Hari Menyebalkan

Di depan sebuah cermin berukuran 30 x 40 cm, Yudha mulai menggerakkan sisir yang berada di tangannya dengan gerak berulang. Sesekali siulan serta senandung kecil menemani kegiatan laki-laki itu selama merapikan helai-helai rambutnya menandakan bahwa kini ia merasa sangat berbahagia. Bagaimana tidak? Malam minggu yang biasa ia lalui dengan kesendirian akan bertransformasi menjadi malam paling bersejarah antara dirinya bersama Sekar. Malam dimana ia akan mengutarakan maksud serta isi hati secara resmi kepada gadis yang selama ini ia suka.

Yudha kemudian menyudahi aktivitas bersisir setelah ia merasa rambutnya sudah cukup tertata. Lalu lanjut meletakkan benda kecil itu di atas meja, berganti dengan benda lain yang juga ia ambil darisana. Menatapnya sebentar dengan ulas senyum begitu lebar, seolah tidak ingin berpaling dari seonggok buket mawar merah yang kini berada di tangan. Pikirannya mulai berkhayal, pada suatu kejadian dimana ia bisa berlutut di hadapan sang pujaan bak karakter utama di layar kaca. Seiring semburat merah di wajah, menanti sebuah anggukan dari lawan bicara atas persetujuan akan perasaan yang baru sempat tersampaikan. Namun bayangan itu cepat-cepat Yudha usir dengan segera. Mengingat jikalau ia hanya membuang-buang waktu untuk mengkhayalkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan.

“Udah… ngga baik, Yud, ngayalin sesuatu yang belum terjadi,” gumamnya. Sadar jika baru saja ia melakukan hal sia-sia, tanpa banyak menghabiskan waktu lagi Yudha langsung mengambil kunci motornya dan membawa serta buket yang masih setia di dalam pegangan.

Sembari menunggu kehadiran Yudha untuk datang menjemputnya, sejak tadi Sekar tiada lepas untuk memegang dadanya yang mendadak berdebar tidak beraturan. Rasanya aneh saja. Padahal selama ini ia sudah terlampau sering bertemu dengan Yudha. Akan tetapi kali ini terasa berbeda. Ada perasaan lain yang menyeruak di dalam benak, membuat gadis itu sedikit kalut akan sesuatu yang terjadi beberapa jam kemudian. Sebuah perasaan yang tidak terdeskripsikan. Tentang rasa yang hanya Sekar sendiri bisa mendefinisikannya.

Setelah cukup lama bergelung dengan perasaan gundah, lamunan gadis itu seketika buyar sewaktu indera pendengarannya merespon sinyal yang berasal dari suara deru motor di luar pagar. Buru-buru ia membuka pintu, demi mendapati sosok laki-laki berbalut kemeja biru langit yang ia tunggu sejak setengah jam silam.

“Ayo, Dek, kita berangkat. Nanti kemaleman.” Tanpa banyak berkomentar, Sekar mengangguk. Mengikuti Yudha yang kini sudah menunggangi motornya.

“Kak, emang kita mau kemana?” tanya Sekar setelah beberapa jarak mereka meninggalkan area kost Sekar.

“Ada deh. Percaya aja sama kakak.”

“Jauh ngga?”

“Lumayan.”

“Lama ya nyampenya?”

“Mungkin 20 menitan. Kenapa emang?”

Sekar mengembuskan napas pelan. Namun cukup terdengar oleh Yudha karena gadis itu jelas-jelas menghela napas di sebelah pundaknya.

“Ngga kenapa-kenapa sih, Kak. Cuma aku perhatiin keknya bentar lagi mau hujan. Apa kita bakalan nyampe kesana?” tanya Sekar yang terdengar sedikit ragu atas rencana mereka berdua. Dan benar saja, tidak lama berselang guntur mulai menggelegar. Sedikit kuat diiringi tiupan angin kencang. “Tuh ‘kan, Kak. Geledeknya gede banget.”

Yudha yang mulanya tidak sadar jikalau langit telah berwarna hitam pekat mulai mencuri pandang. Tidak salah yang dikatakan Sekar, sepertinya kecil kemungkinan bagi mereka untuk menjangkau perjalanan selama 20 menit di kondisi cuaca seperti sekarang. Namun Yudha tidak gentar, lelaki itu masih optimis dan terus bertekad untuk melanjutkan perjalanannya.

“Nyampe … tenang aja. Keknya juga hujan masih lama turun,” yakin Yudha optimis.

Tes. Tes. Tes.

