanya menilik kea rah dalam warung kopi dimana ada beberapa bangku yang masih kosong.

Mendengar ajakan Sekar, mulanya Yudha ikut mengintip kea rah dalam. Menatap isi dari warung kopi itu dengan enggan.

“Ngga ah. Kalau nunggu di dalem pasti ujungnya mau beli,” tolak Yudha.

“Ya tinggal beli aja. Teh anget lumayan biar ngga kedinginan.” “Ngga usah. Kakak nunggu disini aja.”

“Beneran?”

“Iya….”

“Ya udah aku aja yang masuk.” Putus Sekar langsung saja melangkah masuk ke dalam warung kopi tersebut. Menghiraukan Yudha yang masih bersikukuh untuk berdiri di depan warung kopi menanti hujan reda.

Setengah jam berlalu, namun hujan tidak kunjung berhenti hingga detik ini. Yudha mulai jengkel setengah mati. Mengingat kini jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam yang mana ia tidak memiliki cukup banyak waktu lagi. Ia mulai pasrah. Alamat gagal rencananya.

“Neng, itu pacarnya ya?” tanya ibu-ibu penjual warkop yang sejak tadi memang beberapa kali mengintip Yudha di luar.

“Iya, bu.”

“Kenapa ngga di ajak masuk aja? Kasihan di luar dingin.”

“Tadinya udah di ajak, Bu. Orangnya ngga mau.”

“Lah, kenapa?”

“Ngga tahu,” geleng Sekar. Ya, memang Sekar tidak tahu alasan Yudha tidak ikut masuk.

“Ajak lagi aja tuh, Neng. Kali aja sekarang udah mau.”

Sekar mengalihkan atensinya. Melihat Yudha yang kini masih setia berdiri di dekat pintu sambil bersedekap tangan. Sekar pun akhirnya bangkit berdiri, beranjak untuk mendekati Yudha untuk membujuknya laki-laki itu masuk.

“Kak Yudha.”

“Hm?”

“Ayo masuk.”

“Nggak.”

“Kenapa sih?”

“Ngga mau aja.”

“Kakak badmood?”

Yudha menghadapkan wajah sewaktu Sekar melontarkan pertanyaan itu kepadanya.

“Badmood gara-gara ngga jadi ngajak aku ke tempat yang kakak maksud?” tanya Sekar lagi lebih spesifik.

Yudha masih diam saja. Enggan untuk membalas pertanyaan Sekar yangs sepenuhnya adalah benar. Mengetahui hal itu, Sekar tersenyum sumir. Kemudian ia berinisiatif untuk menggamit salah satu lengan kekasihnya tersebut membuat lelaki itu sedikit terkejut.

“Ayolah, Kak. Masuk ya.” minta Sekar dengan wajah begitu memelas. Yudha berdeham singkat. Mendadak salah tingkah di beri perlakuan seperti itu dari Sekar. Kalau ada kamera tersembunyi di sekitar sini, sepertinya Yudha lebih memilih untuk menyerah dan melambaikan tangan saja. Hingga akhirnya Yudha memilih untuk menurut, daripada membiarkan hatinya semakin porak-poranda.

Sekar menarik salah satu kursi bersamaan dengan Yudha yang duduk di hadapannya. Ia mulai mengedarkan pandangan kea rah spanduk berisi daftar menu makanan untuk memilih makanan yang ingin di pesan.

“Kakak mau Indomie apa?” tanya Sekar, masih sibuk membaca daftar menu.

“Tadi Adek ngajak Kakak masuk aja. Bukan mau makan.”

“Emang kakak ngga laper?”

“Engga,” jawab Yudha kali ini terdengar sedikit ketus.

Sekar mengangkat bahunya saja mendengar jawaban Yudha. Tidak terlalu terbawa hati, karena ia sendiri tahu kalau Yudha tidak dalam mood baik.

“Ya udah. Aku aja yang pesen kalau gitu.” enteng Sekar yang langsung mengangkat tangan untuk memesan Indomie kepada si ibu penjual. Sedangkan Yudha sendiri masih sibuk bersungut.

Tidak butuh waktu lama, Indomie pesanan Sekar tiba di hadapan mereka berdua. Asap yang mengepul serta aroma khas dari mie instan tersebut menyeruak ke dalam hidung mereka. Mengundang rasa lapar di kala hujan. Tanpa banyak percakapan lagi, Sekar mulai menyeruput mi tersebut dan melahap penuh kenikmatan. Sesekali diiringi gumaman ekspresif menandakan bahwa dirinya benar-benar menikmati hidangan tersebut. Yudha yang sedari tadi memperhatikan Sekar hanya menelan saliva saja, menahan gengsi padahal dirinya sendiri pun mulai merasa lapar.

“Kakak mau coba?” tawar Sekar di sela kunyahannya. Menyodorkan gulungan mie di garpu pada Yudha, seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran Yudha.

“Ngga.”

“Udah ngga usah jual mahal. Makan aja nih tinggal buka mulut doang.”

Sekar tetap menyodorkan lilitan mie tersebut di depan wajah Yudha. Awalnya Yudha masih tetap dalam pendiriannya. Namun lama-kelamaan ia menurut juga karena Sekar terus memaksanya untuk membuka mulut.

Di kunyahan pertama, ekspresi Yudha masih terkesan biasa. Namun semakin ia lanjut mengunyah mie tersebut, air mukanya mendadak berubah. Seperti telah menemukan cita rasa baru yang belum pernah ia temui sebelumnya. Dengan raut penasaran, laki-laki itu mulai menarik kursinya dan mendekatkan posisi duduk secara antusias.

“Dek, sumpah baru kali ini kakak ketemu mie tumis begini,” komentar Yudha lirih. “Tekstur dan bumbunya itu lho.”

“Emang apa bedanya kak?” bingung Sekar.

“Beda, Dek. Kakak sebagai maniak Indomie bilang ini beda. Kegurihan yang terkandung di dalam mie ini, belum pernah kakak coba selama 21 tahun kakak hidup.”

Meski tidak terlalu paham akan maksud yang di sampaikan oleh Yudha, namun Sekar tetap mengangguk samar. Terlebih sewaktu Yudha menunjuk lagi mie instan di piringnya.

“Coba sendokin lagi, Dek.”

Sekar kembali menggulung mie instannya lalu menyuapkan lagi mie tersebut kepada Yudha. Hal itu di lanjutkan karena Yudha terus-terusan memintanya.

“Ini warung namanya apa sih? Keknya bakal jadi warkop rekomen nih,” penasaran Yudha menebar pandangan ke penjuru arah.

“Enak ya kak makanannya?”

“Enak banget, Dek. Sumpah!”

Sekar tertawa kecil melihat ekspresi Yudha yang terlihat begitu sungguh-sungguh atas penilaiannya terhadap makanan yang baru saja ia coba. “Ya udah. Besok-besok kita kesini lagi, deh.”

“Wajib itu kita kesini lagi. Gila sih, parah.”

Sekar menarik dua sudut bibir dengan hati yang begitu lega. Dalam benak ia bersyukur, kini perasaan Yudha sudah kembali riang, dan melupakan kejengkelannya beberapa waktu lalu karena schedule mereka tidak berjalan sesuai rencana.

Yudha memberhentikan motor di depan pintu pagar. Mengantarkan Sekar tepat di depan kost dengan selamat. Setelah melepaskan helm, Sekar lanjut menyerahkan helm tersebut kepada sang pemilik.

“Dek,” panggil Yudha di sela serah terima helm.

“Iya, Kak?”

“Maaf ya.”

“Maaf? Buat apa?”

Yudha menghela nafas pelan sebelum melanjutkan pertanyaan Sekar. “Maaf, rencana kita dinner romantis gagal total. Rencana kakak buat nembak Adek ngga jadi,” ungkapnya di selubungi perasaan bersalah. Sekar menundukkan kepala sejenak, pandangannya jatuh pada pergelangan tangan Yudha yang menggantung di sisi tubuh. Sekar pun perlahan menarik pergelangan tersebut, lalu meraih dan mengenggam telapak tangan Yudha erat.

“Bagi aku yang tadi itu romantis kok, Kak.”

Yudha menaikkan dua alisnya. Bingung atas pernyataan Sekar baru saja.

“Bisa makan berdua sama kakak, bisa nyuapin kakak, bisa sepiring berdua sama kakak. Semuanya bagi aku udah romantic. Asal itu sama Kak Yudha.”

Yudha tidak kuasa menahan kembangan senyum mendengar penuturan Sekar. “Ah, apaan sih, Dek. Kakak jadi baper nih.”

“Lah, aku serius kok,” kekeh Sekar. “Udah, Kakak pulang gih. Udah malem, besok lagi ketemunya.”

Yudha mengangguk sekilas. Awalnya ia memang berniat untuk pulang. Tapi tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu.

“Oh iya, Dek. Kakak punya sesuatu.”

