<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>sekarangdanesok</title>
    <link>https://sekarangdanesok.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Mon, 01 Jun 2026 18:00:27 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Perkara Chat</title>
      <link>https://sekarangdanesok.writeas.com/perkara-chat?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Yudha meratapi layar ponselnya sejenak sebelum meredupkan mode layar tersebut menjadi gelap. Entah mengapa, setelah membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh Alda membuatnya diserang perasaan bersalah luar biasa. Meski maksud Yudha melakukan itu hanya sekadar ingin menghargai perasaan Sekar, namun di sisi lain juga dia merasa bahwa tindakannya tersebut agak sedikit kurang tepat. Benar yang dikatakan Alda, seharusnya ia tidak perlu seberlebihan itu kalau di antara mereka berdua tidak terjadi hubungan apa-apa. Lalu, untuk apa Yudha bersembunyi?&#xA;&#xA;Cukup lama Yudha termenung dalam lamunannya. Sampai sesaat kemudian ia merasakan bulu kuduk di area lehernya meremang. Yudha pun bergidik, sambil kepalanya ia tuntun berputar ke belakang lalu berteriak kencang tatkala melihat dua orang yang sudah memicing penuh kecurigaan berdiri di sana.&#xA;&#xA;&#34;ANJENG! BISA KAGAK KALAU DATENG ITU PAKE SALAM?!&#34; amuk Yudha.&#xA;&#xA;&#34;Tolong, Kak. Di perpustakaan dilarang membuat keributan,&#34; tegur salah satu pengunjung ruang membaca seusai makian Yudha terlontar.&#xA;&#xA;Yudha langsung mengatupkan bibirnya. Menahan sekuat tenaga segala umpatan yang siap meluncur dari belah bibirnyw. Sedangkan kedua temannya tadi kini sudah menampilkan senyum menyebalkan yang membuat Yudha ingin sekali menampar wajah mereka satu-satu.&#xA;&#xA;&#34;Ngaku lu habis chattingan sama siapa?&#34; tuding Tirta menunjuk wajah Yudha. &#34;Gua lihat tadi nama kontaknya ada huruf D. Nama cewek lu kagak ada unsur D-nya, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Sial. Yudha semakin &#xA;dibuat kelabakan. Dari sekian banyak homo sapiens di dunia mengapa pula dia harus ketahuan oleh dua makhluk pembawa kayu bakar ini?&#xA;&#xA;&#34;L-lu berdua baca room chat gua?&#34;&#xA;&#xA;Keduanya serentak mengangguk. Membuat sekujur tubuh Yudha mendadak panas-dingin akibat terlalu sangsi jikalau dua sosok ini akan berbuat tindakan merugikan bagi dirinya.&#xA;&#xA;Berbeda dengan dugaan buruk Yudha. Reaksi yang diberikan oleh kedua temannya bahkan sangat berbanding terbalik dari yang Yudha sangka. Dua lelaki itu kini tertawa cekikikan saja—mengingat mereka masih di dalam perpustakaan—sambil memegang perut menahan ledakan tawa.&#xA;&#xA;&#34;Yudha, Yudha.... Santai aja kali. Muka lu kayak maling ketahuan warga,&#34; ledek Johnny di mana pundak cowok itu masih bergetar hebat. &#34;Hiburan di kala bosan itu wajar. Lagi pula selama kagak ketahuan sama doi mah enggak apa-apa.&#34;&#xA;&#xA;Kening Yudha berkerut dalam. Agak aneh pikirnya kalau kedua orang ini bernalar secara normal. Tapi di sisi lain Yudha sangat bersyukur kalau Johnny dan Tirta tidak akan membuat huru-hara yang membahayakan keberlangsungan hidupnya.&#xA;&#xA;&#34;Eh, tapi si Alda siapa, sih? Beneran nih lu selingkuh?&#34; bahas Tirta.&#xA;&#xA;&#34;Ya kagak lah, bego!&#34; bantah Yudha cepat. &#34;Dia kenalan gua aja. Kita baru ketemu beberapa hari lalu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cantik enggak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cantik. Lumayan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenalin dong sama gua.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gua sih mau aja, Tir. Tapi takut dianya ogah sama lu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Anjing!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh, lu berdua dah makan belum? Gua laper nih mau ke kantin,&#34; ajak Yudha memutus percakapan sebelumnya. Tanpa banyak bercakap—kecuali Tirta yang mendumel karena Yudha tidak berniat mengenalkan Alda kepadanya—mereka pun bergegas menuju pintu keluar perpustakaan.&#xA;&#xA;Selepas memasang sepatu, ketiganya mulai beriringan berjalan menuju pelataran perpustakaan. Menuruni anak tangga, sampai netra Tirta berhenti pada satu fokus yang menarik perhatian.&#xA;&#xA;&#34;Sekar!&#34;&#xA;&#xA;Sontak Yudha menoleh, bukan pada Tirta tentunya. Melainkan pada sosok yang dipanggil Tirta baru saja dan mendapati kekasihnya tersebut sedang berjalan sendirian. Dahi Yudha berkerut samar, karena seingatnya Sekar tidak ada jadwal perkuliahan hari ini tapi kini gadis itu justru muncul di area perpustakaan.&#xA;&#xA;Sekar terdiam sejenak tatkala ia menangkap manik mata Yudha yang menatapnya dengan raut meminta penjelasan. Hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk mendekat, guna menerangkan penyebab keberadaan dirinya di sini.&#xA;&#xA;&#34;Kak Tirta, Kak Johnny,&#34; sapa Sekar formalitas. Kemudian pandangnya berhenti ke arah Yudha, lalu ia menarik napas pelan sebelum mengutarakan maksudnya.&#xA;&#xA;&#34;Ada buku yang aku cari, Kak. Jadi aku ke sini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ohh.&#34; Yudha membalas singkat. &#34;Tapi kenapa enggak bilang aja sama Kakak tadi? Kalau gitu &#39;kan bisa Kakak cariin bukunya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Enggak deh, Kak. Nanti ngerepotin Kakak. Lagian aku juga sekalian mau baca yang lain juga.&#34;&#xA;&#xA;Yudha mengangguk saja sembari mengulas senyum. Membuat Tirta dan Johnny mencibir melihat tingkah so sweet Yudha yang sungguh berbanding terbalik dengan sikap bar-bar seperti kebiasaan cowok itu kalau bersama teman-temannya. Sampai sebuah ide cemerlang tiba-tiba melintas di otak Johnny, membuat lelaki itu menyenggol lengan Tirta sedikit kuat membuat si badan lebih kecil meringis.&#xA;&#xA;&#34;Apaan, sih?!&#34; protes Tirta.&#xA;&#xA;&#34;Kerjain Yudha, yuk.&#34;&#xA;&#xA;Otak Tirta langsung bekerja sewaktu menangkap kerling sinyal melalui netra Johnny. Sehingga langsung saja kepala Tirta tertoleh, di mana sepasang sejoli yang masih sibuk bertukar pandang itu menikmati moment romantis mereka.&#xA;&#xA;&#34;Sekar, lu tau enggak tadi Yudha chattingan sama—&#34;&#xA;&#xA;Yudha melototkan matanya sewaktu Tirta mengucapkan kalimat cepu itu. Secara otomatis saja Yudha menggerakkan kedua tangannya, membekap telinga Sekar dengan kedua tangan besar miliknya sehingga lanjutan kalimat Tirta terdengar samar oleh Sekar.&#xA;&#xA;&#34;DEK KITA KE KANTIN AJA, YUK! KAKAK LAPER BANGET NIH BELUM MAKAN SIANG!&#34; teriak Yudha mengalihkan fokus Sekar. Sedangkan Sekar yang terlalu terkejut akan aksi tiba-tiba Yudha hanya mengerjap bingung saja.&#xA;&#xA;&#34;Kak, enggak perlu teriak. Aku masih bisa denger—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kar, lu harus tau kalau—&#34;&#xA;&#xA;&#34;DEK AYO KITA KE KANTIN JANGAN DENGERIN BISIKAN-BISIKAN PARA SYAITON YANG TERKUTUK INI!&#34; Yudha memotong kalimat Johnny masih dengan teriakan. Kemudian lanjut menarik Sekar untuk menjauh dari jangkauan Johnny dan Tirta demi melindungi dunia dari ancaman perang.&#xA;&#xA;Johnny dan Tirta terbahak tidak berkesudahan melihat Yudha yang seperti kebakaran jenggot akibat ulah mereka berdua. Terlebih ketika melihat Yudha—tanpa membalikkan badan—mempersembahkan jari tengah dari balik punggungnya kepada Johnny dan Tirta.&#xA;&#xA;©sekarangdanesok, 2022.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Yudha meratapi layar ponselnya sejenak sebelum meredupkan mode layar tersebut menjadi gelap. Entah mengapa, setelah membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh Alda membuatnya diserang perasaan bersalah luar biasa. Meski maksud Yudha melakukan itu hanya sekadar ingin menghargai perasaan Sekar, namun di sisi lain juga dia merasa bahwa tindakannya tersebut agak sedikit kurang tepat. Benar yang dikatakan Alda, seharusnya ia tidak perlu seberlebihan itu kalau di antara mereka berdua tidak terjadi hubungan apa-apa. Lalu, untuk apa Yudha bersembunyi?</p>

<p>Cukup lama Yudha termenung dalam lamunannya. Sampai sesaat kemudian ia merasakan bulu kuduk di area lehernya meremang. Yudha pun bergidik, sambil kepalanya ia tuntun berputar ke belakang lalu berteriak kencang tatkala melihat dua orang yang sudah memicing penuh kecurigaan berdiri di sana.</p>

<p>“ANJENG! BISA KAGAK KALAU DATENG ITU PAKE SALAM?!” amuk Yudha.</p>

<p>“Tolong, Kak. Di perpustakaan dilarang membuat keributan,” tegur salah satu pengunjung ruang membaca seusai makian Yudha terlontar.</p>

<p>Yudha langsung mengatupkan bibirnya. Menahan sekuat tenaga segala umpatan yang siap meluncur dari belah bibirnyw. Sedangkan kedua temannya tadi kini sudah menampilkan senyum menyebalkan yang membuat Yudha ingin sekali menampar wajah mereka satu-satu.</p>

<p>“Ngaku lu habis <em>chattingan</em> sama siapa?” tuding Tirta menunjuk wajah Yudha. “Gua lihat tadi nama kontaknya ada huruf D. Nama cewek lu kagak ada unsur D-nya, &#39;kan?”</p>

<p>Sial. Yudha semakin
dibuat kelabakan. Dari sekian banyak <em>homo sapiens</em> di dunia mengapa pula dia harus ketahuan oleh dua makhluk pembawa kayu bakar ini?</p>

<p>“L-lu berdua baca <em>room chat</em> gua?”</p>

<p>Keduanya serentak mengangguk. Membuat sekujur tubuh Yudha mendadak panas-dingin akibat terlalu sangsi jikalau dua sosok ini akan berbuat tindakan merugikan bagi dirinya.</p>

<p>Berbeda dengan dugaan buruk Yudha. Reaksi yang diberikan oleh kedua temannya bahkan sangat berbanding terbalik dari yang Yudha sangka. Dua lelaki itu kini tertawa cekikikan saja—mengingat mereka masih di dalam perpustakaan—sambil memegang perut menahan ledakan tawa.</p>

<p>“Yudha, Yudha.... Santai aja kali. Muka lu kayak maling ketahuan warga,” ledek Johnny di mana pundak cowok itu masih bergetar hebat. “Hiburan di kala bosan itu wajar. Lagi pula selama kagak ketahuan sama doi <em>mah</em> enggak apa-apa.”</p>

<p>Kening Yudha berkerut dalam. Agak aneh pikirnya kalau kedua orang ini bernalar secara normal. Tapi di sisi lain Yudha sangat bersyukur kalau Johnny dan Tirta tidak akan membuat huru-hara yang membahayakan keberlangsungan hidupnya.</p>

<p>“Eh, tapi si Alda siapa, sih? Beneran nih lu selingkuh?” bahas Tirta.</p>

<p>“Ya kagak lah, bego!” bantah Yudha cepat. “Dia kenalan gua aja. Kita baru ketemu beberapa hari lalu.”</p>

<p>“Cantik enggak?”</p>

<p>“Cantik. Lumayan.”</p>

<p>“Kenalin dong sama gua.”</p>

<p>“Gua sih mau aja, Tir. Tapi takut dianya ogah sama lu.”</p>

<p>“Anjing!”</p>

<p>“Eh, lu berdua dah makan belum? Gua laper nih mau ke kantin,” ajak Yudha memutus percakapan sebelumnya. Tanpa banyak bercakap—kecuali Tirta yang mendumel karena Yudha tidak berniat mengenalkan Alda kepadanya—mereka pun bergegas menuju pintu keluar perpustakaan.</p>

<p>Selepas memasang sepatu, ketiganya mulai beriringan berjalan menuju pelataran perpustakaan. Menuruni anak tangga, sampai netra Tirta berhenti pada satu fokus yang menarik perhatian.</p>

<p>“Sekar!”</p>

<p>Sontak Yudha menoleh, bukan pada Tirta tentunya. Melainkan pada sosok yang dipanggil Tirta baru saja dan mendapati kekasihnya tersebut sedang berjalan sendirian. Dahi Yudha berkerut samar, karena seingatnya Sekar tidak ada jadwal perkuliahan hari ini tapi kini gadis itu justru muncul di area perpustakaan.</p>

<p>Sekar terdiam sejenak tatkala ia menangkap manik mata Yudha yang menatapnya dengan raut meminta penjelasan. Hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk mendekat, guna menerangkan penyebab keberadaan dirinya di sini.</p>

<p>“Kak Tirta, Kak Johnny,” sapa Sekar formalitas. Kemudian pandangnya berhenti ke arah Yudha, lalu ia menarik napas pelan sebelum mengutarakan maksudnya.</p>

<p>“Ada buku yang aku cari, Kak. Jadi aku ke sini.”</p>

<p>“Ohh.” Yudha membalas singkat. “Tapi kenapa enggak bilang aja sama Kakak tadi? Kalau gitu &#39;kan bisa Kakak cariin bukunya.”</p>

<p>“Enggak deh, Kak. Nanti ngerepotin Kakak. Lagian aku juga sekalian mau baca yang lain juga.”</p>

<p>Yudha mengangguk saja sembari mengulas senyum. Membuat Tirta dan Johnny mencibir melihat tingkah <em>so sweet</em> Yudha yang sungguh berbanding terbalik dengan sikap bar-bar seperti kebiasaan cowok itu kalau bersama teman-temannya. Sampai sebuah ide cemerlang tiba-tiba melintas di otak Johnny, membuat lelaki itu menyenggol lengan Tirta sedikit kuat membuat si badan lebih kecil meringis.</p>

<p>“Apaan, sih?!” protes Tirta.</p>

<p>“Kerjain Yudha, yuk.”</p>

<p>Otak Tirta langsung bekerja sewaktu menangkap kerling sinyal melalui netra Johnny. Sehingga langsung saja kepala Tirta tertoleh, di mana sepasang sejoli yang masih sibuk bertukar pandang itu menikmati <em>moment</em> romantis mereka.</p>

<p>“Sekar, lu tau enggak tadi Yudha <em>chattingan</em> sama—”</p>

<p>Yudha melototkan matanya sewaktu Tirta mengucapkan kalimat <em>cepu</em> itu. Secara otomatis saja Yudha menggerakkan kedua tangannya, membekap telinga Sekar dengan kedua tangan besar miliknya sehingga lanjutan kalimat Tirta terdengar samar oleh Sekar.</p>

<p>“DEK KITA KE KANTIN AJA, YUK! KAKAK LAPER BANGET NIH BELUM MAKAN SIANG!” teriak Yudha mengalihkan fokus Sekar. Sedangkan Sekar yang terlalu terkejut akan aksi tiba-tiba Yudha hanya mengerjap bingung saja.</p>

<p>“Kak, enggak perlu teriak. Aku masih bisa denger—”</p>

<p>“Kar, lu harus tau kalau—”</p>

<p>“DEK AYO KITA KE KANTIN JANGAN DENGERIN BISIKAN-BISIKAN PARA SYAITON YANG TERKUTUK INI!” Yudha memotong kalimat Johnny masih dengan teriakan. Kemudian lanjut menarik Sekar untuk menjauh dari jangkauan Johnny dan Tirta demi melindungi dunia dari ancaman perang.</p>

<p>Johnny dan Tirta terbahak tidak berkesudahan melihat Yudha yang seperti kebakaran jenggot akibat ulah mereka berdua. Terlebih ketika melihat Yudha—tanpa membalikkan badan—mempersembahkan jari tengah dari balik punggungnya kepada Johnny dan Tirta.</p>

