Kebetulan Tak Terduga
Sekar mulai mendudukkan diri di salah satu bangku panjang di kantin FMIPA. Sembari jemarinya menari lihai di atas layar untuk mengutarakan maksud kepada Yudha, tiba-tiba saja Sekar di kejutkan akan sebuah susu kotak yang di sodorkan ke arahnya. Lantas Sekar menolehkan kepala, menghadapkan wajah menuju seseorang yang memberi susu itu.
“Kak Yudha?” tanya Sekar dengan raut begitu tidak menyangka. “Kok kakak tahu kalau aku mau nitip susu?”
Yudha yang tadinya hanya tebak-tebak berhadiah pun ikut terkejut mendengar pertanyaan Sekar. “Lah beneran? Padahal tadi kakak iseng doang lho, karena kakak pikir adek habis nge-lab. Jadi perlu minum susu.”
Mendengar jawaban itu, Sekar hanya tersenyum simpul. Dengan senang hati juga gadis itu menerima susu pemberian dari Yudha. “Kebetulan banget. Makasih ya, Kak.”
“Iya sama-sama,” balas Yudha dengan iringan tawa. “Masih ngga habis pikir juga sih kok kita bisa sepikiran gitu.”
“Kayaknya telepati aku nyampe deh ke kakak.”
“Hahaha, mungkin juga ya. Telepati adek nyampe ke kakak. Cuma perasaan kakak ke adek aja yang ngga nyampe.”
Sekar dan Yudha mulai tertawa sendiri mendengar canda garing tersebut.
“Hehe, jangan di masukin di hati, Dek. Kakak cuma bercanda,” pesan Yudha.
“Iya, Kak. Kalau aku masukin hati takutnya baper ya, padahal cuma bercanda.”
Percakapan macam apa ini?
“Ehm, Dek, kayaknya kita pesen makanan aja, deh. Kakak laper,” pungkas Yudha mengakhiri obrolan ambigu mereka berdua. Sekar pun ikut mengangguk setuju. Selain ia tidak ingin melanjutkan percakapan aneh tadi, perutnya juga sudah mulai terasa keroncongan.
“Adek mau apa? Biar kakak aja yang pesenin,” tanya Yudha mulai bangkit berdiri.
“Kata kakak kangen pakde mie ayam, ya udah pesen mie ayam aja. Sekalian bisa ketemuan sama pakde.”
Mendengar kalimat itu, Yudha memicingkan matanya ke arah Sekar. Sedangkan gadis itu hanya tertawa geli melihat Yudha yang menatapnya seperti itu.
“Ayo, buruan, Kak. Nanti makin banyak orderan pakde,” suruh Sekar lagi.
“Ya udah. Minumnya mau apa?”
“Es teh aja, Kak.”
“Oke. Tunggu bentar.”
Yudha akhirnya membalikkan badan dan melangkah menuju gerobak mie ayam tidak jauh dari bangku mereka berada. Sedangkan Sekar sendiri mulai merogoh tissue dari dalam tas dan lanjut mengelap meja yang berada di hadapannya.
Selagi Sekar mengelap meja itu, matanya mulai menangkap seonggok map berwarna merah hati yang tergeletak tidak jauh dari posisi tas Yudha berada. Melihat itu, langsung saja Sekar mengambil map tersebut sembari netranya melirik Yudha selintas yang masih berdiri di depan gerobak mie ayam.
Sekar mulai mengintip isi dari map merah hati itu. Membaca judulnya sekilas dimana tertulis Kartu Rencana Studi Mahasiswa beserta biodata diri lain Yudha disana. Sekar menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan tingkah Yudha yang meletakkan saja berkas-berkas secara asal.
“Sembarangan banget letakin berkas penting begini. Kalau nanti kotor gimana?” omel Sekar sendiri.
Sekar mulai membolak-balik lagi lembaran yang ada di dalam map tersebut. Hingga dirinya menangkap sesuatu hal yang baru ia sadari, hingga berikutnya gadis itu menghidupkan mode tidur layar ponsel untuk memastikan sesuatu disana.
©sekarangdanesok, 2021.