Ulang Tahun Yudha

Yudha meminggirkan kendaraan roda duanya tepat di depan tugu bertuliskan FMIPA. Seraya merogoh ponsel dari dalam jaket, mata Yudha tiada berhenti untuk berpendar mencari sosok adik MIPA hingga ia langsung disadarkan oleh seseorang yang memanggil dari arah belakang.

“Kak Yudha.”

Yudha mengalihkan atensi ke sumber suara. Menangkap wujud Sekar yang telah berdiri dengan rambut panjang terurai. Jujur, kali ini Sekar terlihat begitu menawan dengan kemeja manis bermotif bunga-bunga yang ia kenakan. Di tambah senyum manis yang terukir indah menghias wajah Sekar membuat Yudha seakan lupa bahwa dunia saat ini sedang berputar. Laki-laki itu bahkan tidak memberi kesempatan barang sedetik pun untuk mengedipkan kedua mata akibat terlanjur terpana.

“Kak Yudha?” panggil Sekar lagi. Di panggilan kedua ini, untungnya Yudha berhasil kembali ke dunianya. Laki-laki itu lantas mengerjapkan mata berulang-ulang untuk mengembalikan kesadaran.

“Eh, iya, Dek.”

“Kakak nakutin aku aja. Kirain tadi kesambet siang bolong gini,” ujar Sekar sembari membenahi posisi tote bag di sebelah pundaknya. “Ya udah. Ayo, Kak, kita berangkat.”

Tanpa banyak percakapan lagi, Sekar langsung saja menaiki motor Yudha setelah laki-laki itu menyerahkan helm untuk di pakai oleh Sekar. Kemudian gadis itu lanjut untuk duduk di boncengan motor Yudha. Namun sebelum Yudha benar-benar melanjutkan perjalanannya, lagi—pergerakan Yudha terinterupsi.

“Kak, aku boleh ngga pinjem kantong jaket kakak?” minta Sekar.

Yudha yang sempat bingung atas permintaan aneh Sekar menoleh sebentar ke arah spion. Menatap Sekar melalui pantulan cermin cembung itu dengan wajah berkerut.

“Buat apa? Kalau mau naro HP atau duit simpen dalem tas aja. Jangan di kantong kakak.”

“Bukan, Kak,” sela Sekar cepat. “Buat masukin tangan aku.”

“Tangan?”

“Iya. Biar ngga kena matahari. Gramed ‘kan lumayan jauh darisini.”

Yudha diam sejenak. Sedikit lama untuk menyetujui permintaan gadis itu hingga akhirnya Yudha menganggukkan kepala. Melihat itu, dengan senang hati pula Sekar memasukkan dua tangannya ke dalam saku jaket Yudha tanpa aba-aba. Membuat Yudha menahan napas karena—jujur—Yudha tidak pernah membonceng perempuan dalam jarak sedekat ini, kecuali bersama ibu dan adiknya.

“O-oke. Kita berangkat, ya,” ucap Yudha yang menahan mati-matian rasa gugupnya. Hingga berikutnya ia menghidupkan mesin motor dan perlahan bergerak meninggalkan area kampus untuk pergi menuju toko buku yang mereka maksud.

Selama perjalanan awal, keduanya masih saling diam. Tidak ada percakapan spesial yang terjadi. Masing-masing dari mereka tidak tahu harus memulai obrolan darimana. Terlebih Yudha yang kini merasa tegang luar biasa. Menyadari jika atmosfir kurang bagus telah melingkupi mereka berdua, akhirnya Sekar berinisiatif untuk membuka suara demi menghilangkan kecanggungan yang melanda.

“Kakak tau ngga kalau aku kurang suka keluar waktu terik?” tanya Sekar memecah bising jalanan raya kota.

“Tahu.”

“Tahu ngga alasannya kenapa?”

“Hmm… engga.”

Sekar terkekeh kecil sebagai intro dari balasan atas pertanyaan Yudha. “Aku itu sebenernya ada sedikit alergi gitu, Kak. Kulit aku sensitif kalau lama terpapar sinar matahari. Suka merah-merah.”

“Ohh,” balas Yudha singkat saja. Sungguh, Yudha baru tahu kalau ternyata Sekar punya alergi semacam itu.

