Percaya
“Sekar ….”
Sekar membuka matanya. Merasakan sentuhan pelan di keningnya setelah ia lihat Vega sedang meletakkan lap basah disana. Memang benar, saat ini Sekar agak sedikit demam pasca kecelakaan yang dialaminya.
“Lo mau makan apa?” tanya Vega.
“Apa aja, deh.”
“Nasi goreng mau? Biar ada rasanya dikit.”
“Iya, nggak apa.”
Seusai meletakkan kain basah tadi di kening Sekar, Vega mengotak-atik ponselnya. Mungkin ia sedang melakukan pemesanan makanan melalui delivery.
Sekitar 10 menit mereka menunggu. Vega menoleh ke arah pintu sewaktu dirinya mendengar suara deru motor berhenti di depan pagar kost.
“Kayaknya itu driver-nya,” ujar Vega langsung bangkit dari duduk. “Sekar, gue ke depan bentar ya. Ngambil makanan.”
Sekar yang kini sudah berubah posisi menjadi duduk hanya mengangguk lemah. Tidak lama Vega keluar, sesampainya ia kembali lagi. Namun tidak membawa apa-apa.
“Ternyata bukan driver kita, Kar. Itu bapak kost lo.”
Sekar mengernyit. “Mau ngapain?”
“Katanya mau ketemu sama lo. Gue bilang Sekar lagi sakit. Tapi kayaknya ada yang penting buat di omongin. Lo masih mau nemuin dia atau bilang aja lo nggak bisa ketemu?”
Sekar menggeleng. Mungkin benar yang di katakan Vega. Sesuatu itu terlalu penting sehingga bapak kost bela datang jauh-jauh demi bertemu dengannya.
“Nggak apa. Biar gue temuin aja.”
Sekar berusaha bangkit meski dengan langkah tertatih. Pusingnya masih begitu terasa. Tapi tidak separah tadi. Ia terus mengayun tungkai kaki hingga ia benar-benar melihat sosok seseorang duduk di atas motor.
Sekar tidak segera bersuara. Ia sungguh tahu siapa gerangan yang berada di atas motor itu. Bukan pemilik kost seperti yang di maksud Vega, melainkan Yudha.
Yudha menoleh, mengangkat sebuah kantong plastik putih berisikan dua bungkus nasi goreng beserta tiga botol susu beruang. Sekar kembali ingat, waktu itu Yudha juga pernah memberinya susu beruang sewaktu ia sakit.
Yudha turun dari motor dan mendekat ke arah Sekar. Di perhatikannya lekat-lekat gadis di hadapannya ini dengan pandangan menenangkan. Bukan kilat amarah seperti yang ia jumpa di rumah sakit tadi.
“Mana yang sakit?” tanyanya lembut.
Sekar tidak menjawab. Ia justru menangis sedu-sedan mendengar pertanyaan tersebut. Hatinya mendadak terenyuh sewaktu lagi—Yudha memberinya perhatian sedalam itu.
“Ssshhh … Nggak usah nangis. Kalau sakit bilang sama Kakak. Biar bisa kita obatin.”
Bukannya mereda. Sekar semakin di buat terisak di buat Yudha. Sampai-sampai lelaki itu membawa Sekar ke dalam pelukan untuk menenangkannya.
“Kak, maaf ….” Hanya ujar itu yang terlontar dari bibir Sekar. Seraya tangannya merengkuh erat tubuh Yudha, serta menyembunyikan wajahnya di balik dekapan Yudha.
“Andai aja aku nurut buat nunggu Kakak sebentar aja. Kejadiannya nggak kayak gini. Harusnya aku tetap percaya kalau Kakak bakalan dateng buat jemput aku.”
Yudha semakin erat memeluk Sekar. Lanjut menyandarkan dagunya di puncak kepala Sekar. Sembari tangannya bergerak mengusap punggung Sekar.
“Kakak juga minta maaf. Udah marah-marah kayak tadi,” ucap Yudha pelan.
Keduanya terdiam cukup lama. Menikmati hening dalam kesenduan.
“Kakak tadi bukan marah sama Adek. Tapi Kakak terlanjur kesal sama diri sendiri karena gara-gara Kakak lama, buat Adek nunggu. Gara-gara Kakak, Adek dapet musibah begini. Coba aja kalau tadi Kakak dateng tepat waktu, semuanya nggak bakal jadi begini kan?”
Yudha mengakhiri kegiatan berpelukan mereka. Kini ia menatap gadis itu seraya ibu jarinya bergerak untuk menghapus jejak air mata di pipi Sekar.
“Kakak merasa berdosa ngelihat Adek terluka kayak gini,” ucapnya dengan suara serak. “Karena Kakak udah pernah janji sama ayahnya Adek, buat jagain anak gadisnya.”
Sekar menatap mata Yudha nanar. Mendapati sorot ketulusan yang di pancarkan laki-laki itu kepadanya.
“Adek percaya nggak sama Kakak?” tanya Yudha dengan suara sedikit tertahan.
“Percaya apa?” tanya balik Sekar dengan suara yang juga hampir menghilang.
“Percaya kalau nggak ada perempuan lain yang Kakak suka selain perempuan yang berdiri di depan Kakak sekarang. Nggak ada perempuan lain yang sangat ingin Kakak lindungi selain perempuan cantik yang lagi nangis di hadapan Kakak sekarang.”
-sekarangdanesok-