Ketahuan
Tidak butuh waktu lama bagi Yudha untuk menemukan sosok Mark di tengah kantin tersebut, laki-laki penggila semangka itu tentu saja dengan begitu mudah di temukan sewaktu buah favoritnya menjadi salah satu alasan Yudha yakin bahwa itu adalah Mark. Langsung saja Yudha mendekat, mengambil duduk di sebelah Mark yang mana mulut temannya itu di penuhi sesak kunyahan semangka.
“Semangka aja lu,” cibir Yudha.
“Daripada gua nyabu.”
“Hehehe bener juga sih,” cengir Yudha yang tanpa basa-basi ikut mencomot bekal semangka Mark dalam wadah Tupperware berwarna merah muda itu.
“Tumben dateng cepet. Habis darimana?” tanya Yudha.
“Balikin buku perpus.”
“Ohh kirain COD semangka.”
“Lu sendiri ngapain dateng cepet?”
“Gua ‘kan emang rajin.”
“Gua serius ya anjing.”
“Hahaha, engga, engga. Tadi gua habis ketemuan sama temen lama gua si Juli.”
“Ohh,” balas Mark dengan anggukan kepala singkat. Mengakhiri percakapan mereka dan mulai sibuk dengan aktivitas sendiri. Sedangkan Yudha, laki-laki itu sudah sibuk merogoh sakunya tampak mencari sesuatu darisana.
“Lu ngapain dah ribet amat daritadi?” tanya Mark yang mulai terganggu akan kegiatan Yudha.
“Korek gua mana ya?”
“Mau ngudut?” tanya Mark retoris.
“Mau bakar gedung fakultas!” sahut Yudha tidak santai. “Ya logika lu di pake dong. Pertanyaan lu ngga bermutu banget deh.”
Mark tidak membalas celotehan Yudha lagi. Hingga lelaki itu akhirnya menyerah dan memutar balik badannya ke arah gerobak bertuliskan Martabak Bang Ilham.
“Bang Ilham!” teriak Yudha pada si pemilik gerobak.
“Ape?” sahut Bang Ilham dari dalam.
“Pinjem korek.”
“Ngga modal lu.”
“Korek gua ketinggalan di jaket satunya, Bang.”
“Halah, alasan.”
“Ayolah, Bang …,”
“Ada syaratnya.”
“Apa?”
“Beli dagangan gua.”
Yudha sangat menduga jika jawaban Bang Ilham akan seperti itu. “Iya dah. Gua beli minuman aja ya, Bang.”
“Terserah lu. Asal jangan es tawar.”
“Susu soda aja satu.”
Mendengar jawaban Yudha, dengan cepat pula kepala Mark menoleh ke arah teman di sampingnya itu.
“Yang bener aja lu. Masa rokok di sandingin sama susu soda?” protes Mark.
“Ya terserah gua, lah. Kan yang mau minum sama mau rokok gua bukan elu.”
“Ya tapi—” Mark mulai menatap wajah Yudha frustasi. “Sinting ini orang,” sambungnya.
Yudha tidak membalas kalimat Mark. Ia yang kini sibuk memantik korek di salah satu ujung rokok terfokuskan sebentar hingga setelahnya lelaki itu mengembuskan asap dari batang tembakau itu di depan wajah Mark menyusul seringaian.
“Mark, lu mau denger cerita gua ngga?” bahas Yudha setelah tiga kali hisapan ia embuskan.
“Apa?”
“Lusa lalu gua ngamen.”
“Ngamen?!” kaget Mark dengan bola mata yang membulat lebar.
“Iya …,” angguk Yudha antusias. “Ternyata asik juga ya ngamen. Gua dapet 550 ribu ngamen semalem doang.”
“Hah ini seriusan?!”
“Serius, beneran. Ternyata banyak yang suka sama suara gua, Mark, hahaha…,” gelak Yudha keras. “Karena banyak yang suka sama nyanyian gua, jadi mereka banyak yang ngasih nominal gede ke gua. Terus juga ada nih yang ngasih gua uang gede karena kasihan sama hidup gua. Mereka nyangka gua pengamen beneran.”
