2.1 Wawancara

Tarikan napas kuat berulang kali Anna coba lakukan demi mengusir berbagai pikiran buruk yang mengusik sejak berapa menit belakangan. Meski ujung-ujungnya perasaan itu tidak lekas pergi dan terus menguasai diri, mau tidak mau ia tetap harus menghadapinya. Setelah ia rasa cukup untuk menenangkan pikiran, akhirnya gadis itu memutuskan juga untuk melangkah menuju sekretariatan himpunan. Mengumpulkan seluruh nyali hingga kemudian ia berbelok ke ruang kecil yang berada di sebelah barat gedung manajemen tempat sekretariatan itu berada.

Jikalau biasanya di jam sore seperti sekarang ini ruangan tersebut rentan di kunjungi anggota-anggotanya, namun kali ini kondisi sekre terlihat begitu lengang. Tidak banyak orang yang Anna lihat disana. Ia hanya menjumpai dua orang manusia saja, Arkhan dan Zoya—yang terlihat sibuk membolak-balik map berwarna biru dan merah secara bergantian. Dalam hati Anna merasa lega. Setidaknya kalau tidak banyak orang seperti ini Anna bisa melalui sesi wawancara lebih kondusif dan tenang. Syukurlah, ia seperti merasa dalam zona aman sekarang.

Karena tahu kalau ruangan tersebut sepi, sedikit demi sedikit kepercayaan diri Anna mulai timbul. Tidak ada lagi perasaan tegang menyelimuti benaknya. Kali ini ia benar-benar merasa yakin jika ia mampu menjawab pertanyaan wawancara. Dengan langkah percaya diri Anna mendekat ke arah pintu kemudian lanjut mengetuk pintu, membuat atensi kedua kakak tingkatnya yang berada di dalam teralihkan.

“Permisi, Kak,” panggil Anna. Kedua orang yang tadinya sibuk menyusun berkas-berkas serentak menoleh sewaktu suara itu menginterupsi keheningan ruangan.

“Ohh, ada Anna ya.” Arkhan yang paling dulu menyadari keberadaan Anna menyambut ramah gadis itu di depan pintu. Di iring senyum manis serta lesung pipi yang menghiasi, langsung saja Arkhan mempersilakan Anna untuk duduk di dalam ruangan untuk persiapan wawancara.

“Udah selesai kuliahnya?” tanya Arkhan seraya tangannya aktif membolak-balik tumpukan map berwarna merah disana. Sibuk membaca satu-satu nama yang tertulis di bagian depan masing-masing map.

“Sudah, Kak. Kebetulan jadwal siang ini cuma sampai jam dua, dosennya ada urusan mendadak,” jawab Anna singkat, di ikuti anggukan paham dari Arkhan sebagai balasan atas jawaban Anna barusan.

“Tunggu sebentar ya, Na. Berkas Anna keselip kayaknya. Biar Kakak cariin dulu.”

“Eh iya, Kak,” jawab Anna diikuti anggukan kecil.

Ada sekitar dua menit, keduanya mulai fokus akan kegiatannya masing-masing. Arkhan yang sibuk mencari berkas, sedangkan Anna—gadis itu kini sibuk mengedarkan pandangan ke penjuru arah. Memperhatikan plakat penghargaan yang terpajang di dalam etalase dan juga beberapa trophy kemenangan. Dalam hati, Anna bergumam. Ternyata prestasi yang di raih organisasi ini banyak juga, ya. Tidak tanggung-tanggung, ada lima trophy bergengsi terpampang disana. Di tambah lagi pernghargaan lain yang di anugerahkan dari rektorat sebagai organisasi kemahasiswaan paling aktif satu universitas. Sangat luar biasa. Mereka bisa jadi salah satu organisasi percontohan di kampus ternama ini.

Detik-detik berlalu Anna habiskan dalam kekaguman. Hingga suara ketukan langkah sepatu samar terdengar dari arah pintu sekretariatan, membuat perhatian Anna hampir tercuri jikalau Arkhan tidak lebih dulu mengalihkan atensi gadis itu.

“Nah, udah ketemu sekarang.” Arkhan berujar senang. Cepat-cepat lelaki itu mengambil posisi duduk berhadapan sempurna dengan Anna sambil memamerkan map merah bertuliskan Annasya Kirana di tangannya.

“Anna udah siap ya? Fokus ke Kakak aja. Jangan terdistraksi suara yang lain,” pinta Arkhan.

“Baik, Kak.”

Anna memposisikan tubuhnya dengan posisi tegap sambil menautkan jemari tangan di atas pangkuan. Menanti pertanyaan dari Arkhan dan berusaha fokus sesuai perintah. Walau tak dapat dipungkiri, suara lain yang di ciptakan Zoya di balik tubuhnya terkadang membuat konsentrasi Anna buyar.

“Mau wawancara juga? Sini sama gue aja.” Lagi, kalimat yang di lontarkan Zoya pada seseorang yang baru saja datang membuat Anna penasaran bukan kepalang. Sekedar ingin tahu saja sebenarnya, siapa gerangan orang yang baru saja datang untuk mengikuti sesi wawancara juga. Hingga sosok itu mengambil duduk tepat di belakang punggung Anna, baru lah Anna dapat menerka jikalau orang yang baru datang sepertinya seorang laki-laki. Terbukti dari aroma khas maskulin dari parfume menguar yang ia gunakan.

“Namanya siapa?” tanya Zoya.

Laki-laki yang saat ini sedang melepaskan maskernya itu tidak langsung menjawab pertanyaan Zoya. Dia mengembuskan napas terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia lanjut menjawab pertanyaan Zoya dengan suara berat dan tegas.

“Azka Juanda Pradipta.”

Anna otomatis mengangkat kedua alis setelah mendengar jawaban dari si laki-laki yang berada di balik punggungnya ini. Aneh saja, Anna seperti merasakan ada sesuatu tidak asing ketika mendengar suara tersebut.

“Suaranya kok familier ya. Apa gue pernah ketemu dia?” Anna terus bertanya-tanya di dalam hati. Sibuk berpikir hingga tanpa sadar jika sejak tadi Arkhan sudah melambaikan telapak tangan di depan wajahnya.

“Anna kenapa melamun?”

Anna lantas terkesiap. Buru-buru ia menggelengkan kepala untuk mengembalikan kesadarannya.

“Anna lagi mikirin apa? Kok Kakak panggil daritadi nggak nyahut?”

“M-maaf, Kak. Tadi tiba-tiba kepikiran sesuatu aja.”

Arkhan tersenyum maklum menanggapi sikap Anna. Sama sekali tidak menunjukkan reaksi marah dan hanya menghela napas pelan. “Tadi Kakak bilang apa? Fokus, Anna,” ucap Arkhan bersuara lembut.

Anna mengangguk patuh saja. Merasa tidak enak hati karena sudah mengabaikan Arkhan demi berspekulasi tentang orang yang bahkan belum tentu memikirkannya juga. Padahal tanpa Anna tahu fakta sesungguhnya, bahwa laki-laki bernama Juanda yang berada di balik punggung itu juga diam-diam menyimak pembicaraan Anna dan Arkhan—sejak tadi.

-sekarangdanesok-