Sekar menaikkan dua alisnya penasaran sewaktu melihat Yudha telah melepas kuncinya untuk membuka jok motor. Hingga beberapa saat kemudian, Yudha menyodorkan sebuket bunga mawar yang mana kertasnya sudah tidak rapi lagi. Ada lipatan di beberapa bagiannya.

“M-maaf, Dek. Kertasnya kelipet dikit. Tapi tenang bunganya masih bagu-” belum usai Yudha menuntaskan kalimatnya, wajah Yudha kembali cemberut melihat beberapa tangkai bunga tersebut yang bengkok. Akibat itu, spontan saja Yudha melemparkan buket bunga itu ke tanah membuat Sekar tersentak.

“Nyebelin lu ah,” maki Yudha pada bunga yang sudah tergeletak tidak berdaya di tanah.

“Eh, eh, Kak. Kenapa di buang?” sela Sekar yang langsung mengambil bunga tersebut dari bawah. “Sayang tuh masih cantik bunganya.”

“Cantik apanya?! Udah potek gitu apanya yang cantik!” balas Yudha menggebu-gebu.

“Kelopaknya masih utuh nih. Warnanya masih seger juga.”

“Udah, udah sini buang aja. Kesel Kakak lihatnya.”

“Ihh Kak Yudha jangan di buang. Ini punya aku.”

“Ngapain terima bunga jelek?!”

“Bagi aku ini masih bagus kok. Cuma patah tangkainya doang.”

Keduanya mendadak diam. Terutama Yudha yang kembali badmood akibat bunganya patah.

“Udah jangan cemberut gitu sih, Kak. Perkara bunga juga.”

“Bukan bunga aja, Dek. Semuanya tentang hari ini, tentang hari kemarin. Itu yang buat kakak kesel.”

“Kenapa?”

Yudha menatap wajah Sekar dengan raut yang sulit terbaca. “Kakak kesel aja sama diri Kakak sendiri. Kakak kesel karena ngga bisa kasih dan lakuin sesuatu yang kayak orang-orang lakuin ke pacarnya.”

Sekar membuang napas perlahan mendengar kalimat terakhir Yudha. Tiba-tiba saja, secara mengejutkan Sekar membawa kedua telapak tangannya. Membawa pandangan Yudha untuk focus pada kedua manic mata miliknya.

“Dengerin aku, Kak. Aku itu suka Kakak sebagai kak Yudha. Bukan sebagai orang lain….” Tuuturnya.

Yudha terdiam. Masih sibuk menyelami bola mata Sekar yang indah. Hening malam mulai melanda kedua insane tersebut.

“Apapun yang Kakak lakuin itu, semuanya aku suka. Kakak ngga perlu jadi orang lain, Kakak ngga perlu lakuin hal apapun yang orang lakuin. Tapi cukup diri Kakak sendiri, itu yang aku mau.”

Yudha termenung mendengar penuturan tersebut. Hingga Sekar menurunkan dua telapaknya dan lanjut merentangkan tangan di hadapan Yudha.

“Sini,” ajak Sekar.

“Mau ngapain?” bingung Yudha.

“Mau peluk pacar aku.”

Yudha tertawa renyah mendengar hal tersebut. Lalu ia ikut menyambut rentangan itu dan memeluk Sekar dalam dekapan erat.

“Makasih ya, Sekar,” ucap Yudha tulus.

“Aku yang harusnya bilang makasih sama Kak Yudha.”

“Kenapa gitu?”

“Karena kalau Kakak ngga nyariin aku di base aku ngga bakal tau kalau di dunia ini ada laki-laki kayak Kak Yudha.”

Yudha diam-diam menyunggingkan senyum di balik punggung Sekar mendengar jawaban itu. Di dekapnya semakin erat tubuh Sekar, seolah tidak ingin melepas gadis itu lagi.

“Kakak sayang sama Sekar.”

“Aku juga, sayang banget sama kak Yudha. Jangan pernah berhenti suka sama aku ya, Kak.”

Yudha mengangguk. Sebelum mengakhiri pelukan mereka berdua, tidak lupa Yudha mengecup kening Sekar membuat gadis itu terperanjat.

“Eh kok jadi nyium? Tadi aku Cuma kasih izin peluk aja.”

“Kenapa? Ngga boleh? Kan pacar sendiri.”

Sekar tertawa mendengar jawaban Yudha tersebut. Kemudian lanjut memeluk Yudha semakin erat. Berharap waktu bergerak lambat saja agar dirinya bisa menghabiskan momen ini sedikit lama.

sekarangdanesok, 2021

Yudha meminggirkan kendaraan roda duanya tepat di depan tugu bertuliskan FMIPA. Seraya merogoh ponsel dari dalam jaket, mata Yudha tiada berhenti untuk berpendar mencari sosok adik MIPA hingga ia langsung disadarkan oleh seseorang yang memanggil dari arah belakang.

“Kak Yudha.”

Yudha mengalihkan atensi ke sumber suara. Menangkap wujud Sekar yang telah berdiri dengan rambut panjang terurai. Jujur, kali ini Sekar terlihat begitu menawan dengan kemeja manis bermotif bunga-bunga yang ia kenakan. Di tambah senyum manis yang terukir indah menghias wajah Sekar membuat Yudha seakan lupa bahwa dunia saat ini sedang berputar. Laki-laki itu bahkan tidak memberi kesempatan barang sedetik pun untuk mengedipkan kedua mata akibat terlanjur terpana.

“Kak Yudha?” panggil Sekar lagi. Di panggilan kedua ini, untungnya Yudha berhasil kembali ke dunianya. Laki-laki itu lantas mengerjapkan mata berulang-ulang untuk mengembalikan kesadaran.

“Eh, iya, Dek.”

“Kakak nakutin aku aja. Kirain tadi kesambet siang bolong gini,” ujar Sekar sembari membenahi posisi tote bag di sebelah pundaknya. “Ya udah. Ayo, Kak, kita berangkat.”

Tanpa banyak percakapan lagi, Sekar langsung saja menaiki motor Yudha setelah laki-laki itu menyerahkan helm untuk di pakai oleh Sekar. Kemudian gadis itu lanjut untuk duduk di boncengan motor Yudha. Namun sebelum Yudha benar-benar melanjutkan perjalanannya, lagi—pergerakan Yudha terinterupsi.

“Kak, aku boleh ngga pinjem kantong jaket kakak?” minta Sekar.

Yudha yang sempat bingung atas permintaan aneh Sekar menoleh sebentar ke arah spion. Menatap Sekar melalui pantulan cermin cembung itu dengan wajah berkerut.

“Buat apa? Kalau mau naro HP atau duit simpen dalem tas aja. Jangan di kantong kakak.”

“Bukan, Kak,” sela Sekar cepat. “Buat masukin tangan aku.”

“Tangan?”

“Iya. Biar ngga kena matahari. Gramed ‘kan lumayan jauh darisini.”

Yudha diam sejenak. Sedikit lama untuk menyetujui permintaan gadis itu hingga akhirnya Yudha menganggukkan kepala. Melihat itu, dengan senang hati pula Sekar memasukkan dua tangannya ke dalam saku jaket Yudha tanpa aba-aba. Membuat Yudha menahan napas karena—jujur—Yudha tidak pernah membonceng perempuan dalam jarak sedekat ini, kecuali bersama ibu dan adiknya.

“O-oke. Kita berangkat, ya,” ucap Yudha yang menahan mati-matian rasa gugupnya. Hingga berikutnya ia menghidupkan mesin motor dan perlahan bergerak meninggalkan area kampus untuk pergi menuju toko buku yang mereka maksud.

Selama perjalanan awal, keduanya masih saling diam. Tidak ada percakapan spesial yang terjadi. Masing-masing dari mereka tidak tahu harus memulai obrolan darimana. Terlebih Yudha yang kini merasa tegang luar biasa. Menyadari jika atmosfir kurang bagus telah melingkupi mereka berdua, akhirnya Sekar berinisiatif untuk membuka suara demi menghilangkan kecanggungan yang melanda.

“Kakak tau ngga kalau aku kurang suka keluar waktu terik?” tanya Sekar memecah bising jalanan raya kota.

“Tahu.”

“Tahu ngga alasannya kenapa?”

“Hmm… engga.”

Sekar terkekeh kecil sebagai intro dari balasan atas pertanyaan Yudha. “Aku itu sebenernya ada sedikit alergi gitu, Kak. Kulit aku sensitif kalau lama terpapar sinar matahari. Suka merah-merah.”

“Ohh,” balas Yudha singkat saja. Sungguh, Yudha baru tahu kalau ternyata Sekar punya alergi semacam itu.

“Mau tahu fakta lain ngga, Kak?”

“Apa?”

“Kakak orang yang pertama kali aku kasih tahu tentang ini. Temen aku belum ada yang tahu.”

Dan kali ini mungkin Yudha sampai di titik keterkejutan. Membuat kedua alisnya terangkat spontan setelah mendengar jawaban dari Sekar.