<p><em>©sekarangdanesok, 2022.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sekarangdanesok.writeas.com/perkara-chat</guid>
      <pubDate>Wed, 30 Mar 2022 05:43:15 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Pertemuan Yudha dan Gadis Lain</title>
      <link>https://sekarangdanesok.writeas.com/pertemuan-yudha-dan-gadis-lain?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Kondisi perpustakaan kala itu tidak terlalu ramai, juga tidak terlalu sepi. Hanya beberapa gelintir orang saja yang tampak berlalu lalang menjalani aktivitas mereka. Entah itu membaca buku, bergelut dengan laptop, atau hanya sekadar melamun untuk mengusir kebosanan di bawah pendingin ruangan. Ya, termasuk salah satunya Yudha orang yang melakukan tindakan tidak berguna itu. Bukan apa-apa sebenarnya, hanya saja Yudha merasa kepalanya terlalu panas akibat kefrustrasian dia akan masalah perbimbingan tak kunjung kelar ini. Kali saja, dengan dia berdingin di bawah Air Conditioner ini dia bisa mendapatkan ilham—meskipun itu sedikit tidak mungkin sebab AC bukanlah Tuhan.&#xA;&#xA;Di tengah kesibukan Yudha meratapi nasib malangnya, tiba-tiba ia merasakan ada hawa keberadaan seseorang yang mampir di sebelahnya duduk. Yudha pun lekas menoleh sewaktu ia mendapati seorang perempuan yang kini tengah meletakkan sebuah laptop di atas meja bundar sambil sibuk mencari-cari sesuatu. Yudha pikir gadis itu sedang mencari colokan listrik sebab daritadi dia tampak menjinjing kepala charger di sebelah tangannya.&#xA;&#xA;“Disini Mbak, colokannya.” Yudha menerangkan, membuat sang gadis menoleh.&#xA;&#xA;“Ohh iya, makasih ya.” Yudha mengangguk saja tidak melanjutkan obrolan lebih bersama wanita itu. Akan tetapi matanya saja yang berkelana memperhatikan gadis cantik yang kini sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya.&#xA;&#xA;“Cakep juga ini cewek. Kalau gua jodohin sama Tirta sabi lah, ya. Eh tapi Tirta mau nggak ya? Bukan, bukan. Kebalik. Ini cewek emang demen sama cowok kayak Tirta?” Yudha bermonolog sendiri. Sampai ia terksesiap tatkala ia mendengar suara perempuan tadi menyahut panggilan masuk dari ponselnya.&#xA;&#xA;“Halo.”&#xA;&#xA;“…”&#xA;&#xA;“Apa? Montirnya nyusruk got?! Lah, terus nasib mobil aku gimana?”&#xA;&#xA;“…”&#xA;&#xA;“Yah, masa di tinggal sih, Pa. Entar kalau diapa-apain orang mobilnya gimana?”&#xA;&#xA;“…”&#xA;&#xA;“Ya udah, deh.”&#xA;&#xA;Gadis itu menurunkan ponselnya sewaktu panggilan bersama (kemungkinan besar ayahnya, sebab tadi dia sedikit menyebut “Papa” di tengah obrolan) berakhir. Jelas sekali kini raut perempuan itu tergambar kesal, bahkan bibirnya sudah mengerucut maju saking kesalnya.&#xA;&#xA;“Kenapa, Mbak?” tanya Yudha yang terlalu penasaran. Perempuan tadi menoleh sebentar—masih dengan tampang cemberutnya—mengarah ke Yudha.&#xA;&#xA;“Mobil saya mogok. Tadi sempat manggil montir tapi ternyata montirnya kecelakaan waktu perjalanan kesini.”&#xA;&#xA;Yudha manggut-manggut. “Mobil Mbak dimana? Kali aja saya bisa bantu.”&#xA;&#xA;“Mas montir?”&#xA;&#xA;“Bukaann…,” tolak Yudha cepat. Ya kali sudah cakep paripurna begini dibilang montir. “Gua anak mesin. Kali aja gua bisa bantu, tipis-tipis.”&#xA;&#xA;Perempuan tadi tampak menimbang sebentar. Meski di dalam lubuk hatinya ada sedikit keraguan, namun ia berpikir lagi jika Yudha sepertinya bisa cukup dipercaya akan hal itu.&#xA;&#xA;“Oke, mobilnya ada di parkiran depan kampus. Kita langsung kesana aja.”&#xA;&#xA;Yudha bersama perempuan tersebut merambat jalan menuju lokasi yang dimaksud. Lokasi parkiran itu kalau bisa dikatakan cukup jauh letaknya dari fakultas teknik, tidak tahu alasan pasti mengapa bisa perempuan ini memarkirkan mobilnya di sana karena ia tidak mau berpikir payah-payah. Toh, pikirkan saja nasib perbimbinganmu Yudha.&#xA;&#xA;Sampai 10 menit kemudian mereka akhirnya tiba di parkiran tempat mobil gadis tadi berada. Tanpa banyak cakap, Yudha segera membuka kap mobil lantas memeriksa kemungkinan dari alasan kemogokan mobil tersebut.&#xA;&#xA;“Wah, ini sih oli-nya,”terang Yudha. “Mbak, punya oli nggak?”&#xA;&#xA;“Nggak punya.”&#xA;&#xA;Yudha menggaruk tengkuknya. Kalau dia harus membeli oli,tentu dia harus memakan jarak untuk menemukan bengkel di sekitar kampusnya. Alasan lain, karena saat ini dia tidak berada di fakultas teknik yang artinya tidak ada keberadaan motornya di dekat sini.&#xA;&#xA;“Ahh iya. Gua naik ojek aja,” gumamnya. “Mbak saya mau beli oli, tapi naik ojek aja. Mbak kalau nunggu sebentar mau nggak?”&#xA;&#xA;Lagi, perempuan itu tidak langsung menjawab. Akan tetapi dirinya lagi-lagi membaca gerak-gerik Yudha yang sepertinya tulus saja untuk menolong.&#xA;&#xA;“Okay, saya tunggu di sini.”&#xA;&#xA;“Sip, tunggu ya Mbak. Nggak sampe sejam kok.”&#xA;&#xA;Kesepakatan di terima. Sampai akhirnya Yudha pergi menaiki ojek untuk membeli oli, dan kembali dalam waktu beberapa menit dengan sebuah benda di tangannya yang cukup dipastikan adalah oli.&#xA;&#xA;Tanpa banyak cakap, Yudha memasukkan oli itu ke dalam tangki dan mengisinya. Setelah selesai, dia coba suruh perempuan tadi menghidupkan mesinnya dan—berhasil.&#xA;&#xA;“Makasih ya, Kak. Udah nolongin saya,” ucapnya kepada Yudha yang dibalas lelaki itu dengan acungan jempol.&#xA;&#xA;“Sama-sama. Oh iya, jangan manggil diri Mbak dengan saya dong. Formal banget kek lagi ngobrol sama dosen.”&#xA;&#xA;Gadis itu tertawa, lalu mengangguk singkat. “Maaf ya gue jadi buat lo kaku.”&#xA;&#xA;Percakapan terjeda sebentar, akibat kehabisan topik pembicaraan. Sampai Yudha memecah kesunyian membuat gadis itu menengokkan kepala.&#xA;&#xA;“Gua balik lagi yak ke teknik,” izin Yudha.&#xA;&#xA;“Oh iya boleh. Makasih ya btw.”&#xA;&#xA;“Sama-sama.” Yudha mengakhiri pertemuan mereka dengan seulas senyum, sebelum keduanya berpisah.&#xA;&#xA;“Eh tunggu,” cegah perempuan itu menahan langkah Yudha. Membuat cowok tersebut menoleh lagi ke sumber suara.&#xA;&#xA;“Nama lo siapa?”&#xA;&#xA;Yudha diam sejenak, lalu menjawab. “Yudha.”&#xA;&#xA;Perempuan itu mengangguk sebentar. Kemudian menyahut, “gue Alda.”&#xA;&#xA;Gadis bernama Alda itu menatap Yudha sedikit lama. Sampai akhirnya Alda mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan benda pipih itu kepada Yudha.&#xA;&#xA;“Kita boleh tukeran kontak nggak?”&#xA;&#xA;-sekarangdanesok-]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Kondisi perpustakaan kala itu tidak terlalu ramai, juga tidak terlalu sepi. Hanya beberapa gelintir orang saja yang tampak berlalu lalang menjalani aktivitas mereka. Entah itu membaca buku, bergelut dengan laptop, atau hanya sekadar melamun untuk mengusir kebosanan di bawah pendingin ruangan. Ya, termasuk salah satunya Yudha orang yang melakukan tindakan tidak berguna itu. Bukan apa-apa sebenarnya, hanya saja Yudha merasa kepalanya terlalu panas akibat kefrustrasian dia akan masalah perbimbingan tak kunjung kelar ini. Kali saja, dengan dia berdingin di bawah Air Conditioner ini dia bisa mendapatkan ilham—meskipun itu sedikit tidak mungkin sebab AC bukanlah Tuhan.</p>

<p>Di tengah kesibukan Yudha meratapi nasib malangnya, tiba-tiba ia merasakan ada hawa keberadaan seseorang yang mampir di sebelahnya duduk. Yudha pun lekas menoleh sewaktu ia mendapati seorang perempuan yang kini tengah meletakkan sebuah laptop di atas meja bundar sambil sibuk mencari-cari sesuatu. Yudha pikir gadis itu sedang mencari colokan listrik sebab daritadi dia tampak menjinjing kepala <em>charger</em> di sebelah tangannya.</p>

<p>“Disini Mbak, colokannya.” Yudha menerangkan, membuat sang gadis menoleh.</p>

<p>“Ohh iya, makasih ya.” Yudha mengangguk saja tidak melanjutkan obrolan lebih bersama wanita itu. Akan tetapi matanya saja yang berkelana memperhatikan gadis cantik yang kini sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya.</p>

<p><em>“Cakep juga ini cewek. Kalau gua jodohin sama Tirta sabi lah, ya. Eh tapi Tirta mau nggak ya? Bukan, bukan. Kebalik. Ini cewek emang demen sama cowok kayak Tirta?”</em> Yudha bermonolog sendiri. Sampai ia terksesiap tatkala ia mendengar suara perempuan tadi menyahut panggilan masuk dari ponselnya.</p>

<p>“Halo.”</p>

<p>“…”</p>

<p>“Apa? Montirnya nyusruk got?! Lah, terus nasib mobil aku gimana?”</p>

<p>“…”</p>

<p>“Yah, masa di tinggal sih, Pa. Entar kalau diapa-apain orang mobilnya gimana?”</p>

<p>“…”</p>

<p>“Ya udah, deh.”</p>

<p>Gadis itu menurunkan ponselnya sewaktu panggilan bersama (kemungkinan besar ayahnya, sebab tadi dia sedikit menyebut “Papa” di tengah obrolan) berakhir. Jelas sekali kini raut perempuan itu tergambar kesal, bahkan bibirnya sudah mengerucut maju saking kesalnya.</p>

<p>“Kenapa, Mbak?” tanya Yudha yang terlalu penasaran. Perempuan tadi menoleh sebentar—masih dengan tampang cemberutnya—mengarah ke Yudha.</p>

<p>“Mobil saya mogok. Tadi sempat manggil montir tapi ternyata montirnya kecelakaan waktu perjalanan kesini.”</p>

<p>Yudha manggut-manggut. “Mobil Mbak dimana? Kali aja saya bisa bantu.”</p>

<p>“Mas montir?”</p>

<p>“Bukaann…,” tolak Yudha cepat. Ya kali sudah cakep paripurna begini dibilang montir. “Gua anak mesin. Kali aja gua bisa bantu, tipis-tipis.”</p>

<p>Perempuan tadi tampak menimbang sebentar. Meski di dalam lubuk hatinya ada sedikit keraguan, namun ia berpikir lagi jika Yudha sepertinya bisa cukup dipercaya akan hal itu.</p>

<p>“Oke, mobilnya ada di parkiran depan kampus. Kita langsung kesana aja.”</p>

<p>Yudha bersama perempuan tersebut merambat jalan menuju lokasi yang dimaksud. Lokasi parkiran itu kalau bisa dikatakan cukup jauh letaknya dari fakultas teknik, tidak tahu alasan pasti mengapa bisa perempuan ini memarkirkan mobilnya di sana karena ia tidak mau berpikir payah-payah. Toh, pikirkan saja nasib perbimbinganmu Yudha.</p>

<p>Sampai 10 menit kemudian mereka akhirnya tiba di parkiran tempat mobil gadis tadi berada. Tanpa banyak cakap, Yudha segera membuka kap mobil lantas memeriksa kemungkinan dari alasan kemogokan mobil tersebut.</p>

<p>“Wah, ini sih oli-nya,”terang Yudha. “Mbak, punya oli nggak?”</p>

<p>“Nggak punya.”</p>

<p>Yudha menggaruk tengkuknya. Kalau dia harus membeli oli,tentu dia harus memakan jarak untuk menemukan bengkel di sekitar kampusnya. Alasan lain, karena saat ini dia tidak berada di fakultas teknik yang artinya tidak ada keberadaan motornya di dekat sini.</p>

<p>“Ahh iya. Gua naik ojek aja,” gumamnya. “Mbak saya mau beli oli, tapi naik ojek aja. Mbak kalau nunggu sebentar mau nggak?”</p>

<p>Lagi, perempuan itu tidak langsung menjawab. Akan tetapi dirinya lagi-lagi membaca gerak-gerik Yudha yang sepertinya tulus saja untuk menolong.</p>

<p>“Okay, saya tunggu di sini.”</p>

<p>“Sip, tunggu ya Mbak. Nggak sampe sejam kok.”</p>

<p>Kesepakatan di terima. Sampai akhirnya Yudha pergi menaiki ojek untuk membeli oli, dan kembali dalam waktu beberapa menit dengan sebuah benda di tangannya yang cukup dipastikan adalah oli.</p>

<p>Tanpa banyak cakap, Yudha memasukkan oli itu ke dalam tangki dan mengisinya. Setelah selesai, dia coba suruh perempuan tadi menghidupkan mesinnya dan—berhasil.</p>

<p>“Makasih ya, Kak. Udah nolongin saya,” ucapnya kepada Yudha yang dibalas lelaki itu dengan acungan jempol.</p>

<p>“Sama-sama. Oh iya, jangan manggil diri Mbak dengan saya dong. Formal banget kek lagi ngobrol sama dosen.”</p>

<p>Gadis itu tertawa, lalu mengangguk singkat. “Maaf ya gue jadi buat lo kaku.”</p>

<p>Percakapan terjeda sebentar, akibat kehabisan topik pembicaraan. Sampai Yudha memecah kesunyian membuat gadis itu menengokkan kepala.</p>

<p>“Gua balik lagi yak ke teknik,” izin Yudha.</p>

<p>“Oh iya boleh. Makasih ya btw.”</p>

<p>“Sama-sama.” Yudha mengakhiri pertemuan mereka dengan seulas senyum, sebelum keduanya berpisah.</p>

<p>“Eh tunggu,” cegah perempuan itu menahan langkah Yudha. Membuat cowok tersebut menoleh lagi ke sumber suara.</p>

<p>“Nama lo siapa?”</p>

<p>Yudha diam sejenak, lalu menjawab. “Yudha.”</p>

<p>Perempuan itu mengangguk sebentar. Kemudian menyahut, “gue Alda.”</p>

<p>Gadis bernama Alda itu menatap Yudha sedikit lama. Sampai akhirnya Alda mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan benda pipih itu kepada Yudha.</p>

<p>“Kita boleh tukeran kontak nggak?”</p>

<p><em>-sekarangdanesok-</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sekarangdanesok.writeas.com/pertemuan-yudha-dan-gadis-lain</guid>
      <pubDate>Wed, 02 Feb 2022 00:29:26 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kak Yudha itu Punya Sekar</title>
      <link>https://sekarangdanesok.writeas.com/kak-yudha-itu-punya-sekar?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Yudha dan Sekar memasuki sebuah supermarket dan mulai berjalan menyusuri rak-rak yang ada di kanan dan kiri mereka. Menilik satu-persatu barang yang mungkin untuk di bawa oleh Yudha. Sesekali Sekar mengambil beberapa barang dari rak, kemudian menanyakan apakah barang tersebut di butuhkan atau tidak.&#xA;&#xA;“Kak, sandal udah ada?” tanya Sekar sambil memilah-milah sandal di tangannya.&#xA;&#xA;“Di kost ada, Dek.”&#xA;&#xA;“Bagus nggak?”&#xA;&#xA;“Masih bagus.”&#xA;&#xA;“Maksudnya sandal bagus apa sandal jelek?”&#xA;&#xA;Yudha berpikir sebentar. “Sendal bagus, Dek. Kakak belinya 200 ribu di Payless.”&#xA;&#xA;Sekar langsung menggeleng cepat mendengar jawaban Yudha. “Nggak usah di bawa. Pakai ini aja.” Sekar menyodorkan sebuah sandal jepit bergambar SpiderMan di tangannya.&#xA;&#xA;“Ini harganya cuma 20 ribu,” jelasnya seraya memasukkan sandal tersebut ke dalam keranjang.&#xA;&#xA;“Dek, kok Kakak disuruh pakai sendal beginian sih?” protes Yudha menunjuk sandal SpiderMan pilihan Sekar. “Nggak gaul entar Kakak.”&#xA;&#xA;Sekar menarik napasnya pelan. Lalu beralih menatap wajah Yudha dengan raut meyakinkan.&#xA;&#xA;“Kak, ini tuh mau KKN. Bukan mau tamasya. Buat apa bawa barang bagus-bagus. Nanti juga disana paling Kakak disuruh nyangkul, disuruh masuk kubangan, sayang &#39;kan sendal bagusnya. Lagi pula sendal bagus itu rentan di curi. Kita mana tahu isi pikiran orang-orang. Lihat barang bagus dikit, di embat.”&#xA;&#xA;Yudha mengerjap-ngerjap mata selama mendengarkan cerocosan dari Sekar. Ia seperti begitu terkesima melihat Sekar yang bahkan memperhatikan hal-hal kecil sedetail itu.&#xA;&#xA;“Omongan Adek persis kayak omelan mamanya Kakak,” komentar Yudha yang kini sudah melanjutkan perjalanan menuju rak berikutnya.&#xA;&#xA;“Karena memang hal itu udah lumrah terjadi di lingkungan kita, Kak,” balas Sekar berjalan menuju rak yang menyusun obat-obatan.&#xA;&#xA;“Kenapa ke rak obat?” bingung Yudha.&#xA;&#xA;“Buat jaga-jaga. Kalau pusing atau masuk angin.” Sekar pun memasukkan beberapa obat pereda sakit kepala dan minyak angin ke dalam keranjang belanjaan Yudha. Melihat itu, Yudha diam-diam tersenyum. Membuat Sekar mengernyit heran.&#xA;&#xA;“Kakak kenapa deh senyum-senyum gitu?” kernyit Sekar. Melihat kebingungan Sekar, Yudha semakin tidak kuasa menahan senyum dan kini ia justru tergelak.&#xA;&#xA;“Kakak tuh merasa lucu aja. Kakak kayak lagi di urusin sama istri tahu.”&#xA;&#xA;Sekar berdeham salah tingkah. Lantas membuang muka cepat-cepat karena merasa malu. “Kayak tahu aja rasanya punya istri.”&#xA;&#xA;Yudha mengulum bibir sejenak. Kemudian meraih pundak Sekar dan menariknya untuk menipiskan jarak. Sudut bibir Yudha tertarik mengembangkan senyum kejahilan guna menggoda kekasihnya.&#xA;&#xA;“Belum tahu sih. Tapi sekarang lagi latihan untuk jadi biasa gimana rasanya punya istri.”&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Memang benar faktanya jika selama mereka berbelanja di dalam, hujan mengguyur deras di luar. Syukurnya, tepat urusan mereka selesai perihal perbelanjaan, berhenti pula guyuran itu turun dari langit yang pekat. Ya, mungkin itu sat bagian untungnya. Namun ada ketidak-beruntungan lain, karena seusai hujan beberapa jalanan kota jadi tergenang banjir.&#xA;&#xA;“Duh dalem juga banjirnya, Dek,” ujar Yudha melihat kondisi jalanan cekung yang ada di depannya tergenang air sebatas lutut orang dewasa. “Nggak ada jalan lain apa buat sampe ke kost Adek?”&#xA;&#xA;“Setahu aku sih nggak ada, Kak. Ini akses jalan satu-satunya. Lagian daerah sini emang sering banjir, Kak. Kan tanahnya berbukit gitu. Tapi pas nanti dii daerah deket kost aku nggak banjir lagi. Karena tanah daerah sana udah agak tinggi.”&#xA;&#xA;“Jadi mau nggak mau kita harus lewat sini?”&#xA;&#xA;&#34;Iya, Kak.”&#xA;&#xA;Yudha diam sejenak. Cepat memikirkan cara agar bisa mengantarkan Sekar sampai menuju kost-nya berada.&#xA;&#xA;“Ini kalau motor Kakak di paksa nerobos bisa mati mesin nih,” gumam Yudha sembari mengusap dagu. Lalu ia menebar pandangnya ke penjuru arah. Sewaktu ia menemukan sebuah Indomaret yang berlokasi tidak jauh dari mereka.&#xA;&#xA;“Dek, kalau jalan kaki mau nggak?”&#xA;&#xA;“Jalan kaki?”&#xA;&#xA;“Iya. Kakak anter ke kost jalan kaki. Motor Kakak biar Kakak taro di Indomaret bentar.”&#xA;&#xA;Sekar mengalihkan pandang menuju bangunan Indomaret yang di maksud Yudha. Lalu menatap Yudha yang kini menunggu kepastian darinya.&#xA;&#xA;“Iya nggak apa, deh,” setuju Sekar. Akhirnya mereka memutuskan untuk menitipkan motor di parkiran Indomaret. Setelah itu, Yudha mulai menggulung celana rombengnya sebatas lutut.&#xA;&#xA;“Kakak nyeker?” tanya Sekar heran.&#xA;&#xA;“Ya iyalah, Dek. Kalau pakai sendal bisa-bisa hanyut di bawa banjir.” Samnil masih sibuk melakukan kegiatannya menggulung celananya, mata Yudha menangkap kaki Sekar. Dimana perempuan itu masih mengenakan sepatunya di bawah sana.&#xA;&#xA;“Sepatu Adek lepas. Siniin biar Kakak yang pegang.”&#xA;&#xA;Sekar menurut sewaktu Yudha menyuruhnya melepas sepatu. Menyisakan cekeran kakinya untuk siap menerobos banjir setinggi lutut. Sebelum itu, Yudha sudah mengulurkan tangannya lebih dulu untuk menggandeng tangan Sekar.&#xA;&#xA;“Jalannya pelan-pelan aja. Perhatiin kalau ada lubang atau benda tajem lain,” nasihat Yudha. Sekar pun mengangguk. Mengikuti instruksi Yudha yang sengaja jalan lebih dulu di depannya untuk memastikan bahaya yang ada.&#xA;&#xA;“Nah, disini ada lubangnya nih. Melangkahnya agak lebar.”&#xA;&#xA;“Dimana Kak lubangnya?”&#xA;&#xA;“Disini nih,” tunjuk Yudha dengan dagunya.&#xA;&#xA;Awalnya Sekar hendak mengangkat kaki, namun ia urungkan niat itu dan kembali ke posisi semula.&#xA;&#xA;“Kak, takut nyeblos ….”&#xA;&#xA;“Enggak … Kakak pegangin.”&#xA;&#xA;“Takut, Kak.”&#xA;&#xA;“Enggak, Sekar. Buru, langkah aja.”&#xA;&#xA;Sekar pun mengangkat kakinya sedikit lebar. Sembari tangannya di genggam erat oleh Yudha. Ada sedikit tragedi kecil sebetulnya, tapi untunglah Yudha cekatan menahan bobot tubuh Sekar sehingga gadis itu tidak tercebur dalam genangan banjir.&#xA;&#xA;Akhirnya rintangan banjir berhasil mereka lalui sepanjang kurang lebih 60 meter. Kini mereka sudah berada di tempat yang lebih aman. Meskipun pakaian bawah mereka sudah tentu basah semua sekarang.&#xA;&#xA;“Nanti kalau udah nyampe di kost langsung ganti baju, mandi, sabunin banyak-banyak badannya. Terutama kaki. Entar korengan tuh kaki berbaur sama kencing tikus.”&#xA;&#xA;Sekar mengangguk patuh. Selama sisa perjalanan mereka menuju kost, Sekar semakin mengeratkan genggamannya pada pergelangan dan ruas-ruas jemari tangan Yudha. Sekali-sekali gadis itu menggelayut manja di lengan Yudha sampai akhirnya mereka tiba di depan kost.&#xA;&#xA;“Inget pesen Kakak tadi apa?” tanya Yudha.&#xA;&#xA;“Ganti baju, mandi.”&#xA;&#xA;“Oke, anak pinter.”&#xA;&#xA;“Iyalah. Begini-begini aku anak Kimia Murni lho, Kak.”&#xA;&#xA;Yudha tertawa renyah mendengar candaan Sekar. “Udah, buruan masuk. Nih bawa sepatunya entar kebawa lagi sama Kakak.”&#xA;&#xA;Sekar menerima uluran sepatu dari tangan Yudha. Mengambilnya, namun tidak lekas terburu masuk ke dalam pagar.&#xA;&#xA;“Kenapa diem aja? Masuk gih. Dah malem.”&#xA;&#xA;“Kak Yudha …,”&#xA;&#xA;Yudha menaikkan dua alisnya. Menunggu lanjutan kalimat Sekar yang terjeda.&#xA;&#xA;“Baiknya sama aku aja, ya. Jangan sama cewek lain. Kak Yudha itu kepunyaan Sekar. Bukan punya orang lain.”&#xA;&#xA;-sekarangdanesok-]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Yudha dan Sekar memasuki sebuah supermarket dan mulai berjalan menyusuri rak-rak yang ada di kanan dan kiri mereka. Menilik satu-persatu barang yang mungkin untuk di bawa oleh Yudha. Sesekali Sekar mengambil beberapa barang dari rak, kemudian menanyakan apakah barang tersebut di butuhkan atau tidak.</p>

