Berkunjung
Yudha mematikan mesin motornya sesaat setelah lelaki itu tiba di sebuah bangunan berdinding cat warna kuning pucat. Setelah melepaskan helm dan mengaitkannya di salah satu spion, Yudha menarik napasnya lebih dulu. Bersiap-siap untuk menyiapkan segala mental sebelum benar-benar bertemu dengan adik MIPA.
Yudha melangkahkan kakinya menuju pintu pagar hitam tinggi itu, mengintip sebentar bedeng kost yang tergolong sepi. Di lihatnya juga, gembok pagar seukuran telapak tangan orang dewasa teruntai jelas di selot pagar tersebut. Melihat itu, Yudha pun bergegas merogoh sakunya lalu menempelkan benda itu di sebelah telinga yang sudah menyambungkan panggilan kepada si adik MIPA.
“Halo dek, pagernya di gembok ya?” tanya Yudha.
“Ohh iya kak. Kak Yudha udah di depan sekarang? Bentar, bentar aku kesana.”
Sambungan terputus detik itu juga. Tidak butuh waktu lama bagi Yudha untuk menemukan sosok gadis berambut ikal mayang yang keluar dari salah satu bilik kost. Sembari membawa sebuah piring dan beberapa lembar kertas koran di tangan, Sekar mendekat.
“Nih kak,” beri Sekar pada lembar-lembar kertas koran di tangannya. Melihat tingkah Sekar yang masih belum merasuk di logika, Yudha menerimanya dengan kerutan dahi terheran-heran.
“Koran buat apa?” bingung Yudha.
“Alas duduk.”
Yudha menaikkan dua alisnya. Belum tuntas seluruh pertanyaan yang bergelimang di dalam otak Yudha, dirinya saat ini sudah di suguhkan penampakan Sekar yang duduk lesehan sambil meletakkan piring yang ternyata berisi pisang goreng hangat tepat di sebelah sisi pagar.
“Kita—”
“Iya, kak. Kost aku dilarang masukin anak cowok ke kamar. Jadi kita disini aja ya.”
Yudha mematung di tempat. Ia masih tidak habis pikir jika maksud Sekar mengajak dirinya berkunjung ke kost itu—
Untuk duduk di luar pagar.
-Sekar-