Seorang Lelaki Itu Harus ...
Sejak tadi kaki Yudha tidak bisa diam. Terus gemetar karena gugup untuk berhadapan dengan Herman—ayah Sekar. Berkali-kali Yudha memegangi lututnya agar tremornya berhenti. Hingga gerak-gerik Yudha tersebut di tangkap oleh sang kekasih, Sekar pun berinisiatif meraih pergelangan Yudha. Mengusap pelan punggung tangan laki-laki itu diiring sebuah lirihan.
“Nggak usah gugup, Kak. Santai aja. Ayah nggak serem kok,” hibur Sekar.
Setelah menerima kalimat itu, syukurlah perasaan Yudha terasa sedikit lega. Ia mulai menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan lewat mulut udara dari hidungnya secara perlahan.
“Jadi ini yang namanya Yudha. Kalian satu letting?” mula Herman atas percakapan sore itu.
Tercipta jeda sebentar. Hingga akhirnya Yudha menjawab juga, “enggak, Om. Saya angkatan 2019, kalau Sekar ‘kan 2021,” jawab Yudha hati-hati.
“Ohh … Dua tahun di atas Sekar kalau gitu?”
“Iya, Om.”
Herman mengangguk paham. Lalu tangannya lanjut meraih cangkir kopi dari atas meja kecil di hadapan mereka.
“Kimia murni juga sama dengan Sekar?” tanya beliau lagi.
Yudha menggeleng. “Bukan, Om. Saya anak teknik.”
“Teknik?”
“Iya, Om. Tepatnya teknik mesin.”
Dahi Herman sempat berkerut, menatap bingung dua insan muda di hadapannya secara bergantian.
“Kok bisa ketemu?”
Lagi-lagi hening mendominasi. Hingga beberapa detik kemudian Sekar berinisiatif menjawab.
“Kita ketemunya di kantin mesin, Yah.”
“Ohh jadi kamu duluan yang nyariin Yudha?”
“BUKAN BEGITU OM!” sanggah Yudha cepat. “Hari itu Sekar kebetulan mampir ke kantin mesin. Terus nggak sengaja saya lihat Sekar disana—”
“Langsung ngajak kenalan gitu?”
“Enggak juga, Om. Waktu itu saya belum ada komunikasi sama Sekar.”
“Terus ketemunya gimana?” tanya Herman terkesan mendesak.
“Saya nyariin Sekar lewat base kampus.”
“Bus?”
“Base, Om.”
“Base itu apa?”
“Akun tempat ngirim pesan anonim, Om. Semacam pesan tanpa nama. Di Twitter.”
“Twitter itu apa?”
“Platform sosial media.”
“Sosial media itu Facebook ya?”
“Iya sejenis itu.”
“Om buka Facebook setiap hari tapi nggak pernah lihat interaksi kalian berdua,” jawab Herman lugu. Membuat Yudha menggaruk tengkuk kebingungan akan jawaban Herman tersebut.
“Kita nggak main Facebook, Om. Mainnya di Twitter.”
“Kata kamu tadi itu sosial media, berarti Facebook 'kan?”
“Tapi sosial media bukan cuma Facebook, Om.”
“Ohh ... Om taunya cuma Facebook.”
Yudha menahan napasnya kuat-kuat. Tidak tahu mau bereaksi apa lagi. Sampai suasana menjadi hening kembali, percakapan pun mulai berhenti. Membuat Yudha semakin kehilangan kepercayaan diri atas keadaan canggung ini. Ada mungkin sekitar sepuluh menit lamanya mereka saling berdiaman. Tanpa ada percakapan, hanya sibuk memandang aktivitas mamang-mamang pemasang tenda di depan rumah Sekar.
“Yudha, Om punya satu pertanyaan untuk kamu,” interupsi Herman memecah kesenyapan beberapa waktu lalu.
Yudha tidak menjawab dengan kalimat. Hanya anggukan kepala samar menandakan ia siap untuk menjawab pertanyaan dari ayahnya Sekar tersebut.
“Menurut kamu, hal terpenting apa yang harus dimiliki oleh seorang laki-laki?”
Yudha membawa alisnya naik mendengar pertanyaan tak terduga dari pria berusia setengah abad di hadapannya. Tidak menyangka, jika ia akan di suguhkan sebuah pertanyaan yang membuat ia harus menjawabnya dengan ekstra hati-hati. Harap-harap cemas, Yudha sempat melirikkan matanya ke arah Sekar sebentar. Rautnya kentara sekali gugup jikalau ia salah menjawab. Namun Sekar mengangguk saja. Memberi isyarat keyakinan kepada laki-laki itu jika pertanyaan itu pasti bisa ia jawab.
“Kalau kata saya, jadi laki-laki itu harus kuat, Om,” jawab Yudha lugas.
Herman yang mulanya hendak menyesap kopi di tangan lantas menghentikan pergerakannya. Atensinya kini beralih, pada mata penuh binar antusias yang di pancarkan oleh Yudha saat ini. Herman pun tersenyum tipis, mengisyaratkan bahwa ia sangat puas akan jawaban dari lelaki 20 tahunan itu.
“Kuat dalam artian?”
Yudha menegapkan badannya lurus. Seraya mengepal tangan di atas paha, Yudha mengemukakan jawabannya.
“Saya mampu push up 100 kali, sit up 100 kali, angkat galon saya bisa. Saya bisa mengerjakan semua pekerjaan berat apapun. Saya ini—benar-benar pria sejati, Om!” tepuk Yudha bangga pada dadanya. “Apa Om mau pembuktian?”
Berbanding terbalik dengan semangat membara yang mengalir dari aliran darah Yudha, Herman dan Sekar hanya bisa tercengang mendengar jawaban Yudha yang mengejutkan.
-sekarangdanesok-