“Ke-na-pa?”

“Aku ngga terlalu suka pribadi aku di ketahui banyak orang.”

Yudha kehabisan kata untuk membalas jawaban Sekar. Kalau dia tidak mau urusan pribadinya di ketahui banyak orang, mengapa dia justru menceritakan hal itu kepada Yudha? Ada sedikit rasa keingin-tahuan Yudha muncul untuk bertanya, namun niat itu gagal ia utarakan sewaktu Sekar sudah menepuk pundak Yudha, menyadarkan laki-laki itu bahwa toko buku yang mereka maksud sudah ada di depan mata.


Setelah cukup menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di Gramedia, mereka melangkah keluar dari toko buku tersebut bersama beberapa buku serta peralatan tulis yang Sekar butuhkan. Setibanya di depan pintu keluar, Sekar menyempatkan diri mendongakkan kepala ke atas, memandang langit yang mulanya berwarna jingga kini sudah menjelma menjadi hitam pekat. Lama Sekar menatap payung bumi itu, seraya menunggu Yudha mengeluarkan motor dari parkiran. Setelah Yudha usai bersama urusan motornya, laki-laki itu mulai perlahan mendekat ke arah Sekar—dimana gadis itu juga sedang memperhatikan Yudha begitu lamat. Membuat Yudha semakin salah tingkah saja.

“Kenapa sih, Dek, lihatin kakak daritadi sampe segitunya?”

“Lah, jadi aku ngga boleh ya lihatin kakak? Kalau gitu aku merem aja, deh.”

Yudha terkekeh mendengar balasan Sekar. Terlebih melihat gadis itu sudah memejamkan mata dan bertingkah lucu di hadapannya.

“Ya, ngga gitu juga, Dek.”

“Terus?”

“Udahlah. Kita pulang aja.”

“Eh, bentar dulu, Kak.”

Yudha yang mulanya hendak menaiki motor mendadak mengurungkan niat sewaktu Sekar lagi-lagi memanggilnya.

“Kak, kayaknya kecepetan deh kalau pulang sekarang.”

“Emang mau ngapain lagi?”

Sekar memutar bola matanya sebentar ke atas, berlagak berpikir lalu kemudian menatap Yudha lagi dengan ekspresi sulit di tebak. “Kakak..., ngga mau jalan-jalan dulu apa?”

Yudha memangapkan mulutnya tidak percaya mendengar pertanyaan Sekar tersebut. Bagi dirinya ini merupakan sebuah momen langka. Bagaimana tidak? Sekar ingin mengajak jalan-jalan. Sebuah permintaan yang sama sekali tidak pernah Yudha bayangkan sebelumnya.

“Jalan-jalan..., Kemana?” tanya Yudha yang masih di serang perasaan bingung.

“Kemarin aku ada lihat festival gitu, Kak, di Instagram. Kita coba kesana, yuk.”

“O-ohh, iya. Kakak tahu, kemaren juga sempet lewat di explore IG kakak.”

“Mau ya, Kak, kesana? Please aku BM banget.”

Yudha tersenyum kaku saja menjawab pertanyaan Sekar. Ya, meskipun masih terasa agak aneh, tapi tidak mungkin pula Yudha menghilangkan kesempatan emas ini. Akhirnya ia memutuskan untuk mengangguk saja sebagai persetujuan ajakan Sekar tersebut.

Yes! Ayo, Kak, kita kesana,” girang Sekar. Wajahnya bahkan kentara sekali tergambar bahagia sewaktu menaiki motor Yudha.

Mereka pun melanjutkan destinasi berikutnya. Menghabiskan malam bersama seluruh kebahagiaan tiada tara teruntuk dua insan yang nyatanya sudah mulai tumbuh benih-benih rasa.


“Kak, kita kesana, yuk.” tarik Sekar lagi pada tangan Yudha. Menyeret laki-laki itu untuk singgah di sebuah gerobak penjual permen kapas. Mata Sekar menebar ke segala penjuru gerobak dimana tergantung permen kapas berupa warna yang ada disana.

“Kakak, suka permen kapas ngga?” tanya Sekar sambil matanya memindai satu-persatu permen kapas tersebut. Sedangkan Yudha, laki-laki itu menggeleng pelan saja, menatap enggan permen kapas warna-warni yang bergantungan di hadapannya.

“Kakak suka sakit gigi makan yang manis banget gitu.”

Sekar otomatis menghadapkan wajahnya setelah mendengar jawaban Yudha tersebut. Gadis itu pun menghela napas terdengar begitu kecewa atas balasan Yudha.

“Yahh, padahal mau beli.”

“Ya, beli aja kalau adek mau.”

“Tapi nanti kakak ngga ikut makan,” tambahnya lagi. “Kalau aku makan sendiri akunya suka ngga habis, Kak ….”

Yudha menggaruk tengkuknya dilema mendengar kalimat yang di lontarkan Sekar. Di tambah Yudha kini sudah menyaksikan wajah Sekar yang merautkan wajah penuh kekecewaan, membuat Yudha tidak tega. Hingga akhirnya—dengan penuh kelapangan dada yang ia miliki, Yudha memutuskan untuk mengambil saja satu permen kapas disitu.

“Om, yang ini satu ya,” ucap Yudha sambil tangannya merogoh saku mencari dompet. Lantas kemudian ia menyodorkan selembar uang kepada si penjual untuk menukarnya dengan permen kapas tadi.

“Kak, katanya kakak ngga suka?”

“Ngga apa. Makan dikit aja ngga masalah. Paling-paling—”

“Paling-paling?”

“Paling-paling yaa … sakit gigi.”

Yudha tertawa hambar mendengar jawabannya sendiri. Dalam hati Yudha mulai memaki, “dasar bucin lu, Yudha.”

Berbeda kejadian dengan hal yang dirasakan oleh Yudha, justru Sekar menanggapinya dengan perasaan yang meledak-ledak. Hatinya terasa begitu hangat sewaktu menerima perlakuan manis Yudha. Jujur, siapa sih wanita yang tidak tersanjung di perlakukan seperti itu? Tentu saja jawaban Sekar tidak ada. Hal manusiawi bagi perempuan untuk merasa bangga di perlakukan istimewa.

“Ma-kasih, Kak,” ucap Sekar kaku. Sedangkan Yudha hanya mengangguk canggung.

Sekar mulai merobek bungkus kembang gulanya dan menyuapkan benang-benang manis itu ke dalam mulut. Awalnya memang Sekar sangat menikmati permen kapas pemberian Yudha, namun lama-lama Sekar bosan juga karena menghabiskan permen yang sangat manis itu sendirian.

“Sini, kakak bantuin habisin.” tawar Yudha yang mulai ikut mengambil permen kapas yang ada di tangan Sekar.

“Tadi kakak bilang suka sakit gigi kalau makan yang manis banget gini? Gimana kalau nanti giginya jadi sakit?”

“Kalau dikit mah ngga apa kali, Dek. Kalau makan segerobak baru sakit gigi.”

Sekar tertawa kecil menanggapi kalimat Yudha. Terlebih ketika melihat kakak mesinnya itu melahap permen kapas berwarna merah muda itu begitu nikmat.

“Aku kira kakak beneran ngga suka kembang gula. Ternyata doyan juga, ya,” komentar Sekar di sela kunyahannya.

“Ya, 'kan kakak bilang kakak sakit gigi kalau makan yang terlalu manis. Bukan berarti kakak ngga suka.”

Benar juga.

“Kakak mau lagi? Nih biar aku suapin,” tawar Sekar.

Sekar pun mengambil satu jumput permen kapas untuk di suapkan kepada Yudha. Selayaknya remaja yang sedang berada di puncak kasmaran. Mereka saling tergelak bahagia. Sampai-sampai keduanya lupa, jikalau saat ini mereka tidak dalam hubungan apa-apa.

Akibat terlalu menikmati momen kebersamaan mereka malam itu, bahkan keduanya nyaris lupa jikalau malam bahkan sudah semakin larut. Hal tersebut mulanya disadari oleh Yudha karena ia merasakan udara semakin dingin berembus.

“Ini jam berapa, sih? Dingin banget.” komentar Yudha yang kembali merogoh saku untuk mengambil ponsel, kemudian memeriksa waktu yang sudah mereka habiskan malam ini. Wajahnya mendadak berubah shock sewaktu tahu bahwa angka yang tertera di layar ponselnya telah menunjukkan pukul 10 lewat 20 menit.

“Dek, udah jam 10 lewat sekarang. Kita pulang aja, yuk. Udah malem,” ajak Yudha.

“Jam 10? Kok cepet banget. Ayo, Kak, kita pulang. Besok aku ada jadwal kuliah pagi. Nanti kesiangan kalau ngga tidur cepet.”

