1.1 Namanya Arkhan
Angkasa pada petang itu masih tetap berwarna kelabu meski badainya sudah lama berakhir sejak bermenit-menit lalu. Menyisakan suara gemercik air yang mengalir merdu dari dalam saluran, begitu dengan aroma petrikor yang menguar kuat dari permukaan tanah. Suatu pemandangan khas melihat beberapa orang hilir-mudik untuk menyelesaikan tugas mereka yang sempat tertunda gara-gara hujan. Termasuk dua anak manusia yang terlihat berlarian dari arah barat gedung FEB dengan tergesa-gesa.
“Na, bisa cepetan nggak sih? Udah sore nih.” Untuk kesekian kalinya Andrey kembali mengomel, setelah tadi ia sudah mengoceh habis-habisan sepanjang jalan menuju kampus. Bagaimana tidak? Di saat Andrey yang bahkan rela terburu-buru keluar rumah saat hujan mengguyur deras, justru Anna—si putri tidur itu tanpa dosanya terlelap membuat Andrey jengkel luar biasa.
“Ya sabar dong Rey. Kaki gue tuh kecil, bukan kayak kaki lo yang panjang. Mana tanahnya licin lagi, kalau gue kepeleset gimana?” protes Anna tak mau kalah.
Anna pun menyusul Andrey yang berjalan cepat. Berusaha mensejajarkan langkah kaki mereka menyusuri koridor jurusan yang perlahan mulai lengang. Hari ini merupakan deadline mereka untuk mengumpul berkas pendaftaran kepengurusan himpunan jurusan. Sebenarnya bisa saja mereka menyerahkan berkas itu di hari-hari lalu. Akan tetapi alasan keduanya lagi-lagi karena…
“Astaga, Cil! Map gue tinggal.”
Anna mengembuskan napas lelah begitu mendengar alasan klasik yang di lontarkan oleh Andrey siang itu.
“Tinggal aja terus. Itu kepala kalau sistemnya bongkar-pasang mungkin hari ini udah ketinggalan juga.”
Anna mengerucutkan bibirnya sebal. Masih terus menatap Andrey yang kini hanya berdiri sambil garuk-garuk kepala.
“Besok ya, Cil. Hehe,” cengirnya berusaha membujuk Anna. “Gue mager banget,mau pulang sekarang. Bensin gue sekarat dan duit jajan gue lagi tipis nih akhir bulan.”
“Gue besok nggak ada jadwal. Males gue ke kampus Cuma mau nganter berkas doang. Ngabisin waktu, ngabisin tenaga, ngabisin ongkos juga.”
“Ya udah gue jemput deh.”
Anna melirik sebentar ke arah Andrey. Menyaksikan laki-laki itu yang sudah memandangnya dengan tatapan begitu memohon. Beberapa detik Anna menimbang tawaran Andrey tersebut, hingga pada akhirnya gadis itu menyetujuinya.
“Tapi jangan pagi,” balas Anna kemudian.
“Yoi. Gue tau lo pemales.”
“Sialan.”
“Oke, besok jam 2 gue jemput lo. Nanti gue kabarin lagi.”
Begitu kesepakatan terjadi di hari kemarin. Tanpa mereka pikir jika menunda pekerjaan adalah sesuatu yang tidak baik. Buktinya, mereka terkendala hujan. Meski hujan hanya berlangsung selama satu jam, namun tetap saja perasaan was-was masih menyelimuti benak mereaka saat keduanya tiba di kampus tepat di detik-detik terakhir pengumpulan. Sampai jarum jam menunjukkan angka 4 lebih 7 menit, dua orang itu hanya bisa memandang hampa meja kosong di bawah tangga gedung yang seharusnya menjadi stand tempat pengurus himpunan mengumpulkan berkas-berkas calon penerus mereka. Sial, mereka terlambat.
“Gara-gara lo nih!” tuduh Andrey spontan tertuju ke arah Anna.
“Lah kok gue?”
“Iya lah. Kalau lo nggak pake acara ketiduran nggak mungkin kita telat ngumpul berkas.”
Anna tersenyum miring mendengar tuduhan Andrey barusan. Merasa tidak terima sewaktu laki-laki itu menudingnya sembarangan.
“Yang kemarin nyuruh gue entaran aja ngumpul berkas siapa? Yang ketinggalan map terus itu siapa? Sadar diri dong, Rey. Kalau bukan karena gue iba sama lo, udah lama gue tinggalin ngumpul berkas sendirian.”
