Jalan-Jalan sama Dihan
Dhea cepat-cepat merapikan rambutnya sewaktu mendengar suara deru motor berhenti di depan pagar rumahnya. Buru-buru Dhea berlarian ke ruang tengah, berusaha bersikap senatural mungkin sewaktu Dihan datang. Hingga suara mesin motor itu berhenti berbunyi, bergantikan dengan suara benturan besi pagar terdengar bersahutan beberapa kali. Dhea menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan menghilangkan rasa groginya. Kemudian lanjut membuka pintu utama dan melangkah keluar untuk membuka pintu pagar.
“Oh, Dihan udah nyampe?” tanya Dhea, sedikit basa-basi.
“Lama ngga kamu nunggu?” tanya Dihan sembari mengaitkan helm-nya di satu sisi spion, lalu bergerak turun dari motor.
“Engga kok. Baru aja ini kelar”
Kebohongan besar. Padahal Dhea sudah siap sejak setengah jam yang lalu.
“Udah siap?” tanya Dihan lagi.
“Udah”
“Orang tua kamu mana?”
Dhea menaikkan dua alisnya bingung mendengar pertanyaan random itu. Dengan gerakan kaku, ibu jarinya menunjuk ke arah dalam rumah untuk mewakilkan pertanyaan Dihan.
“Mama—ada kok di belakang”
“Saya mau pamit dulu sama mama kamu”
Dhea menggaruk kepalanya kikuk. Namun ia hanya menurut saja sewaktu Dihan meminta untuk memanggilkan mamanya. Tidak butuh waktu lama saat sesosok wanita muncul dari arah pintu rumah dan menyambut Dihan dengan rekahan senyuman begitu lebar.
“Sore tante” sapa Dihan di susul uluran tangan laki-laki itu ke arah mama dan mencium punggung tangan wanita itu sopan.
“Saya boleh ngga ajak Dhea keluar bentar?” izin Dihan.
Mama melirik sebentar ke arah putrinya. Dengan senyum jahilnya, mama menaik-turunkan alis ke arah Dhea untuk menggoda putri semata wayangnya itu. Melihat reaksi mama, tentu saja Dhea cepat-cepat menggeleng. Mama pasti sudah menyangka kalau si Dihan ini pacarnya.
“Ini Dihan ma. Dia ketos sekolah aku. Kita cuma temenan kok” jelas Dhea meluruskan keadaan agar mamanya tidak salah paham.
“Ah yang bener?” balas mama masih tidak begitu yakin.
“Beneran ma. Kalau ngga percaya tanya aja sama Dihan”
Mama melirik ke arah Dihan. Sedang laki-laki itu tidak membalas apa-apa dan hanya tertawa renyah menganggap bahwa obrolan itu hanya candaan semata.
“Ya udah deh terserah kalian mau statusnya apa. Hati-hati ya nak Dihan. Tante izinin. Tapi pulangnya jangan kemaleman. Nanti papanya Dey marah kalau anak gadisnya pulang malem”
“Soal itu aman tan. Kalau gitu, saya permisi dulu ya” pamitnya.
Mama pun mengangguk saja. Tanpa banyak cakap lagi, Dihan segera mengajak Dhea untuk menuju motornya yang terparkir di depan rumah Dhea. Sebelum Dhea benar-benar naik, Dihan tidak lupa untuk mengulurkan tangannya seperti kejadian beberapa saat lalu sewaktu Dhea pertama kali menaiki motor Dihan. Melihat sikap manis dan sederhana dari Dihan tersebut, diam-diam Dhea menerbitkan senyumnya. Kemudian lanjut menyambut uluran tangan Dihan dan mengenggamnya erat hingga gadis itu benar-benar mendapatkan posisi ternyaman di atas boncengan.
Perjalanan sore itu di habiskan dalam kesunyian keduanya. Ya, canggung saja rasanya. Sebelum ini mereka berdua tidak pernah sengaja-sengaja untuk keluar seperti ini. Tapi entah ada angin apa tiba-tiba saja Dihan ingin mengajak Dhea keluar untuk jalan-jalan sore itu.
Di tengah ketercenungan Dhea yang sedang memikirkan berbagai asumsi di dalam otaknya, tiba-tiba saja Dihan mengerem motornya secara mendadak. Hal itu tentu saja membuat Dhea yang berada di jok belakang motor begitu terkejut sehingga tidak bisa mengontrol diri. Dengan otomatis saja tubuhnya tersentak ke arah depan dan tidak sengaja menubruk punggung Dihan. Dengan sekejap pula gadis itu memeluk pinggang Dihan maksud untuk menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh.
Keduanya mendadak gugup. Ya tentu saja gugup berada di posisi berpelukan seperti ini. Setelah beberapa detik terjebak di dalam kecanggungan, akhirnya mereka tersadar juga. Dhea cepat-cepat melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Dihan dan memundurkan posisi duduknya lagi ke tempat semula.
“M-maaf Dey. Saya ngga lihat di depan ada polisi tidur” jelas Dihan, sedikit panik.
“E-eh iya. Gapapa, Han” jawab Dhea dengan gigitan kecil di bibir bawahnya—merasa sangat tersipu.