Tidak butuh waktu lama, mereka pun bergegas untuk pulang mengingat hari sudah mulai larut malam. Selama perjalanan pulang, tidak ada percakapan lagi yang terjadi di antara mereka berdua. Mungkin, mereka sudah kehabisan bahan juga untuk memulai pembicaraan. Hingga memilih bungkam saja bahkan sampai mereka tiba di depan kost Sekar.

“Makasih ya, Kak, udah mau aku repotin hari ini,” ucap Sekar selepasnya ia turun dari motor Yudha. Di ikuti Yudha yang juga ikut turun untuk mengantar Sekar tepat di depan pintu pagar.

“Iya, sama-sama. Masuklah, istirahat. Udah malem ini.”

Sekar mengangguk. Lantas membalikkan badannya ke arah pintu pagar untuk membuka kunci. Sedangkan Yudha, laki-laki itu masih saja berdiri di tempat untuk menatap gerak-gerik Sekar dalam diam. Hingga tanpa sadar, ia menarik dua sudut bibir membentuk lengkung senyum tak terduga.

Sekar, tanpa gadis itu sadari. Ia telah berhasil menjadi hadiah spesial di penghujung hari ulang tahun Yudha. Dia, telah sukses membuat perasaan Yudha yang berantakan akibat satu orang pun tidak mengingat hari ulang tahunnya. Namun hari ini Sekar merubah segala kesedihan itu. Sekar sukses mengembalikan semua kegundahan Yudha menjadi hari yang bahagia sebagaimana mestinya.

“Dek…,” panggil Yudha memecah keheningan. Membuat Sekar lagi-lagi memutar kepalanya kembali ke arah Yudha.

“Iya, Kak?”

“Makasih,” ucap Yudha tulus. “Makasih, untuk hari ini.”

Sekar tidak membalas kalimat Yudha. Ia mendadak diam seribu bahasa, membiarkan suasana berselimut rikuh dengan backsound jangkrik bersahutan menemani kebisuan mereka. Sedikit lama, mungkin ada sekitar dua menit mereka terkurung di dalam senyap.

“Udah, ah. Lupain aja. Kakak mau pulang dulu. Entar makin malem pulangnya,” putus Yudha yang buru-buru mengakhiri kecanggungan mereka kala itu.

Sekar masih bergeming di tempat. Tanpa ada niat untuk membalas kalimat Yudha. Mempersilakan saja lelaki itu yang kini sudah kembali menuju motornya berada.

“Kak Yudha jangan pulang dulu.”

Yudha memalingkan kepala dengan raut wajah penuh keheranan sewaktu Sekar menahannya untuk pulang. Belum usai rasa penasaran itu terjawab, Yudha semakin di buat bertanya-tanya ketika melihat Sekar sudah melangkah mendekat—lantas berjinjit untuk menyetarakan tinggi mereka berdua.

Cup.

Yudha membeku di posisinya berada. Ia bahkan seperti lupa bagaimana cara mengambil udara secara benar. Napasnya tertahan, tepat sedetik setelah Sekar mendaratkan kecup singkat di sebelah pipi kirinya. Seiring kalimat tambahan yang terlontar dari bibir Sekar, membuat jantung Yudha seakan-akan berhenti untuk menunaikan kewajiban utama sebagai organ vital manusia.

“Selamat bertambah usia, Kak Yudha.”

©sekarangdanesok, 2021.

Sekar mulai mendudukkan diri di salah satu bangku panjang di kantin FMIPA. Sembari jemarinya menari lihai di atas layar untuk mengutarakan maksud kepada Yudha, tiba-tiba saja Sekar di kejutkan akan sebuah susu kotak yang di sodorkan ke arahnya. Lantas Sekar menolehkan kepala, menghadapkan wajah menuju seseorang yang memberi susu itu.

“Kak Yudha?” tanya Sekar dengan raut begitu tidak menyangka. “Kok kakak tahu kalau aku mau nitip susu?”

Yudha yang tadinya hanya tebak-tebak berhadiah pun ikut terkejut mendengar pertanyaan Sekar. “Lah beneran? Padahal tadi kakak iseng doang lho, karena kakak pikir adek habis nge-lab. Jadi perlu minum susu.”

Mendengar jawaban itu, Sekar hanya tersenyum simpul. Dengan senang hati juga gadis itu menerima susu pemberian dari Yudha. “Kebetulan banget. Makasih ya, Kak.”

“Iya sama-sama,” balas Yudha dengan iringan tawa. “Masih ngga habis pikir juga sih kok kita bisa sepikiran gitu.”

“Kayaknya telepati aku nyampe deh ke kakak.”

“Hahaha, mungkin juga ya. Telepati adek nyampe ke kakak. Cuma perasaan kakak ke adek aja yang ngga nyampe.”

Sekar dan Yudha mulai tertawa sendiri mendengar canda garing tersebut.

“Hehe, jangan di masukin di hati, Dek. Kakak cuma bercanda,” pesan Yudha.

“Iya, Kak. Kalau aku masukin hati takutnya baper ya, padahal cuma bercanda.”

Percakapan macam apa ini?

“Ehm, Dek, kayaknya kita pesen makanan aja, deh. Kakak laper,” pungkas Yudha mengakhiri obrolan ambigu mereka berdua. Sekar pun ikut mengangguk setuju. Selain ia tidak ingin melanjutkan percakapan aneh tadi, perutnya juga sudah mulai terasa keroncongan.

“Adek mau apa? Biar kakak aja yang pesenin,” tanya Yudha mulai bangkit berdiri.

“Kata kakak kangen pakde mie ayam, ya udah pesen mie ayam aja. Sekalian bisa ketemuan sama pakde.”

Mendengar kalimat itu, Yudha memicingkan matanya ke arah Sekar. Sedangkan gadis itu hanya tertawa geli melihat Yudha yang menatapnya seperti itu.

“Ayo, buruan, Kak. Nanti makin banyak orderan pakde,” suruh Sekar lagi.

“Ya udah. Minumnya mau apa?”

“Es teh aja, Kak.”

“Oke. Tunggu bentar.”

Yudha akhirnya membalikkan badan dan melangkah menuju gerobak mie ayam tidak jauh dari bangku mereka berada. Sedangkan Sekar sendiri mulai merogoh tissue dari dalam tas dan lanjut mengelap meja yang berada di hadapannya.

Selagi Sekar mengelap meja itu, matanya mulai menangkap seonggok map berwarna merah hati yang tergeletak tidak jauh dari posisi tas Yudha berada. Melihat itu, langsung saja Sekar mengambil map tersebut sembari netranya melirik Yudha selintas yang masih berdiri di depan gerobak mie ayam.

Sekar mulai mengintip isi dari map merah hati itu. Membaca judulnya sekilas dimana tertulis Kartu Rencana Studi Mahasiswa beserta biodata diri lain Yudha disana. Sekar menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan tingkah Yudha yang meletakkan saja berkas-berkas secara asal.

“Sembarangan banget letakin berkas penting begini. Kalau nanti kotor gimana?” omel Sekar sendiri.

Sekar mulai membolak-balik lagi lembaran yang ada di dalam map tersebut. Hingga dirinya menangkap sesuatu hal yang baru ia sadari, hingga berikutnya gadis itu menghidupkan mode tidur layar ponsel untuk memastikan sesuatu disana.

©sekarangdanesok, 2021.

Yudha melangkahkan kaki secepat kilat menuju kelas dimana Sekar berada. Setibanya ia disana, tampak Sekar bersama teman-temannya sudah berkumpul di salah satu sudut kelas. Mata Yudha langsung teralihkan pada sosok adik MIPA yang kini masih setia merebahkan kepalanya di atas meja.

“Sekar kenapa?” tanya Yudha dengan nada khawatir yang begitu kentara. Di sentuhnya beberapa bagian tubuh Sekar untuk mencoba memastikan kebenaran perkataan Vega di pesan, dan begitu terkejutnya Yudha sewaktu ia benar-benar merasakan suhu tubuh Sekar begitu hangat.

“Ya Allah ini panas banget, Dek. Pulang aja ya, istirahat. Siang ini ngga usah kelas dulu,” saran Yudha. Namun di balas gelengan kepala lemah oleh Sekar.

“Sekar ....”

“Kak, aku masih ada kuis sudah ini.”

“Ya tapi gimana mau jawab kuis kalau adek aja sakit? Udah nurut aja. Kakak anter pulang.”

“Kak ...,”

“Kali ini kakak beneran maksa,” tegas Yudha. “Pulang, ayo.”

Setelah sekian banyak bujukan untuk mengajak Sekar pulang, akhirnya gadis itu menurut juga. Kini Sekar sudah duduk di dalam mobil Johnny. Menyandarkan kepalanya di jok sambil memejamkan mata. Sesekali Sekar mengerutkan wajah, merasakan sensasi sakit kepala luar biasa sampai membuat Yudha tidak tega melihatnya.

“Dek, beneran ini ngga mau ke dokter aja?” tanya Yudha meyakinkan.

“Ngga usah, Kak. Pulang aja ke kost, paling di bawa tidur sakitnya hilang,” jawab Sekar dengan suara lirih. Mendengar itu, Yudha pun mengangguk patuh saja.