“Hahaha lo lupa? Yang nemenin lo fotokopi selama ini siapa? Yang nemenin lo nyuci foto siapa? Gue ‘kan? Enak aja lo giliran udah kelar semua nggak mau nungguin gue. Mau ninggalin gue gitu aja.”
“Ohh jadi lo selama ini nggak ikhlas nolongin gue?!”
Dan perdebatan kecil—atau mungkin bisa menjadi besar akibat teriakan-teriakan menggema di koridor tersebut sudah cukup menarik atensi orang yang melintas disana. Membuat beberapa pasang mata melirik kea rah mereka. Tidak ingin semakin memperkeruh suasana, akhirnya Andrey mengangkat kedua tangan dan memutuskan untuk menyudahi pertikaian mereka.
“Ya udah, ya udah. Daripada kita berantem nggak penting kayak gini, mending kita cari solusinya. Sekarang kita mau gimana? Mau ngapain?” tanya Andrey.
“Ya udah, apa boleh buat. Kita kumpulin aja langsung ke sekretariatannya,” enteng Anna.
Andrey menatap shock ke arah Anna. Seperti tidak menyangka Anna akan menjawab hal tersebut. “Lo yakin mau ngumpulin berkas ini ke sekre langsung? Dengan posisi kita telat ngumpul gini?”
Anna mengedikkan bahunya sejenak. Terlihat begitu percaya diri atas keputusannya baru saja. “Bilang aja kita kehujanan. Beres ‘kan?”
Meski masih banyak keraguan yang bergerumul di dalam benak, namun Andrey masih tetap mempercayai usulan Anna tersebut. Lagi pula, ia belum mencoba bukan? Mungkin saja suasana sekre himpunan tidak semenyeramkan apa yang ada di dalam bayangannya. Ia kali ini harus percaya, bahwa usulan Anna adalah jalan benar.
“Ya udah kalau gitu kita capcus kesana.”
Seraya menjinjing berkas di tangan masing-masing. Anna dan Andrey bergegas merubah haluan mereka menuju sekre himpunan. Letak ruangan tersebut tidak begitu jauh dari posisi mereka berada sekarang. Hanya menghabiskan waktu 1 hingga 2 menit, sampai tiba di belokan mengarah ke ruang sekre. Namun sebelum benar-benar berbelok, Anna yang sedari tadi mengambil langkah di depan Andrey tiba-tiba saja memutar-balik tubuhnya sempurna ke arah Andrey. Membuat Andrey yang berada di belakang menabrak gadis yang berada di hadapannya ini.
“Kenapa lagi lo Annacil …,” tanya Andrey yang sekuat tenaga menahan kesabaran.
“Lo aja jalan duluan.”
Andrey mengernyit mendengar kalimat tersebut. Aneh saja, mengapa Anna tiba-tiba memintanya jalan lebih dulu?
“Eggak. Ladies first,” tolak Andrey mantap.
“Laki-laki ‘kan kodratnya jadi imam, jadi lo harus jalan di depan.”
“Giliran begini lo bawa-bawa agama.”
“Andrey lo bacot amat sih jadi orang. Cepetan deh!” Tanpa aba-aba Anna langsung saja menarik paksa lengan Andrey. Mendorong laki-laki itu sampai nyaris tersungkur ke arah depan.
“Santai aja dong ... Emang kenapa sih? Lo atau gue yang duluan sama aja.”
Anna tidak langsung membalas kalimat Andrey. Gadis itu hanya terlihat mencebikkan bibir ke depan membuat Andrey bergidik ngeri.
“Rame bener Rey di dalem, gue malu.”
Andrey yang mennangkap maksud tersembunyi Anna spontan menyembulkan sedikit kepala untuk mengintip ruang sekretariatan. Benar saja yang dikatakan Anna, ruangan itu begitu ramai.
“Buset! Rame amat,” kaget Andrey.
“Tuh ‘kan … Jadi gimana nih, Rey? Gue jadi ragu mau masuk.”
Andrey diam saja. Tidak menyahut pertanyaan Anna dan mulai menempelkan kedua telunjuk di kedua sisi kepala. Wajahnya berkerut, menandakan bahwa ia kini benar-benar sedang berpikir keras sekarang.