Perjalanan berlanjut lagi, kali ini lebih hening dari sebelum awal mereka pergi. Keduanya seberusaha mungkin melupakan kejadian memalukan beberapa saat tadi. Hingga akhirnya mereka berhenti di salah satu angkringan yang tampak begitu ramai di jam sore seperti ini. Mereka pun masuk dan memilih duduk di salah satu meja lesehan disana. Sembari menyeruput iced coffee juga di temani makanan ringan seperti kue-kue basah dan gorengan, Dhea dan Dihan masih terus-terusan larut dalam kebungkaman.
“Hasil semester kamu gimana?” bahas Dihan memulai pembicaraan.
Dhea mengalihkan pandangan ke arah Dihan. Wajahnya terlihat begitu lesu sewaktu Dihan kembali mengingatkannya akan hal itu.
“Jangan di harapin lah. Gue bukan orang yang pinter. Ga ada yang perlu gue banggain dari itu”
“Memangnya kenapa?”
“Gue peringkat 15”
Dihan menautkan dua alisnya mendengar jawaban Dhea. “Apa yang salah sama peringkat 15?”
“Gapapa. Ngga puas aja gue sama hasil sendiri. Kenapa gue ngga bisa masuk sepuluh besar” hela Dhea pasrah. “Kalau lo—peringkat berapa?”
“Saya peringkat 7”
Sungguh, mendengar jawaban itu Dhea semakin insecure.
“Kenapa sih kesempurnaan tuh di ambil sama lo semua? Ngga adil banget” cicit Dhea sambil menggigit gorengannya sedikit sebal.
Dihan tidak langsung membalasnya. Laki-laki itu terdengar menghela nafas sebelum melanjutkan pembicaraannya.
“Peringkat itu cuma angka urutan Dey. Bukan pematok kesempurnaan. Saya juga ngga ngerasa jadi sempurna karena saya masuk sepuluh besar”
“Ya tapi lo ketos. Lo pinter. Lo kesayangan guru-guru. Kalau ada yang nanya kekurangan lo apa, pasti orang pada bingung jawabnya gimana”
Dihan tersenyum tipis mendengar cerocosan Dhea. Lalu ia melipat dua tangannya di atas meja dan menatap Dhea begitu lurus sekarang.
“Kamu juga sempurna kok Dey”
“Kata siapa?”
“Kata saya, barusan”
“Haha kalau lo cuma mau ngibur gue ngga perlu, Han. Gue udah biasa kok jadi orang ngga sempurna”
“Setiap orang akan menjadi sempurna di mata orang yang tepat” balas Dihan lugas.
Dhea menghentikan kunyahannya mendengar penuturan Dihan tersebut. Dan kali ini juga ia baru menyadari jikalau Dihan sejak tadi memperhatikannya selekat itu. Tanpa berkedip.
“Kamu cuma belum tahu aja orang yang tepat itu siapa. Orang tepat yang akan menganggap kamu adalah satu-satunya bentuk kesempurnaan yang tercipta dan tidak ada tandingnya di dunia”
Dihan memberhentikan motornya tepat di depan pagar rumah Dhea. Setelah gadis itu benar-benar turun, Dhea melambaikan tangannya ke arah Dihan sebelum laki-laki itu pergi dari hadapannya.
“Makasih ya, Han. Buat sore ini” ucap Dhea sedikit malu-malu.
Dihan mengangguk singkat membalas ucapan Dhea. “Kalau bosen lagi, ngomong aja. Saya bersedia kok jalan-jalan begini lagi sama kamu”
Dhea mengulum bibirnya saja mendengar jawaban itu. Berusaha semaksimal mungkin untuk bersikap biasa, padahal jantungnya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
“Ya udah hati-hati ya pulangnya. Sampai jumpa nanti pas masuk sekolah” ucap Dhea.
Bukannya pulang sesuai instruksi Dhea, Dihan justru tertawa kecil menanggapi kalimat Dhea tersebut. “jadi ngga sabar mau cepet-cepet sekolah”
Cukup. Sepertinya kali ini Dhea benar-benar harus menyerah. Ia tidak kuasa menahan senyumnya lagi. Dengan spontanitas saja dua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah lengkung manis di wajahnya. Dihan, bisa-bisanya lelaki itu menghadirkan kupu-kupu seolah berterbangan di atas perutnya.
“Kalau sekolah 'kan saya bisa ketemu sama temen-temen. Ngga bosen di rumah aja”
Dhea lekas melunturkan senyumnya seketika mendengar lanjutan kalimat Dihan. Merasa kecewa sewaktu sadar ternyata kalimat sebelumnya bukan di maksudkan untuk dirinya.
“Udah ah. Pulang sana” suruh Dhea lagi setengah mengusir. Namun Dihan tetap bergeming dan terus memperhatikan wajah Dhea semakin lekat.
“Kenapa malah ngeliatin gue gitu?”
Dihan tersenyum lagi. Ah, kalau seperti ini terus kejadiannya lama-lama Dhea bisa gila juga.
“Ngga apa, sebetah itu memang mandangin kamu”