“Ya udah, tidur aja sekarang. Nanti kalau udah sampe di kost kakak bangunin.”

Sekar mengangguk singkat dan mulai memejamkan matanya seiring mobil tersebut bergerak lambat. Selama perjalanan, Yudha sengaja tidak mengaktifkan suara apa-apa. Hanya samar-samar terdengar suara deru mesin saja tercipta di antara mereka. Bahkan Air Conditioner pun Yudha minimalkan agar Sekar tidak merasa kedinginan. Sesekali ia menoleh ke arah Sekar, memastikan gadis itu benar-benar nyaman pada posisinya. Syukur, Sekar sudah sedikit nyaman sekarang. Hal itu nampak ketika ia melihat Sekar sudah terlelap tenang di sebelahnya.

Yudha tadinya memang ingin langsung mengantarkan Sekar pulang menuju kost-nya. Namun ia urungkan niat tersebut setelah ia melihat sebuah ruko berpalang “Apotek” di sisi kanan jalan. Otomatis saja Yudha meminggirkan mobil itu disana, kemudian keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Setelah beberapa menit berlalu ia kembali lagi dengan sebuah kantong plastik putih di tangan. Menampakkan sebuah ByeBye Fever untuk di tempelkan di kening Sekar.

Yudha menyobek bungkus plester kompres tersebut dan mengeluarkan isinya. Lalu lanjut menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi dahi Sekar, menempelkan ByeBye Fever itu penuh ketelatenan tanpa menciptakan suara berisik ataupun gerakan menganggu agar tidak membangunkan Sekar. Hingga dirinya usai memasangkan plester kompres itu, Yudha menatap wajah Sekar lama.

Di dalam diam, Yudha merenung. Otaknya mulai mengingat kembali peristiwa yang sudah ia lalui bersama Sekar. Memikirkan segala alasan tentang—mengapa dirinya menjatuhkan pilihan kepada perempuan bernama Sekar.

Gadis ini, mungkin tidak ada bedanya dengan gadis di luar sana. Namun Yudha merasa, Sekar sedikit berbeda dari mereka. Sekar punya nilai lebih tersendiri baginya. Yang entah itu apa, Yudha sendiri pun masih belum terlalu paham. Yudha juga sampai saat ini tidak habis pikir mengapa bisa ia jatuh hati begitu mudah kepada Sekar.

Apa karena cinta datang tanpa butuh alasan? Haha, pernyataan yang terdengar janggal dan tidak masuk akal.

Bullshit, jika ada seseorang yang mengartikan cinta seperti itu. Bahkan manusia makan sebanyak tiga kali sehari pun memiliki alasan, yaitu untuk bertahan hidup. Apalagi tentang perasaan?

Tentu saja ada alasan mengapa ia harus memiliki Sekar.

Namun alasan itu yang masih belum bisa Yudha dapatkan titik temunya. Tentang alasan utama ia harus mempertahankan Sekar untuk tetap selalu ada di sisinya.

Tanpa sadar, tangan Yudha perlahan bergerak untuk menyentuh wajah Sekar. Mengusap pipi halus itu pelan dan penuh penjiwaan. Hingga tiba-tiba ia di sadarkan oleh pergerakan Sekar membuat tangannya tertarik menjauh dari wajah gadis itu.

“Kak ...,” panggil Sekar yang masih memejamkan matanya.

“Kenapa?” tanya Yudha dengan suara sangat pelan.

“Jangan pernah berubah, ya. Tetap selalu jadi Kak Yudha, kakak mesinnya adik MIPA.”

©sekarangdanesok, 2021.

Sekar menghela napas begitu panjang. Setelah mata kuliah Kimia Dasar selesai, Sekar lagi-lagi merebahkan kepalanya di atas meja. Ia pikir, tadi malam sewaktu ia memutuskan untuk tidur dapat memulihkan kembali stamina tubuhnya agar bisa menjalankan hari ini dengan baik. Namun kenyataannya sama sekali tidak. Bukan kebugaran yang ia dapat, ia bahkan justru semakin lemas dan badannya benar-benar terasa tidak enak sekarang.

Berulang kali Sekar menggigit bibir bawahnya. Dalam hati ia berdoa agar perkuliahan hari ini cepat selesai sehingga dirinya bisa pulang dan beristirahat dengan tenang. Sebenarnya bisa saja Sekar absen untuk kelas kali ini. Namun mengingat sebentar lagi mata kuliah Fisika Dasar I di mulai yang mana akan ada kuis bab, Sekar mengurungkan niatnya. Ia memilih untuk bertahan lebih lama demi mengikuti kuis meskipun nilai yang ia peroleh nanti kecil. Setidaknya hal itu jauh lebih baik di banding tidak ada nilai sama sekali alias nol.

Namun sepertinya kondisi tubuh Sekar tidak dapat mendukung rencana yang telah gadis itu susun sedemikian rupa. Badannya semakin terasa meriang, bahkan napasnya mulai sedikit tersengal-sengal. Entah apa yang terjadi padanya hari ini, Sekar betul-betul tidak memiliki cukup tenaga.

“Sekar badan lo panas banget. Pulang aja ya, ngga apa nanti kita bilangin sama Pak Cipto kalau lo sakit,” bujuk Vega untuk kesekian kali. Sebab sejak tadi Sekar terus-terusan menolak untuk di antar pulang.

“Iya, Kar. Kalau lo sakit juga pasti dosen maklumin kok,” kali ini Asfa yang menyahut. Namun Sekar tetap pada pendiriannya. Gadis itu sama sekali tidak ingin mendengar saran dan menulikan telinga. Melihat reaksi itu, para teman yang lain hanya bisa menarik napas pasrah. Tidak tahu harus membujuk Sekar seperti apa lagi.

Acha yang sejak tadi hanya diam di tempatnya berdiri tiba-tiba saja menarik lengan Vega menjauh dari jangkauan Sekar. Kemudian gadis itu merapatkan jarak sambil sesekali menoleh ke arah Sekar berada. “Ga, tapi kalau kita anter pulang dia sekarang mana bisa. Lima belas menit lagi matkul Pak Cipto mulai dan kita pasti bakal telat masuk. Bisa minta tolong orang lain aja ngga? Temen kost-nya kali aja ada yang bisa nganterin Sekar,” bisik Acha.

“Masalahnya gue juga ngga tahu siapa aja tetangga kost Sekar, Cha. Kemarin Sekar bilang juga temen kost dia yang lama udah banyak yang pindah, dan gue belum banyak kenal sama anak baru.”

Acha kembali diam. Tangannya mulai mengusap dagu tergambar wajah yang sangat bimbang.

“Coba lo tanya kak Yudha. Bisa ngga nganter Sekar pulang?” sarannya.

Awalnya Vega tidak begitu antusias dengan saran Acha. Mengingat jawaban Sekar yang kurang mengenakkan di grup semalam, Vega sudah sangat menduga jika antara Sekar dan Yudha dalam hubungan tidak baik-baik saja.

“Udah, Ga. Coba aja dulu. Ngga usah banyak mikir,” suruh Acha. Dengan gerakan cepat saja Acha merampas ponsel Sekar yang menganggur di atas meja dan menyerahkan ponsel tersebut kepada Vega.

©sekarangdanesok, 2021.

Tidak butuh waktu lama bagi Yudha untuk menemukan sosok Mark di tengah kantin tersebut, laki-laki penggila semangka itu tentu saja dengan begitu mudah di temukan sewaktu buah favoritnya menjadi salah satu alasan Yudha yakin bahwa itu adalah Mark. Langsung saja Yudha mendekat, mengambil duduk di sebelah Mark yang mana mulut temannya itu di penuhi sesak kunyahan semangka.

“Semangka aja lu,” cibir Yudha.

“Daripada gua nyabu.”

“Hehehe bener juga sih,” cengir Yudha yang tanpa basa-basi ikut mencomot bekal semangka Mark dalam wadah Tupperware berwarna merah muda itu.

“Tumben dateng cepet. Habis darimana?” tanya Yudha.

“Balikin buku perpus.”

“Ohh kirain COD semangka.”

“Lu sendiri ngapain dateng cepet?”

“Gua ‘kan emang rajin.”

“Gua serius ya anjing.”

“Hahaha, engga, engga. Tadi gua habis ketemuan sama temen lama gua si Juli.”

“Ohh,” balas Mark dengan anggukan kepala singkat. Mengakhiri percakapan mereka dan mulai sibuk dengan aktivitas sendiri. Sedangkan Yudha, laki-laki itu sudah sibuk merogoh sakunya tampak mencari sesuatu darisana.

“Lu ngapain dah ribet amat daritadi?” tanya Mark yang mulai terganggu akan kegiatan Yudha.

“Korek gua mana ya?”

“Mau ngudut?” tanya Mark retoris.