Begitu pula demgan Anna yang menyedekapkan kedua tangan di depan dada. Lalu lanjut menggigit ujung-ujung kuku jari tangan kanannya akibat terlalu gelisah memikirkan cara mereka agar bisa menyerahkan berkas pendaftaran yang terlambat.
Di waktu bersamaan, dari arah berlawanan tampak sosok laki-laki datang melangkah menuju sekretariatan. Matanya otomatis menyipit tatkala melihat dua orang asing ia dapati berdiri beberapa jarak dari ruang sekre berada. Membuat benak laki-laki itu bertanya-tanya apa gerangan yang dua anak manusia itu di sore hari seperti ini. Tidak ingin membuang waktu begitu lama bergelung dengan rasa penasaran, laki-laki itu kemudian mendekatkan diri demi mendapatkan jawaban atas pertanyaan di dalam otaknya.
“Ada yang bisa dibantu?” tanyanya setelah dekat.
Andrey dan Anna sontak menoleh ke sumber suara secara bersamaan. Raut keduanya tampak kentara sekali terkejut sewaktu sadar mereka di dekati oleh seseorang yang mengenakan jaket bertuliskan Himpunan Mahasiswa Manajemen dan Bisnis di lengan sebelah kirinya. Ya, tidak salah lagi. Orang yang berdiri di hadapan mereka sekarang tentu saja kakak tingkat Anna dan Andrey. Lebih jelasnya lagi, dia pengurus himpunan juga.
Beberapa detik, tidak ada jawaban—baik itu dari Andrey maupun dari Anna. Mereka bungkam lantaran terlalu bingung mau menjawab apa. Hingga si kakak tingkat paham sendiri akan maksud mereka karena melihat dua map yang berada di genggaman masing-masing.
“Mau ngumpul berkas?” tebaknya.
Anna mengangguk cepat sebagai jawaban. “I-iya Kak. Mau ngumpul berkas.”
Laki-laki itu membasahi bibirnya sekilas sambil mengangguk pelan, lalu lanjut mengulurkan tangan ke arah Anna dan Andrey bermaksud untuk meminta map itu.
“Sini biar di lihat dulu bentar berkasnya,” pinta si kakak tingkat.
Anna melirik sekilas ke arah Andrey. Mengode agar Andrey turut menyerahkan map tersebut kepada laki-laki di hadapan mereka. Setelah menerima berkasnya, dia mulai membuka isi dari map berwarna biru milik Andrey dan map berwarna merah milik Anna, memeriksanya satu-satu.
Berkas pertama yang di buka adalah milik Andrey. Laki-laki itu mulai seksama membaca keseluruhan dari biodata yang di tuliskan oleh Andrey. Satu lembar, dua lembar, terus ia membalikkan kertas-kertas itu hingga menuju halaman terakhir. Beberapa kali ia terlihat menganggukkan kepala, tampak tidak begitu menunjukkan lagak aneh sewaktu membaca profil Andrey. Seusai dirinya membaca keseluruhan berkas milik Andrey, laki-laki itu mulai lanjut untuk membuka map berikutnya—yaitu map warna merah milik Anna.
Anna memperhatikan gugup sewaktu kakak tingkatnya tersebut mulai membaca isi kertas di dalam map miliknya. Merasa takut saja, takut kalau di tanya-tanya. Karena untuk saat ini jujur, Anna masih belum siap jika harus menjawab pertanyaan. Apalagi jika itu seputar kampus, atau alasannya mendaftar jadi kepengurusan himpunan. Jawaban yang terprogram di otaknya hanya jawaban membosankan seperti, “Cari pengalaman, Kak. Daripada kuliah-pulang mulu.”
Sungguh alasan klasik dan tidak estetik.
Belum usai sampai disitu, kegugupan Anna mulai memuncak ketika tangan kakak tingkatnya tadi membalikkan kertas menuju halaman paling belakang. Halaman paling pamungkas daripada halaman-halaman sebelumnya. Yaitu tentang….
'Tuliskan kekurangan dan kelebihan Anda.'