<p>“Kak, sandal udah ada?” tanya Sekar sambil memilah-milah sandal di tangannya.</p>

<p>“Di kost ada, Dek.”</p>

<p>“Bagus nggak?”</p>

<p>“Masih bagus.”</p>

<p>“Maksudnya sandal bagus apa sandal jelek?”</p>

<p>Yudha berpikir sebentar. “Sendal bagus, Dek. Kakak belinya 200 ribu di Payless.”</p>

<p>Sekar langsung menggeleng cepat mendengar jawaban Yudha. “Nggak usah di bawa. Pakai ini aja.” Sekar menyodorkan sebuah sandal jepit bergambar SpiderMan di tangannya.</p>

<p>“Ini harganya cuma 20 ribu,” jelasnya seraya memasukkan sandal tersebut ke dalam keranjang.</p>

<p>“Dek, kok Kakak disuruh pakai sendal beginian sih?” protes Yudha menunjuk sandal SpiderMan pilihan Sekar. “Nggak gaul entar Kakak.”</p>

<p>Sekar menarik napasnya pelan. Lalu beralih menatap wajah Yudha dengan raut meyakinkan.</p>

<p>“Kak, ini tuh mau KKN. Bukan mau tamasya. Buat apa bawa barang bagus-bagus. Nanti juga disana paling Kakak disuruh nyangkul, disuruh masuk kubangan, sayang &#39;kan sendal bagusnya. Lagi pula sendal bagus itu rentan di curi. Kita mana tahu isi pikiran orang-orang. Lihat barang bagus dikit, di embat.”</p>

<p>Yudha mengerjap-ngerjap mata selama mendengarkan cerocosan dari Sekar. Ia seperti begitu terkesima melihat Sekar yang bahkan memperhatikan hal-hal kecil sedetail itu.</p>

<p>“Omongan Adek persis kayak omelan mamanya Kakak,” komentar Yudha yang kini sudah melanjutkan perjalanan menuju rak berikutnya.</p>

<p>“Karena memang hal itu udah lumrah terjadi di lingkungan kita, Kak,” balas Sekar berjalan menuju rak yang menyusun obat-obatan.</p>

<p>“Kenapa ke rak obat?” bingung Yudha.</p>

<p>“Buat jaga-jaga. Kalau pusing atau masuk angin.” Sekar pun memasukkan beberapa obat pereda sakit kepala dan minyak angin ke dalam keranjang belanjaan Yudha. Melihat itu, Yudha diam-diam tersenyum. Membuat Sekar mengernyit heran.</p>

<p>“Kakak kenapa deh senyum-senyum gitu?” kernyit Sekar. Melihat kebingungan Sekar, Yudha semakin tidak kuasa menahan senyum dan kini ia justru tergelak.</p>

<p>“Kakak tuh merasa lucu aja. Kakak kayak lagi di urusin sama istri tahu.”</p>

<p>Sekar berdeham salah tingkah. Lantas membuang muka cepat-cepat karena merasa malu. “Kayak tahu aja rasanya punya istri.”</p>

<p>Yudha mengulum bibir sejenak. Kemudian meraih pundak Sekar dan menariknya untuk menipiskan jarak. Sudut bibir Yudha tertarik mengembangkan senyum kejahilan guna menggoda kekasihnya.</p>

<p>“Belum tahu sih. Tapi sekarang lagi latihan untuk jadi biasa gimana rasanya punya istri.”</p>

<hr/>

<p>Memang benar faktanya jika selama mereka berbelanja di dalam, hujan mengguyur deras di luar. Syukurnya, tepat urusan mereka selesai perihal perbelanjaan, berhenti pula guyuran itu turun dari langit yang pekat. Ya, mungkin itu sat bagian untungnya. Namun ada ketidak-beruntungan lain, karena seusai hujan beberapa jalanan kota jadi tergenang banjir.</p>

<p>“Duh dalem juga banjirnya, Dek,” ujar Yudha melihat kondisi jalanan cekung yang ada di depannya tergenang air sebatas lutut orang dewasa. “Nggak ada jalan lain apa buat sampe ke kost Adek?”</p>

<p>“Setahu aku sih nggak ada, Kak. Ini akses jalan satu-satunya. Lagian daerah sini emang sering banjir, Kak. Kan tanahnya berbukit gitu. Tapi pas nanti dii daerah deket kost aku nggak banjir lagi. Karena tanah daerah sana udah agak tinggi.”</p>

<p>“Jadi mau nggak mau kita harus lewat sini?”</p>

<p>“Iya, Kak.”</p>

<p>Yudha diam sejenak. Cepat memikirkan cara agar bisa mengantarkan Sekar sampai menuju kost-nya berada.</p>

<p>“Ini kalau motor Kakak di paksa nerobos bisa mati mesin nih,” gumam Yudha sembari mengusap dagu. Lalu ia menebar pandangnya ke penjuru arah. Sewaktu ia menemukan sebuah Indomaret yang berlokasi tidak jauh dari mereka.</p>

<p>“Dek, kalau jalan kaki mau nggak?”</p>

<p>“Jalan kaki?”</p>

<p>“Iya. Kakak anter ke kost jalan kaki. Motor Kakak biar Kakak taro di Indomaret bentar.”</p>

<p>Sekar mengalihkan pandang menuju bangunan Indomaret yang di maksud Yudha. Lalu menatap Yudha yang kini menunggu kepastian darinya.</p>

<p>“Iya nggak apa, deh,” setuju Sekar. Akhirnya mereka memutuskan untuk menitipkan motor di parkiran Indomaret. Setelah itu, Yudha mulai menggulung celana rombengnya sebatas lutut.</p>

<p>“Kakak nyeker?” tanya Sekar heran.</p>

<p>“Ya iyalah, Dek. Kalau pakai sendal bisa-bisa hanyut di bawa banjir.” Samnil masih sibuk melakukan kegiatannya menggulung celananya, mata Yudha menangkap kaki Sekar. Dimana perempuan itu masih mengenakan sepatunya di bawah sana.</p>

<p>“Sepatu Adek lepas. Siniin biar Kakak yang pegang.”</p>

<p>Sekar menurut sewaktu Yudha menyuruhnya melepas sepatu. Menyisakan cekeran kakinya untuk siap menerobos banjir setinggi lutut. Sebelum itu, Yudha sudah mengulurkan tangannya lebih dulu untuk menggandeng tangan Sekar.</p>

<p>“Jalannya pelan-pelan aja. Perhatiin kalau ada lubang atau benda tajem lain,” nasihat Yudha. Sekar pun mengangguk. Mengikuti instruksi Yudha yang sengaja jalan lebih dulu di depannya untuk memastikan bahaya yang ada.</p>

<p>“Nah, disini ada lubangnya nih. Melangkahnya agak lebar.”</p>

<p>“Dimana Kak lubangnya?”</p>

<p>“Disini nih,” tunjuk Yudha dengan dagunya.</p>

<p>Awalnya Sekar hendak mengangkat kaki, namun ia urungkan niat itu dan kembali ke posisi semula.</p>

<p>“Kak, takut nyeblos ….”</p>

<p>“Enggak … Kakak pegangin.”</p>

<p>“Takut, Kak.”</p>

<p>“Enggak, Sekar. Buru, langkah aja.”</p>

<p>Sekar pun mengangkat kakinya sedikit lebar. Sembari tangannya di genggam erat oleh Yudha. Ada sedikit tragedi kecil sebetulnya, tapi untunglah Yudha cekatan menahan bobot tubuh Sekar sehingga gadis itu tidak tercebur dalam genangan banjir.</p>

<p>Akhirnya rintangan banjir berhasil mereka lalui sepanjang kurang lebih 60 meter. Kini mereka sudah berada di tempat yang lebih aman. Meskipun pakaian bawah mereka sudah tentu basah semua sekarang.</p>

<p>“Nanti kalau udah nyampe di kost langsung ganti baju, mandi, sabunin banyak-banyak badannya. Terutama kaki. Entar korengan tuh kaki berbaur sama kencing tikus.”</p>

<p>Sekar mengangguk patuh. Selama sisa perjalanan mereka menuju kost, Sekar semakin mengeratkan genggamannya pada pergelangan dan ruas-ruas jemari tangan Yudha. Sekali-sekali gadis itu menggelayut manja di lengan Yudha sampai akhirnya mereka tiba di depan kost.</p>

<p>“Inget pesen Kakak tadi apa?” tanya Yudha.</p>

<p>“Ganti baju, mandi.”</p>

<p>“Oke, anak pinter.”</p>

<p>“Iyalah. Begini-begini aku anak Kimia Murni lho, Kak.”</p>

<p>Yudha tertawa renyah mendengar candaan Sekar. “Udah, buruan masuk. Nih bawa sepatunya entar kebawa lagi sama Kakak.”</p>

<p>Sekar menerima uluran sepatu dari tangan Yudha. Mengambilnya, namun tidak lekas terburu masuk ke dalam pagar.</p>

<p>“Kenapa diem aja? Masuk gih. Dah malem.”</p>

<p>“Kak Yudha …,”</p>

<p>Yudha menaikkan dua alisnya. Menunggu lanjutan kalimat Sekar yang terjeda.</p>

<p>“Baiknya sama aku aja, ya. Jangan sama cewek lain. Kak Yudha itu kepunyaan Sekar. Bukan punya orang lain.”</p>

<p><em>-sekarangdanesok-</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sekarangdanesok.writeas.com/kak-yudha-itu-punya-sekar</guid>
      <pubDate>Fri, 31 Dec 2021 16:16:28 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Percaya</title>
      <link>https://sekarangdanesok.writeas.com/percaya?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[“Sekar ….”&#xA;&#xA;Sekar membuka matanya. Merasakan sentuhan pelan di keningnya setelah ia lihat Vega sedang meletakkan lap basah disana. Memang benar, saat ini Sekar agak sedikit demam pasca kecelakaan yang dialaminya.&#xA;&#xA;“Lo mau makan apa?” tanya Vega.&#xA;&#xA;“Apa aja, deh.”&#xA;&#xA;“Nasi goreng mau? Biar ada rasanya dikit.”&#xA;&#xA;“Iya, nggak apa.”&#xA;&#xA;Seusai meletakkan kain basah tadi di kening Sekar, Vega mengotak-atik ponselnya. Mungkin ia sedang melakukan pemesanan makanan melalui delivery.&#xA;&#xA;Sekitar 10 menit mereka menunggu. Vega menoleh ke arah pintu sewaktu dirinya mendengar suara deru motor berhenti di depan pagar kost.&#xA;&#xA;“Kayaknya itu driver-nya,” ujar Vega langsung bangkit dari duduk. “Sekar, gue ke depan bentar ya. Ngambil makanan.”&#xA;&#xA;Sekar yang kini sudah berubah posisi menjadi duduk hanya mengangguk lemah. Tidak lama Vega keluar, sesampainya ia kembali lagi. Namun tidak membawa apa-apa.&#xA;&#xA;“Ternyata bukan driver kita, Kar. Itu bapak kost lo.”&#xA;&#xA;Sekar mengernyit. “Mau ngapain?”&#xA;&#xA;“Katanya mau ketemu sama lo. Gue bilang Sekar lagi sakit. Tapi kayaknya ada yang penting buat di omongin. Lo masih mau nemuin dia atau bilang aja lo nggak bisa ketemu?”&#xA;&#xA;Sekar menggeleng. Mungkin benar yang di katakan Vega. Sesuatu itu terlalu penting sehingga bapak kost bela datang jauh-jauh demi bertemu dengannya.&#xA;&#xA;“Nggak apa. Biar gue temuin aja.”&#xA;&#xA;Sekar berusaha bangkit meski dengan langkah tertatih. Pusingnya masih begitu terasa. Tapi tidak separah tadi. Ia terus mengayun tungkai kaki hingga ia benar-benar melihat sosok seseorang duduk di atas motor.&#xA;&#xA;Sekar tidak segera bersuara. Ia sungguh tahu siapa gerangan yang berada di atas motor itu. Bukan pemilik kost seperti yang di maksud Vega, melainkan Yudha.&#xA;&#xA;Yudha menoleh, mengangkat sebuah kantong plastik putih berisikan dua bungkus nasi goreng beserta tiga botol susu beruang. Sekar kembali ingat, waktu itu Yudha juga pernah memberinya susu beruang sewaktu ia sakit.&#xA;&#xA;Yudha turun dari motor dan mendekat ke arah Sekar. Di perhatikannya lekat-lekat gadis di hadapannya ini dengan pandangan menenangkan. Bukan kilat amarah seperti yang ia jumpa di rumah sakit tadi.&#xA;&#xA;“Mana yang sakit?” tanyanya lembut.&#xA;&#xA;Sekar tidak menjawab. Ia justru menangis sedu-sedan mendengar pertanyaan tersebut. Hatinya mendadak terenyuh sewaktu lagi—Yudha memberinya perhatian sedalam itu.&#xA;&#xA;“Ssshhh … Nggak usah nangis. Kalau sakit bilang sama Kakak. Biar bisa kita obatin.”&#xA;&#xA;Bukannya mereda. Sekar semakin di buat terisak di buat Yudha. Sampai-sampai lelaki itu membawa Sekar ke dalam pelukan untuk menenangkannya.&#xA;&#xA;“Kak, maaf ….” Hanya ujar itu yang terlontar dari bibir Sekar. Seraya tangannya merengkuh erat tubuh Yudha, serta menyembunyikan wajahnya di balik dekapan Yudha.&#xA;&#xA;“Andai aja aku nurut buat nunggu Kakak sebentar aja. Kejadiannya nggak kayak gini. Harusnya aku tetap percaya kalau Kakak bakalan dateng buat jemput aku.”&#xA;&#xA;Yudha semakin erat memeluk Sekar. Lanjut menyandarkan dagunya di puncak kepala Sekar. Sembari tangannya bergerak mengusap punggung Sekar.&#xA;&#xA;“Kakak juga minta maaf. Udah marah-marah kayak tadi,” ucap Yudha pelan.&#xA;&#xA;Keduanya terdiam cukup lama. Menikmati hening dalam kesenduan.&#xA;&#xA;“Kakak tadi bukan marah sama Adek. Tapi Kakak terlanjur kesal sama diri sendiri karena gara-gara Kakak lama, buat Adek nunggu. Gara-gara Kakak, Adek dapet musibah begini. Coba aja kalau tadi Kakak dateng tepat waktu, semuanya nggak bakal jadi begini kan?”&#xA;&#xA;Yudha mengakhiri kegiatan berpelukan mereka. Kini ia menatap gadis itu seraya ibu jarinya bergerak untuk menghapus jejak air mata di pipi Sekar.&#xA;&#xA;“Kakak merasa berdosa ngelihat Adek terluka kayak gini,” ucapnya dengan suara serak. “Karena Kakak udah pernah janji sama ayahnya Adek, buat jagain anak gadisnya.”&#xA;&#xA;Sekar menatap mata Yudha nanar. Mendapati sorot ketulusan yang di pancarkan laki-laki itu kepadanya.&#xA;&#xA;“Adek percaya nggak sama Kakak?” tanya Yudha dengan suara sedikit tertahan.&#xA;&#xA;“Percaya apa?” tanya balik Sekar dengan suara yang juga hampir menghilang.&#xA;&#xA;“Percaya kalau nggak ada perempuan lain yang Kakak suka selain perempuan yang berdiri di depan Kakak sekarang. Nggak ada perempuan lain yang sangat ingin Kakak lindungi selain perempuan cantik yang lagi nangis di hadapan Kakak sekarang.”&#xA;&#xA;-sekarangdanesok-]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Sekar ….”</p>

<p>Sekar membuka matanya. Merasakan sentuhan pelan di keningnya setelah ia lihat Vega sedang meletakkan lap basah disana. Memang benar, saat ini Sekar agak sedikit demam pasca kecelakaan yang dialaminya.</p>

<p>“Lo mau makan apa?” tanya Vega.</p>

<p>“Apa aja, deh.”</p>

<p>“Nasi goreng mau? Biar ada rasanya dikit.”</p>

<p>“Iya, nggak apa.”</p>

<p>Seusai meletakkan kain basah tadi di kening Sekar, Vega mengotak-atik ponselnya. Mungkin ia sedang melakukan pemesanan makanan melalui <em>delivery</em>.</p>

<p>Sekitar 10 menit mereka menunggu. Vega menoleh ke arah pintu sewaktu dirinya mendengar suara deru motor berhenti di depan pagar kost.</p>

<p>“Kayaknya itu <em>driver</em>-nya,” ujar Vega langsung bangkit dari duduk. “Sekar, gue ke depan bentar ya. Ngambil makanan.”</p>

<p>Sekar yang kini sudah berubah posisi menjadi duduk hanya mengangguk lemah. Tidak lama Vega keluar, sesampainya ia kembali lagi. Namun tidak membawa apa-apa.</p>

<p>“Ternyata bukan <em>driver</em> kita, Kar. Itu bapak kost lo.”</p>

<p>Sekar mengernyit. “Mau ngapain?”</p>

<p>“Katanya mau ketemu sama lo. Gue bilang Sekar lagi sakit. Tapi kayaknya ada yang penting buat di omongin. Lo masih mau nemuin dia atau bilang aja lo nggak bisa ketemu?”</p>

<p>Sekar menggeleng. Mungkin benar yang di katakan Vega. Sesuatu itu terlalu penting sehingga bapak kost bela datang jauh-jauh demi bertemu dengannya.</p>

<p>“Nggak apa. Biar gue temuin aja.”</p>

<p>Sekar berusaha bangkit meski dengan langkah tertatih. Pusingnya masih begitu terasa. Tapi tidak separah tadi. Ia terus mengayun tungkai kaki hingga ia benar-benar melihat sosok seseorang duduk di atas motor.</p>

<p>Sekar tidak segera bersuara. Ia sungguh tahu siapa gerangan yang berada di atas motor itu. Bukan pemilik kost seperti yang di maksud Vega, melainkan Yudha.</p>

<p>Yudha menoleh, mengangkat sebuah kantong plastik putih berisikan dua bungkus nasi goreng beserta tiga botol susu beruang. Sekar kembali ingat, waktu itu Yudha juga pernah memberinya susu beruang sewaktu ia sakit.</p>

<p>Yudha turun dari motor dan mendekat ke arah Sekar. Di perhatikannya lekat-lekat gadis di hadapannya ini dengan pandangan menenangkan. Bukan kilat amarah seperti yang ia jumpa di rumah sakit tadi.</p>

<p>“Mana yang sakit?” tanyanya lembut.</p>

<p>Sekar tidak menjawab. Ia justru menangis sedu-sedan mendengar pertanyaan tersebut. Hatinya mendadak terenyuh sewaktu lagi—Yudha memberinya perhatian sedalam itu.</p>