“Gila lu, Yud. Penipuan publik lu. Manfaatin rasa empati orang. Ngga berkah tuh rezeki.”
“Hahaha, santai. Sekali ini doang,” enteng Yudha tanpa beban.
“By the way, emang lu kenapa sih sampe mau ngamen segala? Bokap lu buka restoran kagak cukup apa ngasih lu duit?”
“Bro, ini akhir bulan. Bokap gua itu tipe yang selektif banget soal keuangan kuliah gua. Biarpun gua minta juga butuh alasan kuat buat merealisasikannya. Sedangkan kebutuhan gua itu ya ... ngga penting-penting amat sih sebenernya.”
“Kalau ngga penting kenapa lu rela-relaan ngamen anjir,” sewot Mark. “Atau jangan-jangan … Lu mau ngobat ya?” tuduh Mark yang kini menunjuk wajah Yudha tajam.
“Lu kalau ngomong bisa filter dikit ngga?! Entar gua sobek juga mulut lu!”
“Ya jadi apa alasannya?!” desak Mark.
Yudha diam sebentar. Wajahnya terlihat begitu ragu untuk mengutarakan jawaban dalam benaknya. Sedangkan Mark di buat semakin penasaran.
“Gua sebenernya mau beli album Korea, Mark,” jawab Yudha akhirnya.
“Album Korea? Buat apaan? Lu belok ke Korea-Koreaan?”
“Bukan buat gua. Tapi buat adik MIPA.”
Mark ternganga mendengar jawaban akhir Yudha. Tidak begitu di sangka jika Yudha akan bertindak di luar nalar demi adik MIPA pujaannya.
“Ini ... lo serius, Yud? Lu ngelakuin ini semua demi adik MIPA?”
“Yaa … gimana ya? Gua cuma mau usaha aja gitu. Buat dia seneng. Dan kebetulan si adik MIPA suka Korea dan juga pengen banget beli album idolanya, jadi gua inisiatif kasih dia itu.”
“Dengan memaksakan diri elu begini?” potong Mark cepat. “Please ya, Yud. Suka boleh. Mau bucin juga ya terserah elu. Tapi lu juga mikir, Yud. Jangan mau di begoin cewek.”
Mark menahan napasnya. Kepalanya sudah menggeleng-geleng, tidak habis pikir dengan perbuatan yang sudah di lakukan oleh temannya ini.
“Apalagi lu posisinya itu bukan siapa-siapa. Lu itu sama dia ngga ada status. Pacar bukan, temen deket juga bukan, kalian berdua itu ya cuma sekedar kenalan doang, dari base lagi. Gua ngomong begini bukan karena gua larang lu suka sama dia. Tapi gua mau nyadarin lu aja. Emang lu bisa jamin perasaan dia ke lu juga itu sama? Dengerin gua ya, kalau dia emang suka sama elu. Harusnya udah dari lama dia terima perasaan lu. Tapi sampai sekarang lihat? Apa dia udah nunjukin tanda-tanda itu?” oceh Mark panjang.
“Tapi dia bilang dia cuma butuh waktu.”
“Klasik tahu ngga alasan macem itu. Dan lu masih aja percaya sama omong kosong dia?” sela Mark lagi.
Yudha kehilangan kata-kata untuk membantah pertanyaan Mark. Jujur, kalimat Mark sedikit menampar kenyataan. Apa benar Yudha selama ini terlalu berlebihan menyukai Sekar?
“Yud, gua paham lu tergila-gila sama dia. Tapi jangan sampe dia bisa buat lu gila beneran. Udahlah, daripada lu mikirin hal yang engga-engga, mending kita ke kelas. Sesi bentar lagi mulai,” ajak Mark yang sudah beranjak dari bangkunya. Yudha pun mengikuti gerakan Mark bermaksud untuk meninggalkan meja hingga langkah kakinya tertahan sedetik setelah ia melihat seseorang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.
Jantung Yudha rasanya ingin terlepas melihat Sekar yang sudah menatapnya dalam diam. Gadis itu sama sekali tidak bersuara, namun Yudha sangat bisa merasakan bahwa kini sorot mata Sekar sudah memancarkan binar kecewa.
©sekarangdanesok, 2021.