Usaha
Yudha mematikan mode layar ponselnya menjadi gelap. Lanjut meletakkan benda persegi panjang tersebut di atas keningnya yang sedang merebah di atas bantal. Matanya fokus menatap objek langit-langit kamar kost berwarna putih pudar sambil pikirannya berjalan-jalan berusaha mencari cara agar bisa menghasilkan uang dalam waktu dekat.
“Gua harus cari duit dengan cara apa ya? Mana sekarang tanggal tua lagi. Menipis ini duit.” pikir Yudha keras. Ia bahkan sudah menautkan kesepuluh jemarinya disertai wajah yang berkerut gelisah.
Di saat ia sedang sibuk-sibuknya bergelut dalam lamunan panjang, tepat di waktu bersamaan—netranya menangkap pemandangan seekor cicak yang perlahan merayap di dinding kamar. Hal itu sukses menarik perhatian Yudha membuat pandangan laki-laki itu kini terkunci pada cicak yang perlahan bergerak menuju suatu tempat. Mengajak Yudha untuk mengikuti kemana cicak itu merambat. Hingga reptil itu pada akhirnya memilih titik pelabuhan—tepat bersebelahan dengan benda yang membuat Yudha langsung terinspirasi saat itu juga.
“Oke, makasih cicak udah ngasih gua petunjuk harus ngelakuin apa,” semangat Yudha.
Jreng ….
Suara iringan gitar itu berhenti selaras dengan riuh tepuk tangan yang mengakhiri penampilan Yudha di bawah warung tenda Soto Lamongan tempatnya berdiri sekarang. Beberapa kali Yudha menundukkan kepala, membalas baik respon penonton yang sejak tadi menyaksikan persembahan solonya.
“Mas suaranya bagus banget, permainan gitarnya juga keren. Kenapa ngga coba ngikut ajang pencarian bakat aja? Sayang lho, Mas. Kemampuan mumpuni kok profesinya cuma pengamen.”
Yudha tersenyum pahit mendengar pujian langsung dari salah satu dari sekian orang yang ada disana. Meski kalimat ujungnya sedikit menyakitkan, namun Yudha berusaha untuk tetap tersenyum walau terkesan hambar. Lagi pula ini bukan salah si pemberi pujian, namun salah Yudha yang telah memilih untuk menjadi pengamen demi mendapat uang tambahan.
Yudha mulai berkeliling dan menyodorkan kantong plastik permen bekas ke arah pengunjung yang bersedia untuk menyumbangkan sebagian rezeki mereka kepada Yudha. Sungguh di luar dugaan. Mungkin karena ketakjuban mereka terhadap penampilan Yudha membuat mereka menyisipkan nominal besar untuk mengisi kantong uang Yudha. Bahkan beberapa ada yang memberi uang sebesar 20 ribu pada Yudha.
“Bu, bukannya ini kegedean?” tanya Yudha merasa sangat tidak enak hati dengan nominal yang lumayan besar untuk di berikan kepada seorang pengamen dadakan sepertinya.
“Ngga apa-apa. Terima aja. Ibu ikhlas kok ngasih kamu. Pemuda berbakat kayak kamu pantas mendapatkan apresiasi yang layak. Sayang, kamu ngga cukup mampu mengenyam pendidikan sehingga buat kamu justru milih buat berjuang seperti ini untuk bertahan hidup.” iba seorang wanita berumur setengah abad kepada Yudha. Lelaki itu menenggak saliva susah payah, berusaha menerima kalimat bijak ibu tersebut. Sebelum beliau lanjut untuk menepuk pundaknya upaya memberi kata-kata penyemangat.
“Memang terkadang dunia itu sangat kejam, Nak. Semangat ya buat kamu. Semoga setelah ini kamu bisa menjadi sukses, ngga perlu banting tulang mencari uang demi sesuap makanan begini,” tutupnya mengusap-usap punggung Yudha pelan.
Yudha mengangguk samar mengiakan saja. Tanpa ibu itu sadari jikalau pengamen di hadapannya ini mengantongi iPhone 11 Pro Max dalam saku celananya.
“M-makasih banyak bu.” tunduk Yudha sopan sebelum benar-benar pergi meninggalkan warung tenda Soto Lamongan.
Sepeninggal Yudha dari warung tenda tadi, anak muda itu kembali mengintip isi dari kantong plastik permennya. Senyum Yudha merekah begitu saja sewaktu mendapati isi dari jumlah uang di dalam kantong tersebut.
“Buset dah. Gua ngga ekspetasi dapet uang segini banyak.” kagum Yudha. “Dua ratus lima puluh Sembilan ribu ….” hitungnya lagi pada lembar-lembar yang ada di dalam kantong. Masih tidak begitu menyangka jika ia bisa mendapatkan uang begitu banyak dalam waktu yang lumayan singkat.
“Sip, semangat Yudha. Dikit lagi duit lu tembus tiga ratus ribu.” tekad Yudha menggebu-gebu hendak melanjutkan langkahnya namun kembali tertunda karena ponselnya tiba-tiba bergetar di dalam saku celana. Yudha dengan gerak sigap meraih benda itu dan menempelkannya di sebelah telinga ketika panggilan itu tersambungkan.
