Demam
Sekar menghela napas begitu panjang. Setelah mata kuliah Kimia Dasar selesai, Sekar lagi-lagi merebahkan kepalanya di atas meja. Ia pikir, tadi malam sewaktu ia memutuskan untuk tidur dapat memulihkan kembali stamina tubuhnya agar bisa menjalankan hari ini dengan baik. Namun kenyataannya sama sekali tidak. Bukan kebugaran yang ia dapat, ia bahkan justru semakin lemas dan badannya benar-benar terasa tidak enak sekarang.
Berulang kali Sekar menggigit bibir bawahnya. Dalam hati ia berdoa agar perkuliahan hari ini cepat selesai sehingga dirinya bisa pulang dan beristirahat dengan tenang. Sebenarnya bisa saja Sekar absen untuk kelas kali ini. Namun mengingat sebentar lagi mata kuliah Fisika Dasar I di mulai yang mana akan ada kuis bab, Sekar mengurungkan niatnya. Ia memilih untuk bertahan lebih lama demi mengikuti kuis meskipun nilai yang ia peroleh nanti kecil. Setidaknya hal itu jauh lebih baik di banding tidak ada nilai sama sekali alias nol.
Namun sepertinya kondisi tubuh Sekar tidak dapat mendukung rencana yang telah gadis itu susun sedemikian rupa. Badannya semakin terasa meriang, bahkan napasnya mulai sedikit tersengal-sengal. Entah apa yang terjadi padanya hari ini, Sekar betul-betul tidak memiliki cukup tenaga.
“Sekar badan lo panas banget. Pulang aja ya, ngga apa nanti kita bilangin sama Pak Cipto kalau lo sakit,” bujuk Vega untuk kesekian kali. Sebab sejak tadi Sekar terus-terusan menolak untuk di antar pulang.
“Iya, Kar. Kalau lo sakit juga pasti dosen maklumin kok,” kali ini Asfa yang menyahut. Namun Sekar tetap pada pendiriannya. Gadis itu sama sekali tidak ingin mendengar saran dan menulikan telinga. Melihat reaksi itu, para teman yang lain hanya bisa menarik napas pasrah. Tidak tahu harus membujuk Sekar seperti apa lagi.
Acha yang sejak tadi hanya diam di tempatnya berdiri tiba-tiba saja menarik lengan Vega menjauh dari jangkauan Sekar. Kemudian gadis itu merapatkan jarak sambil sesekali menoleh ke arah Sekar berada. “Ga, tapi kalau kita anter pulang dia sekarang mana bisa. Lima belas menit lagi matkul Pak Cipto mulai dan kita pasti bakal telat masuk. Bisa minta tolong orang lain aja ngga? Temen kost-nya kali aja ada yang bisa nganterin Sekar,” bisik Acha.
“Masalahnya gue juga ngga tahu siapa aja tetangga kost Sekar, Cha. Kemarin Sekar bilang juga temen kost dia yang lama udah banyak yang pindah, dan gue belum banyak kenal sama anak baru.”
Acha kembali diam. Tangannya mulai mengusap dagu tergambar wajah yang sangat bimbang.
“Coba lo tanya kak Yudha. Bisa ngga nganter Sekar pulang?” sarannya.
Awalnya Vega tidak begitu antusias dengan saran Acha. Mengingat jawaban Sekar yang kurang mengenakkan di grup semalam, Vega sudah sangat menduga jika antara Sekar dan Yudha dalam hubungan tidak baik-baik saja.
“Udah, Ga. Coba aja dulu. Ngga usah banyak mikir,” suruh Acha. Dengan gerakan cepat saja Acha merampas ponsel Sekar yang menganggur di atas meja dan menyerahkan ponsel tersebut kepada Vega.
— ©sekarangdanesok, 2021.