Janji, Ini Yang Terakhir

Mataku terbuka secara paksa setelah aku mendengar suara ketukan beruntun terdengar membentur pintu kamar. Aku menggeliat sebentar untuk mengumpulkan nyawa. Hingga selanjutnya ku lirik pintu kamarku yang sejak tadi bergetar karena di ketuk begitu kuat. Aku mendengkus, darahku mendadak memanas akibat ulah si pengusik tidur siangku yang damai. Siapapun orang itu—betapa laknatnya dia telah menganggu waktu istirahatku yang tentram.

Aku beringsut dari atas kasur dengan hati yang begitu geram bergelora. Ku langkahkan kakiku menghentak-hentak—bersiap menyembur seseorang yang berani menganggu waktuku tidur siang.

“Halo, Rendra,” sapa seseorang yang muncul di balik daun pintu setelah aku membukanya. Aku berdecak sewaktu mengetahui pelaku yang mengetuk pintu kamarku baru saja adalah remaja tanggung berumur 13 tahun bernama Herlan. Dia salah satu sahabat dekatku. Bukan hanya dekat karena kita sering berjumpa setiap saat. Definisi dekat disini ya memang benarbenar dekat alias—rumah kami bersebelahan.

“Mau apa lo?!” ketusku tidak suka.

“Woles, Ren,” balasnya sembari mengangkat telapak tangan kirinya di hadapanku menyuruh agar aku tetap tenang dan tidak marah-marah. “Gue disini cuma mau ngajak lo.”

“Ngajak kemana?”

Herlan tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat sebelah tangan yang sejak tadi tergantung di sisi kanan dan menampakkan seonggok kantong plastik berwarna putih.

“Bakar ayam entar malem,” balasnya mengiring seringai.

Aku menatap dirinya dengan sebelah alis terangkat. Berbeda dengan kebahagiaan Herlan, ekspresiku justru berbanding terbalik membalas keantusiasan anak laki-laki itu. Aku terlihat sedikit malas. Ya, aku memang sedang malas untuk melakukan acara dadakan seperti bakar-bakaran yang di usul Herlan. Lagi pula, dalam rangka apa Herlan tiba-tiba ingin mengajakku untuk bakar-bakaran? Tidak ada acara penting yang berkesan. Bukan acara tahun baru atau ada pesta rakyat di desa. Hari ini benar-benar hari biasa, bukan hari istimewa.

“Apasih lo ah gaje banget minta beginian,” tolakku mentah.

“Ren, ayolah please ...,” rengek Herlan yang sudah menggelayutkan tangannya di lenganku. Jujur, terkadang aku risih dengan kelakuan Herlan yang seperti ini. Sok-sokan manja hingga terkadang membuatku bergidik.

“Ren, kali ini aja deh ...,” mohonnya masih. Ia bahkan terlihat menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya di hadapanku.

Aku masih diam seribu bahasa. Berusaha mengabaikan permintaannya dan kembali menutup pintu kamar tanda mengusirnya. Namun sebelum pintu itu benar-benar tertutup, Herlan ternyata lebih cekatan untuk menahan pintu tersebut menggunakan kakinya mengakibatkan aku dan Herlan jadi saling dorong-dorongan pintu.

“Minggir woii!!!” protesku masih berusaha mendorong pintu.

“Ren ... Kali ini aja deh. Besok-besok gue ngga maksa lo lagi, janji.”

“Engga! Janji lo tuh palsu. Gue ngga akan pernah percaya.”

“Nah, kali ini lo harus percaya sama gue.”

“Ogah!”

“Ayolah, Ren. Lo sahabat gue 'kan? Malik aja mau gue ajakin. Masa lo engga?”

Meski aku sudah menolak bulat-bulat permintaan dia. Tapi tetap saja Herlan bersikeras memaksaku untuk mengikuti acaranya.

Akhirnya aku menyerah dan menghentikan aksi dorong-dorongan pintu bersama Herlan dan membukanya kembali secara sempurna. Aku berdeham singkat, tanpa mengeluarkan sepatah kata aku memperhatikan wajah Herlan seraya bersedekap. Ku perhatikan lekat-lekat tampangnya yang menampakkan binar penuh harap. Sungguh, wajahnya terlihat begitu lawak, membuatku ingin tergelak.

