Sesuatu Yang Sekar Suka
Yudha menolehkan kepala ke kanan dan kiri, menyapu pandangan sesaat setelah lelaki itu pertama kali menginjakkan kaki di kantin MIPA. Mata Yudha berkelana, mulai menyusuri bangku demi bangku hingga akhirnya ia berhasil menemukan sosok adik MIPA sedang duduk sendirian di sudut kantin. Menyesap es jeruk seraya fokus pada layar ponsel yang berada di tangannya.
Yudha melengkungkan sudut bibir membentuk seulas senyum lebar, lalu lanjut mengayunkan kaki menuju bangku Sekar berada. Setibanya ia di dekat Sekar, langsung saja Yudha mendaratkan bokongnya, untuk mengambil duduk tepat di samping Sekar membuat gadis itu sedikit terperanjat.
“Astaga kak aku kira siapa.” reaksi Sekar sambil memegang dadanya.
“Hehehe kaget ya?”
“Dikit,” jawab Sekar menyunggingkan senyum kecil.
“Sendirian aja dek?”
“Iya kak. Temen aku yang lain masih otw.”
Yudha mengangguk saja sebagai balasan akhir kalimat Sekar. Selanjutnya suasana terasa begitu awkward sebab sejak tadi Sekar hanya diam dan hanya sibuk memandang layar ponselnya, mengabaikan Yudha.
“Adek ngapain sih? Daritadi kayaknya fokus banget sama HP,” tanya Yudha penasaran. Mendengar Yudha bersuara, Sekar sebentar mengalihkan atensinya dan mencabut sebelah headset yang tersumpal di telinganya lalu menghadapkan wajah ke arah Yudha.
“Kakak nanya apa?”
“Ngapain?” jawab Yudha mulai sedikit keki.
“Ohh,” balas Sekar sederhana. “Aku lagi streaming Youtube.”
“Streaming apa?”
“Comeback WayV.”
“Hah apa?”
“Idol grup kak ….” tunjuk Sekar memamerkan layar ponselnya pada Yudha menampilkan sebuah video berisikan tujuh lelaki sedang bernyanyi.
“Ohh Korea.” angguk Yudha penuh percaya diri.
“Bukan kak. Mereka itu grup Cina.”
“Lah bukannya yang suka joget begitu Korea?”
“Iya sih … tapi mereka itu orang Cina. Lagian mereka itu dance kak bukan joget. Kakak kira mereka biduan apa joget-joget?” balas Sekar sewot.
“Sama ajalah. Mau Korea, mau Cina matanya sama sipit semua. Lagian dance ‘kan gerakin badan, nah joget juga gerakin badan. Sama aja dong jatuhnya. Bedanya ya dance itu bahasa Inggrisnya.”
Sekar menarik napasnya dalam mendengar jawaban Yudha. Bahkan gadis itu sudah sedikit menggeram jengkel mendengar cicitan Yudha. “Kalau kata aku beda ya beda kak!”
Yudha meringis mendapat semburan dari Sekar. Untuk pertama kalinya ia mendengar Sekar meninggikan suara. Mendapati itu, Yudha buru-buru tersadar. Kalau ia terus-terusan melawan omongan Sekar, bisa-bisa perdebatan ini tidak akan selesai sampai tahun depan. Daripada urusan semakin bertambah panjang dan dapat menimbulkan percekcokan lebih baik ia mengakhirinya saja. “Iya dah, iya Cina.”
Percakapan berakhir seketika. Lagi, Yudha kehabisan bahan untuk membuka obrolan. Terlebih karena ia kembali teracuhkan gara-gara Sekar yang masih saja menonton boygrup kesayangannya tersebut. Ada sebersit keinginan Yudha untuk menyela aktivitas Sekar. Namun mengingat respon Sekar baru saja, Yudha menjadi ragu untuk melakukannya. Alhasil yang dilakukan Yudha sekarang hanya diam dan sibuk menggulir ponsel juga berusaha mengusir rasa kesepian.
“AAAA KENAPA KOH WINWIN GANTENG BANGET SIH!!!” teriak Sekar tiba-tiba di antara keheningan mereka. Hal itu tentu saja membuat Yudha terlonjak. Ya, siapa yang tidak terkejut kalau tiba-tiba Sekar berteriak seperti itu.
“Apaan sih dek ngagetin aja,” protes Yudha.
“Koh Winwin ganteng banget kak …,” jawab Sekar yang kini sudah pura-pura menangis di hadapan Yudha untuk mengekspresikan perasaannya penuh drama.
“Koh Winwin?” ulang Yudha. “Eh namanya kok sama dengan Engkoh warung deket rumah neneknya kakak. Orangnya tuh cungkring ya, pendek, terus ada tompel samping kiri hidungnya. Badannya juga bau, Dek. Jorok lagi. Kakak sering lihat dia ngupil sembarangan terus nanti dia tempelin tuh upilnya di tiang—” kalimat Yudha otomatis terputus tatkala dirinya telah menangkap sorot mata tajam Sekar mengarah padanya. Yang menurut Yudha sangat-sangat menyeramkan.
“Kakak mending diem daripada ngomongin hal ngga penting,” ujar Sekar dingin.
Yudha langsung saja mengulum bibirnya dalam sewaktu mendengar ucapan ketus dari Sekar. Sial, Yudha kelepasan. Bisa-bisanya ia membicarakan hal jelek yang membawa-bawa nama idola kesukaan Sekar. Beberapa kali Yudha memukul bibir, merutuk diri karena telah berbicara sembarangan.
“Maaf, Dek,” sesal Yudha.
Sekar tidak membalas. Hatinya terlanjur jengkel setelah mendengar penuturan Yudha. Gadis itu sekarang memilih untuk kembali melanjutkan kegiatannya menggulir aplikasi Twitter saja dan beberapa kali mengetikkan sesuatu disana. Hingga akhirnya ia meletakkan juga ponselnya tersebut di atas meja dengan wajah yang begitu gundah.
“Kenapa sih album tuh harganya mahal?” keluh Sekar.
Yudha menaikkan sebelah alis mendengar penuturan Sekar. Ia yang masih belum terlalu paham atas pembicaraan Sekar hanya memandang gadis itu penuh tanya hingga akhirnya Sekar menolehkan kepala menampakkan raut termelas di hadapan laki-laki itu.
“Aku tuh suka banget kak sama WayV. Rasanya pengen gitu beli album mereka, tapi uang aku pas-pasan.” curhat Sekar. “Kapan ya aku ada rezeki lebih gitu biar bisa beli? Atau kali aja ada yang berbaik hati tiba-tiba kasih aku album secara cuma-cuma gitu.” halu Sekar. Gadis itu bahkan sudah menopang dagu seraya memandang ke langit-langit kantin, sibuk berkhayal.
Yudha memperhatikan Sekar dengan pandangan aneh. Dalam otaknya ia mulai berpikir tentang pertanyaan mengapa Sekar bisa menyukai rombongan laki-laki tukang joget itu. Ingin rasanya ia bertanya, namun sebelum kalimat tanya itu terlontar dengan tiba-tiba saja kata-kata Timothy melintas di ingatannya.
Lu coba cari apa yang kira-kira dia suka.
Bagai baru saja memperoleh ilham dari langit, wajah Yudha mendadak berseri-seri. Kini dirinya sudah berhasil memecahkan teka-teki yang selama ini ia cari.
©sekarangdanesok, 2021.