“Mau tahu fakta lain ngga, Kak?”

“Apa?”

“Kakak orang yang pertama kali aku kasih tahu tentang ini. Temen aku belum ada yang tahu.”

Dan kali ini mungkin Yudha sampai di titik keterkejutan. Membuat kedua alisnya terangkat spontan setelah mendengar jawaban dari Sekar.

“Ke-na-pa?”

“Aku ngga terlalu suka pribadi aku di ketahui banyak orang.”

Yudha kehabisan kata untuk membalas jawaban Sekar. Kalau dia tidak mau urusan pribadinya di ketahui banyak orang, mengapa dia justru menceritakan hal itu kepada Yudha? Ada sedikit rasa keingin-tahuan Yudha muncul untuk bertanya, namun niat itu gagal ia utarakan sewaktu Sekar sudah menepuk pundak Yudha, menyadarkan laki-laki itu bahwa toko buku yang mereka maksud sudah ada di depan mata.


Setelah cukup menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di Gramedia, mereka melangkah keluar dari toko buku tersebut bersama beberapa buku serta peralatan tulis yang Sekar butuhkan. Setibanya di depan pintu keluar, Sekar menyempatkan diri mendongakkan kepala ke atas, memandang langit yang mulanya berwarna jingga kini sudah menjelma menjadi hitam pekat. Lama Sekar menatap payung bumi itu, seraya menunggu Yudha mengeluarkan motor dari parkiran. Setelah Yudha usai bersama urusan motornya, laki-laki itu mulai perlahan mendekat ke arah Sekar—dimana gadis itu juga sedang memperhatikan Yudha begitu lamat. Membuat Yudha semakin salah tingkah saja.

“Kenapa sih, Dek, lihatin kakak daritadi sampe segitunya?”

“Lah, jadi aku ngga boleh ya lihatin kakak? Kalau gitu aku merem aja, deh.”

Yudha terkekeh mendengar balasan Sekar. Terlebih melihat gadis itu sudah memejamkan mata dan bertingkah lucu di hadapannya.

“Ya, ngga gitu juga, Dek.”

“Terus?”

“Udahlah. Kita pulang aja.”

“Eh, bentar dulu, Kak.”

Yudha yang mulanya hendak menaiki motor mendadak mengurungkan niat sewaktu Sekar lagi-lagi memanggilnya.

“Kak, kayaknya kecepetan deh kalau pulang sekarang.”

“Emang mau ngapain lagi?”

Sekar memutar bola matanya sebentar ke atas, berlagak berpikir lalu kemudian menatap Yudha lagi dengan ekspresi sulit di tebak. “Kakak..., ngga mau jalan-jalan dulu apa?”

Yudha memangapkan mulutnya tidak percaya mendengar pertanyaan Sekar tersebut. Bagi dirinya ini merupakan sebuah momen langka. Bagaimana tidak? Sekar ingin mengajak jalan-jalan. Sebuah permintaan yang sama sekali tidak pernah Yudha bayangkan sebelumnya.

“Jalan-jalan..., Kemana?” tanya Yudha yang masih di serang perasaan bingung.

“Kemarin aku ada lihat festival gitu, Kak, di Instagram. Kita coba kesana, yuk.”

“O-ohh, iya. Kakak tahu, kemaren juga sempet lewat di explore IG kakak.”

“Mau ya, Kak, kesana? Please aku BM banget.”

Yudha tersenyum kaku saja menjawab pertanyaan Sekar. Ya, meskipun masih terasa agak aneh, tapi tidak mungkin pula Yudha menghilangkan kesempatan emas ini. Akhirnya ia memutuskan untuk mengangguk saja sebagai persetujuan ajakan Sekar tersebut.

Yes! Ayo, Kak, kita kesana,” girang Sekar. Wajahnya bahkan kentara sekali tergambar bahagia sewaktu menaiki motor Yudha.

Mereka pun melanjutkan destinasi berikutnya. Menghabiskan malam bersama seluruh kebahagiaan tiada tara teruntuk dua insan yang nyatanya sudah mulai tumbuh benih-benih rasa.


