Perkara Chat

Yudha meratapi layar ponselnya sejenak sebelum meredupkan mode layar tersebut menjadi gelap. Entah mengapa, setelah membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh Alda membuatnya diserang perasaan bersalah luar biasa. Meski maksud Yudha melakukan itu hanya sekadar ingin menghargai perasaan Sekar, namun di sisi lain juga dia merasa bahwa tindakannya tersebut agak sedikit kurang tepat. Benar yang dikatakan Alda, seharusnya ia tidak perlu seberlebihan itu kalau di antara mereka berdua tidak terjadi hubungan apa-apa. Lalu, untuk apa Yudha bersembunyi?

Cukup lama Yudha termenung dalam lamunannya. Sampai sesaat kemudian ia merasakan bulu kuduk di area lehernya meremang. Yudha pun bergidik, sambil kepalanya ia tuntun berputar ke belakang lalu berteriak kencang tatkala melihat dua orang yang sudah memicing penuh kecurigaan berdiri di sana.

“ANJENG! BISA KAGAK KALAU DATENG ITU PAKE SALAM?!” amuk Yudha.

“Tolong, Kak. Di perpustakaan dilarang membuat keributan,” tegur salah satu pengunjung ruang membaca seusai makian Yudha terlontar.

Yudha langsung mengatupkan bibirnya. Menahan sekuat tenaga segala umpatan yang siap meluncur dari belah bibirnyw. Sedangkan kedua temannya tadi kini sudah menampilkan senyum menyebalkan yang membuat Yudha ingin sekali menampar wajah mereka satu-satu.

“Ngaku lu habis chattingan sama siapa?” tuding Tirta menunjuk wajah Yudha. “Gua lihat tadi nama kontaknya ada huruf D. Nama cewek lu kagak ada unsur D-nya, 'kan?”

Sial. Yudha semakin dibuat kelabakan. Dari sekian banyak homo sapiens di dunia mengapa pula dia harus ketahuan oleh dua makhluk pembawa kayu bakar ini?

“L-lu berdua baca room chat gua?”

Keduanya serentak mengangguk. Membuat sekujur tubuh Yudha mendadak panas-dingin akibat terlalu sangsi jikalau dua sosok ini akan berbuat tindakan merugikan bagi dirinya.

Berbeda dengan dugaan buruk Yudha. Reaksi yang diberikan oleh kedua temannya bahkan sangat berbanding terbalik dari yang Yudha sangka. Dua lelaki itu kini tertawa cekikikan saja—mengingat mereka masih di dalam perpustakaan—sambil memegang perut menahan ledakan tawa.

“Yudha, Yudha.... Santai aja kali. Muka lu kayak maling ketahuan warga,” ledek Johnny di mana pundak cowok itu masih bergetar hebat. “Hiburan di kala bosan itu wajar. Lagi pula selama kagak ketahuan sama doi mah enggak apa-apa.”

Kening Yudha berkerut dalam. Agak aneh pikirnya kalau kedua orang ini bernalar secara normal. Tapi di sisi lain Yudha sangat bersyukur kalau Johnny dan Tirta tidak akan membuat huru-hara yang membahayakan keberlangsungan hidupnya.

“Eh, tapi si Alda siapa, sih? Beneran nih lu selingkuh?” bahas Tirta.

“Ya kagak lah, bego!” bantah Yudha cepat. “Dia kenalan gua aja. Kita baru ketemu beberapa hari lalu.”

“Cantik enggak?”

“Cantik. Lumayan.”

“Kenalin dong sama gua.”

“Gua sih mau aja, Tir. Tapi takut dianya ogah sama lu.”

“Anjing!”

“Eh, lu berdua dah makan belum? Gua laper nih mau ke kantin,” ajak Yudha memutus percakapan sebelumnya. Tanpa banyak bercakap—kecuali Tirta yang mendumel karena Yudha tidak berniat mengenalkan Alda kepadanya—mereka pun bergegas menuju pintu keluar perpustakaan.

Selepas memasang sepatu, ketiganya mulai beriringan berjalan menuju pelataran perpustakaan. Menuruni anak tangga, sampai netra Tirta berhenti pada satu fokus yang menarik perhatian.

“Sekar!”

Sontak Yudha menoleh, bukan pada Tirta tentunya. Melainkan pada sosok yang dipanggil Tirta baru saja dan mendapati kekasihnya tersebut sedang berjalan sendirian. Dahi Yudha berkerut samar, karena seingatnya Sekar tidak ada jadwal perkuliahan hari ini tapi kini gadis itu justru muncul di area perpustakaan.

Sekar terdiam sejenak tatkala ia menangkap manik mata Yudha yang menatapnya dengan raut meminta penjelasan. Hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk mendekat, guna menerangkan penyebab keberadaan dirinya di sini.

“Kak Tirta, Kak Johnny,” sapa Sekar formalitas. Kemudian pandangnya berhenti ke arah Yudha, lalu ia menarik napas pelan sebelum mengutarakan maksudnya.

“Ada buku yang aku cari, Kak. Jadi aku ke sini.”

“Ohh.” Yudha membalas singkat. “Tapi kenapa enggak bilang aja sama Kakak tadi? Kalau gitu 'kan bisa Kakak cariin bukunya.”

“Enggak deh, Kak. Nanti ngerepotin Kakak. Lagian aku juga sekalian mau baca yang lain juga.”

Yudha mengangguk saja sembari mengulas senyum. Membuat Tirta dan Johnny mencibir melihat tingkah so sweet Yudha yang sungguh berbanding terbalik dengan sikap bar-bar seperti kebiasaan cowok itu kalau bersama teman-temannya. Sampai sebuah ide cemerlang tiba-tiba melintas di otak Johnny, membuat lelaki itu menyenggol lengan Tirta sedikit kuat membuat si badan lebih kecil meringis.

“Apaan, sih?!” protes Tirta.

“Kerjain Yudha, yuk.”

Otak Tirta langsung bekerja sewaktu menangkap kerling sinyal melalui netra Johnny. Sehingga langsung saja kepala Tirta tertoleh, di mana sepasang sejoli yang masih sibuk bertukar pandang itu menikmati moment romantis mereka.

“Sekar, lu tau enggak tadi Yudha chattingan sama—”

Yudha melototkan matanya sewaktu Tirta mengucapkan kalimat cepu itu. Secara otomatis saja Yudha menggerakkan kedua tangannya, membekap telinga Sekar dengan kedua tangan besar miliknya sehingga lanjutan kalimat Tirta terdengar samar oleh Sekar.

“DEK KITA KE KANTIN AJA, YUK! KAKAK LAPER BANGET NIH BELUM MAKAN SIANG!” teriak Yudha mengalihkan fokus Sekar. Sedangkan Sekar yang terlalu terkejut akan aksi tiba-tiba Yudha hanya mengerjap bingung saja.

“Kak, enggak perlu teriak. Aku masih bisa denger—”

“Kar, lu harus tau kalau—”

“DEK AYO KITA KE KANTIN JANGAN DENGERIN BISIKAN-BISIKAN PARA SYAITON YANG TERKUTUK INI!” Yudha memotong kalimat Johnny masih dengan teriakan. Kemudian lanjut menarik Sekar untuk menjauh dari jangkauan Johnny dan Tirta demi melindungi dunia dari ancaman perang.

Johnny dan Tirta terbahak tidak berkesudahan melihat Yudha yang seperti kebakaran jenggot akibat ulah mereka berdua. Terlebih ketika melihat Yudha—tanpa membalikkan badan—mempersembahkan jari tengah dari balik punggungnya kepada Johnny dan Tirta.

©sekarangdanesok, 2022.