Alasan
Yudha melangkahkan kaki secepat kilat menuju kelas dimana Sekar berada. Setibanya ia disana, tampak Sekar bersama teman-temannya sudah berkumpul di salah satu sudut kelas. Mata Yudha langsung teralihkan pada sosok adik MIPA yang kini masih setia merebahkan kepalanya di atas meja.
“Sekar kenapa?” tanya Yudha dengan nada khawatir yang begitu kentara. Di sentuhnya beberapa bagian tubuh Sekar untuk mencoba memastikan kebenaran perkataan Vega di pesan, dan begitu terkejutnya Yudha sewaktu ia benar-benar merasakan suhu tubuh Sekar begitu hangat.
“Ya Allah ini panas banget, Dek. Pulang aja ya, istirahat. Siang ini ngga usah kelas dulu,” saran Yudha. Namun di balas gelengan kepala lemah oleh Sekar.
“Sekar ....”
“Kak, aku masih ada kuis sudah ini.”
“Ya tapi gimana mau jawab kuis kalau adek aja sakit? Udah nurut aja. Kakak anter pulang.”
“Kak ...,”
“Kali ini kakak beneran maksa,” tegas Yudha. “Pulang, ayo.”
Setelah sekian banyak bujukan untuk mengajak Sekar pulang, akhirnya gadis itu menurut juga. Kini Sekar sudah duduk di dalam mobil Johnny. Menyandarkan kepalanya di jok sambil memejamkan mata. Sesekali Sekar mengerutkan wajah, merasakan sensasi sakit kepala luar biasa sampai membuat Yudha tidak tega melihatnya.
“Dek, beneran ini ngga mau ke dokter aja?” tanya Yudha meyakinkan.
“Ngga usah, Kak. Pulang aja ke kost, paling di bawa tidur sakitnya hilang,” jawab Sekar dengan suara lirih. Mendengar itu, Yudha pun mengangguk patuh saja.
“Ya udah, tidur aja sekarang. Nanti kalau udah sampe di kost kakak bangunin.”
Sekar mengangguk singkat dan mulai memejamkan matanya seiring mobil tersebut bergerak lambat. Selama perjalanan, Yudha sengaja tidak mengaktifkan suara apa-apa. Hanya samar-samar terdengar suara deru mesin saja tercipta di antara mereka. Bahkan Air Conditioner pun Yudha minimalkan agar Sekar tidak merasa kedinginan. Sesekali ia menoleh ke arah Sekar, memastikan gadis itu benar-benar nyaman pada posisinya. Syukur, Sekar sudah sedikit nyaman sekarang. Hal itu nampak ketika ia melihat Sekar sudah terlelap tenang di sebelahnya.
Yudha tadinya memang ingin langsung mengantarkan Sekar pulang menuju kost-nya. Namun ia urungkan niat tersebut setelah ia melihat sebuah ruko berpalang “Apotek” di sisi kanan jalan. Otomatis saja Yudha meminggirkan mobil itu disana, kemudian keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Setelah beberapa menit berlalu ia kembali lagi dengan sebuah kantong plastik putih di tangan. Menampakkan sebuah ByeBye Fever untuk di tempelkan di kening Sekar.
Yudha menyobek bungkus plester kompres tersebut dan mengeluarkan isinya. Lalu lanjut menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi dahi Sekar, menempelkan ByeBye Fever itu penuh ketelatenan tanpa menciptakan suara berisik ataupun gerakan menganggu agar tidak membangunkan Sekar. Hingga dirinya usai memasangkan plester kompres itu, Yudha menatap wajah Sekar lama.
Di dalam diam, Yudha merenung. Otaknya mulai mengingat kembali peristiwa yang sudah ia lalui bersama Sekar. Memikirkan segala alasan tentang—mengapa dirinya menjatuhkan pilihan kepada perempuan bernama Sekar.
Gadis ini, mungkin tidak ada bedanya dengan gadis di luar sana. Namun Yudha merasa, Sekar sedikit berbeda dari mereka. Sekar punya nilai lebih tersendiri baginya. Yang entah itu apa, Yudha sendiri pun masih belum terlalu paham. Yudha juga sampai saat ini tidak habis pikir mengapa bisa ia jatuh hati begitu mudah kepada Sekar.
Apa karena cinta datang tanpa butuh alasan? Haha, pernyataan yang terdengar janggal dan tidak masuk akal.
Bullshit, jika ada seseorang yang mengartikan cinta seperti itu. Bahkan manusia makan sebanyak tiga kali sehari pun memiliki alasan, yaitu untuk bertahan hidup. Apalagi tentang perasaan?
Tentu saja ada alasan mengapa ia harus memiliki Sekar.
Namun alasan itu yang masih belum bisa Yudha dapatkan titik temunya. Tentang alasan utama ia harus mempertahankan Sekar untuk tetap selalu ada di sisinya.
Tanpa sadar, tangan Yudha perlahan bergerak untuk menyentuh wajah Sekar. Mengusap pipi halus itu pelan dan penuh penjiwaan. Hingga tiba-tiba ia di sadarkan oleh pergerakan Sekar membuat tangannya tertarik menjauh dari wajah gadis itu.
“Kak ...,” panggil Sekar yang masih memejamkan matanya.
“Kenapa?” tanya Yudha dengan suara sangat pelan.
“Jangan pernah berubah, ya. Tetap selalu jadi Kak Yudha, kakak mesinnya adik MIPA.”
— ©sekarangdanesok, 2021.