1.2 Hari Paling Sial
Anna sejak tadi tiada henti melirik jarum jam yang sudah menunjukkan menit-menit menuju angka 8. Perasaannya mulai risau. Takut kalau ia benar-benar terlambat di pelajaran salah satu dosen menyeramkan seseantero FEB ini. Memang benar fakta jika hidup itu berjalan sesuai takaran. Semalam Anna sempat di buat sangat-sangat berbunga karena bisa berkesempatan mengobrol bersama Arkhan. Hingga membuat dirinya lupa, jika hidup tidak selamanya tentang bahagia.
Setelah cukup menghabiskan waktu berduaan bersama abang ojek online, akhirnya Anna tiba juga di kampus tercinta tempat ia mewujudkan asa. Dengan gerakan tergesa-gesa, Anna bergegas turun dari kendaraan roda dua tersebut sambil sibuk merogoh isi tas untuk mencari selembar uang.
“Nih, Bang. Makasih ya,” ucap Anna seraya menyodorkan lembar uang berwarna ungu kepada si abang ojek. Tanpa berlama-lama lagi, Anna langsung membalikkan badan. Berancang-ancang lari memasuki gedung fakultas.
“Eh, Mbak. Tunggu dulu,” panggil si abang.
Anna menggeram jengkel sewaktu si abang memanggilnya lagi.
“Kenapa lagi sih, Bang? Duitnya kurang apa?” balas Anna sewot.
“Itu—helm saya masih di kepala Mbak.”
Anna sontak melototkan mata bulat-bulat. Lanjut memegang kepala menggunakan dua tangan dimana helm berwarna hijau itu masih bertengger setia di atas sana. Anna meringis malu, terlebih sewaktu ia sadar jika beberapa orang di sekitarnya ternyata diam-diam sudah menertawakan kekonyolan ini.
“Hehe maaf ya, Bang. Kelupaan helmnya,” beri Anna kepada si abang yang sudah misuh-misuh. Sungguh memalukan, batin Anna. Bisa-bisanya ia lupa melepas benda pelindung kepala itu. Kalau ingin tahu apa yang ada di pikiran Anna sekarang, gadis itu bahkan sudah berniat membuang wajah penuh aib ini ke tong sampah, biar ia ganti dengan wajah Ariana Grande saja—kalau bisa.
Lanjut, Anna berjalan dengan langkah cepat. Sambil sesekali sibuk memeriksa barang bawaan yang berada di dekapannya. Untunglah, tidak ada yang tertinggal. Semua tugas dan modul pembelajaran semua terbawa. Setidaknya ia tidak akan berakhir di suruh menutup pintu dari luar oleh baginda Yusril yang terhormat sewaktu tiba di kelas.
Anna semakin mempercepat langkah menuju kelasnya berada. Sambil matanya terus focus pada jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan detik-detik menuju angka delapan. Setibanya ia di persimpangan koridor jurusan, dari arah berlawanan—tiba-tiba datang seseorang menabrak pundak kanannya begitu kuat. Membuat tubuh ringan Anna terhuyung, menghempaskan bokong gadis itu begitu kuat mencium lantai. Belum sampai disitu, posisi Anna yang sungguh tidak feminim lagi-lagi membuat Anna menjadi sorot perhatian di koridor yang cukup ramai.
“Aduh ….” Anna meringis kesakitan. Sebelah tangannya kini sudah mengusap-usap bokong yang seperti terbakar seusai bersilaturahmi dengan lantai.
“Heh! Lo nggak punya mata ya?!” teriak Anna murka. Kemudian lanjut bersusah payah untuk bangkit berdiri menatap wajah laki-laki seraya berkacak pinggang.
Laki-laki yang kini masih menutup wajahnya mengenakan masker itu diam saja. Sama sekali tidak menggubris amarah Anna yang siap meledak selayak bom atom Hiroshima. Hanya mata elang nan tajamnya saja yang sekarang menatap wajah pongah Anna.
“Minggir.”
Alih-alih sebuah kalimat permintaan maaf, justru kata bernada sarkas itulah yang meluncur dari mulut si laki-laki. Di susul sentuhan di pundak Anna—menggeserkan tubuh gadis itu ke arah samping guna memberi akses jalan untuk dirinya yang hendak melintas.
Anna memangapkan mulutnya lebar-lebar sewaktu lelaki itu tanpa dosa berlalu dari hadapannya. Meninggalkan Anna dengan seluruh amarah yang berkobar di dalam dada. Anna pun lekas membalikkan badan—menatap punggung laki-laki yang perlahan menjauh dari pandangan.
“Heh lo jadi orang nggak beradab banget. Habis nabrak orang bukannya minta maaf malah ngeloyor aja pergi. Dasar nggak sopan!” maki Anna menggelegar. Namun sia-sia saja, ocehan Anna tidak di hiraukan oleh si tersangka. Laki-laki tadi terus saja melangkah acuh sembari menyumpal telinga dengan airpod miliknya.
Anna bersungut. Bercicit ria sembari mengumpulkan barang-barang yang sudah berserakan di lantai. “Mana udah kesiangan, lupa ngelepas helm, ketemu orang belagu kayak dia. Duh, kesialan apalagi coba yang harus lo terima pagi ini, Anna?” gerutu Anna masih terus memungut sisa-sisa barang berserakan.
Setelah cukup merapikan kertas dan buku-buku yang ia bawa, Anna mulai memeriksa kembali kertas tugas di dalam dekapannya. Mengecek, apakah barangnya masih lengkap atau tidak. Namun sepertinya dewi fortuna belum berpihak baik kepada Anna. Tiba-tiba saja Anna merasa panik sewktu sadar bahwasanya tugas perkuliahan Pak Yusril yang tadi ia rasa telah dibawa mendadak hilang dari sekumpulan tugasnya.
“Lah tugas Pak Yusril kemana anjir?”
Anna menggaruk-garuk pelipis kebingungan. Kepalanya mulai menoleh kesana-kemari sambil berputar-putar badan. Sampai fokus matanya berhenti pada suatu objek yang menarik perhatian, menatap seonggok kertas mengapung di dalam selokan yang sudah berbaur dengan air comberan.
Anna membelalak shock menyaksikan apa yang ia lihat di depan matanya. Buru-buru ia mendekat—mengambil kertas yang sudah layu dan bau itu dengan wajah begitu nelangsa.
“TUGAS GUE!!!”
-sekarangdanesok-