“Mau bakar gedung fakultas!” sahut Yudha tidak santai. “Ya logika lu di pake dong. Pertanyaan lu ngga bermutu banget deh.”

Mark tidak membalas celotehan Yudha lagi. Hingga lelaki itu akhirnya menyerah dan memutar balik badannya ke arah gerobak bertuliskan Martabak Bang Ilham.

“Bang Ilham!” teriak Yudha pada si pemilik gerobak.

“Ape?” sahut Bang Ilham dari dalam.

“Pinjem korek.”

“Ngga modal lu.”

“Korek gua ketinggalan di jaket satunya, Bang.”

“Halah, alasan.”

“Ayolah, Bang …,”

“Ada syaratnya.”

“Apa?”

“Beli dagangan gua.”

Yudha sangat menduga jika jawaban Bang Ilham akan seperti itu. “Iya dah. Gua beli minuman aja ya, Bang.”

“Terserah lu. Asal jangan es tawar.”

“Susu soda aja satu.”

Mendengar jawaban Yudha, dengan cepat pula kepala Mark menoleh ke arah teman di sampingnya itu.

“Yang bener aja lu. Masa rokok di sandingin sama susu soda?” protes Mark.

“Ya terserah gua, lah. Kan yang mau minum sama mau rokok gua bukan elu.”

“Ya tapi—” Mark mulai menatap wajah Yudha frustasi. “Sinting ini orang,” sambungnya.

Yudha tidak membalas kalimat Mark. Ia yang kini sibuk memantik korek di salah satu ujung rokok terfokuskan sebentar hingga setelahnya lelaki itu mengembuskan asap dari batang tembakau itu di depan wajah Mark menyusul seringaian.

“Mark, lu mau denger cerita gua ngga?” bahas Yudha setelah tiga kali hisapan ia embuskan.

“Apa?”

“Lusa lalu gua ngamen.”

“Ngamen?!” kaget Mark dengan bola mata yang membulat lebar.

“Iya …,” angguk Yudha antusias. “Ternyata asik juga ya ngamen. Gua dapet 550 ribu ngamen semalem doang.”

“Hah ini seriusan?!”

“Serius, beneran. Ternyata banyak yang suka sama suara gua, Mark, hahaha…,” gelak Yudha keras. “Karena banyak yang suka sama nyanyian gua, jadi mereka banyak yang ngasih nominal gede ke gua. Terus juga ada nih yang ngasih gua uang gede karena kasihan sama hidup gua. Mereka nyangka gua pengamen beneran.”

“Gila lu, Yud. Penipuan publik lu. Manfaatin rasa empati orang. Ngga berkah tuh rezeki.”

“Hahaha, santai. Sekali ini doang,” enteng Yudha tanpa beban.

By the way, emang lu kenapa sih sampe mau ngamen segala? Bokap lu buka restoran kagak cukup apa ngasih lu duit?”

“Bro, ini akhir bulan. Bokap gua itu tipe yang selektif banget soal keuangan kuliah gua. Biarpun gua minta juga butuh alasan kuat buat merealisasikannya. Sedangkan kebutuhan gua itu ya ... ngga penting-penting amat sih sebenernya.”

“Kalau ngga penting kenapa lu rela-relaan ngamen anjir,” sewot Mark. “Atau jangan-jangan … Lu mau ngobat ya?” tuduh Mark yang kini menunjuk wajah Yudha tajam.

“Lu kalau ngomong bisa filter dikit ngga?! Entar gua sobek juga mulut lu!”

“Ya jadi apa alasannya?!” desak Mark.

Yudha diam sebentar. Wajahnya terlihat begitu ragu untuk mengutarakan jawaban dalam benaknya. Sedangkan Mark di buat semakin penasaran.

“Gua sebenernya mau beli album Korea, Mark,” jawab Yudha akhirnya.

“Album Korea? Buat apaan? Lu belok ke Korea-Koreaan?”

“Bukan buat gua. Tapi buat adik MIPA.”

Mark ternganga mendengar jawaban akhir Yudha. Tidak begitu di sangka jika Yudha akan bertindak di luar nalar demi adik MIPA pujaannya.

“Ini ... lo serius, Yud? Lu ngelakuin ini semua demi adik MIPA?”

“Yaa … gimana ya? Gua cuma mau usaha aja gitu. Buat dia seneng. Dan kebetulan si adik MIPA suka Korea dan juga pengen banget beli album idolanya, jadi gua inisiatif kasih dia itu.”

“Dengan memaksakan diri elu begini?” potong Mark cepat. “Please ya, Yud. Suka boleh. Mau bucin juga ya terserah elu. Tapi lu juga mikir, Yud. Jangan mau di begoin cewek.”

Mark menahan napasnya. Kepalanya sudah menggeleng-geleng, tidak habis pikir dengan perbuatan yang sudah di lakukan oleh temannya ini.

“Apalagi lu posisinya itu bukan siapa-siapa. Lu itu sama dia ngga ada status. Pacar bukan, temen deket juga bukan, kalian berdua itu ya cuma sekedar kenalan doang, dari base lagi. Gua ngomong begini bukan karena gua larang lu suka sama dia. Tapi gua mau nyadarin lu aja. Emang lu bisa jamin perasaan dia ke lu juga itu sama? Dengerin gua ya, kalau dia emang suka sama elu. Harusnya udah dari lama dia terima perasaan lu. Tapi sampai sekarang lihat? Apa dia udah nunjukin tanda-tanda itu?” oceh Mark panjang.

“Tapi dia bilang dia cuma butuh waktu.”

“Klasik tahu ngga alasan macem itu. Dan lu masih aja percaya sama omong kosong dia?” sela Mark lagi.

Yudha kehilangan kata-kata untuk membantah pertanyaan Mark. Jujur, kalimat Mark sedikit menampar kenyataan. Apa benar Yudha selama ini terlalu berlebihan menyukai Sekar?

“Yud, gua paham lu tergila-gila sama dia. Tapi jangan sampe dia bisa buat lu gila beneran. Udahlah, daripada lu mikirin hal yang engga-engga, mending kita ke kelas. Sesi bentar lagi mulai,” ajak Mark yang sudah beranjak dari bangkunya. Yudha pun mengikuti gerakan Mark bermaksud untuk meninggalkan meja hingga langkah kakinya tertahan sedetik setelah ia melihat seseorang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.

Jantung Yudha rasanya ingin terlepas melihat Sekar yang sudah menatapnya dalam diam. Gadis itu sama sekali tidak bersuara, namun Yudha sangat bisa merasakan bahwa kini sorot mata Sekar sudah memancarkan binar kecewa.

©sekarangdanesok, 2021.

“Kak Yudha mau pergi kemana?”

Pertanyaan singkat itu sukses membuat kaki Yudha gemetaran. Namun tidak menutup kemungkinan juga untuk Yudha tetap melanjutkan langkah seolah pertanyaan itu bukan dimaksudkan untuknya. Ia tetap pergi dan menuli dari panggilan Sekar. Tentu saja hal itu membuat Sekar heran, jika lelaki yang di panggilnya tadi tidak menyahut artinya itu bukan Yudha.

“Sekar, lo mau sate pake nasi atau lontong?” tanya Rizka membuat Sekar menolehkan kepalanya spontan ke sumber suara.

“Eeemm … lontong aja deh,” jawab Sekar singkat. Kemudian kembali menoleh ke tempat laki-laki itu berada namun Sekar justru melihat pemandangan hampa di hadapannya sekarang.

“Eh, udah pergi ya?” gumam Sekar menolehkan kepala ke kiri dan kanan coba mencari lagi seseorang yang ia sangka Yudha. Hingga sesaat setelahnya Rizka mendekat lalu berdiri di samping Sekar.

“Lo ngapain sih daritadi?” tanya gadis itu penasaran.

Sekar mengangkat bahu sekilas. “Tadi gue kayak lihat kak Yudha. Tapi ternyata bukan. Mirip aja.”


Yudha tiba dengan tergesa-gesa di lapangan futsal. Disana masih ada Johnny dan kawan-kawan sedang duduk beristirahat di pinggir lapangan. Tanpa mengucapkan aba-aba, Yudha langsung saja menyerobot air mineral Johnny yang laki-laki itu tenggak dan buru-buru menyiram kepalanya dengan air mineral dingin itu hingga membasahi wajah dan sebagian pakaiannya.

“Bangsat lu dateng-dateng nyari perkara ya,” protes Johnny. Kalimatnya sama sekali tidak di gubris oleh Yudha karena saat ini pemuda itu justru mengeluarkan ponselnya lalu mengangkat ponsel tersebut di atas kepala.

“Foto John,” mintanya.

“Apaan anjing gaje.”

“Buruan.”

Potret berhasil terabadikan dengan senyum keterpaksaan dari wajah Johnny. Melihat tingkah temannya yang mencurigakan, Johnny mengerutkan keningnya.

“Lu kenapa sih?” bingung Johnny.

“Udah ngga usah banyak tanya. Uang booking lapangan biar gua yang bayar.”

