“Kak Arkhan itu tipe-tipe cowok idaman banget nggak, sih?”
“Mana udah ganteng, manis, pinter, baik, ramah, sopan...,”
“... Kurangnya apa lagi coba?”
—Anna
.
“Kurangnya dia nggak suka sama lo.”
—Juanda
. “Gue tuh sebel, sebel, sebel, banget sama Juanda. Jadi kemaren gue 'kan minta tolong sama dia, nitip ambilin fotokopi biar sekalian dia jalan ke koperasi juga. Lo tau nggak jawaban dia apa?”
—Anna
.
“Kalau sekiranya kaki lo masih sehat, ambil sendiri. Gue bukan babu yang bisa lo suruh-suruh seenaknya.”
—Juanda
. “Na, udah deh. Lo nggak usah benci amat sama Juanda. Entar kena batunya, malah kepincut sama dia. Tau rasa lo, hahaha.”
—Andrey
. “YA NGGAK MUNGKIN LAH! Di otak gue sekarang itu ya isinya cuma harta tahta Kak Arkhan.”
—Anna
. “Na, Kakak minta maaf kalau kata-kata ini buat Anna kecewa. Tapi Kakak cuma mau bilang, Anna itu udah Kakak anggap seperti adik sendiri. Nggak bisa lebih dari itu.”
—Arkhan
. “Kalau lo suka sama Anna ngaku aja, Ju. Jangan sok-sokan denial. Lo ngga akan pernah bisa dapetin apapun dengan mempertahankan gengsi lo itu. Atau bahkan lo bisa aja kehilangan kesempatan berharga nanti.”
—Laskar
. “Lo dulu bilang cuma nganggep dia nggak lebih dari adik. Tapi kenapa lo justru ngasih dia harapan?”
—Juanda
. “Perasaan orang bisa berubah kapan aja. Gue lagi nggak ngasih harapan, perasaan gue ke Anna sekarang ... Itu nyata.”
—Arkhan
. “Lo selama ini cuma lihat Arkhan dari cover bagusnya doang. Lo nggak pernah tau sebenernya dia orang kayak gimana. Inget, manusia itu nggak ada yang sesempurna ekspetasi dalem otak lo.”
—Juanda
. “Kalau lo beneran suka sama dia, kenapa lo nggak langsung aja bilang, ‘gue sebenernya suka sama lo. Ayo kita jadian.’ Ngomong gitu doang apa susahnya, sih?”
—Anna
. “Sekarang gue balik pertanyaannya. Elo sebagai cewek kalau tiba-tiba ada cowok yang bilang suka ke lo, terus ngajak jadian. Emangnya lo langsung mau? Langsung terima?”
—Juanda
. “Ya enggak lah.”
—Anna
. “Itu dia alasannya. Gue nggak suka di tolak.”
—Juanda
. The Answer is You