Kak Yudha itu Punya Sekar
Yudha dan Sekar memasuki sebuah supermarket dan mulai berjalan menyusuri rak-rak yang ada di kanan dan kiri mereka. Menilik satu-persatu barang yang mungkin untuk di bawa oleh Yudha. Sesekali Sekar mengambil beberapa barang dari rak, kemudian menanyakan apakah barang tersebut di butuhkan atau tidak.
“Kak, sandal udah ada?” tanya Sekar sambil memilah-milah sandal di tangannya.
“Di kost ada, Dek.”
“Bagus nggak?”
“Masih bagus.”
“Maksudnya sandal bagus apa sandal jelek?”
Yudha berpikir sebentar. “Sendal bagus, Dek. Kakak belinya 200 ribu di Payless.”
Sekar langsung menggeleng cepat mendengar jawaban Yudha. “Nggak usah di bawa. Pakai ini aja.” Sekar menyodorkan sebuah sandal jepit bergambar SpiderMan di tangannya.
“Ini harganya cuma 20 ribu,” jelasnya seraya memasukkan sandal tersebut ke dalam keranjang.
“Dek, kok Kakak disuruh pakai sendal beginian sih?” protes Yudha menunjuk sandal SpiderMan pilihan Sekar. “Nggak gaul entar Kakak.”
Sekar menarik napasnya pelan. Lalu beralih menatap wajah Yudha dengan raut meyakinkan.
“Kak, ini tuh mau KKN. Bukan mau tamasya. Buat apa bawa barang bagus-bagus. Nanti juga disana paling Kakak disuruh nyangkul, disuruh masuk kubangan, sayang 'kan sendal bagusnya. Lagi pula sendal bagus itu rentan di curi. Kita mana tahu isi pikiran orang-orang. Lihat barang bagus dikit, di embat.”
Yudha mengerjap-ngerjap mata selama mendengarkan cerocosan dari Sekar. Ia seperti begitu terkesima melihat Sekar yang bahkan memperhatikan hal-hal kecil sedetail itu.
“Omongan Adek persis kayak omelan mamanya Kakak,” komentar Yudha yang kini sudah melanjutkan perjalanan menuju rak berikutnya.
“Karena memang hal itu udah lumrah terjadi di lingkungan kita, Kak,” balas Sekar berjalan menuju rak yang menyusun obat-obatan.
“Kenapa ke rak obat?” bingung Yudha.
“Buat jaga-jaga. Kalau pusing atau masuk angin.” Sekar pun memasukkan beberapa obat pereda sakit kepala dan minyak angin ke dalam keranjang belanjaan Yudha. Melihat itu, Yudha diam-diam tersenyum. Membuat Sekar mengernyit heran.
“Kakak kenapa deh senyum-senyum gitu?” kernyit Sekar. Melihat kebingungan Sekar, Yudha semakin tidak kuasa menahan senyum dan kini ia justru tergelak.
“Kakak tuh merasa lucu aja. Kakak kayak lagi di urusin sama istri tahu.”
Sekar berdeham salah tingkah. Lantas membuang muka cepat-cepat karena merasa malu. “Kayak tahu aja rasanya punya istri.”
Yudha mengulum bibir sejenak. Kemudian meraih pundak Sekar dan menariknya untuk menipiskan jarak. Sudut bibir Yudha tertarik mengembangkan senyum kejahilan guna menggoda kekasihnya.
“Belum tahu sih. Tapi sekarang lagi latihan untuk jadi biasa gimana rasanya punya istri.”
Memang benar faktanya jika selama mereka berbelanja di dalam, hujan mengguyur deras di luar. Syukurnya, tepat urusan mereka selesai perihal perbelanjaan, berhenti pula guyuran itu turun dari langit yang pekat. Ya, mungkin itu sat bagian untungnya. Namun ada ketidak-beruntungan lain, karena seusai hujan beberapa jalanan kota jadi tergenang banjir.
“Duh dalem juga banjirnya, Dek,” ujar Yudha melihat kondisi jalanan cekung yang ada di depannya tergenang air sebatas lutut orang dewasa. “Nggak ada jalan lain apa buat sampe ke kost Adek?”
“Setahu aku sih nggak ada, Kak. Ini akses jalan satu-satunya. Lagian daerah sini emang sering banjir, Kak. Kan tanahnya berbukit gitu. Tapi pas nanti dii daerah deket kost aku nggak banjir lagi. Karena tanah daerah sana udah agak tinggi.”
“Jadi mau nggak mau kita harus lewat sini?”