<p>“Ssshhh … Nggak usah nangis. Kalau sakit bilang sama Kakak. Biar bisa kita obatin.”</p>

<p>Bukannya mereda. Sekar semakin di buat terisak di buat Yudha. Sampai-sampai lelaki itu membawa Sekar ke dalam pelukan untuk menenangkannya.</p>

<p>“Kak, maaf ….” Hanya ujar itu yang terlontar dari bibir Sekar. Seraya tangannya merengkuh erat tubuh Yudha, serta menyembunyikan wajahnya di balik dekapan Yudha.</p>

<p>“Andai aja aku nurut buat nunggu Kakak sebentar aja. Kejadiannya nggak kayak gini. Harusnya aku tetap percaya kalau Kakak bakalan dateng buat jemput aku.”</p>

<p>Yudha semakin erat memeluk Sekar. Lanjut menyandarkan dagunya di puncak kepala Sekar. Sembari tangannya bergerak mengusap punggung Sekar.</p>

<p>“Kakak juga minta maaf. Udah marah-marah kayak tadi,” ucap Yudha pelan.</p>

<p>Keduanya terdiam cukup lama. Menikmati hening dalam kesenduan.</p>

<p>“Kakak tadi bukan marah sama Adek. Tapi Kakak terlanjur kesal sama diri sendiri karena gara-gara Kakak lama, buat Adek nunggu. Gara-gara Kakak, Adek dapet musibah begini. Coba aja kalau tadi Kakak dateng tepat waktu, semuanya nggak bakal jadi begini kan?”</p>

<p>Yudha mengakhiri kegiatan berpelukan mereka. Kini ia menatap gadis itu seraya ibu jarinya bergerak untuk menghapus jejak air mata di pipi Sekar.</p>

<p>“Kakak merasa berdosa ngelihat Adek terluka kayak gini,” ucapnya dengan suara serak. “Karena Kakak udah pernah janji sama ayahnya Adek, buat jagain anak gadisnya.”</p>

<p>Sekar menatap mata Yudha nanar. Mendapati sorot ketulusan yang di pancarkan laki-laki itu kepadanya.</p>

<p>“Adek percaya nggak sama Kakak?” tanya Yudha dengan suara sedikit tertahan.</p>

<p>“Percaya apa?” tanya balik Sekar dengan suara yang juga hampir menghilang.</p>

<p>“Percaya kalau nggak ada perempuan lain yang Kakak suka selain perempuan yang berdiri di depan Kakak sekarang. Nggak ada perempuan lain yang sangat ingin Kakak lindungi selain perempuan cantik yang lagi nangis di hadapan Kakak sekarang.”</p>

<p><em>-sekarangdanesok-</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sekarangdanesok.writeas.com/percaya</guid>
      <pubDate>Fri, 31 Dec 2021 05:58:14 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Tak Kunjung Datang</title>
      <link>https://sekarangdanesok.writeas.com/tak-kunjung-datang?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sudah 45 menit Sekar menunggu. Namun Yudha tampak seperti tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiran. Panas yang semakin menyengat membuat Sekar lama-lama berkeringat juga. Ia sudah mulai kepanasan.&#xA;&#xA;“Kak Yudha dimana sih? Lama banget. Baju gue udah basah nih keringetan,” omel Sekar sendiri. Ia pun sudah mengibaskan kerah pakaiannya mencari angin. Sesekali ia mengusap peluh bercucuran di lehernya.&#xA;&#xA;Dengan penuh kesabaran, Sekar masih menunggu kedatangan Yudha. Sampai 15 menit kemudian, Yudha masih saja belum menampakkan batang hidungnya.&#xA;&#xA;“Aduh, badan gue udah gerah semua ini. Mau mandi rasanya. Kak Yudha kemana sih? Kalau tahu bakal lama begini mending pesen ojol daritadi.”&#xA;&#xA;Sekar sudah mencapai titik jenuhnya menunggu. Pasalnya sudah satu jam berlalu dari perjanjian mereka. Namun Sekar tidak kunjung mendapatkan kepastian. Awalnya Sekar beriniasiatif memesan ojek online. Akan tetapi ia &#xA;lagi-lagi teringat kalau daya ponselnya saat ini sedang habis.&#xA;&#xA;“Astagfirullah ….” Sekar menggeram. Menjambak rambutnya melampiaskan amarah tak tersampaikan. Bertepatan dengan itu, dari arah koridor jurusan, seseorang menangkap sosok Sekar. Ia terlihat mengulas senyum tipis menyaksikan Sekar yang sedang frustrasi.&#xA;&#xA;“Sekar,” panggilnya. Sekar menoleh sewaktu namanya di lantangkan. Matanya menyipit sebentar, sarat mengenali seorang laki-laki yang mendekatinya.&#xA;&#xA;“Januar?”&#xA;&#xA;Lelaki bernama Januar itu berhenti di dekat bangku yang di duduki Sekar. Mengambil tempat di sebelah Sekar yang terbiar kosong.&#xA;&#xA;“Kenapa sih jambak-jambak rambut sendiri?” tanyanya diiring tawa kecil.&#xA;&#xA;“HP gue lowbatt, Jan. Sebel banget.”&#xA;&#xA;“Kalau tahu lowbatt kenapa masih disini? Pulang aja. Kan kelas kita udah selesai dari sejam tadi.”&#xA;&#xA;“Ya mau gue sih langsung pulang. Tapi gue lagi nunggu.”&#xA;&#xA;&#34;Pacar lo?” tebak Januar tepat sasaran. Sekar pun menghela napas gusar.&#xA;&#xA;“Iya. Tapi udah sejam gue nunggu dia nggak nongol-nongol. Gue udah gerah banget.”&#xA;&#xA;Januar mengangguk-angguk saja merespon jawaban Sekar. Lalu ia kembali berujar setelah itu.&#xA;&#xA;“Sejam udah kelamaan kali. Lo masih mau nunggu?”&#xA;&#xA;Sekar beralih menatap wajah Januar. Laki-laki itu hanya menaikkan dua alisnya seperti akan melanjutkan sebuah rencana.&#xA;&#xA;“Pulang sama gue aja,” tawar Januar kemudian.&#xA;&#xA;Sekar diam saja. Setengah hati ia ingin cepat pulang. Namun setengah hati lain ia masih ingin menunggu kehadiran Yudha.&#xA;&#xA;“Udahlah, Kar. Cowok tuh kalau udah ngaret sejam tandanya dia nggak bakalan dateng. Mungkin dia ketiduran atau lupa bikin janji sama lo. Lagi pula kalau dia nanti kesini, lo bilang aja kelamaan nunggu. Biar jadi pelajaran buat dia lain kali jangan ngaret lagi.”&#xA;&#xA;Sekar perlahan mulai terhasut omongan Januar. Alhasil ia dengan mudah menyetujui ajakan Januar untuk pulang bersama.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Tepat satu jam tiga puluh menit Yudha menghabiskan waktu untuk menambal ban. Setengah jam menyeret motor ke bengkel, setengah jam menunggu antrian tampal ban, dan setengah jam lagi menunggu tukang tampal ban yang amatir menambal ban. Waktu itu ia habiskan dengan perasaan penuh bersalah karena ia tahu telah membuat Sekar menunggu.&#xA;&#xA;Setelah berbagai halang rintang yang ia lalui, akhirnya Yudha sampai juga di kampus. Ia cepat memarkirkan motornya, melepas helm, dan turun mencari Sekar untuk meminta maaf. Lama Yudha menyusuri fakultas MIPA, namun ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Sekar.&#xA;&#xA;Yudha kembali merogoh sakunya mengambil ponsel. Mengetikkan sesuatu guna menghubungi Sekar. Namun pesan itu tidak berbalas. Kemudian Yudha lanjut menghubungi Sekar melalui panggilan suara. Akan tetapi yang di dapat Yudha hanya kehampaan karena jawaban operator mengatakan bahwa ponsel Sekar sedang tidak aktif.&#xA;&#xA;“Sekar kemana sih?” Yudha mulai bingsal. Entah mengapa firasatnya mulai tidak enak. Ia terus mengirim pesan kepada Sekar dan coba menghubunginya kembali. Dan jawabannya masih tetap sama. Hingga tidak lama berselang, Yudha akhirnya mendapati notifikasi. Awalnya Yudha senang dan berharap notifikasi itu berasal dari Sekar. Namun ia salah besar. Pesan itu bukan dari kekasihnya. Pesan tersebut berasal dari Vega, teman dekat Sekar.&#xA;&#xA;Pesan itu singkat. Namun membuat jantung Yudha nyaris turun saking terkejutnya.&#xA;&#xA;-sekarangdanesok-]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sudah 45 menit Sekar menunggu. Namun Yudha tampak seperti tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiran. Panas yang semakin menyengat membuat Sekar lama-lama berkeringat juga. Ia sudah mulai kepanasan.</p>

<p>“Kak Yudha dimana sih? Lama banget. Baju gue udah basah nih keringetan,” omel Sekar sendiri. Ia pun sudah mengibaskan kerah pakaiannya mencari angin. Sesekali ia mengusap peluh bercucuran di lehernya.</p>

<p>Dengan penuh kesabaran, Sekar masih menunggu kedatangan Yudha. Sampai 15 menit kemudian, Yudha masih saja belum menampakkan batang hidungnya.</p>

<p>“Aduh, badan gue udah gerah semua ini. Mau mandi rasanya. Kak Yudha kemana sih? Kalau tahu bakal lama begini mending pesen ojol daritadi.”</p>

<p>Sekar sudah mencapai titik jenuhnya menunggu. Pasalnya sudah satu jam berlalu dari perjanjian mereka. Namun Sekar tidak kunjung mendapatkan kepastian. Awalnya Sekar beriniasiatif memesan ojek <em>online</em>. Akan tetapi ia
lagi-lagi teringat kalau daya ponselnya saat ini sedang habis.</p>

<p><em>“Astagfirullah ….”</em> Sekar menggeram. Menjambak rambutnya melampiaskan amarah tak tersampaikan. Bertepatan dengan itu, dari arah koridor jurusan, seseorang menangkap sosok Sekar. Ia terlihat mengulas senyum tipis menyaksikan Sekar yang sedang frustrasi.</p>

<p>“Sekar,” panggilnya. Sekar menoleh sewaktu namanya di lantangkan. Matanya menyipit sebentar, sarat mengenali seorang laki-laki yang mendekatinya.</p>

<p>“Januar?”</p>

<p>Lelaki bernama Januar itu berhenti di dekat bangku yang di duduki Sekar. Mengambil tempat di sebelah Sekar yang terbiar kosong.</p>

<p>“Kenapa sih jambak-jambak rambut sendiri?” tanyanya diiring tawa kecil.</p>

<p>“HP gue <em>lowbatt</em>, Jan. Sebel banget.”</p>

<p>“Kalau tahu lowbatt kenapa masih disini? Pulang aja. Kan kelas kita udah selesai dari sejam tadi.”</p>

<p>“Ya mau gue sih langsung pulang. Tapi gue lagi nunggu.”</p>

<p>“Pacar lo?” tebak Januar tepat sasaran. Sekar pun menghela napas gusar.</p>

<p>“Iya. Tapi udah sejam gue nunggu dia nggak nongol-nongol. Gue udah gerah banget.”</p>

<p>Januar mengangguk-angguk saja merespon jawaban Sekar. Lalu ia kembali berujar setelah itu.</p>

<p>“Sejam udah kelamaan kali. Lo masih mau nunggu?”</p>

<p>Sekar beralih menatap wajah Januar. Laki-laki itu hanya menaikkan dua alisnya seperti akan melanjutkan sebuah rencana.</p>

<p>“Pulang sama gue aja,” tawar Januar kemudian.</p>

<p>Sekar diam saja. Setengah hati ia ingin cepat pulang. Namun setengah hati lain ia masih ingin menunggu kehadiran Yudha.</p>

<p>“Udahlah, Kar. Cowok tuh kalau udah ngaret sejam tandanya dia nggak bakalan dateng. Mungkin dia ketiduran atau lupa bikin janji sama lo. Lagi pula kalau dia nanti kesini, lo bilang aja kelamaan nunggu. Biar jadi pelajaran buat dia lain kali jangan ngaret lagi.”</p>

<p>Sekar perlahan mulai terhasut omongan Januar. Alhasil ia dengan mudah menyetujui ajakan Januar untuk pulang bersama.</p>

<hr/>

<p>Tepat satu jam tiga puluh menit Yudha menghabiskan waktu untuk menambal ban. Setengah jam menyeret motor ke bengkel, setengah jam menunggu antrian tampal ban, dan setengah jam lagi menunggu tukang tampal ban yang amatir menambal ban. Waktu itu ia habiskan dengan perasaan penuh bersalah karena ia tahu telah membuat Sekar menunggu.</p>

<p>Setelah berbagai halang rintang yang ia lalui, akhirnya Yudha sampai juga di kampus. Ia cepat memarkirkan motornya, melepas helm, dan turun mencari Sekar untuk meminta maaf. Lama Yudha menyusuri fakultas MIPA, namun ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Sekar.</p>

<p>Yudha kembali merogoh sakunya mengambil ponsel. Mengetikkan sesuatu guna menghubungi Sekar. Namun pesan itu tidak berbalas. Kemudian Yudha lanjut menghubungi Sekar melalui panggilan suara. Akan tetapi yang di dapat Yudha hanya kehampaan karena jawaban operator mengatakan bahwa ponsel Sekar sedang tidak aktif.</p>

<p>“Sekar kemana sih?” Yudha mulai bingsal. Entah mengapa firasatnya mulai tidak enak. Ia terus mengirim pesan kepada Sekar dan coba menghubunginya kembali. Dan jawabannya masih tetap sama. Hingga tidak lama berselang, Yudha akhirnya mendapati notifikasi. Awalnya Yudha senang dan berharap notifikasi itu berasal dari Sekar. Namun ia salah besar. Pesan itu bukan dari kekasihnya. Pesan tersebut berasal dari Vega, teman dekat Sekar.</p>

<p>Pesan itu singkat. Namun membuat jantung Yudha nyaris turun saking terkejutnya.</p>

<p><em>-sekarangdanesok-</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sekarangdanesok.writeas.com/tak-kunjung-datang</guid>
      <pubDate>Fri, 31 Dec 2021 02:53:56 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Seorang Lelaki Itu Harus ...</title>
      <link>https://sekarangdanesok.writeas.com/lelaki-kuat?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sejak tadi kaki Yudha tidak bisa diam. Terus gemetar karena gugup untuk berhadapan dengan Herman—ayah Sekar. Berkali-kali Yudha memegangi lututnya agar tremornya berhenti. Hingga gerak-gerik Yudha tersebut di tangkap oleh sang kekasih, Sekar pun berinisiatif meraih pergelangan Yudha. Mengusap pelan punggung tangan laki-laki itu diiring sebuah lirihan.&#xA;&#xA;“Nggak usah gugup, Kak. Santai aja. Ayah nggak serem kok,” hibur Sekar.&#xA;&#xA;Setelah menerima kalimat itu, syukurlah perasaan Yudha terasa sedikit lega. Ia mulai menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan lewat mulut udara dari hidungnya secara perlahan.&#xA;&#xA;“Jadi ini yang namanya Yudha. Kalian satu letting?” mula Herman atas percakapan sore itu.&#xA;&#xA;Tercipta jeda sebentar. Hingga akhirnya Yudha menjawab juga, “enggak, Om. Saya angkatan 2019, kalau Sekar ‘kan 2021,” jawab Yudha hati-hati.&#xA;&#xA;“Ohh … Dua tahun di atas Sekar kalau gitu?”&#xA;&#xA;“Iya, Om.”&#xA;&#xA;Herman mengangguk paham. Lalu tangannya lanjut meraih cangkir kopi dari atas meja kecil di hadapan mereka.&#xA;&#xA;“Kimia murni juga sama dengan Sekar?” tanya beliau lagi.&#xA;&#xA;Yudha menggeleng. “Bukan, Om. Saya anak teknik.”&#xA;&#xA;“Teknik?”&#xA;&#xA;“Iya, Om. Tepatnya teknik mesin.”&#xA;&#xA;Dahi Herman sempat berkerut, menatap bingung dua insan muda di hadapannya secara bergantian.&#xA;&#xA;“Kok bisa ketemu?”&#xA;&#xA;Lagi-lagi hening mendominasi. Hingga beberapa detik kemudian Sekar berinisiatif menjawab.&#xA;&#xA;“Kita ketemunya di kantin mesin, Yah.”&#xA;&#xA;“Ohh jadi kamu duluan yang nyariin Yudha?”&#xA;&#xA;“BUKAN BEGITU OM!” sanggah Yudha cepat. “Hari itu Sekar kebetulan mampir ke kantin mesin. Terus nggak sengaja saya lihat Sekar disana—”&#xA;&#xA;“Langsung ngajak kenalan gitu?”&#xA;&#xA;“Enggak juga, Om. Waktu itu saya belum ada komunikasi sama Sekar.”&#xA;&#xA;“Terus ketemunya gimana?” tanya Herman terkesan mendesak.&#xA;&#xA;“Saya nyariin Sekar lewat base kampus.”&#xA;&#xA;“Bus?”&#xA;&#xA;“Base, Om.”&#xA;&#xA;“Base itu apa?”&#xA;&#xA;“Akun tempat ngirim pesan anonim, Om. Semacam pesan tanpa nama. Di Twitter.”&#xA;&#xA;“Twitter itu apa?”&#xA;&#xA;“Platform sosial media.”&#xA;&#xA;“Sosial media itu Facebook ya?”&#xA;&#xA;“Iya sejenis itu.”&#xA;&#xA;“Om buka Facebook setiap hari tapi nggak pernah lihat interaksi kalian berdua,” jawab Herman lugu. Membuat Yudha menggaruk tengkuk kebingungan akan jawaban Herman tersebut.&#xA;&#xA;“Kita nggak main Facebook, Om. Mainnya di Twitter.”&#xA;&#xA;“Kata kamu tadi itu sosial media, berarti Facebook &#39;kan?”&#xA;&#xA;“Tapi sosial media bukan cuma Facebook, Om.”&#xA;&#xA;“Ohh ... Om taunya cuma Facebook.”&#xA;&#xA;Yudha menahan napasnya kuat-kuat. Tidak tahu mau bereaksi apa lagi. Sampai suasana menjadi hening kembali, percakapan pun mulai berhenti. Membuat Yudha semakin kehilangan kepercayaan diri atas keadaan canggung ini. Ada mungkin sekitar sepuluh menit lamanya mereka saling berdiaman. Tanpa ada percakapan, hanya sibuk memandang aktivitas mamang-mamang pemasang tenda di depan rumah Sekar.&#xA;&#xA;“Yudha, Om punya satu pertanyaan untuk kamu,” interupsi Herman memecah kesenyapan beberapa waktu lalu. &#xA;&#xA;Yudha tidak menjawab dengan kalimat. Hanya anggukan kepala samar menandakan ia siap untuk menjawab pertanyaan dari ayahnya Sekar tersebut.&#xA;&#xA;“Menurut kamu, hal terpenting apa yang harus dimiliki oleh seorang laki-laki?”&#xA;&#xA;Yudha membawa alisnya naik mendengar pertanyaan tak terduga dari pria berusia setengah abad di hadapannya. Tidak menyangka, jika ia akan di suguhkan sebuah pertanyaan yang membuat ia harus menjawabnya dengan ekstra hati-hati. Harap-harap cemas, Yudha sempat melirikkan matanya ke arah  Sekar sebentar. Rautnya kentara sekali gugup jikalau ia salah menjawab. Namun Sekar mengangguk saja. Memberi isyarat keyakinan kepada laki-laki itu jika pertanyaan itu pasti bisa ia jawab.&#xA;&#xA;“Kalau kata saya, jadi laki-laki itu harus kuat, Om,” jawab Yudha lugas.&#xA;&#xA;Herman yang mulanya hendak menyesap kopi di tangan lantas menghentikan pergerakannya. Atensinya kini beralih, pada mata penuh binar antusias yang di pancarkan oleh Yudha saat ini. Herman pun tersenyum tipis, mengisyaratkan bahwa ia sangat puas akan jawaban dari lelaki 20 tahunan itu.&#xA;&#xA;“Kuat dalam artian?”&#xA;&#xA;Yudha menegapkan badannya lurus. Seraya mengepal tangan di atas paha, Yudha mengemukakan jawabannya.&#xA;&#xA;“Saya mampu push up 100 kali, sit up 100 kali, angkat galon saya bisa. Saya bisa mengerjakan semua pekerjaan berat apapun. Saya ini—benar-benar pria sejati, Om!” tepuk Yudha bangga pada dadanya. “Apa Om mau pembuktian?”&#xA;&#xA;Berbanding terbalik dengan semangat membara yang mengalir dari aliran darah Yudha, Herman dan Sekar hanya bisa tercengang mendengar jawaban Yudha yang mengejutkan.&#xA;&#xA;-sekarangdanesok-]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sejak tadi kaki Yudha tidak bisa diam. Terus gemetar karena gugup untuk berhadapan dengan Herman—ayah Sekar. Berkali-kali Yudha memegangi lututnya agar tremornya berhenti. Hingga gerak-gerik Yudha tersebut di tangkap oleh sang kekasih, Sekar pun berinisiatif meraih pergelangan Yudha. Mengusap pelan punggung tangan laki-laki itu diiring sebuah lirihan.</p>