“Kak, kita kesana, yuk.” tarik Sekar lagi pada tangan Yudha. Menyeret laki-laki itu untuk singgah di sebuah gerobak penjual permen kapas. Mata Sekar menebar ke segala penjuru gerobak dimana tergantung permen kapas berupa warna yang ada disana.

“Kakak, suka permen kapas ngga?” tanya Sekar sambil matanya memindai satu-persatu permen kapas tersebut. Sedangkan Yudha, laki-laki itu menggeleng pelan saja, menatap enggan permen kapas warna-warni yang bergantungan di hadapannya.

“Kakak suka sakit gigi makan yang manis banget gitu.”

Sekar otomatis menghadapkan wajahnya setelah mendengar jawaban Yudha tersebut. Gadis itu pun menghela napas terdengar begitu kecewa atas balasan Yudha.

“Yahh, padahal mau beli.”

“Ya, beli aja kalau adek mau.”

“Tapi nanti kakak ngga ikut makan,” tambahnya lagi. “Kalau aku makan sendiri akunya suka ngga habis, Kak ….”

Yudha menggaruk tengkuknya dilema mendengar kalimat yang di lontarkan Sekar. Di tambah Yudha kini sudah menyaksikan wajah Sekar yang merautkan wajah penuh kekecewaan, membuat Yudha tidak tega. Hingga akhirnya—dengan penuh kelapangan dada yang ia miliki, Yudha memutuskan untuk mengambil saja satu permen kapas disitu.

“Om, yang ini satu ya,” ucap Yudha sambil tangannya merogoh saku mencari dompet. Lantas kemudian ia menyodorkan selembar uang kepada si penjual untuk menukarnya dengan permen kapas tadi.

“Kak, katanya kakak ngga suka?”

“Ngga apa. Makan dikit aja ngga masalah. Paling-paling—”

“Paling-paling?”

“Paling-paling yaa … sakit gigi.”

Yudha tertawa hambar mendengar jawabannya sendiri. Dalam hati Yudha mulai memaki, “dasar bucin lu, Yudha.”

Berbeda kejadian dengan hal yang dirasakan oleh Yudha, justru Sekar menanggapinya dengan perasaan yang meledak-ledak. Hatinya terasa begitu hangat sewaktu menerima perlakuan manis Yudha. Jujur, siapa sih wanita yang tidak tersanjung di perlakukan seperti itu? Tentu saja jawaban Sekar tidak ada. Hal manusiawi bagi perempuan untuk merasa bangga di perlakukan istimewa.

“Ma-kasih, Kak,” ucap Sekar kaku. Sedangkan Yudha hanya mengangguk canggung.

Sekar mulai merobek bungkus kembang gulanya dan menyuapkan benang-benang manis itu ke dalam mulut. Awalnya memang Sekar sangat menikmati permen kapas pemberian Yudha, namun lama-lama Sekar bosan juga karena menghabiskan permen yang sangat manis itu sendirian.

“Sini, kakak bantuin habisin.” tawar Yudha yang mulai ikut mengambil permen kapas yang ada di tangan Sekar.

“Tadi kakak bilang suka sakit gigi kalau makan yang manis banget gini? Gimana kalau nanti giginya jadi sakit?”

“Kalau dikit mah ngga apa kali, Dek. Kalau makan segerobak baru sakit gigi.”

Sekar tertawa kecil menanggapi kalimat Yudha. Terlebih ketika melihat kakak mesinnya itu melahap permen kapas berwarna merah muda itu begitu nikmat.

“Aku kira kakak beneran ngga suka kembang gula. Ternyata doyan juga, ya,” komentar Sekar di sela kunyahannya.

“Ya, 'kan kakak bilang kakak sakit gigi kalau makan yang terlalu manis. Bukan berarti kakak ngga suka.”

Benar juga.

“Kakak mau lagi? Nih biar aku suapin,” tawar Sekar.

Sekar pun mengambil satu jumput permen kapas untuk di suapkan kepada Yudha. Selayaknya remaja yang sedang berada di puncak kasmaran. Mereka saling tergelak bahagia. Sampai-sampai keduanya lupa, jikalau saat ini mereka tidak dalam hubungan apa-apa.