“Okey,” setujuku singkat. “Tapi lo janji ya. Setelah ini gue ngga mau lo maksa gue lagi ngikut acara ngga jelas kayak gini. Ini terakhir kali,” tegasku.

“Tenaanngg ... Gue janji ini terakhir kalinya.”

Kesepakatan berakhir dengan mufakat. Kali ini aku membiarkan Herlan untuk memenuhi keinginannya.


Aku bersama Herlan berakhir di depan rumah berpagar cat warna hijau terang. Sedari tadi kami berdua tiada hentinya meneriakkan nama Malik lantang-lantang. Namun ternyata si tuan rumah tidak kunjung keluar. Aku perlahan mulai jengah dan bosan. Aku beberapa kali menyarankan Herlan untuk meninggalkan saja Malik atau mengurungkan niat untuk mengundangnya. Namun sama perihalnya seperti yang laki-laki itu lakukan di rumahku tadi. Herlan tetap nekat mengajak Malik. Hingga panggilan yang mungkin sudah kesepuluh kali terlontar, akhirnya sang penghuni rumah muncul juga dari dalam.

“Lo ngapain anjing daritadi di teriakin ngga nongol-nongol!” emosiku langsung mengumpat.

Malik ini sahabatku juga. Berbeda halnya dengan Herlan si tetangga bersebelahan rumah, kalau Malik ini rumahnya cukup berjarak dari rumahku. Kita tinggal di RT yang tidak sama. Kalau aku dan Herlan itu tinggal di RT 004 sedangkan Malik tinggal di RT 005.

“Hehe, sorry ya. Tadi lagi di kamar mandi. Ngga kedengeran,” terang Malik dengan tak berdosanya. Tidak tahu apa kalau dua temannya ini berkoar-koar nyaris kehilangan suara akibat meneriakkan namanya.

“Ya udah. Cepetan sono lo siap-siap. Lima menit ngga keluar lo kita tinggalin!” ancamku pada Malik.

Laki-laki itu masuk lagi ke dalam rumah. Mengambil seluruh kebutuhan hingga dia kembali keluar sambil menyampirkan sarung kotak-kotak yang menyelempang di bahunya.

“Ngapain bawa sarung? Lo mau nge-ronda?!” tanyaku sewot.

“Nyamuk, Ren. Dingin juga ini udah malem. Brrr ...,” gidik Malik. Aku yang menyaksikan tingkah aneh sahaabatku satu ini hanya menggelengkan kepala pelan. Lalu mengabaikan saja tingkahnya.

“Yuk. Kita ambil arang sama bata di rumah pakde,” ajak Herlan setelah kami bertiga siap.

Kami mengayunkan tapak menuju rumah pakdenya Herlan berada. Tidak terlalu jauh dari rumah Malik. Mungkin hanya berjarak 30 meter. Ada kira-kira sekitar 5 menit menempuh perjalanan hingga kami tiba di rumah bertudung genting merah dimana tempat itu juga banyak batu-bata berjajar. Wajar saja, itu memang profesi pakde Herlan yang seorang pengrajin batu-bata.

“Assalamualaikum pakde,” teriak kami bertiga serempak. Hingga tidak lama berselang sang pakde benar keluar bersama secangkir kopi di tangan serta setelan kaus singlet putih dan sarung panjang melilit di pinggang.

“Waalaikumussalam. Oh, Herlan ya? Ambil aja, Lan, batu-batanya di samping. Kayu sama arang juga udah pakde siapin disana. Tinggal angkut aja.”

Herlan mengacung jempol saja mengiakan sahutan pakdenya. Kemudian anak laki-laki itu beranjak menuju samping rumah pakde dimana batu-bata dan segala perlengkapan bakarbakaran mereka berada.

“Ngomong-ngomong nih, Lan. Kita emang mau bakaran dimana sih?” tanya Malik di sela aktivitasnya mengambil batu-bata.