<p>“Nggak usah gugup, Kak. Santai aja. Ayah nggak serem kok,” hibur Sekar.</p>

<p>Setelah menerima kalimat itu, syukurlah perasaan Yudha terasa sedikit lega. Ia mulai menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan lewat mulut udara dari hidungnya secara perlahan.</p>

<p>“Jadi ini yang namanya Yudha. Kalian satu letting?” mula Herman atas percakapan sore itu.</p>

<p>Tercipta jeda sebentar. Hingga akhirnya Yudha menjawab juga, “enggak, Om. Saya angkatan 2019, kalau Sekar ‘kan 2021,” jawab Yudha hati-hati.</p>

<p>“Ohh … Dua tahun di atas Sekar kalau gitu?”</p>

<p>“Iya, Om.”</p>

<p>Herman mengangguk paham. Lalu tangannya lanjut meraih cangkir kopi dari atas meja kecil di hadapan mereka.</p>

<p>“Kimia murni juga sama dengan Sekar?” tanya beliau lagi.</p>

<p>Yudha menggeleng. “Bukan, Om. Saya anak teknik.”</p>

<p>“Teknik?”</p>

<p>“Iya, Om. Tepatnya teknik mesin.”</p>

<p>Dahi Herman sempat berkerut, menatap bingung dua insan muda di hadapannya secara bergantian.</p>

<p>“Kok bisa ketemu?”</p>

<p>Lagi-lagi hening mendominasi. Hingga beberapa detik kemudian Sekar berinisiatif menjawab.</p>

<p>“Kita ketemunya di kantin mesin, Yah.”</p>

<p>“Ohh jadi kamu duluan yang nyariin Yudha?”</p>

<p>“BUKAN BEGITU OM!” sanggah Yudha cepat. “Hari itu Sekar kebetulan mampir ke kantin mesin. Terus nggak sengaja saya lihat Sekar disana—”</p>

<p>“Langsung ngajak kenalan gitu?”</p>

<p>“Enggak juga, Om. Waktu itu saya belum ada komunikasi sama Sekar.”</p>

<p>“Terus ketemunya gimana?” tanya Herman terkesan mendesak.</p>

<p>“Saya nyariin Sekar lewat <em>base</em> kampus.”</p>

<p>“Bus?”</p>

<p>“<em>Base</em>, Om.”</p>

<p>“<em>Base</em> itu apa?”</p>

<p>“Akun tempat ngirim pesan anonim, Om. Semacam pesan tanpa nama. Di <em>Twitter</em>.”</p>

<p>“<em>Twitter</em> itu apa?”</p>

<p>“<em>Platform</em> sosial media.”</p>

<p>“Sosial media itu <em>Facebook</em> ya?”</p>

<p>“Iya sejenis itu.”</p>

<p>“Om buka <em>Facebook</em> setiap hari tapi nggak pernah lihat interaksi kalian berdua,” jawab Herman lugu. Membuat Yudha menggaruk tengkuk kebingungan akan jawaban Herman tersebut.</p>

<p>“Kita nggak main <em>Facebook</em>, Om. Mainnya di <em>Twitter</em>.”</p>

<p>“Kata kamu tadi itu sosial media, berarti <em>Facebook</em> &#39;kan?”</p>

<p>“Tapi sosial media bukan cuma <em>Facebook</em>, Om.”</p>

<p>“Ohh ... Om taunya cuma <em>Facebook</em>.”</p>

<p>Yudha menahan napasnya kuat-kuat. Tidak tahu mau bereaksi apa lagi. Sampai suasana menjadi hening kembali, percakapan pun mulai berhenti. Membuat Yudha semakin kehilangan kepercayaan diri atas keadaan canggung ini. Ada mungkin sekitar sepuluh menit lamanya mereka saling berdiaman. Tanpa ada percakapan, hanya sibuk memandang aktivitas mamang-mamang pemasang tenda di depan rumah Sekar.</p>

<p>“Yudha, Om punya satu pertanyaan untuk kamu,” interupsi Herman memecah kesenyapan beberapa waktu lalu.</p>

<p>Yudha tidak menjawab dengan kalimat. Hanya anggukan kepala samar menandakan ia siap untuk menjawab pertanyaan dari ayahnya Sekar tersebut.</p>

<p>“Menurut kamu, hal terpenting apa yang harus dimiliki oleh seorang laki-laki?”</p>

<p>Yudha membawa alisnya naik mendengar pertanyaan tak terduga dari pria berusia setengah abad di hadapannya. Tidak menyangka, jika ia akan di suguhkan sebuah pertanyaan yang membuat ia harus menjawabnya dengan ekstra hati-hati. Harap-harap cemas, Yudha sempat melirikkan matanya ke arah  Sekar sebentar. Rautnya kentara sekali gugup jikalau ia salah menjawab. Namun Sekar mengangguk saja. Memberi isyarat keyakinan kepada laki-laki itu jika pertanyaan itu pasti bisa ia jawab.</p>

<p>“Kalau kata saya, jadi laki-laki itu harus kuat, Om,” jawab Yudha lugas.</p>

<p>Herman yang mulanya hendak menyesap kopi di tangan lantas menghentikan pergerakannya. Atensinya kini beralih, pada mata penuh binar antusias yang di pancarkan oleh Yudha saat ini. Herman pun tersenyum tipis, mengisyaratkan bahwa ia sangat puas akan jawaban dari lelaki 20 tahunan itu.</p>

<p>“Kuat dalam artian?”</p>

<p>Yudha menegapkan badannya lurus. Seraya mengepal tangan di atas paha, Yudha mengemukakan jawabannya.</p>

<p>“Saya mampu <em>push up</em> 100 kali, <em>sit up</em> 100 kali, angkat galon saya bisa. Saya bisa mengerjakan semua pekerjaan berat apapun. Saya ini—benar-benar pria sejati, Om!” tepuk Yudha bangga pada dadanya. “Apa Om mau pembuktian?”</p>

<p>Berbanding terbalik dengan semangat membara yang mengalir dari aliran darah Yudha, Herman dan Sekar hanya bisa tercengang mendengar jawaban Yudha yang mengejutkan.</p>

<p><em>-sekarangdanesok-</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sekarangdanesok.writeas.com/lelaki-kuat</guid>
      <pubDate>Tue, 28 Dec 2021 23:39:11 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>2.1 Wawancara</title>
      <link>https://sekarangdanesok.writeas.com/2-1-wawancara?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Tarikan napas kuat berulang kali Anna coba lakukan demi mengusir berbagai pikiran buruk yang mengusik sejak berapa menit belakangan. Meski ujung-ujungnya perasaan itu tidak lekas pergi dan terus menguasai diri, mau tidak mau ia tetap harus menghadapinya. Setelah ia rasa cukup untuk menenangkan pikiran, akhirnya gadis itu memutuskan juga untuk melangkah menuju sekretariatan himpunan. Mengumpulkan seluruh nyali hingga kemudian ia berbelok ke ruang kecil yang berada di sebelah barat gedung manajemen tempat sekretariatan itu berada.&#xA;&#xA;Jikalau biasanya di jam sore seperti sekarang ini ruangan tersebut rentan di kunjungi anggota-anggotanya, namun kali ini kondisi sekre terlihat begitu lengang. Tidak banyak orang yang Anna lihat disana. Ia hanya menjumpai dua orang manusia saja, Arkhan dan Zoya—yang terlihat sibuk membolak-balik map berwarna biru dan merah secara bergantian. Dalam hati Anna merasa lega. Setidaknya kalau tidak banyak orang seperti ini Anna bisa melalui sesi wawancara lebih kondusif dan tenang. Syukurlah, ia seperti merasa dalam zona aman sekarang.&#xA;&#xA;Karena tahu kalau ruangan tersebut sepi, sedikit demi sedikit kepercayaan diri Anna mulai timbul. Tidak ada lagi perasaan tegang menyelimuti benaknya. Kali ini ia benar-benar merasa yakin jika ia mampu menjawab pertanyaan wawancara. Dengan langkah percaya diri Anna mendekat ke arah pintu kemudian lanjut mengetuk pintu, membuat atensi kedua kakak tingkatnya yang berada di dalam teralihkan.&#xA;&#xA;&#34;Permisi, Kak,&#34; panggil Anna. Kedua orang yang tadinya sibuk menyusun berkas-berkas serentak menoleh sewaktu suara itu menginterupsi keheningan ruangan.&#xA;&#xA;&#34;Ohh, ada Anna ya.&#34; Arkhan yang paling dulu menyadari keberadaan Anna menyambut ramah gadis itu di depan pintu. Di iring senyum manis serta lesung pipi yang menghiasi, langsung saja Arkhan mempersilakan Anna untuk duduk di dalam ruangan untuk persiapan wawancara.&#xA;&#xA;&#34;Udah selesai kuliahnya?&#34; tanya Arkhan seraya tangannya aktif membolak-balik tumpukan map berwarna merah disana. Sibuk membaca satu-satu nama yang tertulis di bagian depan masing-masing map.&#xA;&#xA;&#34;Sudah, Kak. Kebetulan jadwal siang ini cuma sampai jam dua, dosennya ada urusan mendadak,&#34; jawab Anna singkat, di ikuti anggukan paham dari Arkhan sebagai balasan atas jawaban Anna barusan.&#xA;&#xA;&#34;Tunggu sebentar ya, Na. Berkas Anna keselip kayaknya. Biar Kakak cariin dulu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh iya, Kak,&#34; jawab Anna diikuti anggukan kecil.&#xA;&#xA;Ada sekitar dua menit, keduanya mulai fokus akan kegiatannya masing-masing. Arkhan yang sibuk mencari berkas, sedangkan Anna—gadis itu kini sibuk mengedarkan pandangan ke penjuru arah. Memperhatikan plakat penghargaan yang terpajang di dalam etalase dan juga beberapa trophy kemenangan. Dalam hati, Anna bergumam. Ternyata prestasi yang di raih organisasi ini banyak juga, ya. Tidak tanggung-tanggung, ada lima trophy bergengsi terpampang disana. Di tambah lagi pernghargaan lain yang di anugerahkan dari rektorat sebagai organisasi kemahasiswaan paling aktif satu universitas. Sangat luar biasa. Mereka bisa jadi salah satu organisasi percontohan di kampus ternama ini.&#xA;&#xA;Detik-detik berlalu Anna habiskan dalam kekaguman. Hingga suara ketukan langkah sepatu samar terdengar dari arah pintu sekretariatan, membuat perhatian Anna hampir tercuri jikalau Arkhan tidak lebih dulu mengalihkan atensi gadis itu.&#xA;&#xA;&#34;Nah, udah ketemu sekarang.&#34; Arkhan berujar senang. Cepat-cepat lelaki itu mengambil posisi duduk berhadapan sempurna dengan Anna sambil memamerkan map merah bertuliskan Annasya Kirana di tangannya.&#xA;&#xA;“Anna udah siap ya? Fokus ke Kakak aja. Jangan terdistraksi suara yang lain,” pinta Arkhan.&#xA;&#xA;&#34;Baik, Kak.&#34;&#xA;&#xA;Anna memposisikan tubuhnya dengan posisi tegap sambil menautkan jemari tangan di atas pangkuan. Menanti pertanyaan dari Arkhan dan berusaha fokus sesuai perintah. Walau tak dapat dipungkiri, suara lain yang di ciptakan Zoya di balik tubuhnya terkadang membuat konsentrasi Anna buyar.&#xA;&#xA;&#34;Mau wawancara juga? Sini sama gue aja.&#34; Lagi, kalimat yang di lontarkan Zoya pada seseorang yang baru saja datang membuat Anna penasaran bukan kepalang. Sekedar ingin tahu saja sebenarnya, siapa gerangan orang yang baru saja datang untuk mengikuti sesi wawancara juga. Hingga sosok itu mengambil duduk tepat di belakang punggung Anna, baru lah Anna dapat menerka jikalau orang yang baru datang sepertinya seorang laki-laki. Terbukti dari aroma khas maskulin dari parfume menguar yang ia gunakan.&#xA;&#xA;&#34;Namanya siapa?&#34; tanya Zoya.&#xA;&#xA;Laki-laki yang saat ini sedang melepaskan maskernya itu tidak langsung menjawab pertanyaan Zoya. Dia mengembuskan napas terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia lanjut menjawab pertanyaan Zoya dengan suara berat dan tegas.&#xA;&#xA;&#34;Azka Juanda Pradipta.&#34;&#xA;&#xA;Anna otomatis mengangkat kedua alis setelah mendengar jawaban dari si laki-laki yang berada di balik punggungnya ini. Aneh saja, Anna seperti merasakan ada sesuatu tidak asing ketika mendengar suara tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Suaranya kok familier ya. Apa gue pernah ketemu dia?&#34; Anna terus bertanya-tanya di dalam hati. Sibuk berpikir hingga tanpa sadar jika sejak tadi Arkhan sudah melambaikan telapak tangan di depan wajahnya.&#xA;&#xA;&#34;Anna kenapa melamun?&#34;&#xA;&#xA;Anna lantas terkesiap. Buru-buru ia menggelengkan kepala untuk mengembalikan kesadarannya.&#xA;&#xA;&#34;Anna lagi mikirin apa? Kok Kakak panggil daritadi nggak nyahut?&#34;&#xA;&#xA;&#34;M-maaf, Kak. Tadi tiba-tiba kepikiran sesuatu aja.&#34;&#xA;&#xA;Arkhan tersenyum maklum menanggapi sikap Anna. Sama sekali tidak menunjukkan reaksi marah dan hanya menghela napas pelan. &#34;Tadi Kakak bilang apa? Fokus, Anna,&#34; ucap Arkhan bersuara lembut.&#xA;&#xA;Anna mengangguk patuh saja. Merasa tidak enak hati karena sudah mengabaikan Arkhan demi berspekulasi tentang orang yang bahkan belum tentu memikirkannya juga. Padahal tanpa Anna tahu fakta sesungguhnya, bahwa laki-laki bernama Juanda yang berada di balik punggung itu juga diam-diam menyimak pembicaraan Anna dan Arkhan—sejak tadi.&#xA;&#xA;-sekarangdanesok-&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Tarikan napas kuat berulang kali Anna coba lakukan demi mengusir berbagai pikiran buruk yang mengusik sejak berapa menit belakangan. Meski ujung-ujungnya perasaan itu tidak lekas pergi dan terus menguasai diri, mau tidak mau ia tetap harus menghadapinya. Setelah ia rasa cukup untuk menenangkan pikiran, akhirnya gadis itu memutuskan juga untuk melangkah menuju sekretariatan himpunan. Mengumpulkan seluruh nyali hingga kemudian ia berbelok ke ruang kecil yang berada di sebelah barat gedung manajemen tempat sekretariatan itu berada.</p>

<p>Jikalau biasanya di jam sore seperti sekarang ini ruangan tersebut rentan di kunjungi anggota-anggotanya, namun kali ini kondisi sekre terlihat begitu lengang. Tidak banyak orang yang Anna lihat disana. Ia hanya menjumpai dua orang manusia saja, Arkhan dan Zoya—yang terlihat sibuk membolak-balik map berwarna biru dan merah secara bergantian. Dalam hati Anna merasa lega. Setidaknya kalau tidak banyak orang seperti ini Anna bisa melalui sesi wawancara lebih kondusif dan tenang. Syukurlah, ia seperti merasa dalam zona aman sekarang.</p>

<p>Karena tahu kalau ruangan tersebut sepi, sedikit demi sedikit kepercayaan diri Anna mulai timbul. Tidak ada lagi perasaan tegang menyelimuti benaknya. Kali ini ia benar-benar merasa yakin jika ia mampu menjawab pertanyaan wawancara. Dengan langkah percaya diri Anna mendekat ke arah pintu kemudian lanjut mengetuk pintu, membuat atensi kedua kakak tingkatnya yang berada di dalam teralihkan.</p>

<p><em>“Permisi, Kak,”</em> panggil Anna. Kedua orang yang tadinya sibuk menyusun berkas-berkas serentak menoleh sewaktu suara itu menginterupsi keheningan ruangan.</p>

<p><em>“Ohh, ada Anna ya.”</em> Arkhan yang paling dulu menyadari keberadaan Anna menyambut ramah gadis itu di depan pintu. Di iring senyum manis serta lesung pipi yang menghiasi, langsung saja Arkhan mempersilakan Anna untuk duduk di dalam ruangan untuk persiapan wawancara.</p>

<p><em>“Udah selesai kuliahnya?”</em> tanya Arkhan seraya tangannya aktif membolak-balik tumpukan map berwarna merah disana. Sibuk membaca satu-satu nama yang tertulis di bagian depan masing-masing map.</p>

<p><em>“Sudah, Kak. Kebetulan jadwal siang ini cuma sampai jam dua, dosennya ada urusan mendadak,”</em> jawab Anna singkat, di ikuti anggukan paham dari Arkhan sebagai balasan atas jawaban Anna barusan.</p>

<p><em>“Tunggu sebentar ya, Na. Berkas Anna keselip kayaknya. Biar Kakak cariin dulu.”</em></p>

<p><em>“Eh iya, Kak,”</em> jawab Anna diikuti anggukan kecil.</p>

<p>Ada sekitar dua menit, keduanya mulai fokus akan kegiatannya masing-masing. Arkhan yang sibuk mencari berkas, sedangkan Anna—gadis itu kini sibuk mengedarkan pandangan ke penjuru arah. Memperhatikan plakat penghargaan yang terpajang di dalam etalase dan juga beberapa <em>trophy</em> kemenangan. Dalam hati, Anna bergumam. Ternyata prestasi yang di raih organisasi ini banyak juga, ya. Tidak tanggung-tanggung, ada lima <em>trophy</em> bergengsi terpampang disana. Di tambah lagi pernghargaan lain yang di anugerahkan dari rektorat sebagai organisasi kemahasiswaan paling aktif satu universitas. Sangat luar biasa. Mereka bisa jadi salah satu organisasi percontohan di kampus ternama ini.</p>

<p>Detik-detik berlalu Anna habiskan dalam kekaguman. Hingga suara ketukan langkah sepatu samar terdengar dari arah pintu sekretariatan, membuat perhatian Anna hampir tercuri jikalau Arkhan tidak lebih dulu mengalihkan atensi gadis itu.</p>

<p><em>“Nah, udah ketemu sekarang.”</em> Arkhan berujar senang. Cepat-cepat lelaki itu mengambil posisi duduk berhadapan sempurna dengan Anna sambil memamerkan map merah bertuliskan Annasya Kirana di tangannya.</p>

<p><em>“Anna udah siap ya? Fokus ke Kakak aja. Jangan terdistraksi suara yang lain,”</em> pinta Arkhan.</p>

<p><em>“Baik, Kak.”</em></p>

<p>Anna memposisikan tubuhnya dengan posisi tegap sambil menautkan jemari tangan di atas pangkuan. Menanti pertanyaan dari Arkhan dan berusaha fokus sesuai perintah. Walau tak dapat dipungkiri, suara lain yang di ciptakan Zoya di balik tubuhnya terkadang membuat konsentrasi Anna buyar.</p>

<p><em>“Mau wawancara juga? Sini sama gue aja.”</em> Lagi, kalimat yang di lontarkan Zoya pada seseorang yang baru saja datang membuat Anna penasaran bukan kepalang. Sekedar ingin tahu saja sebenarnya, siapa gerangan orang yang baru saja datang untuk mengikuti sesi wawancara juga. Hingga sosok itu mengambil duduk tepat di belakang punggung Anna, baru lah Anna dapat menerka jikalau orang yang baru datang sepertinya seorang laki-laki. Terbukti dari aroma khas maskulin dari <em>parfume</em> menguar yang ia gunakan.</p>