Kalau boleh untuk mengatakan hal yang sebenarnya, Anna sendiri pun hingga saat ini masih kurang percaya diri dengan catatan-catatan aneh yang ia tuliskan disana. Seluruh pernyataan yang tertuang di dalam itu, benar-benar sungguh memalukan untuk di baca. Ingin rasanya ia merampas saja map tersebut kemudian melarikan diri darisana. Namun tentu hal itu tidak mungkin ia lakukan. Alhasil Anna hanya bisa menggigit bibir bawahnya saja—menahan rasa malu mati-matian akan reaksi yang ia dapat setelah laki-laki itu membacanya. Dan semua benar seperti dugaan Anna, laki-laki itu tidak kuasa menahan senyum sewaktu membaca kekurangan dan kelebihan yang di tuliskan Anna di lembar terakhirnya. Hal tersebut semakin membuat Anna merasa menyesal telah menuliskan hal konyol itu di lembar deskripsinya. Apakah semua yang ia tulis seaneh itu sampai si kakak tingkat tertawa membacanya?
“Mau ngilang aja gue rasanya …,” batin Anna merengek.
Tangan laki-laki itu kemudian menutup map merah tersebut tanpa berkomentar. Mengakhiri sesi pemeriksaan pada dua map yang berada di tangannya. Kemudian lanjut menatap dua orang adik tingkat yang menunggu dengan wajah penuh harap atas keputusan darinya.
“Oke. Berkasnya di terima.”
Anna dan Andrey sontak membulatkan mata lebar setelah mendengar kabar baik itu. Mendengar ucapan tadi rasanya lebih menyenangkan di banding mendengar gulungan nama yang keluar dari cangkir arisan.
“Jadi nggak apa Kak kalau kita telat?” antusias Anna di ikuti mata yang berbinar mendengar ucapan kakak tingkatnya.
Laki-laki itu tertawa kecil membalas pertanyaan Anna. Sebuah bentuk tawa yang terdengar begitu sopan memasuki telinga. “Nggak apa. Nanti bisa di bilangin sama panitianya.”
“Makasih banyak Kak,” ucap Anna senang seraya melompat-lompat kecil. Sesekali ia menyolek lengan Andrey untuk mengekspresikan rasa bahagianya tersebut.
Kakak tingkat tadi tanpa sadar telah mengulas senyum lebar sewaktu melihat tingkah Anna. Sampai-sampai kedua pipinya membentuk dua lekuk sempurna yang membuat paras laki-laki itu semakin rupawan.
“Oh iya btw, kita daritadi belum tau nama Kakak. Nama Kakak siapa?”
Suasana mendadak hening untuk sesaat. Entah apa yang terjadi, baik Andrey maupun kakak tingkat tadi sama sekali tidak menimbulkan suara dalam beberapa detik. Hingga sesaat setelahnya Andrey menyenggol lengan Anna dan mendekatkan wajahnya untuk membisikkan sesuatu di telinga Anna.
“Jadi lo daritadi nggak tahu nama dia siapa?” bisik Andrey berusaha lirih, meskipun kenyataannya suara itu terlalu lantang di kategorikan sebagai sebuah bisikan. Anna menggeleng polos menjawab pertanyaan Andrey, ya memang benar Anna belum tahu siapa namanya.
“Emang lo tahu?” tanya Anna balik. Andrey menepuk jidatnya sewaktu mendengar pertanyaan tersebut. Baru saja Andrey hendak membuka suara, kalimatnya langsung di sela oleh tawa sumbang yang bersumber dari kakak tingkatnya.
“Haha bener juga. Tadi kita belum sempat kenalan ya.” Anna menengok kembali menuju kakak tingkatnya. Sudah ia lihat, laki-laki itu mengulurkan tangan kepada Anna. Maksud mengajak Anna berkenalan.
“Arkhan.”
Sekitar tiga detik Anna membiarkan uluran tersebut menggantung. Sampai gadis itu di sadarkan oleh tubrukan siku Andrey—menyuruh Anna agar menerima jabatan tangan Arkhan tersebut. Dengan gerakan ragu-ragu, Anna mulai mengangkat tangan kanannya. Yang mana langsung di raih cepat oleh Arkhan. Membuat Anna merasakan gejolak aneh sewaktu telapak tangan mereka saling bersentuhan.
Genggaman itu mungkin tidak terlalu erat. Namun tidak pula terkesan meragukan. Sebuah genggaman tidak biasa, membuat desir darah Anna mengalir sedikit cepat. Entah mengapa, tangan itu seperti memiliki kekuatan magis yang bisa menghipnotis dirinya detik itu juga.
Anna kemudian beralih menatap kedua manik Arkhan yang teduh. Mendapati sebuah sorot lembut yang membuat jantung Anna seketika berdegup tak menentu.
“Salam kenal ya, Anna.” Tutup Arkhan mengakhiri pertemuan mereka petang itu.
-sekarangdanesok-