Satu demi satu titik air mulai bejatuhan semenit setelah Yudha menuntaskan kalimat. Ingin rasanya Yudha memaki pada cuaca, seolah tidak diberi izin untuk melanjutkan acara pentingnya bersama Sekar. Tidak butuh lama bagi air Tuhan tersebut mengguyur dunia, tetesan air hujan itu perlahan menjelma menjadi cucuran yang begitu deras. Membuat keduanya sempat kebasahan sebelum mereka tiba di pinggir sebuah emperan warung kopi kaki lima sebagai tempat berlindung.

“Kak, nunggu di dalem aja yuk. Daripada di luar, dingin,” saran Sekar sembari matanya menilik kea rah dalam warung kopi dimana ada beberapa bangku yang masih kosong.

Mendengar ajakan Sekar, mulanya Yudha ikut mengintip kea rah dalam. Menatap isi dari warung kopi itu dengan enggan.

“Ngga ah. Kalau nunggu di dalem pasti ujungnya mau beli,” tolak Yudha.

“Ya tinggal beli aja. Teh anget lumayan biar ngga kedinginan.” “Ngga usah. Kakak nunggu disini aja.”

“Beneran?”

“Iya….”

“Ya udah aku aja yang masuk.” Putus Sekar langsung saja melangkah masuk ke dalam warung kopi tersebut. Menghiraukan Yudha yang masih bersikukuh untuk berdiri di depan warung kopi menanti hujan reda.

Setengah jam berlalu, namun hujan tidak kunjung berhenti hingga detik ini. Yudha mulai jengkel setengah mati. Mengingat kini jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam yang mana ia tidak memiliki cukup banyak waktu lagi. Ia mulai pasrah. Alamat gagal rencananya.

“Neng, itu pacarnya ya?” tanya ibu-ibu penjual warkop yang sejak tadi memang beberapa kali mengintip Yudha di luar.

“Iya, bu.”

“Kenapa ngga di ajak masuk aja? Kasihan di luar dingin.”

“Tadinya udah di ajak, Bu. Orangnya ngga mau.”

“Lah, kenapa?”

“Ngga tahu,” geleng Sekar. Ya, memang Sekar tidak tahu alasan Yudha tidak ikut masuk.

“Ajak lagi aja tuh, Neng. Kali aja sekarang udah mau.”

Sekar mengalihkan atensinya. Melihat Yudha yang kini masih setia berdiri di dekat pintu sambil bersedekap tangan. Sekar pun akhirnya bangkit berdiri, beranjak untuk mendekati Yudha untuk membujuknya laki-laki itu masuk.

“Kak Yudha.”

“Hm?”

“Ayo masuk.”

“Nggak.”

“Kenapa sih?”

“Ngga mau aja.”

“Kakak badmood?”

Yudha menghadapkan wajah sewaktu Sekar melontarkan pertanyaan itu kepadanya.

“Badmood gara-gara ngga jadi ngajak aku ke tempat yang kakak maksud?” tanya Sekar lagi lebih spesifik.

Yudha masih diam saja. Enggan untuk membalas pertanyaan Sekar yangs sepenuhnya adalah benar. Mengetahui hal itu, Sekar tersenyum sumir. Kemudian ia berinisiatif untuk menggamit salah satu lengan kekasihnya tersebut membuat lelaki itu sedikit terkejut.

“Ayolah, Kak. Masuk ya.” minta Sekar dengan wajah begitu memelas. Yudha berdeham singkat. Mendadak salah tingkah di beri perlakuan seperti itu dari Sekar. Kalau ada kamera tersembunyi di sekitar sini, sepertinya Yudha lebih memilih untuk menyerah dan melambaikan tangan saja. Hingga akhirnya Yudha memilih untuk menurut, daripada membiarkan hatinya semakin porak-poranda.

Sekar menarik salah satu kursi bersamaan dengan Yudha yang duduk di hadapannya. Ia mulai mengedarkan pandangan kea rah spanduk berisi daftar menu makanan untuk memilih makanan yang ingin di pesan.

“Kakak mau Indomie apa?” tanya Sekar, masih sibuk membaca daftar menu.

“Tadi Adek ngajak Kakak masuk aja. Bukan mau makan.”

“Emang kakak ngga laper?”

“Engga,” jawab Yudha kali ini terdengar sedikit ketus.

Sekar mengangkat bahunya saja mendengar jawaban Yudha. Tidak terlalu terbawa hati, karena ia sendiri tahu kalau Yudha tidak dalam mood baik.

“Ya udah. Aku aja yang pesen kalau gitu.” enteng Sekar yang langsung mengangkat tangan untuk memesan Indomie kepada si ibu penjual. Sedangkan Yudha sendiri masih sibuk bersungut.