<p><em>“Namanya siapa?”</em> tanya Zoya.</p>

<p>Laki-laki yang saat ini sedang melepaskan maskernya itu tidak langsung menjawab pertanyaan Zoya. Dia mengembuskan napas terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia lanjut menjawab pertanyaan Zoya dengan suara berat dan tegas.</p>

<p><em>“Azka Juanda Pradipta.”</em></p>

<p>Anna otomatis mengangkat kedua alis setelah mendengar jawaban dari si laki-laki yang berada di balik punggungnya ini. Aneh saja, Anna seperti merasakan ada sesuatu tidak asing ketika mendengar suara tersebut.</p>

<p><em>“Suaranya kok familier ya. Apa gue pernah ketemu dia?”</em> Anna terus bertanya-tanya di dalam hati. Sibuk berpikir hingga tanpa sadar jika sejak tadi Arkhan sudah melambaikan telapak tangan di depan wajahnya.</p>

<p><em>“Anna kenapa melamun?”</em></p>

<p>Anna lantas terkesiap. Buru-buru ia menggelengkan kepala untuk mengembalikan kesadarannya.</p>

<p><em>“Anna lagi mikirin apa? Kok Kakak panggil daritadi nggak nyahut?”</em></p>

<p><em>“M-maaf, Kak. Tadi tiba-tiba kepikiran sesuatu aja.”</em></p>

<p>Arkhan tersenyum maklum menanggapi sikap Anna. Sama sekali tidak menunjukkan reaksi marah dan hanya menghela napas pelan. <em>“Tadi Kakak bilang apa? Fokus, Anna,”</em> ucap Arkhan bersuara lembut.</p>

<p>Anna mengangguk patuh saja. Merasa tidak enak hati karena sudah mengabaikan Arkhan demi berspekulasi tentang orang yang bahkan belum tentu memikirkannya juga. Padahal tanpa Anna tahu fakta sesungguhnya, bahwa laki-laki bernama Juanda yang berada di balik punggung itu juga diam-diam menyimak pembicaraan Anna dan Arkhan—sejak tadi.</p>

<p><em>-sekarangdanesok-</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sekarangdanesok.writeas.com/2-1-wawancara</guid>
      <pubDate>Wed, 15 Dec 2021 00:14:32 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>1.2 Hari Paling Sial</title>
      <link>https://sekarangdanesok.writeas.com/1-2-hari-paling-sial?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Anna sejak tadi tiada henti melirik jarum jam yang sudah menunjukkan menit-menit menuju angka 8. Perasaannya mulai risau. Takut kalau ia benar-benar terlambat di pelajaran salah satu dosen menyeramkan seseantero FEB ini. Memang benar fakta jika hidup itu berjalan sesuai takaran. Semalam Anna sempat di buat sangat-sangat berbunga karena bisa berkesempatan mengobrol bersama Arkhan. Hingga membuat dirinya lupa, jika hidup tidak selamanya tentang bahagia.&#xA;&#xA;Setelah cukup menghabiskan waktu berduaan bersama abang ojek online, akhirnya Anna tiba juga di kampus tercinta tempat ia mewujudkan asa. Dengan gerakan tergesa-gesa, Anna bergegas turun dari kendaraan roda dua tersebut sambil sibuk merogoh isi tas untuk mencari selembar uang.&#xA;&#xA;“Nih, Bang. Makasih ya,” ucap Anna seraya menyodorkan lembar uang berwarna ungu kepada si abang ojek. Tanpa berlama-lama lagi, Anna langsung membalikkan badan. Berancang-ancang lari memasuki gedung fakultas.&#xA;&#xA;“Eh, Mbak. Tunggu dulu,” panggil si abang.&#xA;&#xA;Anna menggeram jengkel sewaktu si abang memanggilnya lagi.&#xA;&#xA; “Kenapa lagi sih, Bang? Duitnya kurang apa?” balas Anna sewot.&#xA;&#xA;“Itu—helm saya masih di kepala Mbak.”&#xA;&#xA;Anna sontak melototkan mata bulat-bulat. Lanjut memegang kepala menggunakan dua tangan dimana helm berwarna hijau itu masih bertengger setia di atas sana. Anna meringis malu, terlebih sewaktu ia sadar jika beberapa orang di sekitarnya ternyata diam-diam sudah menertawakan kekonyolan ini.&#xA;&#xA;“Hehe maaf ya, Bang. Kelupaan helmnya,” beri Anna kepada si abang yang sudah misuh-misuh. Sungguh memalukan, batin Anna. Bisa-bisanya ia lupa melepas benda pelindung kepala itu. Kalau ingin tahu apa yang ada di pikiran Anna sekarang, gadis itu bahkan sudah berniat membuang wajah penuh aib ini ke tong sampah, biar ia ganti dengan wajah Ariana Grande saja—kalau bisa.&#xA;&#xA;Lanjut, Anna berjalan dengan langkah cepat. Sambil sesekali sibuk memeriksa barang bawaan yang berada di dekapannya. Untunglah, tidak ada yang tertinggal. Semua tugas dan modul pembelajaran semua terbawa. Setidaknya ia tidak akan berakhir di suruh menutup pintu dari luar oleh baginda Yusril yang terhormat sewaktu tiba di kelas.&#xA;&#xA;Anna semakin mempercepat langkah menuju kelasnya berada. Sambil matanya terus focus pada jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan detik-detik menuju angka delapan. Setibanya ia di persimpangan koridor jurusan, dari arah berlawanan—tiba-tiba datang seseorang menabrak pundak kanannya begitu kuat. Membuat tubuh ringan Anna terhuyung, menghempaskan bokong gadis itu begitu kuat mencium lantai. Belum sampai disitu, posisi Anna yang sungguh tidak feminim lagi-lagi membuat Anna menjadi sorot perhatian di koridor yang cukup ramai.&#xA;&#xA;“Aduh ….” Anna meringis kesakitan. Sebelah tangannya kini sudah mengusap-usap bokong yang seperti terbakar seusai bersilaturahmi dengan lantai.&#xA;&#xA;“Heh! Lo nggak punya mata ya?!” teriak Anna murka. Kemudian lanjut bersusah payah untuk bangkit berdiri menatap wajah laki-laki seraya berkacak pinggang.&#xA;&#xA;Laki-laki yang kini masih menutup wajahnya mengenakan masker itu diam saja. Sama sekali tidak menggubris amarah Anna yang siap meledak selayak bom atom Hiroshima. Hanya mata elang nan tajamnya saja yang sekarang menatap wajah pongah Anna.&#xA;&#xA;“Minggir.”&#xA;&#xA;Alih-alih sebuah kalimat permintaan maaf, justru kata bernada sarkas itulah yang meluncur dari mulut si laki-laki. Di susul sentuhan di pundak Anna—menggeserkan tubuh gadis itu ke arah samping guna memberi akses jalan untuk dirinya yang hendak melintas.&#xA;&#xA;Anna memangapkan mulutnya lebar-lebar sewaktu lelaki itu tanpa dosa berlalu dari hadapannya. Meninggalkan Anna dengan seluruh amarah yang berkobar di dalam dada. Anna pun lekas membalikkan badan—menatap punggung laki-laki yang perlahan menjauh dari pandangan.&#xA;&#xA;“Heh lo jadi orang nggak beradab banget. Habis nabrak orang bukannya minta maaf malah ngeloyor aja pergi. Dasar nggak sopan!” maki Anna menggelegar. Namun sia-sia saja, ocehan Anna tidak di hiraukan oleh si tersangka. Laki-laki tadi terus saja melangkah acuh sembari menyumpal telinga dengan airpod miliknya.&#xA;&#xA;Anna bersungut. Bercicit ria sembari mengumpulkan barang-barang yang sudah berserakan di lantai. “Mana udah kesiangan, lupa ngelepas helm, ketemu orang belagu kayak dia. Duh, kesialan apalagi coba yang harus lo terima pagi ini, Anna?” gerutu Anna masih terus memungut sisa-sisa barang berserakan.&#xA;&#xA;Setelah cukup merapikan kertas dan buku-buku yang ia bawa, Anna mulai memeriksa kembali kertas tugas di dalam dekapannya. Mengecek, apakah barangnya masih lengkap atau tidak. Namun sepertinya dewi fortuna belum berpihak baik kepada Anna. Tiba-tiba saja Anna merasa panik sewktu sadar bahwasanya tugas perkuliahan Pak Yusril yang tadi ia rasa telah dibawa mendadak hilang dari sekumpulan tugasnya.&#xA;&#xA;“Lah tugas Pak Yusril kemana anjir?”&#xA;&#xA;Anna menggaruk-garuk pelipis kebingungan. Kepalanya mulai menoleh kesana-kemari sambil berputar-putar badan. Sampai fokus matanya berhenti pada suatu objek yang menarik perhatian, menatap seonggok kertas mengapung di dalam selokan yang sudah berbaur dengan air comberan.&#xA;&#xA;Anna membelalak shock menyaksikan apa yang ia lihat di depan matanya. Buru-buru ia mendekat—mengambil kertas yang sudah layu dan bau itu dengan wajah begitu nelangsa.&#xA;&#xA;&#34;TUGAS GUE!!!&#34;&#xA;&#xA;-sekarangdanesok-&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Anna sejak tadi tiada henti melirik jarum jam yang sudah menunjukkan menit-menit menuju angka 8. Perasaannya mulai risau. Takut kalau ia benar-benar terlambat di pelajaran salah satu dosen menyeramkan seseantero FEB ini. Memang benar fakta jika hidup itu berjalan sesuai takaran. Semalam Anna sempat di buat sangat-sangat berbunga karena bisa berkesempatan mengobrol bersama Arkhan. Hingga membuat dirinya lupa, jika hidup tidak selamanya tentang bahagia.</p>

<p>Setelah cukup menghabiskan waktu berduaan bersama abang ojek <em>online</em>, akhirnya Anna tiba juga di kampus tercinta tempat ia mewujudkan asa. Dengan gerakan tergesa-gesa, Anna bergegas turun dari kendaraan roda dua tersebut sambil sibuk merogoh isi tas untuk mencari selembar uang.</p>

<p><em>“Nih, Bang. Makasih ya,”</em> ucap Anna seraya menyodorkan lembar uang berwarna ungu kepada si abang ojek. Tanpa berlama-lama lagi, Anna langsung membalikkan badan. Berancang-ancang lari memasuki gedung fakultas.</p>

<p><em>“Eh, Mbak. Tunggu dulu,”</em> panggil si abang.</p>

<p>Anna menggeram jengkel sewaktu si abang memanggilnya lagi.</p>

<p> <em>“Kenapa lagi sih, Bang? Duitnya kurang apa?”</em> balas Anna sewot.</p>

<p><em>“Itu—helm saya masih di kepala Mbak.”</em></p>

<p>Anna sontak melototkan mata bulat-bulat. Lanjut memegang kepala menggunakan dua tangan dimana helm berwarna hijau itu masih bertengger setia di atas sana. Anna meringis malu, terlebih sewaktu ia sadar jika beberapa orang di sekitarnya ternyata diam-diam sudah menertawakan kekonyolan ini.</p>

<p><em>“Hehe maaf ya, Bang. Kelupaan helmnya,”</em> beri Anna kepada si abang yang sudah <em>misuh-misuh</em>. Sungguh memalukan, batin Anna. Bisa-bisanya ia lupa melepas benda pelindung kepala itu. Kalau ingin tahu apa yang ada di pikiran Anna sekarang, gadis itu bahkan sudah berniat membuang wajah penuh aib ini ke tong sampah, biar ia ganti dengan wajah Ariana Grande saja—kalau bisa.</p>

<p>Lanjut, Anna berjalan dengan langkah cepat. Sambil sesekali sibuk memeriksa barang bawaan yang berada di dekapannya. Untunglah, tidak ada yang tertinggal. Semua tugas dan modul pembelajaran semua terbawa. Setidaknya ia tidak akan berakhir di suruh menutup pintu dari luar oleh baginda Yusril yang terhormat sewaktu tiba di kelas.</p>

<p>Anna semakin mempercepat langkah menuju kelasnya berada. Sambil matanya terus focus pada jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan detik-detik menuju angka delapan. Setibanya ia di persimpangan koridor jurusan, dari arah berlawanan—tiba-tiba datang seseorang menabrak pundak kanannya begitu kuat. Membuat tubuh ringan Anna terhuyung, menghempaskan bokong gadis itu begitu kuat mencium lantai. Belum sampai disitu, posisi Anna yang sungguh tidak feminim lagi-lagi membuat Anna menjadi sorot perhatian di koridor yang cukup ramai.</p>

<p><em>“Aduh ….”</em> Anna meringis kesakitan. Sebelah tangannya kini sudah mengusap-usap bokong yang seperti terbakar seusai bersilaturahmi dengan lantai.</p>

<p><em>“Heh! Lo nggak punya mata ya?!”</em> teriak Anna murka. Kemudian lanjut bersusah payah untuk bangkit berdiri menatap wajah laki-laki seraya berkacak pinggang.</p>

<p>Laki-laki yang kini masih menutup wajahnya mengenakan masker itu diam saja. Sama sekali tidak menggubris amarah Anna yang siap meledak selayak bom atom Hiroshima. Hanya mata elang nan tajamnya saja yang sekarang menatap wajah pongah Anna.</p>

<p><em>“Minggir.”</em></p>

<p>Alih-alih sebuah kalimat permintaan maaf, justru kata bernada sarkas itulah yang meluncur dari mulut si laki-laki. Di susul sentuhan di pundak Anna—menggeserkan tubuh gadis itu ke arah samping guna memberi akses jalan untuk dirinya yang hendak melintas.</p>

<p>Anna memangapkan mulutnya lebar-lebar sewaktu lelaki itu tanpa dosa berlalu dari hadapannya. Meninggalkan Anna dengan seluruh amarah yang berkobar di dalam dada. Anna pun lekas membalikkan badan—menatap punggung laki-laki yang perlahan menjauh dari pandangan.</p>

<p><em>“Heh lo jadi orang nggak beradab banget. Habis nabrak orang bukannya minta maaf malah ngeloyor aja pergi. Dasar nggak sopan!”</em> maki Anna menggelegar. Namun sia-sia saja, ocehan Anna tidak di hiraukan oleh si tersangka. Laki-laki tadi terus saja melangkah acuh sembari menyumpal telinga dengan <em>airpod</em> miliknya.</p>

<p>Anna bersungut. Bercicit ria sembari mengumpulkan barang-barang yang sudah berserakan di lantai. <em>“Mana udah kesiangan, lupa ngelepas helm, ketemu orang belagu kayak dia. Duh, kesialan apalagi coba yang harus lo terima pagi ini, Anna?”</em> gerutu Anna masih terus memungut sisa-sisa barang berserakan.</p>

<p>Setelah cukup merapikan kertas dan buku-buku yang ia bawa, Anna mulai memeriksa kembali kertas tugas di dalam dekapannya. Mengecek, apakah barangnya masih lengkap atau tidak. Namun sepertinya dewi fortuna belum berpihak baik kepada Anna. Tiba-tiba saja Anna merasa panik sewktu sadar bahwasanya tugas perkuliahan Pak Yusril yang tadi ia rasa telah dibawa mendadak hilang dari sekumpulan tugasnya.</p>

<p><em>“Lah tugas Pak Yusril kemana anjir?”</em></p>

<p>Anna menggaruk-garuk pelipis kebingungan. Kepalanya mulai menoleh kesana-kemari sambil berputar-putar badan. Sampai fokus matanya berhenti pada suatu objek yang menarik perhatian, menatap seonggok kertas mengapung di dalam selokan yang sudah berbaur dengan air comberan.</p>

<p>Anna membelalak <em>shock</em> menyaksikan apa yang ia lihat di depan matanya. Buru-buru ia mendekat—mengambil kertas yang sudah layu dan bau itu dengan wajah begitu nelangsa.</p>