Herlan menolehkan kepalanya. Bibirnya memanyun, kemudian lanjut mengedarkan pandangan ke sekitar.

“Kalau disini rame banget yak? Takut orang-orang keganggu sama asap ciptaan kita,” opini Herlan. “Lo ada saran ngga, Ren? Kalau bisa cari tempat yang agak sepian dikit.”

Aku mulai berpikir. Sedikit memakan waktu hingga aku menjetikkan jemariku karena mengingat suatu tempat.

“Gimana kalau kita ke rumah Pak Suroto yang di ujung?” usulku.

“Yang rumah banyak pohon-pohon itu?” balas Malik.

“Iyaaa ... Disana kan sepi? Nyudut lagi. Lagian rumahnya kan masih tahap di bangun juga. Ngga ada orang yang keganggu pasti sama asap kita.”

“Bener juga ya,” setuju Herlan. “Gas kita kesana?”

“Yuk, kita kesana,” setuju Malik. Dan kami bertiga akhirnya memutuskan untuk pergi menuju rumah Pak Suroto yang jauh dari lingkungan ramai.


Memang benar yang di katakan Malik tentang udara yang terasa sedikit dingin malam ini. Mendadak aku menyesal tidak mengikuti Malik yang membawa sarung untuk menghalau udara menusuk kini. Karena aku pikir, kita akan bermain dengan api dimana tentu ada aliran hangat darisana. Tapi permasalahannya justru sebelum api menyala aku sudah kedinginan duluan.

“Ck, kenapa ngga hidup-hidup sih!” aku yang mudah emosian ini sudah merasa kesal karena sejak tadi api yang kami buat tidak kunjung menyala. Hanya berkobar sebentar, lalu mati lagi.

“Kipasin terus, Ren. Kenceng-kenceng biar baranya nyala,” saran Malik.

Kami bertiga sudah berupaya kuat mengipas api tersebut agar berkobar kuat. Namun hasilnya nihil, api tetap berakhir padam.

“Gimana ya caranya supaya cepet hidup?” pikir Herlan. Kami bertiga mulai memikirkan cara.

Hingga akhirnya Herlan menegakkan badan dengan raut begitu senang.

“Pake bensin aja gimana?” sarannya.

Aku membelalak. Itu teralu beresiko. Bensin itu bahan bakar yang kuat. Mendengar saran dari Herlan, aku cepat-cepat menggelengkan kepala.

“Ngga usah! Bahaya.”

“Yeuu santai aja kali. Kan makenya dikit doang,” balas Herlan enteng.

“Ih beneran deh, Lan, yang di bilang Rendra. Gimana kalau nyamber apinya?” kali ini Malik yang menyahut.

“Ck, kalian penakut banget sih ...,” decaknya. “Ya udah kalau kalian ngga berani biar gue aja nanti yang nyiram. Tunggu bentar, gue pulang dulu ambil bensin bapak.”

Aku dan Malik saling tatap saja. Percuma melarang seorang Herlan. Dia pasti tidak mau mendengarkan. Akhirnya kami berdua membiarkan saja Herlan bertindak sesukanya. Lagi pula dia yang bersedia.

Mungkin sepuluh menit lamanya Herlan pulang ke rumah, hingga dia kembali lagi dengan bensin yang sudah di masukkan botol berisi air mineral. Aku melihat tetesan-tetesan kecil dari pantat botol mengenai sedikit tangan Herlan. Awalnya aku hendak membuka suara, namun kalimatku tertahan ketika Herlan sendiri memerintahkan Malik untuk menghidupkan koreknya.

“Bakar daun kering, Lik. Nanti lempar ke baranya sambil gue siram sama bensin.”

Malik bergerak sesuai perintah. Api mulai membakar dedaunan kering di atas arang.

“Minggir ya jangan deket-deket,” perintah Herlan.

Jujur, perasaanku mulai tidak enak. Entah mengapa kekhawatiran mulai menyelimuti benakku setelah Herlan menyuruhku dan Malik untuk menyingkir dari jangkauan. Hingga sedikit demi sedikit Herlan menumpahkan bensin itu ke arah api dan membuat api itu menjilat-jilat.

