Valentine's Day

Kalau berbicara tentang hari valentine, tentu saja setiap orang akan memikirkan satu benda identik yang menjadi ciri khas hari kasih sayang tersebut. Cokelat. Ya, makanan manis itu menjadi menu utama di tanggal 14 Februari ini.

Dhea yang sejak tadi menunggu Ryu mengantri kasir lama-lama merasa kurang nyaman. Bagaimana tidak? Cokelat-cokelat yang terpajang di rak minimarket itu kembali mengingatkannya tentang surat cinta dan cokelat yang ia berikan pada Dihan dua minggu lalu, waktu ulang tahun Dihan. Perasaan trauma dirinya akan hal itu, juga kado salah sasarannya kepada Ecan membuat Dhea ingin menyerah saja untuk Dihan.

Biarlah peristiwa bergulir sebagaimana mestinya. Dhea tidak ingin berusaha lebih banyak lagi dan membuatnya semakin bertambah malu.

“Cokelatnya dek, lagi promo ini beli dua gratis satu.” tawar sang kasir.

Ryu mengalihkan perhatiannya sebentar ke arah rak kasir tempat cokelat-cokelat tersebut tersusun. Sambil mengocek dompetnya, Ryu menyenggol sekilas lengan Dhea yang masih berdiri mematung di sebelahnya.

“Dhe, lo mau cokelat ngga?”

“ENGGA!” jawab Dhea spontan. Membuat Ryu kaget, kasir kaget, juga pengunjung lainnya kaget.

“S-santai aja kali, Dhe. Gue nanya doang.” bisik Ryu malu.

Dhea mengulum bibirnya dalam sewaktu ia tidak sengaja kelepasan berteriak di minimarket itu. Entah bentuk malu apa lagi yang harus di terimanya, sepertinya Dhea wajib menceburkan diri ke rawa-rawa saja. Biarkan ia berbaur dengan ikan lele, belut, dan keong-keong sawah.

Setelah Ryu menyudahi kegiatan transaksinya bersama kasir, gadis itu bergegas mengajak Dhea keluar dari minimarket dan mulai menghidupkan mesin motornya. Setelah Ryu selesai bersama urusannya menggantungkan kantong belanjaannya di motor, Ryu mendongakkan kepalanya—mengintip aktivitas sahabatnya dari balik kaca helm yang tidak bisa di naikkan lagi itu.

“Kok bengong?” bingung Ryu.

Dhea terkesiap. Matanya langsung tertuju ke wajah Ryu yang masih menatapnya dengan raut keheranan.

“Yuu gue maluu.” rengek Dhea tiba-tiba.

“Malu kenapa?”

“Malu aja.”

“Jangan gaje deh.”

“Yu gue udah ngga ada harga diri di depan crush gue.”

C-crush?” kernyit Ryu dengan masih menahan kaca helmnya agar tidak turun.

Crush tuh apaan?” ulangnya lagi.

Dhea menghela nafas kasar mendengar pertanyaan Ryu. Zaman begini Ryu masih tidak tahu apa arti crush?

Yang benar saja.

“Udah ah lupain, balik sekolah lagi aja kita.” akhir Dhea yang terlalu malas untuk menjelaskan duduk perkaranya kepada Ryu.

Dhea dan Ryu akhirnya kembali ke sekolah dengan membawa beberapa belanjaan makanan ringan dari minimarket. Setibanya mereka di ruang OSIS, Ecan dengan mata berbinarnya langsung menyambut bahagia kehadiran dua teman perempuannya itu.

“Tau aja gue lagi laper.” ujarnya senang.

“Siapa bilang ini buat lo? Orang mau makan sendiri.” protes Ryu.

“Yu, bagi dikit doang.” rengek Ecan.

“Ga mau, dikit lo itu ngabisin.”

“Jahat.” cebik Ecan sok manja.

“Bertingkah lagi lo beneran gue tabok pake raket nyamuk.”

Keributan antara Ecan dan Ryu memang sering terjadi seperti ini. Saking seringnya mereka bertengkar, seluruh anggota OSIS pun sudah paham sekali kelakuan mereka, dan memakluminya. Termasuk si ketua OSIS, Dihan.

“Dihan, ada kiriman nih. Ngga tahu dari siapa” ujar sebuah suara dari balik pintu. Dihan lekas menoleh sesaat melihat Mina sudah membawa sebuket bunga untuk Dihan.

“Dari siapa?” tanya Dihan heran. Ia mengambil buket bunga matahari yang di bawa oleh Mina dan melihat-lihat bunga itu sebentar, mungkin saja ada identitas pengirim yang tertera disana.

“Ngga tahu. Tadi gue abis dari pos satpam mau ambil titipan mama gue. Terus kata pak satpam ada ojol nganterin paket bunga ini. Katanya untuk Dihan.” jelas Mina.