Johnny semakin terheran-heran. Namun mendengar penuturan Yudha di ujung kalimat, membuat Johnny mengurungkan niat.

Lumayan, balik bandar.

©sekarangdanesok, 2021.

Yudha mematikan mode layar ponselnya menjadi gelap. Lanjut meletakkan benda persegi panjang tersebut di atas keningnya yang sedang merebah di atas bantal. Matanya fokus menatap objek langit-langit kamar kost berwarna putih pudar sambil pikirannya berjalan-jalan berusaha mencari cara agar bisa menghasilkan uang dalam waktu dekat.

“Gua harus cari duit dengan cara apa ya? Mana sekarang tanggal tua lagi. Menipis ini duit.” pikir Yudha keras. Ia bahkan sudah menautkan kesepuluh jemarinya disertai wajah yang berkerut gelisah.

Di saat ia sedang sibuk-sibuknya bergelut dalam lamunan panjang, tepat di waktu bersamaan—netranya menangkap pemandangan seekor cicak yang perlahan merayap di dinding kamar. Hal itu sukses menarik perhatian Yudha membuat pandangan laki-laki itu kini terkunci pada cicak yang perlahan bergerak menuju suatu tempat. Mengajak Yudha untuk mengikuti kemana cicak itu merambat. Hingga reptil itu pada akhirnya memilih titik pelabuhan—tepat bersebelahan dengan benda yang membuat Yudha langsung terinspirasi saat itu juga.

“Oke, makasih cicak udah ngasih gua petunjuk harus ngelakuin apa,” semangat Yudha.


Jreng ….

Suara iringan gitar itu berhenti selaras dengan riuh tepuk tangan yang mengakhiri penampilan Yudha di bawah warung tenda Soto Lamongan tempatnya berdiri sekarang. Beberapa kali Yudha menundukkan kepala, membalas baik respon penonton yang sejak tadi menyaksikan persembahan solonya.

“Mas suaranya bagus banget, permainan gitarnya juga keren. Kenapa ngga coba ngikut ajang pencarian bakat aja? Sayang lho, Mas. Kemampuan mumpuni kok profesinya cuma pengamen.”

Yudha tersenyum pahit mendengar pujian langsung dari salah satu dari sekian orang yang ada disana. Meski kalimat ujungnya sedikit menyakitkan, namun Yudha berusaha untuk tetap tersenyum walau terkesan hambar. Lagi pula ini bukan salah si pemberi pujian, namun salah Yudha yang telah memilih untuk menjadi pengamen demi mendapat uang tambahan.

Yudha mulai berkeliling dan menyodorkan kantong plastik permen bekas ke arah pengunjung yang bersedia untuk menyumbangkan sebagian rezeki mereka kepada Yudha. Sungguh di luar dugaan. Mungkin karena ketakjuban mereka terhadap penampilan Yudha membuat mereka menyisipkan nominal besar untuk mengisi kantong uang Yudha. Bahkan beberapa ada yang memberi uang sebesar 20 ribu pada Yudha.

“Bu, bukannya ini kegedean?” tanya Yudha merasa sangat tidak enak hati dengan nominal yang lumayan besar untuk di berikan kepada seorang pengamen dadakan sepertinya.

“Ngga apa-apa. Terima aja. Ibu ikhlas kok ngasih kamu. Pemuda berbakat kayak kamu pantas mendapatkan apresiasi yang layak. Sayang, kamu ngga cukup mampu mengenyam pendidikan sehingga buat kamu justru milih buat berjuang seperti ini untuk bertahan hidup.” iba seorang wanita berumur setengah abad kepada Yudha. Lelaki itu menenggak saliva susah payah, berusaha menerima kalimat bijak ibu tersebut. Sebelum beliau lanjut untuk menepuk pundaknya upaya memberi kata-kata penyemangat.

“Memang terkadang dunia itu sangat kejam, Nak. Semangat ya buat kamu. Semoga setelah ini kamu bisa menjadi sukses, ngga perlu banting tulang mencari uang demi sesuap makanan begini,” tutupnya mengusap-usap punggung Yudha pelan.

Yudha mengangguk samar mengiakan saja. Tanpa ibu itu sadari jikalau pengamen di hadapannya ini mengantongi iPhone 11 Pro Max dalam saku celananya.

“M-makasih banyak bu.” tunduk Yudha sopan sebelum benar-benar pergi meninggalkan warung tenda Soto Lamongan.

Sepeninggal Yudha dari warung tenda tadi, anak muda itu kembali mengintip isi dari kantong plastik permennya. Senyum Yudha merekah begitu saja sewaktu mendapati isi dari jumlah uang di dalam kantong tersebut.

“Buset dah. Gua ngga ekspetasi dapet uang segini banyak.” kagum Yudha. “Dua ratus lima puluh Sembilan ribu ….” hitungnya lagi pada lembar-lembar yang ada di dalam kantong. Masih tidak begitu menyangka jika ia bisa mendapatkan uang begitu banyak dalam waktu yang lumayan singkat.

“Sip, semangat Yudha. Dikit lagi duit lu tembus tiga ratus ribu.” tekad Yudha menggebu-gebu hendak melanjutkan langkahnya namun kembali tertunda karena ponselnya tiba-tiba bergetar di dalam saku celana. Yudha dengan gerak sigap meraih benda itu dan menempelkannya di sebelah telinga ketika panggilan itu tersambungkan.

“Apa dah, John?” sahut Yudha.

“….”

“Skip gua lagi sibuk ngga bisa futsal.”

“….”

“Idih giliran futsal aja lu muja-muji gua. Lu emang ngomong baik kalau ada maunya doang.”

“….”

“Dah lah ngambek gua.”

“….”

“Bodoamat.”

Tut.

Yudha memutuskan panggilan secara sepihak. Membiarkan sahabatnya itu mengumpat ria di belahan bumi berbeda yang tidak terlalu Yudha pikirkan. Yudha kemudian melanjutkan langkahnya lagi menuju lokasi target unjuk bakatnya dan memutuskan untuk menetap di pedagang sate yang lumayan ramai.

“Assalamualaikum wr wb. Selamat malam semua bapak-bapak, ibu-ibu, mas-mas, mbak-mbak, dan adik-adik sekalian. Izinkan saya disini mempersembahkan sebuah tembang lagu lawas guna menghibur santap malam bersama orang-orang tersayang.”

Yudha mulai memetik senar gitarnya pelan. Menciptakan irama-irama syahdu memanjakan telinga terlebih sewaktu Yudha sudah mengeluarkan suara indahnya yang berpadu dengan petikan gitar yang ia mainkan. Jujur, fakta tentang Yudha yang pandai bernyanyi bukan sebuah dusta. Laki-laki itu kebetulan memang memiliki suara yang lumayan menyejukkan jiwa sehingga mampu membuat pengunjung terpesona atas nyanyiannya.

Tidak butuh waktu lama, Yudha mengakhiri sesi bernyanyinya diikuti dengan bungkuk badan sebagai ucapan terima kasih karena telah di tanggap dengan baik oleh para pendengarnya. Setelah selesai, seperti hal sebelumnya—banyak di antara pengunjung yang juga memberi nominal besar. Yudha bahkan bisa membayangkan jika uang ini nanti akan berjumlah jauh lebih banyak dari target awal.

“Terima kasih, Pak, Bu …,” ucap Yudha tiada hentinya. Hingga aktivitas berkelilingnya usai, Yudha kembali mengintip isi kantongnya yang mulai bersesakan penuh uang.

“Mantap … kayaknya banyak nih hasilnya. Mungkin segini cukup kali buat beli album,” gumamnya.

Yudha mulai mengintip kocek uangnya tanpa menolehkan kepala ke arah sekitar. Bersamaan dengan bunyi tapak kaki yang mendekat ke arah gerobak menandakan bahwa ada satu calon pembeli yang datang.

“Bang Sate Madura-nya seporsi berapa?”

Yudha membeku mendengar suara tidak asing memenuhi gendang telinganya. Sontak saja Yudha mendongak dan betapa terkejut ia sewaktu menangkap sosok Sekar bersama Rizka sudah berdiri di samping gerobak.

“Lima belas rebu, Neng,” sahut abang penjual.

Yudha segera membalikkan tubuhnya untuk memunggungi Sekar. Tidak ingin tertangkap basah oleh gadis tersebut. Dengan cepat Yudha menenggalamkan topinya dalam-dalam demi menutup identitas diri agar tidak ketahuan.

“Mampus. Kenapa harus ketemu Sekar disini sih,” panik Yudha.

Sekar yang tadinya fokus ke arah perapian tempat sate-sate di bakar mulai menolehkan kepalanya untuk menebar pandangan ke arah sekitar. Hingga pergerakan matanya berhenti tatkala ia tidak sengaja menangkap sosok seseorang yang bertingkah mencurigakan di dalam tenda. Dahinya mulai mengernyit, semakin tidak lepas menatap orang itu yang telah berhasil mencuri atensi.