“Tuh, hebat kan gue?” bangga Herlan.

Dalam hati aku merasa lega. Tidak terjadi apa-apa rupanya. Hal tadi sekedar pikiran buruk belaka.

Mungkin begitu yang semestinya di harapkan ... Namun sepertinya pikiran burukku tadi berujung kenyataan.

DOR!

Kami bertiga terlonjak mendengar bunyi letusan dahsyat dari perapian. Tidak terkecuali juga Herlan yang langsung terperanjat mengakibatkan bensin yang masih berada di tangannya tertumpah ke arah dadanya. Mataku membelalak, bukan karena bensin itu sekedar tumpah ke arah Herlan. Namun juga api besar itu ikut menyulut tubuh Herlan dan menyambar tangan serta dada Herlan ganas. Api itu dengan begitu cepat melahap seluruh tubuh Herlan dalam kungkungan kobarannya.

“AAAAA PANAS!!! PANAS!!!” teriak Herlan pilu. Aku dan Malik panik setengah mati. Kami tidak tahu harus berlaku apa. Otak kami seperti tidak bisa bekerja secara semestinya melihat Herlan yang terbakar.

“RENDRA! MALIK! TOLONGIN GUEEEE ... PANAS!!!”

Aku semakin kalang kabut di buatnya. Disini tempat sepi. Tidak ada air yang bisa memadamkan api di tubuh Herlan. Kami berdua kelabakan terlebih mendengar raungan Herlan semakin memilukan.

“TOLONG GUE RENDRA!!! MALIK!!!”

“Malik lo coba lari ke perkampungan minta pertolongan. Gue disini berusaha madamin apinya. Sarung lo siniin!” perintahku semakin panik.

Malik cepat-cepat menyerahkan sarungnya. Kemudian Malik berlari untuk mencari bala bantuan. Sedangkan aku yang sudah menggulung sarung kuat-kuat siap menyebat kain itu berusaha memadamkan api yang menyala.

“PANAS RENDRAAA!!!”

Air mataku tidak kuasa berjatuhan mendengar teriakan Herlan. Namun aku harus tetap kuat. Aku tidak boleh lemah. Aku harus bisa menyelamatkan Herlan.

“Herlan, tenang aja gue bakal nolongin lo,” ujarku seraya terus menyebat tubuh Herlan yang sudah terbaring tidak berdaya di tanah.

Tanganku semakin gemetar. Kobaran api itu tidak kunjung menghilang dan semakin membesar saja. Sedangkan suara Herlan perlahan-lahan tidak terdengar. Jantungku semakin di buat kacau. Tapi aku tetap berusaha sekuat tenaga untuk menolongnya.

“Rendra ...,” panggil Herlan melemah. Aku semakin kuat terisak mendengar panggilannya. Hingga detik berikutnya Herlan mengucapkan sebuah kalimat yang membuat hatiku tersayatsayat.

“Gue, ngga kuat ....”


Tepat pukul 01.00 dini hari Herlan tutup usia. Di umurnya yang masih terlalu muda untuk meninggalkan dunia. Isak tangis pecah memenuhi koridor rumah sakit yang bersumber dari ibu Herlan. Begitu juga denganku yang kehilangan daya.

Setelah mengalami masa kritis selama 4 jam, akhirnya Herlan memilih untuk melepaskan semua rasa sakitnya dan pergi meninggalkan kami semua. Kejadian yang begitu cepat merangkak membuat diriku tidak percaya. Masih tercetak jelas bayangan Herlan tadi siang memintaku ikut bakar-bakaran, wajahnya yang tersenyum riang sewaktu kami menyusun batu-bata perapian, ekspresinya yang bahagia sewaktu kami menusuk-nusuk ayam untuk di bakar. Semuanya sirna dalam sekejap. Api yang melalap tubuh Herlan merenggut semuanya. Nyawa Herlan, sekaligus kebahagiaan kami bertiga.

