Kejadian di Kantin
Satu minggu berlalu sejak kejadian di hari ulang tahun Sekar, selama itu juga hubungan antara kakak mesin dan adik MIPA merenggang. Tidak ada lagi kalimat sapa yang di kirim oleh Yudha setiap petang datang, atau sekedar ucapan selamat pagi yang menjadi notifikasi pembuka hari Sekar. Semuanya mendadak sunyi. Keadaan hambar seperti sedia kala setelah Yudha benar-benar tidak memedulikan Sekar lagi.
Meski nyatanya ia tahu bahwa yang di lakukannya merupakan hal sia-sia, namun Sekar tetap bersikeras. Ia terus bertandang ke kantin mesin walau dirinya tahu jika Yudha tidak akan menemuinya. Tapi pikir Sekar, ini adalah sebuah bentuk usaha yang ia lakukan. Ia masih menaruh sebenih asa jika kehadirannya dapat memperbaiki semua salah yang telah ia perbuat.
Untuk kesekian kali Sekar berada disini. Duduk sendiri seraya menunggu ketoprak pesanan hadir, gadis itu mulai memainkan jemari kecil di atas layar ponsel untuk sekedar menghibur diri. Hingga tidak berselang lama, ia merasakan hawa keberadaan seseorang menempati duduk tepat di sebelahnya. Membuat perhatian Sekar teralihkan pada sosok laki-laki yang kini sedang menyodorkan sepiring ketoprak ke arahnya.
Darah Sekar berdesir hebat sewaktu menyadari seseorang yang berada di sebelah kanannya. Dia—orang yang beberapa waktu belakangan Sekar lupakan segala kenangan tentangnya. Ya, dia Tian mantan Sekar. Mantan yang entah bisa dikatakan terindah atau bukan, Sekar sendiri tidak terlalu paham.
“Kenapa lo disini?” tanya Sekar.
“Harusnya gue yang nanya lo kenapa ada disini,” balasnya cepat. “Ini kantin mesin. Bukannya tempat ini cukup jauh ya dari gedung FMIPA?”
Hening sesaat. Sekar merasa sungkan untuk menjawab pertanyaan mantannya itu.
“Kenapa diem aja?” tanyanya lagi sedikit mendesak.
“Mau ini kantin mesin atau bukan, ngga ada urusannya sama lo!” jawab Sekar bernada ketus.
“Gue ngira lo lagi nunggu seseorang disini.”
Sekar kembali diam mendengar tebakan tepat sasaran dari sang mantan. Ia buru-buru mengalihkan pandangan menuju piring ketoprak, berusaha mengusir pemikiran yang seketika berwara-wiri di dalam otak.
Melihat kebisuan Sekar, sel-sel di dalam otak Tian mulai bekerja. Wajahnya terlihat berkerut menandakan bahwa lelaki itu sedang memikirkan asumsi-asumsi lain untuk menjadi bahan ledekannya terhadap Sekar. Hingga beberapa saat kemudian ia menemukan hal itu dan langsung menjetikkan jarinya sesaat dirinya mendapat petunjuk dari praduga yang terlintas.
“Ohh atau jangan-jangan pasangan viral yang sempat heboh di base kampus itu elo ya? Kakak mesin dan adik MIPA itu... Elo bukan?”
Sekar masih menulikan pendengaran dengan celotehan laki-laki bermulut lemas di sebelahnya. Saat ini ia hanya ingin berdamai, tidak ingin memperpanjang masalah dengan pelaku kisah lampau yang menyakitkan.
Tian tergelak mengejek membayangkan jika dugaan tersebut adalah benar. Masih dengan wajah begitu menyebalkan, Tian menatap Sekar sambil bersedekap tangan. Memandang remeh gadis yang saat ini masih bungkam tak membalas.
“Wajar sih. Lo di kasih cokelat aja langsung jatuh cinta sama gue. Dan sekarang lo bahkan bisa langsung jatuh hati sama orang yang ngajak kenalan di base. Haha, ternyata lo masih sama ya. Masih aja jadi cewek gampangan.”
Sekar meremat sendoknya kuat-kuat menahan amarah yang siap meledak. Kali ini kalimat Tian benar-benar keterlaluan. Ingin rasanya Sekar menusuk dan mencabik wajah Tian menggunakan garpu yang berada di atas piringnya—namun pikiran psikopat itu mendadak sirna tatkala ia mengetahui bahwa bahu Tian sudah di tarik paksa oleh seseorang dari arah belakang.
“Jaga omongan lo brengsek!” hardik Yudha yang kini sudah melayangkan keras sebuah pukulan di wajah Tian hingga laki-laki itu terkapar kehilangan daya di lantai.
-sekar-