“Iya, Kak.”
Yudha diam sejenak. Cepat memikirkan cara agar bisa mengantarkan Sekar sampai menuju kost-nya berada.
“Ini kalau motor Kakak di paksa nerobos bisa mati mesin nih,” gumam Yudha sembari mengusap dagu. Lalu ia menebar pandangnya ke penjuru arah. Sewaktu ia menemukan sebuah Indomaret yang berlokasi tidak jauh dari mereka.
“Dek, kalau jalan kaki mau nggak?”
“Jalan kaki?”
“Iya. Kakak anter ke kost jalan kaki. Motor Kakak biar Kakak taro di Indomaret bentar.”
Sekar mengalihkan pandang menuju bangunan Indomaret yang di maksud Yudha. Lalu menatap Yudha yang kini menunggu kepastian darinya.
“Iya nggak apa, deh,” setuju Sekar. Akhirnya mereka memutuskan untuk menitipkan motor di parkiran Indomaret. Setelah itu, Yudha mulai menggulung celana rombengnya sebatas lutut.
“Kakak nyeker?” tanya Sekar heran.
“Ya iyalah, Dek. Kalau pakai sendal bisa-bisa hanyut di bawa banjir.” Samnil masih sibuk melakukan kegiatannya menggulung celananya, mata Yudha menangkap kaki Sekar. Dimana perempuan itu masih mengenakan sepatunya di bawah sana.
“Sepatu Adek lepas. Siniin biar Kakak yang pegang.”
Sekar menurut sewaktu Yudha menyuruhnya melepas sepatu. Menyisakan cekeran kakinya untuk siap menerobos banjir setinggi lutut. Sebelum itu, Yudha sudah mengulurkan tangannya lebih dulu untuk menggandeng tangan Sekar.
“Jalannya pelan-pelan aja. Perhatiin kalau ada lubang atau benda tajem lain,” nasihat Yudha. Sekar pun mengangguk. Mengikuti instruksi Yudha yang sengaja jalan lebih dulu di depannya untuk memastikan bahaya yang ada.
“Nah, disini ada lubangnya nih. Melangkahnya agak lebar.”
“Dimana Kak lubangnya?”
“Disini nih,” tunjuk Yudha dengan dagunya.
Awalnya Sekar hendak mengangkat kaki, namun ia urungkan niat itu dan kembali ke posisi semula.
“Kak, takut nyeblos ….”
“Enggak … Kakak pegangin.”
“Takut, Kak.”
“Enggak, Sekar. Buru, langkah aja.”
Sekar pun mengangkat kakinya sedikit lebar. Sembari tangannya di genggam erat oleh Yudha. Ada sedikit tragedi kecil sebetulnya, tapi untunglah Yudha cekatan menahan bobot tubuh Sekar sehingga gadis itu tidak tercebur dalam genangan banjir.
Akhirnya rintangan banjir berhasil mereka lalui sepanjang kurang lebih 60 meter. Kini mereka sudah berada di tempat yang lebih aman. Meskipun pakaian bawah mereka sudah tentu basah semua sekarang.
“Nanti kalau udah nyampe di kost langsung ganti baju, mandi, sabunin banyak-banyak badannya. Terutama kaki. Entar korengan tuh kaki berbaur sama kencing tikus.”
Sekar mengangguk patuh. Selama sisa perjalanan mereka menuju kost, Sekar semakin mengeratkan genggamannya pada pergelangan dan ruas-ruas jemari tangan Yudha. Sekali-sekali gadis itu menggelayut manja di lengan Yudha sampai akhirnya mereka tiba di depan kost.
“Inget pesen Kakak tadi apa?” tanya Yudha.
“Ganti baju, mandi.”
“Oke, anak pinter.”
“Iyalah. Begini-begini aku anak Kimia Murni lho, Kak.”
Yudha tertawa renyah mendengar candaan Sekar. “Udah, buruan masuk. Nih bawa sepatunya entar kebawa lagi sama Kakak.”
Sekar menerima uluran sepatu dari tangan Yudha. Mengambilnya, namun tidak lekas terburu masuk ke dalam pagar.
“Kenapa diem aja? Masuk gih. Dah malem.”
“Kak Yudha …,”
Yudha menaikkan dua alisnya. Menunggu lanjutan kalimat Sekar yang terjeda.
“Baiknya sama aku aja, ya. Jangan sama cewek lain. Kak Yudha itu kepunyaan Sekar. Bukan punya orang lain.”
-sekarangdanesok-