Aku menoleh sebentar ke arah Malik. Ku lihat Malik tersedu dan meringkuk di bahu ibunya. Aku tahu ini berat pasti baginya. Terlebih aku yang benar-benar menyaksikan saat-saat terakhir Herlan mengucap kata perpisahan.

Herlan, sahabatku itu mungkin nakal. Dia pemaksa, dia keras kepala. Dia semaunya sendiri. Tapi satu hal yang bisa ku petik darinya. Dia tulus, dia pengertian, dia selalu memancarkan aura ceria. Meskipun kadang sikapnya tengil dan menyebalkan. Namun dia tidak merasa tersinggung setiap kali aku marah. Dia selalu bisa mengontrol dan menetralkan suasana menegangkan menjadi santai.

Aku mungkin selalu menolak ajakan dia. Aku selalu menentang apapun yang di katakannya. Namun semata-mata itu hanya terucap dari bibirku saja. Aku tidak pernah sekalipun membencinya. Aku dan Herlan sudah sejak lahir bersama. Kita lahir di bidan yang sama meskipun aku lahir tiga bulan lebih dulu darinya. Aku yang selalu mendengar suara raung Herlan sewaktu ibunya mengomel karena Herlan tidak mau makan, aku yang mendengar tawanya ketika dia bercerita tentang perempuan yang disukainya di sekolah. Semua runtut peristiwa itu masih hangat terlintas di dalam kepala. Kenangan-kenangan bersama Herlan, semuanya masih terasa begitu anyar.

Namun kini sahabatku itu sudah pergi. Dia tidak lagi disini bersamaku lagi. Dia sudah berada di alam lain yang tidak bisa aku temui. Rasanya sakit, iya sakit sekali. Kehilangan sosok yang selama ini menemani hari-hari.

Setelah sekian lama air mataku tertahan, akhirnya bulir itu jatuh juga. Aku menangis dalam diam. Bukan karena aku tidak sedih kehilangan dia, bahkan justru aku sangat menyesalinya membuat diriku susah untuk menjatuhkan air mata.

Pundakku bergetar hebat. Napasku menyesak dan aku sulit meraup udara untuk masuk ke rongga dada. Aku sesenggukan yang langsung di tenangkan oleh ayahku yang tadinya duduk di sebelah.

“Ren ...,”

“Ayah, aku lihat dia di depan mata. Aku lihat ... Herlan terbakar. Tapi aku ngga bisa berbuat apa-apa. Aku beneran ngga berguna .... “

Itu penyesalan terbesar dalam hidupku. Aku tidak tahu apakah diriku sanggup melalui hari-hari di masa depan setelah kejadian Herlan yang cukup membekas di ingatanku sampai akhir hayat.


Tujuh hari, semenjak kepergian Herlan. Aku menutup buku Yasin dan mendongakkan kepalaku menebar pandangan. Aku tidak menjumpai Malik malam ini. Dia tidak ikut tahlilan.

Kata ibunya, Malik demam lagi.

Ya, sepertinya Malik masih trauma berat pasca kejadian Herlan. Aku mengerti. Malik juga bukan tipe orang yang kuat mental. Dia jelas sangat terpuruk sekarang.

Aku berdiri setelah orang-orang membagikan nasi kotak setelah acara pengajian. Aku menolong sebentar bapak-bapak yang sedang membagikan nasi, setelah semuanya selesai aku menemui ibuku untuk pamit. Maksudku ingin menjenguk Malik.

“Bu, aku ke rumah Malik bentar ya. Dia sakit lagi,” pamitku sembari mencium tangan ibu.

“Oh iya gapapa. Kamu kalau mau nginep temenin Malik juga. Kasian dia. Ibu juga titip nasi kotak ya sama Malik,” serah ibu pada sekotak nasi. Aku menerimanya, kemudian berbalik meninggalkan ibu menuju rumah Malik berada.

Disini aku berakhir, di kamar Malik yang bernuansa hijau. Aku duduk memperhatikan Malik yang sejak tadi tertidur pulas. Ibunya bilang Malik memang habis minum obat.

