Tak Kunjung Datang

Sudah 45 menit Sekar menunggu. Namun Yudha tampak seperti tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiran. Panas yang semakin menyengat membuat Sekar lama-lama berkeringat juga. Ia sudah mulai kepanasan.

“Kak Yudha dimana sih? Lama banget. Baju gue udah basah nih keringetan,” omel Sekar sendiri. Ia pun sudah mengibaskan kerah pakaiannya mencari angin. Sesekali ia mengusap peluh bercucuran di lehernya.

Dengan penuh kesabaran, Sekar masih menunggu kedatangan Yudha. Sampai 15 menit kemudian, Yudha masih saja belum menampakkan batang hidungnya.

“Aduh, badan gue udah gerah semua ini. Mau mandi rasanya. Kak Yudha kemana sih? Kalau tahu bakal lama begini mending pesen ojol daritadi.”

Sekar sudah mencapai titik jenuhnya menunggu. Pasalnya sudah satu jam berlalu dari perjanjian mereka. Namun Sekar tidak kunjung mendapatkan kepastian. Awalnya Sekar beriniasiatif memesan ojek online. Akan tetapi ia lagi-lagi teringat kalau daya ponselnya saat ini sedang habis.

“Astagfirullah ….” Sekar menggeram. Menjambak rambutnya melampiaskan amarah tak tersampaikan. Bertepatan dengan itu, dari arah koridor jurusan, seseorang menangkap sosok Sekar. Ia terlihat mengulas senyum tipis menyaksikan Sekar yang sedang frustrasi.

“Sekar,” panggilnya. Sekar menoleh sewaktu namanya di lantangkan. Matanya menyipit sebentar, sarat mengenali seorang laki-laki yang mendekatinya.

“Januar?”

Lelaki bernama Januar itu berhenti di dekat bangku yang di duduki Sekar. Mengambil tempat di sebelah Sekar yang terbiar kosong.

“Kenapa sih jambak-jambak rambut sendiri?” tanyanya diiring tawa kecil.

“HP gue lowbatt, Jan. Sebel banget.”

“Kalau tahu lowbatt kenapa masih disini? Pulang aja. Kan kelas kita udah selesai dari sejam tadi.”

“Ya mau gue sih langsung pulang. Tapi gue lagi nunggu.”

“Pacar lo?” tebak Januar tepat sasaran. Sekar pun menghela napas gusar.

“Iya. Tapi udah sejam gue nunggu dia nggak nongol-nongol. Gue udah gerah banget.”

Januar mengangguk-angguk saja merespon jawaban Sekar. Lalu ia kembali berujar setelah itu.

“Sejam udah kelamaan kali. Lo masih mau nunggu?”

Sekar beralih menatap wajah Januar. Laki-laki itu hanya menaikkan dua alisnya seperti akan melanjutkan sebuah rencana.

“Pulang sama gue aja,” tawar Januar kemudian.

Sekar diam saja. Setengah hati ia ingin cepat pulang. Namun setengah hati lain ia masih ingin menunggu kehadiran Yudha.

“Udahlah, Kar. Cowok tuh kalau udah ngaret sejam tandanya dia nggak bakalan dateng. Mungkin dia ketiduran atau lupa bikin janji sama lo. Lagi pula kalau dia nanti kesini, lo bilang aja kelamaan nunggu. Biar jadi pelajaran buat dia lain kali jangan ngaret lagi.”

Sekar perlahan mulai terhasut omongan Januar. Alhasil ia dengan mudah menyetujui ajakan Januar untuk pulang bersama.


Tepat satu jam tiga puluh menit Yudha menghabiskan waktu untuk menambal ban. Setengah jam menyeret motor ke bengkel, setengah jam menunggu antrian tampal ban, dan setengah jam lagi menunggu tukang tampal ban yang amatir menambal ban. Waktu itu ia habiskan dengan perasaan penuh bersalah karena ia tahu telah membuat Sekar menunggu.

Setelah berbagai halang rintang yang ia lalui, akhirnya Yudha sampai juga di kampus. Ia cepat memarkirkan motornya, melepas helm, dan turun mencari Sekar untuk meminta maaf. Lama Yudha menyusuri fakultas MIPA, namun ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Sekar.

Yudha kembali merogoh sakunya mengambil ponsel. Mengetikkan sesuatu guna menghubungi Sekar. Namun pesan itu tidak berbalas. Kemudian Yudha lanjut menghubungi Sekar melalui panggilan suara. Akan tetapi yang di dapat Yudha hanya kehampaan karena jawaban operator mengatakan bahwa ponsel Sekar sedang tidak aktif.

“Sekar kemana sih?” Yudha mulai bingsal. Entah mengapa firasatnya mulai tidak enak. Ia terus mengirim pesan kepada Sekar dan coba menghubunginya kembali. Dan jawabannya masih tetap sama. Hingga tidak lama berselang, Yudha akhirnya mendapati notifikasi. Awalnya Yudha senang dan berharap notifikasi itu berasal dari Sekar. Namun ia salah besar. Pesan itu bukan dari kekasihnya. Pesan tersebut berasal dari Vega, teman dekat Sekar.

Pesan itu singkat. Namun membuat jantung Yudha nyaris turun saking terkejutnya.

-sekarangdanesok-