<p><em>“TUGAS GUE!!!”</em></p>

<p><strong><em>-sekarangdanesok-</em></strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sekarangdanesok.writeas.com/1-2-hari-paling-sial</guid>
      <pubDate>Sun, 21 Nov 2021 15:46:57 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>1.1 Namanya Arkhan</title>
      <link>https://sekarangdanesok.writeas.com/1-1-namanya-arkhan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Angkasa pada petang itu masih tetap berwarna kelabu meski badainya sudah lama berakhir sejak bermenit-menit lalu. Menyisakan suara gemercik air yang mengalir merdu dari dalam saluran, begitu dengan aroma petrikor yang menguar kuat dari permukaan tanah. Suatu pemandangan khas melihat beberapa orang hilir-mudik untuk menyelesaikan tugas mereka yang sempat tertunda gara-gara hujan. Termasuk dua anak manusia yang terlihat berlarian dari arah barat gedung FEB dengan tergesa-gesa.&#xA;&#xA;&#34;Na, bisa cepetan nggak sih? Udah sore nih.” Untuk kesekian kalinya Andrey kembali mengomel, setelah tadi ia sudah mengoceh habis-habisan sepanjang jalan menuju kampus. Bagaimana tidak? Di saat Andrey yang  bahkan rela terburu-buru keluar rumah saat hujan mengguyur deras, justru Anna—si putri tidur itu tanpa dosanya terlelap membuat Andrey jengkel luar biasa. &#xA;&#xA;&#34;Ya sabar dong Rey. Kaki gue tuh kecil, bukan kayak kaki lo yang panjang. Mana tanahnya licin lagi, kalau gue kepeleset gimana?&#34; protes Anna tak mau kalah.&#xA;&#xA;Anna pun menyusul Andrey yang berjalan cepat. Berusaha mensejajarkan langkah kaki mereka menyusuri koridor jurusan yang perlahan mulai lengang. Hari ini merupakan deadline mereka untuk mengumpul berkas pendaftaran kepengurusan himpunan jurusan. Sebenarnya bisa saja mereka menyerahkan berkas itu di hari-hari lalu. Akan tetapi alasan keduanya lagi-lagi karena…&#xA;&#xA;  “Astaga, Cil! Map gue tinggal.”&#xA;&#xA;  Anna mengembuskan napas lelah begitu mendengar alasan klasik yang di lontarkan oleh Andrey siang itu.&#xA;&#xA;  “Tinggal aja terus. Itu kepala kalau sistemnya bongkar-pasang mungkin hari ini udah ketinggalan juga.”&#xA;&#xA;  Anna mengerucutkan bibirnya sebal. Masih terus menatap Andrey yang kini hanya berdiri sambil garuk-garuk kepala.&#xA;&#xA;  “Besok ya, Cil. Hehe,” cengirnya berusaha membujuk Anna. “Gue mager banget,mau pulang sekarang. Bensin gue sekarat dan duit jajan gue lagi tipis nih akhir bulan.”&#xA;&#xA;  “Gue besok nggak ada jadwal. Males gue ke kampus Cuma mau nganter berkas doang. Ngabisin waktu, ngabisin tenaga, ngabisin ongkos juga.”&#xA;&#xA;  “Ya udah gue jemput deh.”&#xA;&#xA;  Anna melirik sebentar ke arah Andrey. Menyaksikan laki-laki itu yang sudah memandangnya dengan tatapan begitu memohon. Beberapa detik Anna menimbang tawaran Andrey tersebut, hingga pada akhirnya gadis itu menyetujuinya.&#xA;&#xA;  “Tapi jangan pagi,” balas Anna kemudian.&#xA;&#xA;  “Yoi. Gue tau lo pemales.”&#xA;&#xA;  “Sialan.”&#xA;&#xA;  “Oke, besok jam 2 gue jemput lo. Nanti gue kabarin lagi.”&#xA;&#xA;Begitu kesepakatan terjadi di hari kemarin. Tanpa mereka pikir jika menunda pekerjaan adalah sesuatu yang tidak baik. Buktinya, mereka terkendala hujan. Meski hujan hanya berlangsung selama satu jam, namun tetap saja perasaan was-was masih menyelimuti benak mereaka saat keduanya tiba di kampus tepat di detik-detik terakhir pengumpulan. Sampai jarum jam menunjukkan angka 4 lebih 7 menit, dua orang itu hanya bisa memandang hampa meja kosong di bawah tangga gedung yang seharusnya menjadi stand tempat pengurus himpunan mengumpulkan berkas-berkas calon penerus mereka. Sial, mereka terlambat.&#xA;&#xA;“Gara-gara lo nih!” tuduh Andrey spontan tertuju ke arah Anna.&#xA;&#xA;“Lah kok gue?”&#xA;&#xA;“Iya lah. Kalau lo nggak pake acara ketiduran nggak mungkin kita telat ngumpul berkas.”&#xA;&#xA;Anna tersenyum miring mendengar tuduhan Andrey barusan. Merasa tidak terima sewaktu laki-laki itu menudingnya sembarangan.&#xA;&#xA;“Yang kemarin nyuruh gue entaran aja ngumpul berkas siapa? Yang ketinggalan map terus itu siapa? Sadar diri dong, Rey. Kalau bukan karena gue iba sama lo, udah lama gue tinggalin ngumpul berkas sendirian.”&#xA;&#xA;“Hahaha lo lupa? Yang nemenin lo fotokopi selama ini siapa? Yang nemenin lo nyuci foto siapa? Gue ‘kan? Enak aja lo giliran udah kelar semua nggak mau nungguin gue. Mau ninggalin gue gitu aja.”&#xA;&#xA;“Ohh jadi lo selama ini nggak ikhlas nolongin gue?!”&#xA;&#xA;Dan perdebatan kecil—atau mungkin bisa  menjadi besar akibat teriakan-teriakan menggema di koridor tersebut sudah cukup menarik atensi orang yang melintas disana. Membuat beberapa pasang mata melirik kea rah mereka. Tidak ingin semakin memperkeruh suasana, akhirnya Andrey mengangkat kedua tangan dan memutuskan untuk menyudahi pertikaian mereka.&#xA;&#xA;&#34;Ya udah, ya udah. Daripada kita berantem nggak penting kayak gini, mending kita cari solusinya. Sekarang kita mau gimana? Mau ngapain?&#34; tanya Andrey.&#xA;&#xA;&#34;Ya udah, apa boleh buat. Kita kumpulin aja langsung ke sekretariatannya,&#34; enteng Anna.&#xA;&#xA;Andrey menatap shock ke arah Anna. Seperti tidak menyangka Anna akan menjawab hal tersebut. “Lo yakin mau ngumpulin berkas ini ke sekre langsung? Dengan posisi kita telat ngumpul gini?”&#xA;&#xA;Anna mengedikkan bahunya sejenak. Terlihat begitu percaya diri atas keputusannya baru saja. &#xA;“Bilang aja kita kehujanan. Beres ‘kan?”&#xA;&#xA;Meski masih banyak keraguan yang bergerumul di dalam benak, namun Andrey masih tetap mempercayai usulan Anna tersebut. Lagi pula, ia belum mencoba bukan? Mungkin saja suasana sekre himpunan tidak semenyeramkan apa yang ada di dalam bayangannya. Ia kali ini harus percaya, bahwa usulan Anna adalah jalan benar.&#xA;&#xA;“Ya udah kalau gitu kita capcus kesana.”&#xA;&#xA;Seraya menjinjing berkas di tangan masing-masing. Anna dan Andrey bergegas merubah haluan mereka menuju sekre himpunan. Letak ruangan tersebut tidak begitu jauh dari posisi mereka berada sekarang. Hanya menghabiskan waktu 1 hingga 2 menit, sampai tiba di belokan mengarah ke ruang sekre. Namun sebelum benar-benar berbelok, Anna yang sedari tadi mengambil langkah di depan  Andrey tiba-tiba saja memutar-balik tubuhnya sempurna ke arah Andrey. Membuat Andrey yang berada di belakang menabrak gadis yang berada di hadapannya ini.&#xA;&#xA;“Kenapa lagi lo Annacil …,” tanya Andrey yang sekuat tenaga menahan kesabaran.&#xA;&#xA;“Lo aja jalan duluan.”&#xA;&#xA;Andrey mengernyit mendengar kalimat tersebut. Aneh saja, mengapa Anna tiba-tiba memintanya jalan lebih dulu?&#xA;&#xA;“Eggak. Ladies first,” tolak Andrey mantap.&#xA;&#xA;“Laki-laki ‘kan kodratnya jadi imam, jadi lo harus jalan di depan.”&#xA;&#x9;&#xA;“Giliran begini lo bawa-bawa agama.”&#xA;&#xA;“Andrey lo bacot amat sih jadi orang. Cepetan deh!” Tanpa aba-aba Anna langsung saja menarik paksa lengan Andrey. Mendorong laki-laki itu sampai  nyaris tersungkur ke arah depan.&#xA;&#xA;“Santai aja dong ... Emang kenapa sih? Lo atau gue yang duluan sama aja.”&#xA;&#xA;Anna tidak langsung membalas kalimat Andrey. Gadis itu hanya terlihat mencebikkan bibir ke depan membuat Andrey bergidik ngeri.&#xA;&#xA;&#34;Rame bener Rey di dalem, gue malu.&#34;&#xA;&#xA;Andrey yang mennangkap maksud tersembunyi Anna spontan menyembulkan sedikit kepala untuk mengintip ruang sekretariatan. Benar saja yang dikatakan Anna, ruangan itu begitu ramai.&#xA;&#xA;“Buset! Rame amat,&#34; kaget Andrey.&#xA;&#xA;“Tuh ‘kan … Jadi gimana nih, Rey? Gue jadi ragu mau masuk.”&#xA;&#xA;Andrey diam saja. Tidak menyahut pertanyaan Anna dan mulai menempelkan kedua telunjuk di kedua sisi kepala. Wajahnya berkerut, menandakan bahwa ia kini benar-benar sedang berpikir keras sekarang.&#xA;&#xA;Begitu pula demgan Anna yang menyedekapkan kedua tangan di depan dada. Lalu lanjut menggigit ujung-ujung kuku jari tangan kanannya akibat terlalu gelisah memikirkan cara mereka agar bisa menyerahkan berkas pendaftaran yang terlambat.&#xA;&#xA;Di waktu bersamaan, dari arah berlawanan tampak sosok laki-laki datang melangkah menuju sekretariatan. Matanya otomatis menyipit tatkala melihat dua orang asing ia dapati berdiri beberapa jarak dari ruang sekre berada. Membuat benak laki-laki itu bertanya-tanya apa gerangan yang dua anak manusia itu di sore hari seperti ini. Tidak ingin membuang waktu begitu lama bergelung dengan rasa penasaran, laki-laki itu kemudian mendekatkan diri demi mendapatkan jawaban atas pertanyaan di dalam otaknya.&#xA;&#xA;“Ada yang bisa dibantu?” tanyanya setelah dekat.&#xA;&#xA;Andrey dan Anna sontak menoleh ke sumber suara secara bersamaan. Raut keduanya tampak kentara sekali terkejut sewaktu sadar mereka di dekati oleh seseorang yang mengenakan jaket bertuliskan Himpunan Mahasiswa Manajemen dan Bisnis di lengan sebelah kirinya. Ya, tidak salah lagi. Orang yang berdiri di hadapan mereka sekarang tentu saja kakak tingkat Anna dan Andrey. Lebih jelasnya lagi, dia pengurus himpunan juga.&#xA;&#xA;Beberapa detik, tidak ada jawaban—baik itu dari Andrey maupun dari Anna. Mereka bungkam lantaran terlalu bingung mau menjawab apa. Hingga si kakak tingkat paham sendiri akan maksud mereka karena melihat dua map yang berada di genggaman masing-masing.&#xA;&#xA;“Mau ngumpul berkas?” tebaknya.&#xA;&#xA;Anna mengangguk cepat sebagai jawaban. “I-iya Kak. Mau ngumpul berkas.”&#xA;&#xA;Laki-laki itu membasahi bibirnya sekilas sambil mengangguk pelan, lalu lanjut mengulurkan tangan ke arah Anna dan Andrey bermaksud untuk meminta map itu.&#xA;&#xA;“Sini biar di lihat dulu bentar berkasnya,” pinta si kakak tingkat.&#xA;&#xA;Anna melirik sekilas ke arah Andrey. Mengode agar Andrey turut menyerahkan map tersebut kepada laki-laki di hadapan mereka. Setelah menerima berkasnya, dia mulai membuka isi dari map berwarna biru milik Andrey dan map berwarna merah milik Anna, memeriksanya satu-satu.&#xA;&#xA;Berkas pertama yang di buka adalah milik Andrey. Laki-laki itu mulai seksama membaca keseluruhan dari biodata yang di tuliskan oleh Andrey. Satu lembar, dua lembar, terus ia membalikkan kertas-kertas itu hingga menuju halaman terakhir. Beberapa kali ia terlihat menganggukkan kepala, tampak tidak begitu menunjukkan lagak aneh sewaktu membaca profil Andrey. Seusai dirinya membaca keseluruhan berkas milik Andrey, laki-laki itu mulai lanjut untuk membuka map berikutnya—yaitu map warna merah milik Anna.&#xA;&#xA;Anna memperhatikan gugup sewaktu kakak tingkatnya tersebut mulai membaca isi kertas di dalam map miliknya. Merasa takut saja, takut kalau di tanya-tanya. Karena untuk saat ini jujur, Anna masih belum siap jika harus menjawab pertanyaan. Apalagi jika itu seputar kampus, atau alasannya mendaftar jadi kepengurusan himpunan. Jawaban yang terprogram di otaknya hanya jawaban membosankan seperti, “Cari pengalaman, Kak. Daripada kuliah-pulang mulu.”&#xA;&#xA;Sungguh alasan klasik dan tidak estetik.&#xA;&#xA;Belum usai sampai disitu, kegugupan Anna mulai memuncak ketika tangan kakak tingkatnya tadi membalikkan kertas menuju halaman paling belakang. Halaman paling pamungkas daripada halaman-halaman sebelumnya. Yaitu tentang….&#xA;&#xA;&#39;Tuliskan kekurangan dan kelebihan Anda.&#39;&#xA;&#xA;Kalau boleh untuk mengatakan hal yang sebenarnya, Anna sendiri pun hingga saat ini masih kurang percaya diri dengan catatan-catatan aneh yang ia tuliskan disana. Seluruh pernyataan yang tertuang di dalam itu, benar-benar sungguh memalukan untuk di baca. Ingin rasanya ia merampas saja map tersebut kemudian melarikan diri darisana. Namun tentu hal itu tidak mungkin ia lakukan. Alhasil Anna hanya bisa menggigit bibir bawahnya saja—menahan rasa malu mati-matian akan reaksi yang ia dapat setelah laki-laki itu membacanya.&#xA;Dan semua benar seperti dugaan Anna, laki-laki itu tidak kuasa menahan senyum sewaktu membaca kekurangan dan kelebihan yang di tuliskan Anna di lembar terakhirnya. Hal tersebut semakin membuat Anna merasa menyesal telah menuliskan hal konyol itu di lembar deskripsinya. Apakah semua yang ia tulis seaneh itu sampai si kakak tingkat tertawa membacanya?&#xA;&#xA;“Mau ngilang aja gue rasanya …,” batin Anna merengek.&#xA;&#xA;Tangan laki-laki itu kemudian menutup map merah tersebut tanpa berkomentar. Mengakhiri sesi pemeriksaan pada dua map yang berada di tangannya. Kemudian lanjut menatap dua orang adik tingkat yang menunggu dengan wajah penuh harap atas keputusan darinya.&#xA;&#xA;“Oke. Berkasnya di terima.”&#xA;&#xA;Anna dan Andrey sontak membulatkan mata lebar setelah mendengar kabar baik itu. Mendengar ucapan tadi rasanya lebih menyenangkan di banding mendengar gulungan nama yang keluar dari cangkir arisan.&#xA;&#xA;“Jadi nggak apa Kak kalau kita telat?” antusias Anna di ikuti mata yang berbinar mendengar ucapan kakak tingkatnya.&#xA;&#xA;Laki-laki itu tertawa kecil membalas pertanyaan Anna. Sebuah bentuk tawa yang terdengar begitu sopan memasuki telinga. “Nggak apa. Nanti bisa di bilangin sama panitianya.”&#xA;&#xA;“Makasih banyak Kak,” ucap Anna senang seraya melompat-lompat kecil. Sesekali ia menyolek lengan Andrey untuk mengekspresikan rasa bahagianya tersebut.&#xA;&#xA;Kakak tingkat tadi tanpa sadar telah mengulas senyum lebar sewaktu melihat tingkah Anna. Sampai-sampai kedua pipinya membentuk dua lekuk sempurna yang membuat paras laki-laki itu semakin rupawan.&#xA;&#xA;“Oh iya btw, kita daritadi belum tau nama Kakak. Nama Kakak siapa?”&#xA;&#xA;Suasana mendadak hening untuk sesaat. Entah apa yang terjadi, baik Andrey maupun kakak tingkat tadi sama sekali tidak menimbulkan suara dalam beberapa detik. Hingga sesaat setelahnya Andrey menyenggol lengan Anna dan mendekatkan wajahnya untuk membisikkan sesuatu di telinga Anna.&#xA;&#xA;“Jadi lo daritadi nggak tahu nama dia siapa?” bisik Andrey berusaha lirih, meskipun kenyataannya suara itu terlalu lantang di kategorikan sebagai sebuah bisikan. Anna menggeleng polos menjawab pertanyaan Andrey, ya memang benar Anna belum tahu siapa namanya.&#xA;&#xA;“Emang lo tahu?” tanya Anna balik. Andrey menepuk jidatnya sewaktu mendengar pertanyaan tersebut. Baru saja Andrey hendak membuka suara, kalimatnya langsung di sela oleh tawa sumbang yang bersumber dari kakak tingkatnya.&#xA;&#xA;“Haha bener juga. Tadi kita belum sempat kenalan ya.” Anna menengok kembali menuju kakak tingkatnya. Sudah ia lihat, laki-laki itu mengulurkan tangan kepada Anna. Maksud mengajak Anna berkenalan.&#xA;&#xA;“Arkhan.”&#xA;&#xA;Sekitar tiga detik Anna membiarkan uluran tersebut menggantung. Sampai gadis itu di sadarkan oleh tubrukan siku Andrey—menyuruh Anna agar menerima jabatan tangan Arkhan tersebut. Dengan gerakan ragu-ragu, Anna mulai mengangkat tangan kanannya. Yang mana langsung di raih cepat oleh Arkhan. Membuat Anna merasakan gejolak aneh sewaktu telapak tangan mereka saling bersentuhan.&#xA;&#xA;Genggaman itu mungkin tidak terlalu erat. Namun tidak pula terkesan meragukan. Sebuah genggaman tidak biasa, membuat desir darah Anna mengalir sedikit cepat. Entah mengapa, tangan itu seperti memiliki kekuatan magis yang bisa menghipnotis dirinya detik itu juga.&#xA;&#xA;Anna kemudian beralih menatap kedua manik Arkhan yang teduh. Mendapati sebuah sorot lembut yang membuat jantung Anna seketika berdegup tak menentu.&#xA;&#xA;“Salam kenal ya, Anna.” Tutup Arkhan mengakhiri pertemuan mereka petang itu.&#xA;&#xA;-sekarangdanesok-]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Angkasa pada petang itu masih tetap berwarna kelabu meski badainya sudah lama berakhir sejak bermenit-menit lalu. Menyisakan suara gemercik air yang mengalir merdu dari dalam saluran, begitu dengan aroma petrikor yang menguar kuat dari permukaan tanah. Suatu pemandangan khas melihat beberapa orang hilir-mudik untuk menyelesaikan tugas mereka yang sempat tertunda gara-gara hujan. Termasuk dua anak manusia yang terlihat berlarian dari arah barat gedung FEB dengan tergesa-gesa.</p>

<p><em>“Na, bisa cepetan nggak sih? Udah sore nih.”</em> Untuk kesekian kalinya Andrey kembali mengomel, setelah tadi ia sudah mengoceh habis-habisan sepanjang jalan menuju kampus. Bagaimana tidak? Di saat Andrey yang  bahkan rela terburu-buru keluar rumah saat hujan mengguyur deras, justru Anna—si putri tidur itu tanpa dosanya terlelap membuat Andrey jengkel luar biasa.</p>

<p><em>“Ya sabar dong Rey. Kaki gue tuh kecil, bukan kayak kaki lo yang panjang. Mana tanahnya licin lagi, kalau gue kepeleset gimana?”</em> protes Anna tak mau kalah.</p>

<p>Anna pun menyusul Andrey yang berjalan cepat. Berusaha mensejajarkan langkah kaki mereka menyusuri koridor jurusan yang perlahan mulai lengang. Hari ini merupakan <em>deadline</em> mereka untuk mengumpul berkas pendaftaran kepengurusan himpunan jurusan. Sebenarnya bisa saja mereka menyerahkan berkas itu di hari-hari lalu. Akan tetapi alasan keduanya lagi-lagi karena…</p>

<blockquote><p><em>“Astaga, Cil! Map gue tinggal.”</em></p>

<p>Anna mengembuskan napas lelah begitu mendengar alasan klasik yang di lontarkan oleh Andrey siang itu.</p>

<p><em>“Tinggal aja terus. Itu kepala kalau sistemnya bongkar-pasang mungkin hari ini udah ketinggalan juga.”</em></p>

<p>Anna mengerucutkan bibirnya sebal. Masih terus menatap Andrey yang kini hanya berdiri sambil garuk-garuk kepala.</p>

<p><em>“Besok ya, Cil. Hehe,”</em> cengirnya berusaha membujuk Anna. <em>“Gue mager banget,mau pulang sekarang. Bensin gue sekarat dan duit jajan gue lagi tipis nih akhir bulan.”</em></p>

<p><em>“Gue besok nggak ada jadwal. Males gue ke kampus Cuma mau nganter berkas doang. Ngabisin waktu, ngabisin tenaga, ngabisin ongkos juga.”</em></p>

<p><em>“Ya udah gue jemput deh.”</em></p>

<p>Anna melirik sebentar ke arah Andrey. Menyaksikan laki-laki itu yang sudah memandangnya dengan tatapan begitu memohon. Beberapa detik Anna menimbang tawaran Andrey tersebut, hingga pada akhirnya gadis itu menyetujuinya.</p>

<p><em>“Tapi jangan pagi,”</em> balas Anna kemudian.</p>

<p><em>“Yoi. Gue tau lo pemales.”</em></p>

<p><em>“Sialan.”</em></p>

<p><em>“Oke, besok jam 2 gue jemput lo. Nanti gue kabarin lagi.”</em></p></blockquote>

<p>Begitu kesepakatan terjadi di hari kemarin. Tanpa mereka pikir jika menunda pekerjaan adalah sesuatu yang tidak baik. Buktinya, mereka terkendala hujan. Meski hujan hanya berlangsung selama satu jam, namun tetap saja perasaan was-was masih menyelimuti benak mereaka saat keduanya tiba di kampus tepat di detik-detik terakhir pengumpulan. Sampai jarum jam menunjukkan angka 4 lebih 7 menit, dua orang itu hanya bisa memandang hampa meja kosong di bawah tangga gedung yang seharusnya menjadi stand tempat pengurus himpunan mengumpulkan berkas-berkas calon penerus mereka. Sial, mereka terlambat.</p>

<p><em>“Gara-gara lo nih!”</em> tuduh Andrey spontan tertuju ke arah Anna.</p>

<p>“Lah kok gue?”</p>

<p>“Iya lah. Kalau lo nggak pake acara ketiduran nggak mungkin kita telat ngumpul berkas.”</p>

<p>Anna tersenyum miring mendengar tuduhan Andrey barusan. Merasa tidak terima sewaktu laki-laki itu menudingnya sembarangan.</p>

<p><em>“Yang kemarin nyuruh gue entaran aja ngumpul berkas siapa? Yang ketinggalan map terus itu siapa? Sadar diri dong, Rey. Kalau bukan karena gue iba sama lo, udah lama gue tinggalin ngumpul berkas sendirian.”</em></p>

<p><em>“Hahaha lo lupa? Yang nemenin lo fotokopi selama ini siapa? Yang nemenin lo nyuci foto siapa? Gue ‘kan? Enak aja lo giliran udah kelar semua nggak mau nungguin gue. Mau ninggalin gue gitu aja.”</em></p>

<p><em>“Ohh jadi lo selama ini nggak ikhlas nolongin gue?!”</em></p>

<p>Dan perdebatan kecil—atau mungkin bisa  menjadi besar akibat teriakan-teriakan menggema di koridor tersebut sudah cukup menarik atensi orang yang melintas disana. Membuat beberapa pasang mata melirik kea rah mereka. Tidak ingin semakin memperkeruh suasana, akhirnya Andrey mengangkat kedua tangan dan memutuskan untuk menyudahi pertikaian mereka.</p>

<p><em>“Ya udah, ya udah. Daripada kita berantem nggak penting kayak gini, mending kita cari solusinya. Sekarang kita mau gimana? Mau ngapain?”</em> tanya Andrey.</p>

<p><em>“Ya udah, apa boleh buat. Kita kumpulin aja langsung ke sekretariatannya,”</em> enteng Anna.</p>