Mataku menjelajah mengitari kamar Malik. Tempat ini termasuk basecamp kami bertiga. Karena Malik punya Play Station 4 di rumahnya. Sepanjang hari biasanya kami menghabiskan waktu bersama. Aku menyunggingkan senyum gundah. Terbayang di ingatan kelakuan Herlan dan Malik yang suka berebutan stik atau sekedar makanan ringan. Lagi-lagi aku menangis di buatnya. Jujur, aku merindukan Herlan.

Air mataku mengalir deras di dalam keheningan kamar Malik. Aku masih di rundung perasaan bersalah. Segala peristiwa yang terjadi satu minggu lalu membuatku kembali merutuk diri. Segala sesal yang tidak terucap. Tentang aku yang seharusnya tetap menahan Herlan untuk mengambil bensin, tentang aku yang seharusnya bisa memadamkan api di tubuhnya. Semuanya membuat hari-hariku berantakan. Aku bahkan tidak bisa tidur karena terus kepikiran.

Tiba-tiba saja aku merasa Malik mengenggam tanganku. Aku menoleh ketika Malik ternyata sudah duduk sambil memejamkan matanya ke arahku.

“Lo mau minum, Lik?” tanyaku.

Malik tidak menjawab. Hening sekali rasanya. Aku seperti merasa dunia ini tidak berjalan. Sedenting pun suara seperti sama sekali tidak terdengar. Hingga aku merasakan Malik menarikku ke dalam pelukan.

Aku terheran-heran. Malik tidak biasanya seperti ini. Apalagi dia memelukku sembari mengusap punggungku pelan dan hati-hati.

“Rendra ...,”

Aku merinding. Suara Malik terdengar berat. Aku tahu dia memang memiliki suara bass.

Tapi sepertinya kali ini berbeda. Aku seperti mendengar suara lain dari dalam dirinya.

“Makasih ya, udah berusaha nolongin gue malam itu ....”

Jantungku berdetak tidak karuan. Apakah ini ...

“Herlan ...,” panggilku lirih.

“Maaf karena gue ngga bisa bertahan untuk tetap di sisi kalian.”

Tubuhku meremang. Yang ada di dalam tubuh Malik ini adalah Herlan. Dia benar-benar Herlan.

“Lan, kenapa lo pergi ....”

“Itu udah waktu gue, Ren.”

Hening sesaat di antara kami. Aku tidak sanggup lagi bersuara detik ini. “Dan itu juga bukan salah lo. Bukan salah lo yang ngga bisa nyelamatin gue.” Jantungku rasanya jatuh ke perut mendengar penuturan Herlan.

“Jadi lo ngga usah nyalahin diri sendiri. Jangan sedih karena gue lagi ...,”

Kalimat Herlan menggantung. Tapi aku terus-terusan setia mendengar lanjutannya.

“Gue jadi berat buat pergi, Ren ....”

Lagi, pertahananku runtuh. Aku tidak kuat lagi menahannya. Air itu dengan cepat jatuh melintas membasahi wajahku sekarang.

“Jadi gue minta, ikhlasin gue ya. Karena pertolongan lo yang gue butuhin sekarang sewaktu lo bisa ikhlas.”

Aku semakin tersedu mendengar penuturan Herlan.

“Kita selamanya bakal jadi sahabat, Ren. Meski dunia kita berbeda selamanya lo tetap sahabat gue. Sampai jumpa di lain waktu. Maaf kalau gue banyak salah sama lo. Jadi lo bisa kan, Ren, bantu untuk memenuhi permintaan gue terakhir kali?”

Napasku tertahan. Aku menggigit bibir bawahku hingga aku lirihkan sebuah bisik di samping telinga Malik.

“Iya, Lan. Gue ikhlas. Selamat jalan, sampai jumpa disana ya.”

Setelah aku berucap seperti itu, tubuh Malik melemah. Dengkur lembut di pundakku menandakan Malik benar-benar terlelap. Juga, Herlan yang sudah terbang bersama malaikatnya.

END

©sekarangdanesok, 2021.