Ternyata Masih Peduli
“Kak Yudha stop!” tahan Sekar sewaktu Yudha hampir melayangkan lagi kepalan tangannya pada Tian. Untung saja, Yudha tidak khilaf. Ia masih bisa mengontrol emosi dan mengurungkan niat untuk menghajar Tian.
“Sekali lagi lu berulah, urusan kita bakalan panjang setelah ini,” ancam Yudha menunjuk lurus wajah Tian yang meringis kesakitan. Kemudian ia menolehkan kepala mengarah pada Sekar dan buru-buru menarik pergelangan gadis itu untuk keluar dari kerumunan khalayak.
Yudha menyeret Sekar membuat langkah gadis tersebut terseok-seok. Sedangkan Yudha, lelaki itu tidak hentinya mengucap sumpah-serapah dengan wajah mengerut tidak terima atas perlaku Tian terhadap Sekar.
“Laki apa banci sih tuh orang. Pengen gua cabik tuh mulutnya,” oceh Yudha sepanjang jalan. Hingga mereka berdua berhenti di sudut kampus yang lumayan sepi. Tepat di bawah pohon cukup rindang, Yudha membalikkan badannya menuju Sekar yang sedarinya menunduk saja.
“Dek,” panggil Yudha.
Tidak ada sahutan. Yudha heran melihat Sekar tak kunjung mendongakkan kepala. Hingga beberapa detik kemudian, Yudha melihat bulir-bulir berjatuhan dari kelopak mata sang gadis menandakan jika Sekar saat ini menangis.
“Adek ngapain nangisin orang kayak begitu? Ngga guna. Mubazir tau ngga!” emosi Yudha meluap-luap.
Sekar semakin mengeraskan senggukannya. Hal itu membuat Yudha semakin was-was dan panik.
“Dek Sekar ...,”
“Aku bukan nangis gara-gara Tian, Kak ....”
Sekar menarik udara pelan-pelan guna memenuhi rongga dada yang terasa sesak. Berusaha mengatur perasaan emosional dan senggukan yang sedang menyergapnya.
“Aku nangis ... karena ternyata ... kakak masih ... peduli sama aku ....”
Yudha terdiam mendengar penuturan Sekar di sela-sela isakannya.
“Aku ... senang waktu tahu ... kalau kakak ternyata ngga marah ... sama aku ....”
Jantung Yudha terasa mencelos mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir Sekar. Mendadak dirinya sangat tertampar dan perasaan bersalah menyelimuti sebab telah mendiamkan Sekar beberapa hari belakangan.
“Ma-ka-sih kak ...,” akhir Sekar diiringi luruhan air mata yang semakin deras.
Jujur, Yudha sangat benci suasana ini. Yudha sangat benci melihat perempuan menangis. Hatinya begitu hancur melihat Sekar bersedih. Yudha bodoh, bisa-bisanya ia menyakiti perasaan seorang gadis yang ia sukai.
“Udah, udah cukup. Jangan nangis lagi,” usap Yudha pada kedua pipi Sekar. “Kakak ngga marah lagi sama Sekar. Jadi udahan ya nangisnya,” bujuk Yudha.
Sekar mulai merasakan jemari-jemari itu sudah menyapu lembut di wajahnya. Hingga tangan itu perlahan mengangkat kepalanya—menuntun untuk beradu tatap pada dua netra milik Yudha yang sudah memandang lembut pada Sekar.
“Adik MIPA berhenti dong nangisnya. Kakak mesin jadi ikutan sedih lihat adik MIPA nangis.”
-sekar-