“Apa dah, John?” sahut Yudha.
“….”
“Skip gua lagi sibuk ngga bisa futsal.”
“….”
“Idih giliran futsal aja lu muja-muji gua. Lu emang ngomong baik kalau ada maunya doang.”
“….”
“Dah lah ngambek gua.”
“….”
“Bodoamat.”
Tut.
Yudha memutuskan panggilan secara sepihak. Membiarkan sahabatnya itu mengumpat ria di belahan bumi berbeda yang tidak terlalu Yudha pikirkan. Yudha kemudian melanjutkan langkahnya lagi menuju lokasi target unjuk bakatnya dan memutuskan untuk menetap di pedagang sate yang lumayan ramai.
“Assalamualaikum wr wb. Selamat malam semua bapak-bapak, ibu-ibu, mas-mas, mbak-mbak, dan adik-adik sekalian. Izinkan saya disini mempersembahkan sebuah tembang lagu lawas guna menghibur santap malam bersama orang-orang tersayang.”
Yudha mulai memetik senar gitarnya pelan. Menciptakan irama-irama syahdu memanjakan telinga terlebih sewaktu Yudha sudah mengeluarkan suara indahnya yang berpadu dengan petikan gitar yang ia mainkan. Jujur, fakta tentang Yudha yang pandai bernyanyi bukan sebuah dusta. Laki-laki itu kebetulan memang memiliki suara yang lumayan menyejukkan jiwa sehingga mampu membuat pengunjung terpesona atas nyanyiannya.
Tidak butuh waktu lama, Yudha mengakhiri sesi bernyanyinya diikuti dengan bungkuk badan sebagai ucapan terima kasih karena telah di tanggap dengan baik oleh para pendengarnya. Setelah selesai, seperti hal sebelumnya—banyak di antara pengunjung yang juga memberi nominal besar. Yudha bahkan bisa membayangkan jika uang ini nanti akan berjumlah jauh lebih banyak dari target awal.
“Terima kasih, Pak, Bu …,” ucap Yudha tiada hentinya. Hingga aktivitas berkelilingnya usai, Yudha kembali mengintip isi kantongnya yang mulai bersesakan penuh uang.
“Mantap … kayaknya banyak nih hasilnya. Mungkin segini cukup kali buat beli album,” gumamnya.
Yudha mulai mengintip kocek uangnya tanpa menolehkan kepala ke arah sekitar. Bersamaan dengan bunyi tapak kaki yang mendekat ke arah gerobak menandakan bahwa ada satu calon pembeli yang datang.
“Bang Sate Madura-nya seporsi berapa?”
Yudha membeku mendengar suara tidak asing memenuhi gendang telinganya. Sontak saja Yudha mendongak dan betapa terkejut ia sewaktu menangkap sosok Sekar bersama Rizka sudah berdiri di samping gerobak.
“Lima belas rebu, Neng,” sahut abang penjual.
Yudha segera membalikkan tubuhnya untuk memunggungi Sekar. Tidak ingin tertangkap basah oleh gadis tersebut. Dengan cepat Yudha menenggalamkan topinya dalam-dalam demi menutup identitas diri agar tidak ketahuan.
“Mampus. Kenapa harus ketemu Sekar disini sih,” panik Yudha.
Sekar yang tadinya fokus ke arah perapian tempat sate-sate di bakar mulai menolehkan kepalanya untuk menebar pandangan ke arah sekitar. Hingga pergerakan matanya berhenti tatkala ia tidak sengaja menangkap sosok seseorang yang bertingkah mencurigakan di dalam tenda. Dahinya mulai mengernyit, semakin tidak lepas menatap orang itu yang telah berhasil mencuri atensi.
“Mau makan disini apa bungkus, Neng?” tanya si abang penjual lagi.
“Sekar kita bungkus—”
“Kita makan sini aja,” potong Sekar cepat membuat Rizka menoleh dengan raut penuh tanya.
“Lah, tadi lo bilang mau bungkus aja, Kar?”
Sekar menghadapkan wajah sebentar menuju Rizka. Dengan seulas senyum simpul yang menawan, ia menjawab pertanyaan Rizka pelan, “suasana tempatnya lagi enak, Riz,” ujarnya seraya merogoh saku jaket untuk mengambil ponsel dari dalam sana. Menggerakkan jemari secepat kilat beriringan dengan ponsel Yudha yang bergetar.
“Sial. Apa Sekar sadar kalau ini gua?” batin Yudha.
Berbanding terbalik dengan kecemasan yang melanda perasaan Yudha, justru Sekar kini di rundung rasa penasaran yang semakin besar. Gadis itu bahkan hendak bersiap untuk melangkahkan kaki menghampiri Yudha sedangkan laki-laki itu sendiri sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk hengkang meninggalkan tempat itu.
“Duh bisa panjang nih pertanyaan Sekar kalau lihat gua bawa-bawa gitar sama kantong duit kek begini.”
“Kagak ada pilihan lain. Gua harus kabur darisini.” monolog Yudha dalam hati. “Oke Yudha, dalam hitungan ketiga lu wajib pergi. Satu ... Dua ... Ti—”
“Kak Yudha mau pergi kemana?”
©sekarangdanesok, 2021.