<p>Andrey menatap shock ke arah Anna. Seperti tidak menyangka Anna akan menjawab hal tersebut. <em>“Lo yakin mau ngumpulin berkas ini ke sekre langsung? Dengan posisi kita telat ngumpul gini?”</em></p>

<p>Anna mengedikkan bahunya sejenak. Terlihat begitu percaya diri atas keputusannya baru saja.
<em>“Bilang aja kita kehujanan. Beres ‘kan?”</em></p>

<p>Meski masih banyak keraguan yang bergerumul di dalam benak, namun Andrey masih tetap mempercayai usulan Anna tersebut. Lagi pula, ia belum mencoba bukan? Mungkin saja suasana sekre himpunan tidak semenyeramkan apa yang ada di dalam bayangannya. Ia kali ini harus percaya, bahwa usulan Anna adalah jalan benar.</p>

<p><em>“Ya udah kalau gitu kita capcus kesana.”</em></p>

<p>Seraya menjinjing berkas di tangan masing-masing. Anna dan Andrey bergegas merubah haluan mereka menuju sekre himpunan. Letak ruangan tersebut tidak begitu jauh dari posisi mereka berada sekarang. Hanya menghabiskan waktu 1 hingga 2 menit, sampai tiba di belokan mengarah ke ruang sekre. Namun sebelum benar-benar berbelok, Anna yang sedari tadi mengambil langkah di depan  Andrey tiba-tiba saja memutar-balik tubuhnya sempurna ke arah Andrey. Membuat Andrey yang berada di belakang menabrak gadis yang berada di hadapannya ini.</p>

<p><em>“Kenapa lagi lo Annacil …,”</em> tanya Andrey yang sekuat tenaga menahan kesabaran.</p>

<p><em>“Lo aja jalan duluan.”</em></p>

<p>Andrey mengernyit mendengar kalimat tersebut. Aneh saja, mengapa Anna tiba-tiba memintanya jalan lebih dulu?</p>

<p><em>“Eggak. Ladies first,”</em> tolak Andrey mantap.</p>

<p><em>“Laki-laki ‘kan kodratnya jadi imam, jadi lo harus jalan di depan.”</em></p>

<p><em>“Giliran begini lo bawa-bawa agama.”</em></p>

<p><em>“Andrey lo bacot amat sih jadi orang. Cepetan deh!”</em> Tanpa aba-aba Anna langsung saja menarik paksa lengan Andrey. Mendorong laki-laki itu sampai  nyaris tersungkur ke arah depan.</p>

<p><em>“Santai aja dong ... Emang kenapa sih? Lo atau gue yang duluan sama aja.”</em></p>

<p>Anna tidak langsung membalas kalimat Andrey. Gadis itu hanya terlihat mencebikkan bibir ke depan membuat Andrey bergidik ngeri.</p>

<p><em>“Rame bener Rey di dalem, gue malu.”</em></p>

<p>Andrey yang mennangkap maksud tersembunyi Anna spontan menyembulkan sedikit kepala untuk mengintip ruang sekretariatan. Benar saja yang dikatakan Anna, ruangan itu begitu ramai.</p>

<p><em>“Buset! Rame amat,”</em> kaget Andrey.</p>

<p><em>“Tuh ‘kan … Jadi gimana nih, Rey? Gue jadi ragu mau masuk.”</em></p>

<p>Andrey diam saja. Tidak menyahut pertanyaan Anna dan mulai menempelkan kedua telunjuk di kedua sisi kepala. Wajahnya berkerut, menandakan bahwa ia kini benar-benar sedang berpikir keras sekarang.</p>

<p>Begitu pula demgan Anna yang menyedekapkan kedua tangan di depan dada. Lalu lanjut menggigit ujung-ujung kuku jari tangan kanannya akibat terlalu gelisah memikirkan cara mereka agar bisa menyerahkan berkas pendaftaran yang terlambat.</p>

<p>Di waktu bersamaan, dari arah berlawanan tampak sosok laki-laki datang melangkah menuju sekretariatan. Matanya otomatis menyipit tatkala melihat dua orang asing ia dapati berdiri beberapa jarak dari ruang sekre berada. Membuat benak laki-laki itu bertanya-tanya apa gerangan yang dua anak manusia itu di sore hari seperti ini. Tidak ingin membuang waktu begitu lama bergelung dengan rasa penasaran, laki-laki itu kemudian mendekatkan diri demi mendapatkan jawaban atas pertanyaan di dalam otaknya.</p>

<p><em>“Ada yang bisa dibantu?”</em> tanyanya setelah dekat.</p>

<p>Andrey dan Anna sontak menoleh ke sumber suara secara bersamaan. Raut keduanya tampak kentara sekali terkejut sewaktu sadar mereka di dekati oleh seseorang yang mengenakan jaket bertuliskan Himpunan Mahasiswa Manajemen dan Bisnis di lengan sebelah kirinya. Ya, tidak salah lagi. Orang yang berdiri di hadapan mereka sekarang tentu saja kakak tingkat Anna dan Andrey. Lebih jelasnya lagi, dia pengurus himpunan juga.</p>

<p>Beberapa detik, tidak ada jawaban—baik itu dari Andrey maupun dari Anna. Mereka bungkam lantaran terlalu bingung mau menjawab apa. Hingga si kakak tingkat paham sendiri akan maksud mereka karena melihat dua map yang berada di genggaman masing-masing.</p>

<p><em>“Mau ngumpul berkas?”</em> tebaknya.</p>

<p>Anna mengangguk cepat sebagai jawaban. <em>“I-iya Kak. Mau ngumpul berkas.”</em></p>

<p>Laki-laki itu membasahi bibirnya sekilas sambil mengangguk pelan, lalu lanjut mengulurkan tangan ke arah Anna dan Andrey bermaksud untuk meminta map itu.</p>

<p><em>“Sini biar di lihat dulu bentar berkasnya,”</em> pinta si kakak tingkat.</p>

<p>Anna melirik sekilas ke arah Andrey. Mengode agar Andrey turut menyerahkan map tersebut kepada laki-laki di hadapan mereka. Setelah menerima berkasnya, dia mulai membuka isi dari map berwarna biru milik Andrey dan map berwarna merah milik Anna, memeriksanya satu-satu.</p>

<p>Berkas pertama yang di buka adalah milik Andrey. Laki-laki itu mulai seksama membaca keseluruhan dari biodata yang di tuliskan oleh Andrey. Satu lembar, dua lembar, terus ia membalikkan kertas-kertas itu hingga menuju halaman terakhir. Beberapa kali ia terlihat menganggukkan kepala, tampak tidak begitu menunjukkan lagak aneh sewaktu membaca profil Andrey. Seusai dirinya membaca keseluruhan berkas milik Andrey, laki-laki itu mulai lanjut untuk membuka map berikutnya—yaitu map warna merah milik Anna.</p>

<p>Anna memperhatikan gugup sewaktu kakak tingkatnya tersebut mulai membaca isi kertas di dalam map miliknya. Merasa takut saja, takut kalau di tanya-tanya. Karena untuk saat ini jujur, Anna masih belum siap jika harus menjawab pertanyaan. Apalagi jika itu seputar kampus, atau alasannya mendaftar jadi kepengurusan himpunan. Jawaban yang terprogram di otaknya hanya jawaban membosankan seperti, <em>“Cari pengalaman, Kak. Daripada kuliah-pulang mulu.”</em></p>

<p>Sungguh alasan klasik dan tidak estetik.</p>

<p>Belum usai sampai disitu, kegugupan Anna mulai memuncak ketika tangan kakak tingkatnya tadi membalikkan kertas menuju halaman paling belakang. Halaman paling pamungkas daripada halaman-halaman sebelumnya. Yaitu tentang….</p>

<p><strong>&#39;Tuliskan kekurangan dan kelebihan Anda.&#39;</strong></p>

<p>Kalau boleh untuk mengatakan hal yang sebenarnya, Anna sendiri pun hingga saat ini masih kurang percaya diri dengan catatan-catatan aneh yang ia tuliskan disana. Seluruh pernyataan yang tertuang di dalam itu, benar-benar sungguh memalukan untuk di baca. Ingin rasanya ia merampas saja map tersebut kemudian melarikan diri darisana. Namun tentu hal itu tidak mungkin ia lakukan. Alhasil Anna hanya bisa menggigit bibir bawahnya saja—menahan rasa malu mati-matian akan reaksi yang ia dapat setelah laki-laki itu membacanya.
Dan semua benar seperti dugaan Anna, laki-laki itu tidak kuasa menahan senyum sewaktu membaca kekurangan dan kelebihan yang di tuliskan Anna di lembar terakhirnya. Hal tersebut semakin membuat Anna merasa menyesal telah menuliskan hal konyol itu di lembar deskripsinya. Apakah semua yang ia tulis seaneh itu sampai si kakak tingkat tertawa membacanya?</p>

<p><em>“Mau ngilang aja gue rasanya …,”</em> batin Anna merengek.</p>

<p>Tangan laki-laki itu kemudian menutup map merah tersebut tanpa berkomentar. Mengakhiri sesi pemeriksaan pada dua map yang berada di tangannya. Kemudian lanjut menatap dua orang adik tingkat yang menunggu dengan wajah penuh harap atas keputusan darinya.</p>

<p><em>“Oke. Berkasnya di terima.”</em></p>

<p>Anna dan Andrey sontak membulatkan mata lebar setelah mendengar kabar baik itu. Mendengar ucapan tadi rasanya lebih menyenangkan di banding mendengar gulungan nama yang keluar dari cangkir arisan.</p>

<p><em>“Jadi nggak apa Kak kalau kita telat?”</em> antusias Anna di ikuti mata yang berbinar mendengar ucapan kakak tingkatnya.</p>

<p>Laki-laki itu tertawa kecil membalas pertanyaan Anna. Sebuah bentuk tawa yang terdengar begitu sopan memasuki telinga. <em>“Nggak apa. Nanti bisa di bilangin sama panitianya.”</em></p>

<p><em>“Makasih banyak Kak,”</em> ucap Anna senang seraya melompat-lompat kecil. Sesekali ia menyolek lengan Andrey untuk mengekspresikan rasa bahagianya tersebut.</p>

<p>Kakak tingkat tadi tanpa sadar telah mengulas senyum lebar sewaktu melihat tingkah Anna. Sampai-sampai kedua pipinya membentuk dua lekuk sempurna yang membuat paras laki-laki itu semakin rupawan.</p>

<p><em>“Oh iya btw, kita daritadi belum tau nama Kakak. Nama Kakak siapa?”</em></p>

<p>Suasana mendadak hening untuk sesaat. Entah apa yang terjadi, baik Andrey maupun kakak tingkat tadi sama sekali tidak menimbulkan suara dalam beberapa detik. Hingga sesaat setelahnya Andrey menyenggol lengan Anna dan mendekatkan wajahnya untuk membisikkan sesuatu di telinga Anna.</p>

<p><em>“Jadi lo daritadi nggak tahu nama dia siapa?”</em> bisik Andrey berusaha lirih, meskipun kenyataannya suara itu terlalu lantang di kategorikan sebagai sebuah bisikan. Anna menggeleng polos menjawab pertanyaan Andrey, ya memang benar Anna belum tahu siapa namanya.</p>

<p><em>“Emang lo tahu?”</em> tanya Anna balik. Andrey menepuk jidatnya sewaktu mendengar pertanyaan tersebut. Baru saja Andrey hendak membuka suara, kalimatnya langsung di sela oleh tawa sumbang yang bersumber dari kakak tingkatnya.</p>

<p><em>“Haha bener juga. Tadi kita belum sempat kenalan ya.”</em> Anna menengok kembali menuju kakak tingkatnya. Sudah ia lihat, laki-laki itu mengulurkan tangan kepada Anna. Maksud mengajak Anna berkenalan.</p>

<p><em>“Arkhan.”</em></p>

<p>Sekitar tiga detik Anna membiarkan uluran tersebut menggantung. Sampai gadis itu di sadarkan oleh tubrukan siku Andrey—menyuruh Anna agar menerima jabatan tangan Arkhan tersebut. Dengan gerakan ragu-ragu, Anna mulai mengangkat tangan kanannya. Yang mana langsung di raih cepat oleh Arkhan. Membuat Anna merasakan gejolak aneh sewaktu telapak tangan mereka saling bersentuhan.</p>

<p>Genggaman itu mungkin tidak terlalu erat. Namun tidak pula terkesan meragukan. Sebuah genggaman tidak biasa, membuat desir darah Anna mengalir sedikit cepat. Entah mengapa, tangan itu seperti memiliki kekuatan magis yang bisa menghipnotis dirinya detik itu juga.</p>

<p>Anna kemudian beralih menatap kedua manik Arkhan yang teduh. Mendapati sebuah sorot lembut yang membuat jantung Anna seketika berdegup tak menentu.</p>

<p><em>“Salam kenal ya, Anna.”</em> Tutup Arkhan mengakhiri pertemuan mereka petang itu.</p>

<p><em>-sekarangdanesok-</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sekarangdanesok.writeas.com/1-1-namanya-arkhan</guid>
      <pubDate>Sun, 21 Nov 2021 15:42:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>“Kak Arkhan itu tipe-tipe cowok idaman banget nggak, sih?”</title>
      <link>https://sekarangdanesok.writeas.com/kak-arkhan-itu-tipe-tipe-cowok-idaman-banget-nggak-sih?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[“Kak Arkhan itu tipe-tipe cowok idaman banget nggak, sih?”&#xA;&#xA;“Mana udah ganteng, manis, pinter, baik, ramah, sopan...,”&#xA;&#xA;“... Kurangnya apa lagi coba?”&#xA;&#xA;—Anna&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;“Kurangnya dia nggak suka sama lo.”&#xA;&#xA;—Juanda&#xA;&#xA;.&#xA;“Gue tuh sebel, sebel, sebel, banget sama Juanda. Jadi kemaren gue &#39;kan minta tolong sama dia, nitip ambilin fotokopi biar sekalian dia jalan ke koperasi juga. Lo tau nggak jawaban dia apa?”&#xA;&#xA;—Anna&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;“Kalau sekiranya kaki lo masih sehat, ambil sendiri. Gue bukan babu yang bisa lo suruh-suruh seenaknya.”&#xA;&#xA;—Juanda&#xA;&#xA;.&#xA;“Na, udah deh. Lo nggak usah benci amat sama Juanda. Entar kena batunya, malah kepincut sama dia. Tau rasa lo, hahaha.”&#xA;&#xA;—Andrey&#xA;&#xA;.&#xA;“YA NGGAK MUNGKIN LAH! Di otak gue sekarang itu ya isinya cuma harta tahta Kak Arkhan.”&#xA;&#xA;—Anna&#xA;&#xA;.&#xA;“Na, Kakak minta maaf kalau kata-kata ini buat Anna kecewa. Tapi Kakak cuma mau bilang, Anna itu udah Kakak anggap seperti adik sendiri. Nggak bisa lebih dari itu.”&#xA;&#xA;—Arkhan&#xA;&#xA;.&#xA;“Kalau lo suka sama Anna ngaku aja, Ju. Jangan sok-sokan denial. Lo ngga akan pernah bisa dapetin apapun dengan mempertahankan gengsi lo itu. Atau bahkan lo bisa aja kehilangan kesempatan berharga nanti.”&#xA;&#xA;—Laskar&#xA;&#xA;.&#xA;“Lo dulu bilang cuma nganggep dia nggak lebih dari adik. Tapi kenapa lo justru ngasih dia harapan?”&#xA;&#xA;—Juanda&#xA;&#xA;.&#xA;“Perasaan orang bisa berubah kapan aja. Gue lagi nggak ngasih harapan, perasaan gue ke Anna sekarang ... Itu nyata.”&#xA;&#xA;—Arkhan&#xA;&#xA;.&#xA;“Lo selama ini cuma lihat Arkhan dari cover bagusnya doang. Lo nggak pernah tau sebenernya dia orang kayak gimana. Inget, manusia itu nggak ada yang sesempurna ekspetasi dalem otak lo.”&#xA;&#xA;—Juanda&#xA;&#xA;.&#xA;“Kalau lo beneran suka sama dia, kenapa lo nggak langsung aja bilang, ‘gue sebenernya suka sama lo. Ayo kita jadian.’ Ngomong gitu doang apa susahnya, sih?”&#xA;&#xA;—Anna&#xA;&#xA;.&#xA;“Sekarang gue balik pertanyaannya. Elo sebagai cewek kalau tiba-tiba ada cowok yang bilang suka ke lo, terus ngajak jadian. Emangnya lo langsung mau? Langsung terima?”&#xA;&#xA;—Juanda&#xA;&#xA;.&#xA;“Ya enggak lah.”&#xA;&#xA;—Anna&#xA;&#xA;.&#xA;“Itu dia alasannya. Gue nggak suka di tolak.”&#xA;&#xA;—Juanda&#xA;&#xA;.&#xA;The Answer is You]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>“Kak Arkhan itu tipe-tipe cowok idaman banget nggak, sih?”</em></p>

<p><em>“Mana udah ganteng, manis, pinter, baik, ramah, sopan...,”</em></p>

<p><em>“... Kurangnya apa lagi coba?”</em></p>

<p>—Anna</p>

<p>.</p>

<p><em>“Kurangnya dia nggak suka sama lo.”</em></p>

<p>—Juanda</p>

<p>.
<em>“Gue tuh sebel, sebel, sebel, banget sama Juanda. Jadi kemaren gue &#39;kan minta tolong sama dia, nitip ambilin fotokopi biar sekalian dia jalan ke koperasi juga. Lo tau nggak jawaban dia apa?”</em></p>

<p>—Anna</p>

<p>.</p>

<p><em>“Kalau sekiranya kaki lo masih sehat, ambil sendiri. Gue bukan babu yang bisa lo suruh-suruh seenaknya.”</em></p>

<p>—Juanda</p>

<p>.
<em>“Na, udah deh. Lo nggak usah benci amat sama Juanda. Entar kena batunya, malah kepincut sama dia. Tau rasa lo, hahaha.”</em></p>

<p>—Andrey</p>

<p>.
<em>“YA NGGAK MUNGKIN LAH! Di otak gue sekarang itu ya isinya cuma harta tahta Kak Arkhan.”</em></p>

<p>—Anna</p>

<p>.
<em>“Na, Kakak minta maaf kalau kata-kata ini buat Anna kecewa. Tapi Kakak cuma mau bilang, Anna itu udah Kakak anggap seperti adik sendiri. Nggak bisa lebih dari itu.”</em></p>

<p>—Arkhan</p>

<p>.
<em>“Kalau lo suka sama Anna ngaku aja, Ju. Jangan sok-sokan denial. Lo ngga akan pernah bisa dapetin apapun dengan mempertahankan gengsi lo itu. Atau bahkan lo bisa aja kehilangan kesempatan berharga nanti.”</em></p>

<p>—Laskar</p>

<p>.
<em>“Lo dulu bilang cuma nganggep dia nggak lebih dari adik. Tapi kenapa lo justru ngasih dia harapan?”</em></p>

<p>—Juanda</p>

<p>.
<em>“Perasaan orang bisa berubah kapan aja. Gue lagi nggak ngasih harapan, perasaan gue ke Anna sekarang ... Itu nyata.”</em></p>

<p>—Arkhan</p>

<p>.
<em>“Lo selama ini cuma lihat Arkhan dari cover bagusnya doang. Lo nggak pernah tau sebenernya dia orang kayak gimana. Inget, manusia itu nggak ada yang sesempurna ekspetasi dalem otak lo.”</em></p>

<p>—Juanda</p>

<p>.
<em>“Kalau lo beneran suka sama dia, kenapa lo nggak langsung aja bilang, ‘gue sebenernya suka sama lo. Ayo kita jadian.’ Ngomong gitu doang apa susahnya, sih?”</em></p>

<p>—Anna</p>

<p>.
<em>“Sekarang gue balik pertanyaannya. Elo sebagai cewek kalau tiba-tiba ada cowok yang bilang suka ke lo, terus ngajak jadian. Emangnya lo langsung mau? Langsung terima?”</em></p>

<p>—Juanda</p>

<p>.
<em>“Ya enggak lah.”</em></p>

<p>—Anna</p>

<p>.
<em>“Itu dia alasannya. Gue nggak suka di tolak.”</em></p>

<p>—Juanda</p>

<p>.
<strong><em>The Answer is You</em></strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sekarangdanesok.writeas.com/kak-arkhan-itu-tipe-tipe-cowok-idaman-banget-nggak-sih</guid>
      <pubDate>Fri, 12 Nov 2021 17:08:12 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>