Tidak butuh waktu lama, Indomie pesanan Sekar tiba di hadapan mereka berdua. Asap yang mengepul serta aroma khas dari mie instan tersebut menyeruak ke dalam hidung mereka. Mengundang rasa lapar di kala hujan. Tanpa banyak percakapan lagi, Sekar mulai menyeruput mi tersebut dan melahap penuh kenikmatan. Sesekali diiringi gumaman ekspresif menandakan bahwa dirinya benar-benar menikmati hidangan tersebut. Yudha yang sedari tadi memperhatikan Sekar hanya menelan saliva saja, menahan gengsi padahal dirinya sendiri pun mulai merasa lapar.

“Kakak mau coba?” tawar Sekar di sela kunyahannya. Menyodorkan gulungan mie di garpu pada Yudha, seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran Yudha.

“Ngga.”

“Udah ngga usah jual mahal. Makan aja nih tinggal buka mulut doang.”

Sekar tetap menyodorkan lilitan mie tersebut di depan wajah Yudha. Awalnya Yudha masih tetap dalam pendiriannya. Namun lama-kelamaan ia menurut juga karena Sekar terus memaksanya untuk membuka mulut.

Di kunyahan pertama, ekspresi Yudha masih terkesan biasa. Namun semakin ia lanjut mengunyah mie tersebut, air mukanya mendadak berubah. Seperti telah menemukan cita rasa baru yang belum pernah ia temui sebelumnya. Dengan raut penasaran, laki-laki itu mulai menarik kursinya dan mendekatkan posisi duduk secara antusias.

“Dek, sumpah baru kali ini kakak ketemu mie tumis begini,” komentar Yudha lirih. “Tekstur dan bumbunya itu lho.”

“Emang apa bedanya kak?” bingung Sekar.

“Beda, Dek. Kakak sebagai maniak Indomie bilang ini beda. Kegurihan yang terkandung di dalam mie ini, belum pernah kakak coba selama 21 tahun kakak hidup.”

Meski tidak terlalu paham akan maksud yang di sampaikan oleh Yudha, namun Sekar tetap mengangguk samar. Terlebih sewaktu Yudha menunjuk lagi mie instan di piringnya.

“Coba sendokin lagi, Dek.”

Sekar kembali menggulung mie instannya lalu menyuapkan lagi mie tersebut kepada Yudha. Hal itu di lanjutkan karena Yudha terus-terusan memintanya.

“Ini warung namanya apa sih? Keknya bakal jadi warkop rekomen nih,” penasaran Yudha menebar pandangan ke penjuru arah.

“Enak ya kak makanannya?”

“Enak banget, Dek. Sumpah!”

Sekar tertawa kecil melihat ekspresi Yudha yang terlihat begitu sungguh-sungguh atas penilaiannya terhadap makanan yang baru saja ia coba. “Ya udah. Besok-besok kita kesini lagi, deh.”

“Wajib itu kita kesini lagi. Gila sih, parah.”

Sekar menarik dua sudut bibir dengan hati yang begitu lega. Dalam benak ia bersyukur, kini perasaan Yudha sudah kembali riang, dan melupakan kejengkelannya beberapa waktu lalu karena schedule mereka tidak berjalan sesuai rencana.

Yudha memberhentikan motor di depan pintu pagar. Mengantarkan Sekar tepat di depan kost dengan selamat. Setelah melepaskan helm, Sekar lanjut menyerahkan helm tersebut kepada sang pemilik.

“Dek,” panggil Yudha di sela serah terima helm.

“Iya, Kak?”

“Maaf ya.”

“Maaf? Buat apa?”

Yudha menghela nafas pelan sebelum melanjutkan pertanyaan Sekar. “Maaf, rencana kita dinner romantis gagal total. Rencana kakak buat nembak Adek ngga jadi,” ungkapnya di selubungi perasaan bersalah. Sekar menundukkan kepala sejenak, pandangannya jatuh pada pergelangan tangan Yudha yang menggantung di sisi tubuh. Sekar pun perlahan menarik pergelangan tersebut, lalu meraih dan mengenggam telapak tangan Yudha erat.

“Bagi aku yang tadi itu romantis kok, Kak.”

Yudha menaikkan dua alisnya. Bingung atas pernyataan Sekar baru saja.

“Bisa makan berdua sama kakak, bisa nyuapin kakak, bisa sepiring berdua sama kakak. Semuanya bagi aku udah romantic. Asal itu sama Kak Yudha.”

Yudha tidak kuasa menahan kembangan senyum mendengar penuturan Sekar. “Ah, apaan sih, Dek. Kakak jadi baper nih.”

“Lah, aku serius kok,” kekeh Sekar. “Udah, Kakak pulang gih. Udah malem, besok lagi ketemunya.”