“Mau makan disini apa bungkus, Neng?” tanya si abang penjual lagi.

“Sekar kita bungkus—”

“Kita makan sini aja,” potong Sekar cepat membuat Rizka menoleh dengan raut penuh tanya.

“Lah, tadi lo bilang mau bungkus aja, Kar?”

Sekar menghadapkan wajah sebentar menuju Rizka. Dengan seulas senyum simpul yang menawan, ia menjawab pertanyaan Rizka pelan, “suasana tempatnya lagi enak, Riz,” ujarnya seraya merogoh saku jaket untuk mengambil ponsel dari dalam sana. Menggerakkan jemari secepat kilat beriringan dengan ponsel Yudha yang bergetar.

“Sial. Apa Sekar sadar kalau ini gua?” batin Yudha.

Berbanding terbalik dengan kecemasan yang melanda perasaan Yudha, justru Sekar kini di rundung rasa penasaran yang semakin besar. Gadis itu bahkan hendak bersiap untuk melangkahkan kaki menghampiri Yudha sedangkan laki-laki itu sendiri sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk hengkang meninggalkan tempat itu.

“Duh bisa panjang nih pertanyaan Sekar kalau lihat gua bawa-bawa gitar sama kantong duit kek begini.”

“Kagak ada pilihan lain. Gua harus kabur darisini.” monolog Yudha dalam hati. “Oke Yudha, dalam hitungan ketiga lu wajib pergi. Satu ... Dua ... Ti—”

“Kak Yudha mau pergi kemana?”

©sekarangdanesok, 2021.

Yudha menolehkan kepala ke kanan dan kiri, menyapu pandangan sesaat setelah lelaki itu pertama kali menginjakkan kaki di kantin MIPA. Mata Yudha berkelana, mulai menyusuri bangku demi bangku hingga akhirnya ia berhasil menemukan sosok adik MIPA sedang duduk sendirian di sudut kantin. Menyesap es jeruk seraya fokus pada layar ponsel yang berada di tangannya.

Yudha melengkungkan sudut bibir membentuk seulas senyum lebar, lalu lanjut mengayunkan kaki menuju bangku Sekar berada. Setibanya ia di dekat Sekar, langsung saja Yudha mendaratkan bokongnya, untuk mengambil duduk tepat di samping Sekar membuat gadis itu sedikit terperanjat.

“Astaga kak aku kira siapa.” reaksi Sekar sambil memegang dadanya.

“Hehehe kaget ya?”

“Dikit,” jawab Sekar menyunggingkan senyum kecil.

“Sendirian aja dek?”

“Iya kak. Temen aku yang lain masih otw.”

Yudha mengangguk saja sebagai balasan akhir kalimat Sekar. Selanjutnya suasana terasa begitu awkward sebab sejak tadi Sekar hanya diam dan hanya sibuk memandang layar ponselnya, mengabaikan Yudha.

“Adek ngapain sih? Daritadi kayaknya fokus banget sama HP,” tanya Yudha penasaran. Mendengar Yudha bersuara, Sekar sebentar mengalihkan atensinya dan mencabut sebelah headset yang tersumpal di telinganya lalu menghadapkan wajah ke arah Yudha.

“Kakak nanya apa?”

“Ngapain?” jawab Yudha mulai sedikit keki.

“Ohh,” balas Sekar sederhana. “Aku lagi streaming Youtube.”

Streaming apa?”

Comeback WayV.”

“Hah apa?”

Idol grup kak ….” tunjuk Sekar memamerkan layar ponselnya pada Yudha menampilkan sebuah video berisikan tujuh lelaki sedang bernyanyi.

“Ohh Korea.” angguk Yudha penuh percaya diri.

“Bukan kak. Mereka itu grup Cina.”

“Lah bukannya yang suka joget begitu Korea?”

“Iya sih … tapi mereka itu orang Cina. Lagian mereka itu dance kak bukan joget. Kakak kira mereka biduan apa joget-joget?” balas Sekar sewot.

“Sama ajalah. Mau Korea, mau Cina matanya sama sipit semua. Lagian dance ‘kan gerakin badan, nah joget juga gerakin badan. Sama aja dong jatuhnya. Bedanya ya dance itu bahasa Inggrisnya.”

Sekar menarik napasnya dalam mendengar jawaban Yudha. Bahkan gadis itu sudah sedikit menggeram jengkel mendengar cicitan Yudha. “Kalau kata aku beda ya beda kak!”

Yudha meringis mendapat semburan dari Sekar. Untuk pertama kalinya ia mendengar Sekar meninggikan suara. Mendapati itu, Yudha buru-buru tersadar. Kalau ia terus-terusan melawan omongan Sekar, bisa-bisa perdebatan ini tidak akan selesai sampai tahun depan. Daripada urusan semakin bertambah panjang dan dapat menimbulkan percekcokan lebih baik ia mengakhirinya saja. “Iya dah, iya Cina.”

Percakapan berakhir seketika. Lagi, Yudha kehabisan bahan untuk membuka obrolan. Terlebih karena ia kembali teracuhkan gara-gara Sekar yang masih saja menonton boygrup kesayangannya tersebut. Ada sebersit keinginan Yudha untuk menyela aktivitas Sekar. Namun mengingat respon Sekar baru saja, Yudha menjadi ragu untuk melakukannya. Alhasil yang dilakukan Yudha sekarang hanya diam dan sibuk menggulir ponsel juga berusaha mengusir rasa kesepian.

“AAAA KENAPA KOH WINWIN GANTENG BANGET SIH!!!” teriak Sekar tiba-tiba di antara keheningan mereka. Hal itu tentu saja membuat Yudha terlonjak. Ya, siapa yang tidak terkejut kalau tiba-tiba Sekar berteriak seperti itu.

“Apaan sih dek ngagetin aja,” protes Yudha.

“Koh Winwin ganteng banget kak …,” jawab Sekar yang kini sudah pura-pura menangis di hadapan Yudha untuk mengekspresikan perasaannya penuh drama.

“Koh Winwin?” ulang Yudha. “Eh namanya kok sama dengan Engkoh warung deket rumah neneknya kakak. Orangnya tuh cungkring ya, pendek, terus ada tompel samping kiri hidungnya. Badannya juga bau, Dek. Jorok lagi. Kakak sering lihat dia ngupil sembarangan terus nanti dia tempelin tuh upilnya di tiang—” kalimat Yudha otomatis terputus tatkala dirinya telah menangkap sorot mata tajam Sekar mengarah padanya. Yang menurut Yudha sangat-sangat menyeramkan.

“Kakak mending diem daripada ngomongin hal ngga penting,” ujar Sekar dingin.

Yudha langsung saja mengulum bibirnya dalam sewaktu mendengar ucapan ketus dari Sekar. Sial, Yudha kelepasan. Bisa-bisanya ia membicarakan hal jelek yang membawa-bawa nama idola kesukaan Sekar. Beberapa kali Yudha memukul bibir, merutuk diri karena telah berbicara sembarangan.

“Maaf, Dek,” sesal Yudha.

Sekar tidak membalas. Hatinya terlanjur jengkel setelah mendengar penuturan Yudha. Gadis itu sekarang memilih untuk kembali melanjutkan kegiatannya menggulir aplikasi Twitter saja dan beberapa kali mengetikkan sesuatu disana. Hingga akhirnya ia meletakkan juga ponselnya tersebut di atas meja dengan wajah yang begitu gundah.

“Kenapa sih album tuh harganya mahal?” keluh Sekar.

Yudha menaikkan sebelah alis mendengar penuturan Sekar. Ia yang masih belum terlalu paham atas pembicaraan Sekar hanya memandang gadis itu penuh tanya hingga akhirnya Sekar menolehkan kepala menampakkan raut termelas di hadapan laki-laki itu.

“Aku tuh suka banget kak sama WayV. Rasanya pengen gitu beli album mereka, tapi uang aku pas-pasan.” curhat Sekar. “Kapan ya aku ada rezeki lebih gitu biar bisa beli? Atau kali aja ada yang berbaik hati tiba-tiba kasih aku album secara cuma-cuma gitu.” halu Sekar. Gadis itu bahkan sudah menopang dagu seraya memandang ke langit-langit kantin, sibuk berkhayal.

Yudha memperhatikan Sekar dengan pandangan aneh. Dalam otaknya ia mulai berpikir tentang pertanyaan mengapa Sekar bisa menyukai rombongan laki-laki tukang joget itu. Ingin rasanya ia bertanya, namun sebelum kalimat tanya itu terlontar dengan tiba-tiba saja kata-kata Timothy melintas di ingatannya.

Lu coba cari apa yang kira-kira dia suka.

Bagai baru saja memperoleh ilham dari langit, wajah Yudha mendadak berseri-seri. Kini dirinya sudah berhasil memecahkan teka-teki yang selama ini ia cari.

©sekarangdanesok, 2021.