Akibat terlalu menikmati momen kebersamaan mereka malam itu, bahkan keduanya nyaris lupa jikalau malam bahkan sudah semakin larut. Hal tersebut mulanya disadari oleh Yudha karena ia merasakan udara semakin dingin berembus.

“Ini jam berapa, sih? Dingin banget.” komentar Yudha yang kembali merogoh saku untuk mengambil ponsel, kemudian memeriksa waktu yang sudah mereka habiskan malam ini. Wajahnya mendadak berubah shock sewaktu tahu bahwa angka yang tertera di layar ponselnya telah menunjukkan pukul 10 lewat 20 menit.

“Dek, udah jam 10 lewat sekarang. Kita pulang aja, yuk. Udah malem,” ajak Yudha.

“Jam 10? Kok cepet banget. Ayo, Kak, kita pulang. Besok aku ada jadwal kuliah pagi. Nanti kesiangan kalau ngga tidur cepet.”

Tidak butuh waktu lama, mereka pun bergegas untuk pulang mengingat hari sudah mulai larut malam. Selama perjalanan pulang, tidak ada percakapan lagi yang terjadi di antara mereka berdua. Mungkin, mereka sudah kehabisan bahan juga untuk memulai pembicaraan. Hingga memilih bungkam saja bahkan sampai mereka tiba di depan kost Sekar.

“Makasih ya, Kak, udah mau aku repotin hari ini,” ucap Sekar selepasnya ia turun dari motor Yudha. Di ikuti Yudha yang juga ikut turun untuk mengantar Sekar tepat di depan pintu pagar.

“Iya, sama-sama. Masuklah, istirahat. Udah malem ini.”

Sekar mengangguk. Lantas membalikkan badannya ke arah pintu pagar untuk membuka kunci. Sedangkan Yudha, laki-laki itu masih saja berdiri di tempat untuk menatap gerak-gerik Sekar dalam diam. Hingga tanpa sadar, ia menarik dua sudut bibir membentuk lengkung senyum tak terduga.

Sekar, tanpa gadis itu sadari. Ia telah berhasil menjadi hadiah spesial di penghujung hari ulang tahun Yudha. Dia, telah sukses membuat perasaan Yudha yang berantakan akibat satu orang pun tidak mengingat hari ulang tahunnya. Namun hari ini Sekar merubah segala kesedihan itu. Sekar sukses mengembalikan semua kegundahan Yudha menjadi hari yang bahagia sebagaimana mestinya.

“Dek…,” panggil Yudha memecah keheningan. Membuat Sekar lagi-lagi memutar kepalanya kembali ke arah Yudha.

“Iya, Kak?”

“Makasih,” ucap Yudha tulus. “Makasih, untuk hari ini.”

Sekar tidak membalas kalimat Yudha. Ia mendadak diam seribu bahasa, membiarkan suasana berselimut rikuh dengan backsound jangkrik bersahutan menemani kebisuan mereka. Sedikit lama, mungkin ada sekitar dua menit mereka terkurung di dalam senyap.

“Udah, ah. Lupain aja. Kakak mau pulang dulu. Entar makin malem pulangnya,” putus Yudha yang buru-buru mengakhiri kecanggungan mereka kala itu.

Sekar masih bergeming di tempat. Tanpa ada niat untuk membalas kalimat Yudha. Mempersilakan saja lelaki itu yang kini sudah kembali menuju motornya berada.

“Kak Yudha jangan pulang dulu.”

Yudha memalingkan kepala dengan raut wajah penuh keheranan sewaktu Sekar menahannya untuk pulang. Belum usai rasa penasaran itu terjawab, Yudha semakin di buat bertanya-tanya ketika melihat Sekar sudah melangkah mendekat—lantas berjinjit untuk menyetarakan tinggi mereka berdua.

Cup.

Yudha membeku di posisinya berada. Ia bahkan seperti lupa bagaimana cara mengambil udara secara benar. Napasnya tertahan, tepat sedetik setelah Sekar mendaratkan kecup singkat di sebelah pipi kirinya. Seiring kalimat tambahan yang terlontar dari bibir Sekar, membuat jantung Yudha seakan-akan berhenti untuk menunaikan kewajiban utama sebagai organ vital manusia.

“Selamat bertambah usia, Kak Yudha.”

©sekarangdanesok, 2021.