Yudha mengangguk sekilas. Awalnya ia memang berniat untuk pulang. Tapi tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu.

“Oh iya, Dek. Kakak punya sesuatu.”

Sekar menaikkan dua alisnya penasaran sewaktu melihat Yudha telah melepas kuncinya untuk membuka jok motor. Hingga beberapa saat kemudian, Yudha menyodorkan sebuket bunga mawar yang mana kertasnya sudah tidak rapi lagi. Ada lipatan di beberapa bagiannya.

“M-maaf, Dek. Kertasnya kelipet dikit. Tapi tenang bunganya masih bagu-” belum usai Yudha menuntaskan kalimatnya, wajah Yudha kembali cemberut melihat beberapa tangkai bunga tersebut yang bengkok. Akibat itu, spontan saja Yudha melemparkan buket bunga itu ke tanah membuat Sekar tersentak.

“Nyebelin lu ah,” maki Yudha pada bunga yang sudah tergeletak tidak berdaya di tanah.

“Eh, eh, Kak. Kenapa di buang?” sela Sekar yang langsung mengambil bunga tersebut dari bawah. “Sayang tuh masih cantik bunganya.”

“Cantik apanya?! Udah potek gitu apanya yang cantik!” balas Yudha menggebu-gebu.

“Kelopaknya masih utuh nih. Warnanya masih seger juga.”

“Udah, udah sini buang aja. Kesel Kakak lihatnya.”

“Ihh Kak Yudha jangan di buang. Ini punya aku.”

“Ngapain terima bunga jelek?!”

“Bagi aku ini masih bagus kok. Cuma patah tangkainya doang.”

Keduanya mendadak diam. Terutama Yudha yang kembali badmood akibat bunganya patah.

“Udah jangan cemberut gitu sih, Kak. Perkara bunga juga.”

“Bukan bunga aja, Dek. Semuanya tentang hari ini, tentang hari kemarin. Itu yang buat kakak kesel.”

“Kenapa?”

Yudha menatap wajah Sekar dengan raut yang sulit terbaca. “Kakak kesel aja sama diri Kakak sendiri. Kakak kesel karena ngga bisa kasih dan lakuin sesuatu yang kayak orang-orang lakuin ke pacarnya.”

Sekar membuang napas perlahan mendengar kalimat terakhir Yudha. Tiba-tiba saja, secara mengejutkan Sekar membawa kedua telapak tangannya. Membawa pandangan Yudha untuk focus pada kedua manic mata miliknya.

“Dengerin aku, Kak. Aku itu suka Kakak sebagai kak Yudha. Bukan sebagai orang lain….” Tuuturnya.

Yudha terdiam. Masih sibuk menyelami bola mata Sekar yang indah. Hening malam mulai melanda kedua insane tersebut.

“Apapun yang Kakak lakuin itu, semuanya aku suka. Kakak ngga perlu jadi orang lain, Kakak ngga perlu lakuin hal apapun yang orang lakuin. Tapi cukup diri Kakak sendiri, itu yang aku mau.”

Yudha termenung mendengar penuturan tersebut. Hingga Sekar menurunkan dua telapaknya dan lanjut merentangkan tangan di hadapan Yudha.

“Sini,” ajak Sekar.

“Mau ngapain?” bingung Yudha.

“Mau peluk pacar aku.”

Yudha tertawa renyah mendengar hal tersebut. Lalu ia ikut menyambut rentangan itu dan memeluk Sekar dalam dekapan erat.

“Makasih ya, Sekar,” ucap Yudha tulus.

“Aku yang harusnya bilang makasih sama Kak Yudha.”

“Kenapa gitu?”

“Karena kalau Kakak ngga nyariin aku di base aku ngga bakal tau kalau di dunia ini ada laki-laki kayak Kak Yudha.”

Yudha diam-diam menyunggingkan senyum di balik punggung Sekar mendengar jawaban itu. Di dekapnya semakin erat tubuh Sekar, seolah tidak ingin melepas gadis itu lagi.

“Kakak sayang sama Sekar.”

“Aku juga, sayang banget sama kak Yudha. Jangan pernah berhenti suka sama aku ya, Kak.”

Yudha mengangguk. Sebelum mengakhiri pelukan mereka berdua, tidak lupa Yudha mengecup kening Sekar membuat gadis itu terperanjat.

“Eh kok jadi nyium? Tadi aku Cuma kasih izin peluk aja.”

“Kenapa? Ngga boleh? Kan pacar sendiri.”

Sekar tertawa mendengar jawaban Yudha tersebut. Kemudian lanjut memeluk Yudha semakin erat. Berharap waktu bergerak lambat saja agar dirinya bisa menghabiskan momen ini sedikit lama.

sekarangdanesok, 2021