Dihan semakin mengerutkan keningnya heran dan begitu penasaran dengan paket bunga yang ia terima. Sedangkan Ecan yang juga ikut penasaran dengan kiriman bunga itu turut mendekat ke arah Dihan.

“Dari secret admirer lagi?” tanya Ecan.

Dihan mengedikkan bahu acuh. “Mungkin ya.”

“Wah, niat banget dia ngasih lo bunga ginian. Matahari lagi.”

“Niat lah. Ini kan hari valentine.” sahut Mina.

“Oh iya. Lupa. Ciee dapet gift valentine dari someone special nih.” goda Ecan sambil menyenggol lengan Dihan pelan. “Dari siapa sih?”

“Ngga tahu. Saya cari-cari ngga ada nama pengirimnya.”

“Atau dari orang yang sama dengan pengirim surat kemarin?” tebak Ecan.

Dhea yang mendengar tebakan Ecan langsung melototkan matanya. Sungguh, kali ini bukan dirinya yang mengirim bunga itu. Ia tidak mungkin sebermodal itu memberi Dihan buket bunga. Apalagi segede gaban seperti itu.

Dihan tampak acuh saja. Ia meletakkan saja buket itu di atas meja, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

Hingga hari sudah menjelang sore, satu-persatu dari mereka sudah perlahan berpulangan. Tersisa beberapa orang saja dan di antaranya ada Dihan juga Dhea disana.

“Dey ngga pulang?” tanya Dihan.

“Ini mau pulang.” jawab Dhea sambil merogoh tasnya mencari-cari kunci motor.

“Bareng aja ke parkirannya. Saya beres-beres bentar. Tunggu ya.”

Dhea pun mengangguk saja. Tidak lama juga Dihan beres-beres. Setelah cukup, Dihan pun menyampirkan tas punggungnya dan tidak lupa—buket bunga yang katanya dari secret admirer itu di bawa juga.

Ngomong-ngomong tentang bunga, Dhea jadi penasaran. Siapa sih orang yang berani secara terang-terangan memberi bunga seperti itu? Nyalinya besar sekali. Untung saja Dihan tipe orang menghargai dan tidak mudah ilfeel. Jadi si pengirim itu tidak perlu merasa kecewa kalau Dihan menolak pemberiannya.

Mereka berjalan beriringan di koridor sekolah yang sudah perlahan sepi. Perasaan canggung mulai menyelimuti kebersamaan mereka. Apalagi setiap Dhea melihat bunga yang di bawa Dihan, rasanya aneh saja. Ada perempuan lain ternyata yang lebih berjuang daripada dirinya. Sedangkan Dhea? Tidak berbuat banyak. Bermodal cokelat sebatang saja dramanya sungguh luar biasa.

“Seneng ya dapet bunga dari orang spesial?” singgung Dhea di tengah keheningan perjalanan mereka. Dihan pun menoleh ke arah Dhea yang berada beberapa jarak darinya, melirik sebentar ke arah bunga yang berada di tangan kanannya sekarang diiring senyum tipis.

“Cantik, bunganya.” balas Dihan.

Dhea semakin di buat jengkel ketika mendengar Dihan memuji bunga itu. Di dalam hatinya ada perasaan cemburu sewaktu Dihan memuji hal pemberian dari orang lain.

Percakapan berhenti sampai disitu saja. Dhea terlalu enggan untuk melanjutkan basa-basi dan pada akhirnya dapat membuat ia sendiri sakit hati. Setibanya di parkiran, ternyata Dhea baru sadar jika letak motor Dihan dan motornya tidak berjauhan. Hanya tercipta beberapa jengkal saja.

“Dey.” panggil Dihan sewaktu mereka tiba di lahan parkir. Dhea menoleh sewaktu Dihan memanggilnya dengan panggilan buatannya sendiri—ah, tidak. Itu memang panggilan rumah Dhea sebetulnya.

“Apa?” balas Dhea, agak ketus.

“Saya seneng dapet bunga dari orang spesial.” ucapnya penuh teka-teki.

Dhea memutar bola matanya sejenak ke atas. Memikirkan maksud dari ucapan tiba-tiba Dihan sekarang. Namun sebelum Dhea tuntas untuk menyelesaikan susunan puzzle di otaknya, Dihan kembali berujar.

“Tapi saya lebih suka ngasih bunga ke orang spesial. Bagi saya kamu orangnya, ya udah ini untuk kamu.”

Tunggu, maksudnya apa ini? Dhea masih tidak paham mengapa Dihan berucap seperti itu. Ia juga tidak paham maksud Dihan menyodorkan bunga matahari itu kepadanya sekarang.

“Mau ngga jadi orang spesial saya?”