Pertemuan Yudha dan Gadis Lain
Kondisi perpustakaan kala itu tidak terlalu ramai, juga tidak terlalu sepi. Hanya beberapa gelintir orang saja yang tampak berlalu lalang menjalani aktivitas mereka. Entah itu membaca buku, bergelut dengan laptop, atau hanya sekadar melamun untuk mengusir kebosanan di bawah pendingin ruangan. Ya, termasuk salah satunya Yudha orang yang melakukan tindakan tidak berguna itu. Bukan apa-apa sebenarnya, hanya saja Yudha merasa kepalanya terlalu panas akibat kefrustrasian dia akan masalah perbimbingan tak kunjung kelar ini. Kali saja, dengan dia berdingin di bawah Air Conditioner ini dia bisa mendapatkan ilham—meskipun itu sedikit tidak mungkin sebab AC bukanlah Tuhan.
Di tengah kesibukan Yudha meratapi nasib malangnya, tiba-tiba ia merasakan ada hawa keberadaan seseorang yang mampir di sebelahnya duduk. Yudha pun lekas menoleh sewaktu ia mendapati seorang perempuan yang kini tengah meletakkan sebuah laptop di atas meja bundar sambil sibuk mencari-cari sesuatu. Yudha pikir gadis itu sedang mencari colokan listrik sebab daritadi dia tampak menjinjing kepala charger di sebelah tangannya.
“Disini Mbak, colokannya.” Yudha menerangkan, membuat sang gadis menoleh.
“Ohh iya, makasih ya.” Yudha mengangguk saja tidak melanjutkan obrolan lebih bersama wanita itu. Akan tetapi matanya saja yang berkelana memperhatikan gadis cantik yang kini sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya.
“Cakep juga ini cewek. Kalau gua jodohin sama Tirta sabi lah, ya. Eh tapi Tirta mau nggak ya? Bukan, bukan. Kebalik. Ini cewek emang demen sama cowok kayak Tirta?” Yudha bermonolog sendiri. Sampai ia terksesiap tatkala ia mendengar suara perempuan tadi menyahut panggilan masuk dari ponselnya.
“Halo.”
“…”
“Apa? Montirnya nyusruk got?! Lah, terus nasib mobil aku gimana?”
“…”
“Yah, masa di tinggal sih, Pa. Entar kalau diapa-apain orang mobilnya gimana?”
“…”
“Ya udah, deh.”
Gadis itu menurunkan ponselnya sewaktu panggilan bersama (kemungkinan besar ayahnya, sebab tadi dia sedikit menyebut “Papa” di tengah obrolan) berakhir. Jelas sekali kini raut perempuan itu tergambar kesal, bahkan bibirnya sudah mengerucut maju saking kesalnya.
“Kenapa, Mbak?” tanya Yudha yang terlalu penasaran. Perempuan tadi menoleh sebentar—masih dengan tampang cemberutnya—mengarah ke Yudha.
“Mobil saya mogok. Tadi sempat manggil montir tapi ternyata montirnya kecelakaan waktu perjalanan kesini.”
Yudha manggut-manggut. “Mobil Mbak dimana? Kali aja saya bisa bantu.”
“Mas montir?”
“Bukaann…,” tolak Yudha cepat. Ya kali sudah cakep paripurna begini dibilang montir. “Gua anak mesin. Kali aja gua bisa bantu, tipis-tipis.”
Perempuan tadi tampak menimbang sebentar. Meski di dalam lubuk hatinya ada sedikit keraguan, namun ia berpikir lagi jika Yudha sepertinya bisa cukup dipercaya akan hal itu.
“Oke, mobilnya ada di parkiran depan kampus. Kita langsung kesana aja.”
Yudha bersama perempuan tersebut merambat jalan menuju lokasi yang dimaksud. Lokasi parkiran itu kalau bisa dikatakan cukup jauh letaknya dari fakultas teknik, tidak tahu alasan pasti mengapa bisa perempuan ini memarkirkan mobilnya di sana karena ia tidak mau berpikir payah-payah. Toh, pikirkan saja nasib perbimbinganmu Yudha.
Sampai 10 menit kemudian mereka akhirnya tiba di parkiran tempat mobil gadis tadi berada. Tanpa banyak cakap, Yudha segera membuka kap mobil lantas memeriksa kemungkinan dari alasan kemogokan mobil tersebut.
“Wah, ini sih oli-nya,”terang Yudha. “Mbak, punya oli nggak?”
“Nggak punya.”
Yudha menggaruk tengkuknya. Kalau dia harus membeli oli,tentu dia harus memakan jarak untuk menemukan bengkel di sekitar kampusnya. Alasan lain, karena saat ini dia tidak berada di fakultas teknik yang artinya tidak ada keberadaan motornya di dekat sini.
“Ahh iya. Gua naik ojek aja,” gumamnya. “Mbak saya mau beli oli, tapi naik ojek aja. Mbak kalau nunggu sebentar mau nggak?”
Lagi, perempuan itu tidak langsung menjawab. Akan tetapi dirinya lagi-lagi membaca gerak-gerik Yudha yang sepertinya tulus saja untuk menolong.
“Okay, saya tunggu di sini.”
“Sip, tunggu ya Mbak. Nggak sampe sejam kok.”
Kesepakatan di terima. Sampai akhirnya Yudha pergi menaiki ojek untuk membeli oli, dan kembali dalam waktu beberapa menit dengan sebuah benda di tangannya yang cukup dipastikan adalah oli.
Tanpa banyak cakap, Yudha memasukkan oli itu ke dalam tangki dan mengisinya. Setelah selesai, dia coba suruh perempuan tadi menghidupkan mesinnya dan—berhasil.
“Makasih ya, Kak. Udah nolongin saya,” ucapnya kepada Yudha yang dibalas lelaki itu dengan acungan jempol.
“Sama-sama. Oh iya, jangan manggil diri Mbak dengan saya dong. Formal banget kek lagi ngobrol sama dosen.”
Gadis itu tertawa, lalu mengangguk singkat. “Maaf ya gue jadi buat lo kaku.”
Percakapan terjeda sebentar, akibat kehabisan topik pembicaraan. Sampai Yudha memecah kesunyian membuat gadis itu menengokkan kepala.
“Gua balik lagi yak ke teknik,” izin Yudha.
“Oh iya boleh. Makasih ya btw.”
“Sama-sama.” Yudha mengakhiri pertemuan mereka dengan seulas senyum, sebelum keduanya berpisah.
“Eh tunggu,” cegah perempuan itu menahan langkah Yudha. Membuat cowok tersebut menoleh lagi ke sumber suara.
“Nama lo siapa?”
Yudha diam sejenak, lalu menjawab. “Yudha.”
Perempuan itu mengangguk sebentar. Kemudian menyahut, “gue Alda.”
Gadis bernama Alda itu menatap Yudha sedikit lama. Sampai akhirnya Alda mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan benda pipih itu kepada Yudha.
“Kita boleh tukeran kontak nggak?”
-sekarangdanesok-